Suriah yang Pernah Bela Indonesia soal Papua
19 April 2018
Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 [Foto: Istimewa]Koran Sulindo – 
Ketidaktegasan pemerintah Indonesia menentang invasi Amerika Serikat (AS) 
bersama sekutunya ke Suriah memunculkan pertanyaan. Selain karena politik luar 
negerinya yang menentang penjajahan di atas muka bumi, sikap solidaritas 
negara-negara Dunia Ketiga yang tercermin lewat Konferensi Asia Afrika di 
Bandung pada 1955 telah memudar.Tentu saja itu menjadi pertanyaan karena 
Konferensi Asia Afrika kali pertama dilaksanakan di Indonesia.. Persidangan 
tersebut dibuka secara langsung Presiden Soekarno dan diketuai Perdana Menteri 
Ali Sastromidjojo. Hasil persidangan itu lantas populer dengan nama Dasasila 
Bandung.Memang melalui laman resmi Kementerian Luar Negeri, pemerintah 
menyatakan beberapa hal, semisal mengecam penggunaan senjata kimia oleh 
siapapun. Lalu, mengimbau setiap pihak menahan diri dan mencegah terjadinya 
eskalasi memburuknya situasi di Suriah.Indonesia juga menegaskan kepada semua 
pihak untuk menghormati nilai dan hukum internasional, terutama piagam PBB 
tentang kemanan dan perdamaian internasional. Keamanan dan keselamatan 
masyarakat sipil terutama perempuan serta anak-anak merupakan 
prioritas.Penyelesaian konflik Suriah, Indonesia kembali menekankan pentingnya 
dilakukan negosiasi secara menyeluruh dengan cara-cara damai. Dari keterangan 
resmi, tampak pemerintah tidak tegas mengecam agresi militer AS dan sekutunya 
ke Suriah.Solidaritas Suriah
Pudarnya semangat solidaritas itu membuat kita perlu menengok ke belakang 
betapa Suriah pernah begitu bersimpati terhadap Indonesia pada periode 1955 
hingga 1960-an. Suriah merupakan salah satu negara yang ikut dalam Konferensi 
Asia Afrika. Kala itu Suriah diwakili Menteri Luar Negeri Khalid El Azm.Dalam 
pidatonya El Azm menyinggung berbagai bentuk penjajahan yang masih terjadi di 
belahan Afrika, Asia dan Palestina. Soal Palestina, misalnya, El Azm menyatakan 
sebagai salah satu contoh negara yang tragis. Berada di sebelah selatan salah 
satu provinsi Suriah, Palestina bernasib tragis karena sebuah negara didirikan 
hasil dari imperialisme.Ia mengingatkan bahwa negara yang didirikan di 
Palestina bernama Israel itu bukan milik Asia maupun Afrika. “Israel adalah pos 
terdepan imperialisme,” demikian El Azm berpidato dalam Konferensi Asia Afrika 
pada 1955.Ia juga menyinggung tentang persoalan di Afrika Utara. Kondisi Maroko 
dan Tunisia disebut sangat menyedihkan dan mencemaskan. Sementara Aljazair 
disebut berada dalam perang dan terulangnya konflik satu abad. Masalah tragis 
lainnya yang disinggung El Azm soal Afrika adalah tentang rasialis dan 
kebijakan Apartheid. Sedangkan masalah di Asia, El Azm secara tegas menyinggung 
soal Irian Barat (Papua)..Sekali lagi, ia menyebut wilayah ini sebagai warisan 
imperialisme. Daerah ini disebut sebagai bagian integral dari Republik 
Indonesia. Ia justru khawatir Irian Barat waktu itu belum mendapatkan 
penyelesaian yang layak dari PBB.Dari sini, kita tahu betapa Suriah punya sikap 
yang tegas dan bersolidaritas terhadap Indonesia yang menjadi bagian dari 
negara-negara Dunia Ketiga.. Suriah dengan tegas mendukung Irian Barat menjadi 
bagian integral dari Republik yang masih sangat muda. Jika Suriah punya sikap 
demikian, lantas mengapa Indonesia hari ini gamang untuk mengecam agresi AS dan 
sekutunya itu ke Suriah? [KRG]

Kirim email ke