Kelihatannya saya mencampur adukkan pembicaraan pada topik "ketentuan berbahasa 
Indonesia" dgn "bahasa Indonesia itu mudah dan menyenangkan"
Pertanyaan "Cuman kenapa kok tenaga ahli berbahasa Mandarin menjadi persoalan?" 
 bukan artinya orang yg berbahasa Mandarin sulit mempelajari bahasa asing. 
Pokok penekanannya ada pada perbedaan perlakuan thd mereka yang berbahasa 
Mandarin (dalam cerita Fahri Hamzah). Bukankah yg berbahasa Spanyol itu pada 
waktu di-recruit jadi pelatih juga tidak bisa berbahasa Indonesia dus artinya 
juga tidak memenuhi ketentuan harus bisa berbahasa Indonesia.
Catatan: sekedar kata2 sapaan seperti selamat pagi, apa kabar dan sejenisnya 
itu apakah juga termasuk bisa berbahasa Indonesia? Saya juga bisa ngomong guten 
tag, ich liebe dich, tetapi jelas nggak bakalan berani bilang bisa bahasa 
Jerman. 

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

Anda yang menganggap orang yang berbahasa Mandarin 
sulit mempelajari bahasa asing. Kalau tidak, buat apa lontarkan
pertanyaan ini: "Cuman kenapa kok tenaga ahli berbahasa Mandarin 
menjadi persoalan?"

Saya justru membantah dengan menunjukkan atlet paralayang 
RRC yang cuma 2 pekan berada di Indonesia. Lagipula 
peraturan itu berlaku untuk semua orang asing. Jadi, kenapa 
cuma yang berbahasa Mandarin yang ribut?

--- jonathangoeij@... wrote:

Kenapa kok anda beranggapan "orang yang berbahasa Mandarin sulit mempelajari 
bahasa asing" anggapan ini salah besar, dari survey orang asing yg berbahasa 
Inggris didapati mereka yg paling baik dari India dan China (posisi 1 dan 2) 
sedang yg dari Indonesia pada posisi lebih jauh dibelakang (tdk ingat posisi 
berapa). Setidaknya hal yg menunjukkan mereka yg berbahasa mandarin tidak 
mengalami kesukaran belajar bahasa asing.
Yg saya maksud adalah masalah ketentuan tenaga kerja asing harus bisa berbahasa 
Indonesia terlebih dahulu dimana dalam hal ini sepertinya anda bias, dalam 
kasus Luis Milla terlihat beliau tidak bisa berbahasa Indonesia waktu 
di-recruit tetapi setelah bekerja dan tinggal di Indonesia baru mulai belajar. 
Itulah mengapa saya bilang "Terkesan anda tidak keberatan adanya tenaga ahli 
Luis Milla ini yg berbahasa Sepanyol."
Ngomong apa adanya, dgn contoh pelatih asing, apakah bisa dan memungkinkan 
menemukan pelatih asing yg bisa berbahasa Indonesia? jelas hal itu langka 
sekali. 
Yg penting adalah keahlihan tenaga asing itu dan bagaimana mengatur agar bisa 
berkomunikasi dan keahlihan itu bermanfaat.


--- ajegilelu@... wrote :

Apa alasan saya untuk keberatan dengan Luis Milla? 
Toh dia sendiri punya kebutuhan untuk berbahasa Indonesia,
untuk memperlancar komunikasinya dengan sekitar. 

Jangankan atlet dan pelatih asing yang dikontrak untuk 
satu-dua musim, atlet yang datang mengikuti suatu 
kejuaraan juga ada yang tertarik untuk mengenal kata-kata 
dalam bahasa Indonesia. Karena Anda mempersoalkan orang 
yang berbahasa Mandarin, jadi ya saya kasih tau beberapa 
tahun lalu ada atlet paralayang RRC yang baru pertamakali ke 
Indonesia dan hanya tinggal 2 pekan selama kejuaraan sudah 
bisa mengucap beberapa kata, terutama kata "indah" untuk 
mengungkap ketakjubannya pada arena kejuaraan di Puncak. 
Belum lagi atlet & pelatih asing yang bolak-balik ikut kejuaraan 
di Indonesia seperti atlet bulutangkis, maraton, sepeda touring, 
layar, selam dsb. 

Semua itu contoh bahwa belajar bahasa Indonesia itu mudah 
bagi pekerja olahraga, pekerja seni, orang asing. Itu juga yang 
terjadi ketika atlet, seniman, orang Indonesia ke negara lain. 
Belajar kenal, pun di negara yang bahasanya terbilang rumit. 
Hal yang normal dalam pergaulan manusia. Anda saja yang 
menganggap orang yang berbahasa Mandarin sulit mempelajari 
bahasa asing.
--- jonathangoeij@... wrote :

Melihat berita ini kelihatannya Luis Milla ini biarpun sekarang bisa sedikit2 
bhs Indonesia ala kadarnya dan senang belajar tetapi awalnya tidak bisa 
berbahasa Indonesia, bahkan saat inipun masih mengandalkan penerjemah.

Terkesan anda tidak keberatan adanya tenaga ahli Luis Milla ini yg berbahasa 
Sepanyol.
 
Cuman kenapa kok tenaga ahli berbahasa Mandarin menjadi persoalan?


--- ajegilelu@... wrote :

Berbahasa Indonesia itu mudah dan menyenangkan. 
Itu kesan yang saya dapat dari sejumlah atlet dan 
pelatih asing yang ikut liga berbagai cabang olahraga 
di Indonesia. Menurut mereka, mudah karena bahasa 
Indonesia tidak membutuhkan grammar dan ejaannya 
sesuai dengan lambang bunyi. Juga menyenangkan 
karena bisa mendapat keramahan ekstra dari orang 
Indonesia yang pada dasarnya memang ramah dan sangat 
membantu kegiatan sehari-hari seperti saat berbelanja 
di pasar diberi harga lebih murah, haha... Selain itu, 
bekerja di Indonesia memberi mereka pengalaman dan 
kesempatan mengenal bahasa dan budaya daerah di mana 
klubnya bermarkas. 

Berikut, tentang pelatih tim nasional sepakbola Indonesia, 
yang pada awalnya berkomunikasi dengan para pemain 
dengan "bahasa kalbu", tidak penting kata dan tatabahasanya 
selama ucapan bisa komunikatif, nyambung maksud.
Sekarang Luis Milla sudah punya kamus Spanyol-Indonesia 
begitu juga para pemain dibekali PSSI dengan kamus 
Indonesia-Spanyol. Beres.
Semangat, Coach!

.. 

Tekun Belajar, Luis Milla Mulai Lancar Berbahasa Indonesia
(Foto: Bolalob)
GERRY PUTRA16/11/17 – 17:30 Pelatih Timnas Indonesia, Luis Milla terus melatih 
bahasa Indonesia. Pelatih asal Spanyol itu mengasah kemampuannya agar bisa 
berkomunikasi dengan baik kepada para pemain timnas.

Unggahan PSSI dalam akun media sosialnya memperlihatkan bagaimana Luis Milla 
mempelajari bahasa Indonesia dasar.

"Luis Milla semakin giat mempelajari Bahasa Indonesia untuk mempermudah 
komunikasi dengan pemain. Tampak coach Milla sedang memegang kamus kecil 
Bahasa-English-Spanish (BES). Semangat, Coach!" bunyi caption foto Luis Milla 
yang diunggah dalam Instagram resmi PSSI. Semangatnya Luis Milla mempelajari 
bahasa Indonesia juga diakui oleh bek Timnas Indonesia U-23, Bagas Adi Nugroho.

“Bahasa Indonesia Luis Milla sudah mulai lancar. Semoga hasil belajarnya 
berjalan dengan baik,” ujar bek Arema FC itu.

Saat ini Luis Milla banyak mengandalkan penerjemah timnas, Bayu Eka Sari untuk 
berkomunikasi dengan pemain atau pun awak media. Namun, pelatih yang juga 
mantan pemain Real Madrid itu kerap memasukan sedikit bahasa Indonesia ketika 
berkomunikasi dengan tim dan media.


Kirim email ke