Ya, benar. Tetapi tiap tenaga kerja asing harus ada tenaga kerja Indonesia
pendampingnya.
Jadi jumlah tenaga kerja asing tidak boleh lebih banyak dari tenaga kerja
Indonesia.


2018-04-23 8:09 GMT+02:00 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
>
> *Bisa  saja  penanam modal meminta syarat kepada negeri bersangkutan untuk
> membawa serta sejumlah tenaga kerjanya. Hal ini tergantung dalam
> perjanjiannya dengan  pemerintah negara bersangkutan*.
>
> 2018-04-23 6:54 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] <
> [email protected]>:
>
>>
>>
>> Saya bilang, "bukan bagian dari PMA".
>>
>> Anda hanya buang waktu dengan memelihara emosi butek
>> demi hobi memelintir fakta.
>>
>> --- jonathangoeij@... wrote:
>>
>>
>> Maksud anda Luis Milla bukan Tenaga Kerja Asing????????
>>
>> Pengertian tenaga kerja asing ditinjau dari segi undang-undang
>> (Pengertian Otentik), yang dimana pada Pasal 1 angka 13 UU No 13 Tahun
>> 2013 tentang Ketenagakerjaan di jelaskan bahwa: “Tenaga kerja asing
>> adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di wilayah
>> Indonesia”.
>> https://www..suduthukum.com/2016/12/pengertian-tenaga-kerja-asing.html
>> <https://www.suduthukum.com/2016/12/pengertian-tenaga-kerja-asing.html>
>>
>> Terima kasih telah diberi tahu tentang Luis Milla.
>>
>>
>> --- ajegilelu@... wrote:
>>
>>
>> Supaya Anda tahu, Luis Milla itu pelatih.
>> Tugasnya memang berbagi ilmu & pengalaman.
>> Dia dikontrak untuk itu, dan bukan bagian dari PMA.
>> Artinya, sekalipun tidak dicabut, peraturan itu
>> tidak berlaku terhadap Luis, apalagi dia sendiri
>> merasakan kebutuhan berbahasa Indonesia untuk
>> memperlancar komunikasinya dengan sekitar.
>>
>> Nah, sekarang berterimakasihlah sudah dibagi
>> pengetahuan tentang Luis Milla, jadi tidak usah
>> buang waktu berkhayal dengan 'kalau'.
>>
>>
>> --- jonathangoeij@.... wrote:
>>
>> Kalau anda menganggap Luis Milla sebagai tenaga ahli yg mumpuni memang
>> seharusnya anda berterima kasih peraturan itu dicabut sehingga dgn demikian
>> beliau bisa menjadi pelatih.
>>
>> --- ajegilelu@... wrote:
>>
>> Oke. Jadi, menurut Anda peraturan itu memang
>> menghalangi masuknya TKA yang tidak punya keahlian
>> dan ketrampilan untuk dialihkan ke pekerja Indonesia.
>> Alias, TKA modal dengkul yang juga tak punya
>> kemampuan mengenal budaya & bahasa asing.
>> Punyanya cuma kemauan merampas penghidupan
>> pemilik bahasa tsb.
>>
>> Ya pantas Anda ribut kalangkabut begini..
>> Tak tahu berterimakasih pula sekalipun peraturannya
>> sudah dicabut.
>>
>> --- jonathangoeij@... wrote:
>>
>> Dalam kasus Luis Milla (yg pada waktu d-recruit tdk bisa berbahasa
>> Indonesia) memang seharusnya/sepantasnya anda berterima kasih pada Jokowi.
>>
>> --- ajegilelu@... wrote:
>>
>> Peraturannya sudah dicabut.
>> Apa lagi yang dipusingkan?
>>
>> Tinggal berterimakasih pada Jokowi.
>>
>> --- jonathangoeij@... wrote:
>>
>> Kelihatannya saya mencampur adukkan pembicaraan pada topik "ketentuan
>> berbahasa Indonesia" dgn "bahasa Indonesia itu mudah dan menyenangkan"
>>
>> Pertanyaan "Cuman kenapa kok tenaga ahli berbahasa Mandarin menjadi
>> persoalan?"  bukan artinya orang yg berbahasa Mandarin sulit mempelajari
>> bahasa asing. Pokok penekanannya ada pada perbedaan perlakuan thd mereka
>> yang berbahasa Mandarin (dalam cerita Fahri Hamzah). Bukankah yg berbahasa
>> Spanyol itu pada waktu di-recruit jadi pelatih juga tidak bisa berbahasa
>> Indonesia dus artinya juga tidak memenuhi ketentuan harus bisa berbahasa
>> Indonesia.
>>
>> Catatan: sekedar kata2 sapaan seperti selamat pagi, apa kabar dan
>> sejenisnya itu apakah juga termasuk bisa berbahasa Indonesia? Saya juga
>> bisa ngomong guten tag, ich liebe dich, tetapi jelas nggak bakalan
>> berani bilang bisa bahasa Jerman.
>>
>>
> 
>

Kirim email ke