IMF bukan lembaga keuangan internasional sembarangan. IMF adalah lembaga 
keuangan internasional imperialis!! sifat IMPERIALIS itulah yang anda 
lupakan....artinya semua sepak terjang IMF adalah untuk menjaga dan demi 
kepentingan kaum imperialis yang didominasi AS.. Dan dari dulu sampai sekarang 
kepentingan kaum imperialis SELALU BERTENTANGAN dengan kepentingan nasional dan 
rakyat negeri-negeri Dunia Ketiga.  Nampaknya anda tidak dapat melihat bahwa 
kedudukan negeri-negeri Dunia Ketiga, seperti Indonesia, walaupun ada di G20, 
TIDAK SEJAJAR dengan negara-negara kapitalis-imperialis besar dan kecil, dari 
AS sampai Belanda!! Anda juga tidak mampu melihat bahwa penanaman MODAL ASING 
tidak pernah dibuktikan menjadi jalan keluar bagi negeri-negeri Dunia Ketiga 
untuk keluar dari keterpurukannya, dari kemiskinan, dari keterbelakangannya. 
Berkali-kali saya tampilkan di komentar, tunjukkan negeri Dunia Ketiga yang 
berhasil menyelesaikan masalah pengangguran, kemiskinan dan keterbelakangannya. 
Padahal sejak merdeka dari kolonialisme, MODAL ASING sudah menjadi sandaran 
negeri-negeri itu untuk berkembang. Tidak perlu jauh-jauh ambil contoh. 
Suharto, begitu berkuasa, yang pertama dilakukan adalah memudahkan masuknya 
Modal asing!!! Sejak itu, presiden bisa berganti-ganti, tapi politik ekonomi 
tetap sama: bersandar pada modal asing!! Apakah selesai masalah pengangguran? 
Anda bilang modal asing melahirkan pekerjaan. Itulah salah satu MITOS yang 
justru disebarkan dan dipertahankan oleh lembaga-lembaga seperti IMF dan Bank 
Dunia!!! Sudah lebih dari setengah abad, Indonesia menjadi sasaran MODAL ASING. 
Mana hasilnya?? Ya memang ada hasilnya....melahirkan kelas menengah yang mapan 
seperti anda sendiri...Tapi bagaimana dengan jutaan penduduk Indonesia lainnya 
yang tinggal dipelosok???? Dan kesenjangan terus melebar!!! Mereka yang kaya 
tambah kaya, tapi yang miskin tambah miskin!!! Sementara itu kekayaan alam 
semakin menipis, hutan pada gundul, pencemaran lingkungan semakin gawat!! 
Itulah bung hasil dari PENANAMAN MODAL ASING !!!! Dengan Jokowi, tambah 
diperhebat hak-hak istimewa dan kelonggaran bagi modal asing, sampai TKA... 
Tanahpun bisa diberikan gratis kepada investor, sedangkan rakyat dirampas 
tanahnya demi "pembangunan" yang hanya menguntungkan kelas menengah keatas, 
seperti anda sendiri yang sudah hidup mapan. Nah, justru kebijakan Jokowi yang 
SANGAT MENGUNTUNGKAN MODAL ASING itulah yang membuat Pemerintah terus dipuji 
oleh kaum imperialis serta lembaganya. Anda seperti "mengingatkan" Sukarno, 
mengapa dulu bikin marah kaum imperialis...Kalau bersikap bersahabat, pasti 
tidak akan dijatuhkan!! Yah, memang disitulah bedanya Sukarno dan Suharto. 
Kalau Sukarno dipreteli dari sikap anti imperialis dan anti nekolimnya, maka 
Sukarno SAMA SEKALI tidak ada harganya di mata rakyat progresif sedunia!!! 

    On Friday, April 20, 2018 1:52 AM, "Karma, I Nengah [PT. BI-POS]" 
<[email protected]> wrote:
 

  <!--#yiv7595618044 _filtered #yiv7595618044 {font-family:Helvetica;panose-1:2 
11 6 4 2 2 2 2 2 4;} _filtered #yiv7595618044 {font-family:Wingdings;panose-1:5 
0 0 0 0 0 0 0 0 0;} _filtered #yiv7595618044 {font-family:"Cambria 
Math";panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;} _filtered #yiv7595618044 
{font-family:Calibri;panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;} _filtered #yiv7595618044 
{font-family:Verdana;panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4;} _filtered #yiv7595618044 
{font-family:Consolas;panose-1:2 11 6 9 2 2 4 3 2 4;}#yiv7595618044 
#yiv7595618044 p.yiv7595618044MsoNormal, #yiv7595618044 
li.yiv7595618044MsoNormal, #yiv7595618044 div.yiv7595618044MsoNormal 
{margin:0in;margin-bottom:.0001pt;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri", 
sans-serif;}#yiv7595618044 h1 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:24.0pt;font-family:"Calibri", 
sans-serif;font-weight:bold;}#yiv7595618044 h2 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:18.0pt;font-family:"Calibri", 
sans-serif;font-weight:bold;}#yiv7595618044 a:link, #yiv7595618044 
span.yiv7595618044MsoHyperlink 
{color:blue;text-decoration:underline;}#yiv7595618044 a:visited, #yiv7595618044 
span.yiv7595618044MsoHyperlinkFollowed 
{color:purple;text-decoration:underline;}#yiv7595618044 code 
{font-family:"Courier New";}#yiv7595618044 pre 
{margin:0in;margin-bottom:.0001pt;font-size:10.0pt;font-family:"Courier 
New";}#yiv7595618044 tt {font-family:"Courier New";}#yiv7595618044 
p.yiv7595618044msonormal0, #yiv7595618044 li.yiv7595618044msonormal0, 
#yiv7595618044 div.yiv7595618044msonormal0 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri", 
sans-serif;}#yiv7595618044 span.yiv7595618044Heading2Char 
{font-family:"Cambria", serif;color:#365F91;}#yiv7595618044 
span.yiv7595618044Heading1Char {font-family:"Cambria", 
serif;color:#365F91;}#yiv7595618044 span.yiv7595618044HTMLPreformattedChar 
{font-family:Consolas;}#yiv7595618044 p..yiv7595618044attach, #yiv7595618044 
li.yiv7595618044attach, #yiv7595618044 div.yiv7595618044attach 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:9.0pt;font-family:"Arial", 
sans-serif;}#yiv7595618044 p.yiv7595618044bold, #yiv7595618044 
li.yiv7595618044bold, #yiv7595618044 div.yiv7595618044bold 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:10.0pt;font-family:"Arial", 
sans-serif;font-weight:bold;}#yiv7595618044 p.yiv7595618044green, 
#yiv7595618044 li.yiv7595618044green, #yiv7595618044 div.yiv7595618044green 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri", 
sans-serif;color:#628C2A;}#yiv7595618044 p.yiv7595618044replbq, #yiv7595618044 
li.yiv7595618044replbq, #yiv7595618044 div.yiv7595618044replbq 
{margin:3.0pt;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri", 
sans-serif;}#yiv7595618044 p.yiv7595618044ad, #yiv7595618044 
li.yiv7595618044ad, #yiv7595618044 div.yiv7595618044ad 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri", 
sans-serif;}#yiv7595618044 p.yiv7595618044underline, #yiv7595618044 
li.yiv7595618044underline, #yiv7595618044 div.yiv7595618044underline 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri", 
sans-serif;}#yiv7595618044 span.yiv7595618044yshortcuts {}#yiv7595618044 
p.yiv7595618044ad1, #yiv7595618044 li.yiv7595618044ad1, #yiv7595618044 
div.yiv7595618044ad1 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri", 
sans-serif;}#yiv7595618044 p.yiv7595618044ad2, #yiv7595618044 
li.yiv7595618044ad2, #yiv7595618044 div.yiv7595618044ad2 
{margin-right:0in;margin-bottom:7.5pt;margin-left:0in;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri",
 sans-serif;}#yiv7595618044 p.yiv7595618044underline1, #yiv7595618044 
li.yiv7595618044underline1, #yiv7595618044 div.yiv7595618044underline1 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri", 
sans-serif;text-decoration:underline;}#yiv7595618044 
span.yiv7595618044yshortcuts1 {font-family:"Verdana", 
sans-serif;font-weight:bold;}#yiv7595618044 span.yiv7595618044yshortcuts2 
{font-family:"Verdana", sans-serif;font-weight:normal;}#yiv7595618044 
span.yiv7595618044EmailStyle39 {font-family:"Calibri", 
sans-serif;color:windowtext;}#yiv7595618044 .yiv7595618044MsoChpDefault 
{font-size:10.0pt;} _filtered #yiv7595618044 {margin:1.0in 1.0in 1.0in 
1.0in;}#yiv7595618044 div.yiv7595618044WordSection1 {}#yiv7595618044 _filtered 
#yiv7595618044 {} _filtered #yiv7595618044 {font-family:Symbol;} _filtered 
#yiv7595618044 {font-family:"Courier New";} _filtered #yiv7595618044 
{font-family:Wingdings;} _filtered #yiv7595618044 {font-family:Wingdings;} 
_filtered #yiv7595618044 {font-family:Wingdings;} _filtered #yiv7595618044 
{font-family:Wingdings;} _filtered #yiv7595618044 {font-family:Wingdings;} 
_filtered #yiv7595618044 {font-family:Wingdings;} _filtered #yiv7595618044 
{font-family:Wingdings;}#yiv7595618044 ol {margin-bottom:0in;}#yiv7595618044 ul 
{margin-bottom:0in;}-->Setahu saya dari jaman batu IMF tak pernah memuji 
Indonesia, kenpa tiba-tiba badan keuangan dunia memuji indonesia. Itu yang 
perlu dipertanyakan? Kalau cuma anggota kabinet yang memuji Indonesia oke 
sajalah untuk mencari muka, tapi ini badan dunia    From: 
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Friday, April 20, 2018 3:43 AM
To: [email protected]; [email protected]; Sahala Silalahi 
<[email protected]>; j.gedearka <[email protected]>
Cc: Harry Singgih <[email protected]>; Daeng <[email protected]>; 
Rachmat Hadi-Soetjipto <[email protected]>; Mitri 
<[email protected]>; Lingkar Sitompul <[email protected]>; Gol 
<[email protected]>; [email protected]; Farida Ishaja 
<[email protected]>; Oman Romana <[email protected]>; Harsono Sutedjo 
<[email protected]>; Billy Gunadi <[email protected]>; [email protected]; 
Ronggo A. <[email protected]>; Sie Tik Tan <[email protected]>; Andreas 
Sungkono <[email protected]>; Tjoa <[email protected]>; Nunu Nugroho 
<[email protected]>; GELORA_In <[email protected]>; Everistus Kayep 
<[email protected]>
Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Bos IMF: Kami Melihat Indonesia Jauh 
Lebih, Baik Sekarang       Jelas kelihatan kepada siapa mengabdi "pembangunan", 
bukan? Pujian datang dari bos IMF, lembaga finansial imperialis!!Kasihan mereka 
yang tidak mampu melihat dan mengerti mengapa Sukarno dibenci kaum imperialis 
dan akhirnya berhasil mereka menggulingkannya melalui jenderal fasis 
Suharto....Tidak mengerti apa arti imperialisme....    On Thursday, April 19, 
2018 8:14 PM, "'j.gedearka'[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:         
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3980839/bos-imf-kami-melihat-indonesia-jauh-lebih-baik-sekarang?_ga=2.41149794.1987474933.1524161362-1688049204.1524161362
 Kamis, 19 Apr 2018 23:25 WIB 
Laporan dari Washington DC
 
Bos IMF: Kami Melihat Indonesia Jauh Lebih
 
Baik Sekarang
 Dana Aditiasari - detikFinance Share0 Tweet0 Share0 0 Komentar  Foto: Dana 
Aditiasari/detikFinance   Washington DC - Ekonomi dunia tengah dalam kondisi 
pemulihan dengan prospek yang cerah, meski mmiliki risiko yang tetap perlu 
diwaspadai. Risiko itu terkait potensi pengetatan ekonomi dengan tembusnya 
rekor tertinggi utang global.

Lantas, bagaimana dengan kondisi ekonomi Indonesia?

Managing Director International Monetary Fund (IMF), Christine Lagarde menilai 
Indonesia memilik prospek cerah terkait potensi pertumbuhan ekonomi ke depan.

"Kami melihat Indonesia sebagai negara yang jauh lebih baik sekarang," kata dia 
dalam peluncuran Global Policy Agnda 2018, di kantor pusat IMF, Washington DC, 
Kamis (20/4/2018). 
| Baca juga:Bagaimana Kondisi Ekonomi RI Triwulan I-2018? Ini Kata BI  |


Indikator ya, sebut dia, adalah level pertumbuhan ekonomi RI yang masih cukup 
tinggi bila dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia yang memang 
tengah dalam pemulihan.

"Indonesia masih bisa tumbuh di atas 5%, cukup tinggi di atas rata-rata 
pertumbuhan ekonomi dunia," tuturnya.

Apalagi pemerintahan saat ini, kata Lagarde, sangat konsisten menjalankan 
reformasi kebijakan ekonomi ditandai dengan memangkas subsidi energi yang 
selama ini dianggap membebani keuangan negara. 
| Baca juga:Peringatan IMF: 3 Hal Ini Bisa Ganggu Ekonomi Negara Berkembang  |


"Hal yang membuat terkesan adalah kebijakan Presiden Jokowi yang berhasil 
memangkas subsidi energi dan mengalihkannya ke bidang infrastruktur dan 
kesehatan," kata Lagarde.

"Banyak orang yang melihat bahwa dengan sebuah kartu (kartu BPJS kesehatan) 
pelayanan kesehatan bisa dinikmati masyarakat. Seperti yang anda tahu, Presiden 
Jokowi mengajak saya ke rumah sakit waktu saya datang ke Indonesia beberapa 
waktu lalu dan saya melihat sendiri bagaimana pelayanan kesehatan diberikan ke 
pada masyarakat," jelasnya. 
| Baca juga:Utang Global Melonjak dan Dampaknya ke Indonesia  |


Hal lain yang membuat IMF optimistis ekonomi Indonesia akan lebih baik di 
tengah potensi tekanan ekonomi global karena upaya pemerintah menyederhanakan 
perizinan investasi dengan memanfaatkan sistem digital.

"Kami juga mengapresiasi digitalisasi hampir semua aspek dalam bidang perizinan 
yang membuat perizinan investasi lebih transparan," tutur Lagarde.(dna/hns)






     

   

Kirim email ke