Bung Chan,
Bisa saja terjadi contractor dari Tiongkok untuk turn key project datangkan
tenagan ahli dan terampil dari Tiongkok karena kalau project terlambat
selesainya,
, tiap harinya kena denda besar sekali. Contractor bisa rugi besar.
Ada peraturan, tiap satu TKA harus ada satu dari Indonesia sebagai
pendampingnya. Jadi dengan begini, diharapkan ada alih teknologi,
setidak-tidaknya alih ketrampilan. Kalau proyeknya joint venture dengan
pemerintah, pengalihan teknologi dan ketrampilan bisa dilakukan lebih
effektif, dengan campur tangannya BUMN
yang akan melakukan seleksi kecakapan calon pekerja. Kalau orang tidak tahu
apa2, sukar sekali dan lambat sekali untuk ikuti kecepatan membangun pabrik..
Lain dengan mendidik satu operator oleh satu orang berpengalaman yang terus
menerus mendampinginya dalam seminggu, yang hanya focus melayani satu mesin..
Itu pengalaman nyata di pabrik. Satu tenaga baru, hari pertama hanya bantu2
operator berpengalaman, yang menjelaskan dia cara kerjanya. Hari kedua,
operator baru sudah harus mulai kerja sambil dibantu operator lama. hari
ketiga dicoba kerja sendiri, sambil diawasi dan dikoreksi. Hari keempat,
kepala regu lihat sendiri cara kerjanya, sambil lebih dijelaskan, jalannya
proses. Hari kelima, sudah harus betul, baik kerjanya, meskipun
kecepatannya masih kalah dengan yang sudah berpengalaman.
Seperti yang diceritakan bung Lin, Mitsui hampir2 rugi besar karena turn
key project akan terlambat selesainya. Jadi erpaksa pakai TKA.
Pakai TKA itu lebih mahal per harinya, tetapi dia sudah tahu apa yang harus
dikerjakan, karena pernah ber-ulang2 mengerjakan pekerjaan yang hampir sama..
Jadi jatuhnya per bagian pekerjaan akan lebih murah.
Dulu real estate Indonesia pakai banyak onderannemer asing, yang datang
dengann alat2 canggih. Sekarang ada beberapa onderannemer dari Indonsia
yang memiliki alat2 canggih dan menguasai tekniknya.
Real estate Indonesia yang bangun real estate di Tiongkok, banyak yang
pakai onderannemer dari Scotland. Lalu pakai penterjemah Inggris-mandarin
dari Malaysia
supaya insruksi dari orang Scot ini bisa dipahami tukang2 dari Tiongkok.
Ketrampilan tukang2 dari Tiongkok dan indonesia yang bekerja tetap di real
estate luar biasa baik, dengan pengalaman bertahun-tahun.
Salam,
KH

2018-04-22 17:08 GMT+02:00 Chan CT <[email protected]>:

> Baguuuus, bung Djie. Satu masukan yang gaji buruh Tiongkok dan Indonesia
> yang realis, ... beberapa tahun terakhir ini. Dimana tingkat kehidupan
> buruh Tiongkok sudah jauh lebih tinggi ketimbang Indonesia. Nenek dalam
> tempurung itu, masih saja bertahan dimasa tahun 60-70-an, ... Tidak berani
> melihat sejak tahun 2008, dimana titik-berat tugas PKT meningkatkan
> kesejahteraan tani didesa-desa, dan kebetulan krismon menerjang yang
> akibatkan puluhan ribu perusahaan gulung-tikar, jutaan buruh seketika jatuh
> jadi penganggur! Justru saat itu desa-desa sudah mulai bergerak dan
> berhasil menyedot keembali buruh-buruh kembali kekampung halaman, ...
> ahli-ahli ekonomi barat yang meramalkan gelembung sabun ekonomi Tiongkok
> mulai meledak akan menghancurkan ekonomi Tiongkok itu bersorak-ria
> kesenangan, termasuk nenek kita yang satu ini! Tapi, ternyat kecelee! RRT
> bukan  roboh, tapi tetap maju dengan kecepatan terbaik didunia, sekalipun
> sedikit turun! Hehehehee, ...
>
> Kalau saja gaji buruh Tiongkok jelas lebih tinggi, bagaimana mungkin
> pengusaha Tk yang investasi di Indonesia bisa memboyong buruh Tk sendiri
> utk bekerja di Indonesia dan merebut mata pencaharian buruh lokal??? Yang
> terjadi sebaliknya, buruh Indonesia yang lebih banyak bekerja di Tiongkok
> dan itu juga KENYATAAN yang terjadi. Atau pengusaha-asing bahkan juga
> sementara pengusaha Tk., juga merasa biaya produksi di pesisir Tiongkok
> sudah terlalu tinggi, harus hijrah keluar ke barat-laut, dipedalaman
> Tiongkok atau ke Asia-tenggara, termasuk Indonesia, untuk bisa mendapatkan
> keuntungan lebih besar.
>
> Yang PASTI 10 tahun terakhir ini, gaji buruh di Tiongkok sudah jauh lebih
> tinggi dari di Indonesia! *Buruh Pabrik di China: Saya Gajian Rp 6.6
> Juta! *Begitu kata Ara, Pelajar Indonesia yang menyambi sebagai buruh
> pabrik saat masa liburan semester, mengaku telah bekerja pada sebuah pabrik
> di Kota Xiamen, Fujian China. ( https://finance.detik.com/
> berita-ekonomi-bisnis/d-3416714/gaji-pekerja-di-china-
> apakah-lebih-kecil-dari-ri ) Kalau saja masih ada yang berani bilang
> buruh di Tk lebih murah dari buruh Indonesia, itu PASTI hanya PENIPUAN agar
> buruh Indonesia mau menerima dan PUAS dengan gaji MURAH saja!
>
> Seringkali saya TIDAK BISA mengerti mengapa nenek dalam tempurung itu,
> sampai sekarang ini masih saja berani mengatakan TKW Indonesia yang bekerja
> di HK digaji lebih MURAH dari TKW lainnya! Itukan terjadi jauh diawal tahun
> 90-an, boleh dikatakan hanya terjadi pada sebagian kecil pekerja dari
> Indonesia yang menerima gaji rendah dari ketentuan pemerintah HK! Saya
> YAKIN, sudah TIDAK BISA terjadi lagi sekarang ini! Pada umumnya yang
> terjadi sampai sekarang ini, seperti yang dibilang TKW itu mendapatkan
> underpayment. Karena untuk bisa bekerja di HK, TKW dari deesa-desa lebih
> dahulu ditampung agen menerima pendidikan/latihan pekerjaan rumah-tangga,
> dari masak, merawat anak, bayi dan orang tua selama 3 bulanan dan untuk
> keluarkan passport, visa kerja. Dan semua pengeluaran biaya itu ditanggung
> oleh agen yang HARUS dibayar dengan angsuran gaji mereka di HK selama
> sedikitnya 8 bulan! Nah, selama 8-10 bulan pertama itulah TKW Indonesia
> hanya merima gaji sekitar 60% saja! Untuk bayar HUTANG pada agen! Satu saat
> diskusi masalah underpayment yang terjadi di konsulat, ... pernah saya
> ajukan, kenapa TKW dikatakan sebagai “Pahlawan Devisa” RI, tapi pemerintah
> TIDAK mau keluarkan passport+VISA kerja dengan gratis bagi TKW itu? Jadi
> memperkecil HUTANG mereka pada agen. Ternyata, dari beberapa agen
> mengatakan pengeluaran untuk passport dan visa-kerja saja dibutuhkan
> sekitar 8 ribu HK dollar! Mahal banget, hampir 2 bulan gaji mereka di HK!
> Kalau pemerintah bisa menggratiskan, berarti hutang mereka pada agen cuma
> sekitar 2 ribu dollar saja! Tapi, yaaah, ... pemerintah berpikir lain!
> Masih saja menjadikan TKW sb sapi perah yang nyaman untuk diperaah.
> Apaboleh buat, ... berlakulah HUTANG pd agen yang membuat TKW itu tidak
> berani berteriak kalau mendapatkan perlakuan tidak baik bahkan dianiaya
> secara tidak manusiawi oleh majikan edan bahkan biadab! Kasihaaan, ...
> apalagi yang bertugas di Arab sana, ditanah suci idaman kebanyakan dari
> mereka.
>
> Salam,
> ChanCT
>
>
> *From:* kh djie [email protected] [GELORA45]
> *Sent:* Sunday, April 22, 2018 12:23 PM
> *To:* Gelora45
> *Subject:* [GELORA45] Gaji buruh pembuat sepatu di TRiongkok dan Indonesia
>
>
>
> Bung Chan,
> Gaji buruh pabrik sepatu di Tiongkok 1.67 dollar per jam.
> https://www.nbcnews.com/news/world/worsening-china-factory-
> strike-threatens-adidas-nike-sneakers-n87951
> Gaji buruh pabrik sepatu di Indonesia 0. 5 dollar per jam
> Kalau oang kerja 8 jam sehari, dan 6 hari per minggu,
> Gaji buruh sepatu di Tiongkok : 1.67 dollar/jam X 8 jam/hari X 6
> hari/minggu X 13/3 minggu/bulan =  347.4 dollar = 347.4 X 14000 rupiah =
> 4.86 juta rupiah/bulan.
> Gaji buruh sepatu di Indonesia :  0.5/1.67 nya  4.86 juta rupiah = 1.45
> juta rupiah.
> Kalau menurut artikel di bawah, gaji pekerja pabrik sepatu di Bekasi : 2
> juta/bulan
> Jadi karena itu banyak tenaga kerja Indonesia kerja di pabrik sepatu
> Tiongkok ?
> Juga karena Tiongkok sendiri mulai kekurangan tenaga kerja di pabrik ?
> Tetapi mengapa subcontractor di Tiongkok sanggup membayar lebih mahal dari
> pada subcontractor di Indonsia ? Apa karena dapatnya dari pabrik sepatu
> internasional
> lebih banyak, karena sanggup memproduksi kwalitas lebih bagus ? Atau ada
> sebab lain ?
> Ternyata mahasiswa Indonesia yang belajar di Tionkok, dapat memperoleh
> pekerjaaan dengan mudah selama liburan ';
> https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-
> 3416714/gaji-pekerja-di-china-apakah-lebih-kecil-dari-ri
> *Wah Aprisindo bilang gaji buruh sepatu Indonesia jauh lebih tinggi dari
> Tiongkok.*
> *Lha, kalau begitu mengapa banyak TKI kerja di pabrik sepatu di Tiongkok ?*
> https://travel.kompas.com/read/2012/11/02/08463547/
> Aprindo.Dibanding.China.Upah.Pekerja.Sepatu.RI.Lebih.Tinggi
> Wah, pemalsuan informasi supaya buruh pabrik sepatu Indonesia nerimo ?
>
> Salah satu gambar dari Afbeedingen Indonwesian workers in Shoes factory in
> China.
> Orang2 asing boleh bekerja, dapat visa dari kota Shanghai, untuk kerja
> jadi pembantu rumah tangga, dari orang2 asing dengan jabatan tinggi :
> http://www.china-briefing.com/news/2017/04/13/shanghai-
> becomes-first-city-in-mainland-china-to-grant-foreign-domestic-workers-
> residency.html
> Jadi orang asing tidak boleh jadi pembantu rumah tangga orang Tiongkok ?
>
>
> 
>

Kirim email ke