Para sahabat. Setelah melewati Hari Kartini dan membaca lagi masalah yang diutarakan oleh Sukmawati seperti apa yang dia kandung dalam hatinya, namun yang segera saja diacungi komentari oleh orang yang merasa punya "otoritas" agama Islam, saya jadi ingat Karya Pram dan berikut kutipannya, juga saya kirimkan per pdf.:
Kutipan Karya:
PRAMOEDYA ANANTA TOER :
PANGGIL AKU KARTINI SAJA
(hlm 233–237)
Di bidang ketuhanan
Tambah jauh dengan surat-suratnya, tambah banyak Kartini bicara tentang
Tuhan, dan tambah jauh ia meninggalkan bentuk-bentuk keibadahan dan
agama. Ia adalah seorang yang religius, tanpa berpegang pada
bentuk-bentuk keibadahan ataupun syariat, jadi ia termasuk dalam
golongan javanis Jawa, atau golongan kebatinan, di mana Tuhan difahami
sebagai sumber hidup, yang mengikat setiap orang denganNya, tak peduli
apapun agama yang dianut, bahkan juga bagi si atheis sekalipun,
sebagaimana jelasnya dinyatakannya dalam hubungan dengan buku Edna
Lyall We Two (lih. Surat, 20 Agustus 1920, kepada Nyonya Nelly Van
Kol).
Ia dapat menerima agama apapun, dan ia tidak dapat menerima
pemutarbalikan atas agama apapun, sebagaimana halnya pernyataannya
dalam hubungan dengan buku Sienkiewicz Quo Vadis?
Dan bagaimana tentang kepercayaannya sendiri sebagai seorang pemeluk
agama Islam?
<> Tahun-tahun datang dan mereka kemudian pergi…. Kami bernama
orang-orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami
adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih.
Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah kata, adalah bunyi tanpa
makna…. Demikianlah kami hidup terus – sampai terbitlah hari yang akan
mendatangkan pergulingan di dalam kehidupan rohani kami. (Surat, 15
Agustus 1902, kepada E.C. Abendanon.) <>
Kalau Kartini menyatakan seperti itu, bukan berarti ia memunggungi
agama nenek-moyangnya, tetapi hanyalah suatu pengakuan jujur tentang
suasana hati sesaat, dimana ia tidak puas terhadap sikap orang-orang
yang menamakan dirinya orang Islam, tetapi melakukan
perbuatan-perbuatan yang justru tidak patut dilakukan orang-orang yang
menyebut dirinya beragama. Dan perlakuan semacam itu terlalu banyak
diterima oleh Kartini dari orang-orang yang justru mengakui dirinya
Islam, terutama perlakuan dalam bentuk fitnah dan bisik-desus. Memang
Kartini banyak bicara tentang religi, tetapi sebenarnya ia lebih banyak
seorang humanis, yang melihat segala dari jurusan kepentingan manusia:
amal manusia kepada manusia sebagai dasar moral dunia modern. Asas ini
yang menyebabkan ia dengan kata-kata yang terasa keluar dari hati
jengkel menulis:
<> In `t kort, zendingsarbeid – doch zonder doop,
atau:
Pendeknya kerja amal – tapi tanpa baptis. <>
Ini dinyatakannya kepada E.C Abendanon sebagai syarat-jawaban, yang
mungkin sekali hendak mempergunakan krisis Kartini atas religi yang
tidak memuaskan hatinya sebagai kesempatan untuk berpindah pada
kepercayaan Protestan, sebagai dilakukan oleh Pandita Ramabai di Hindia
Inggris. Dan selanjutnya ia menyatakan, bahwa, kalau Belanda hendak
mengajarkan kesalehan mutlak pada orang Jawa, haruslah diajarkan
kepada mereka itu cara mengenal Tuhan yang Mahaesa, Bapa Cinta. Bapa
seluruh MakhlukNya, tak peduli orang Nasrani, Islam, Buddha ataupun
Yahudi. Kemudian Kartini menyatakan pula, bahwa:
<> …. agama yang sesungguhnya ialah kebatinan, dan agama itu bisa
dipeluk baik sebagai Nasrani maupun sebagai Islam dan lain-lain. <>
(Surat, 31 Januarni 1903, kepada E.C. Abendanon. Bandingkan juga dengan
Jusup Abdullah Puar Kartini Menjengkau Tuhan dalam surat kabar Abadi,
22 April 1960.)
Kembali disini orang berhadapan dengan sinkretisme dalam jiwa Kartini,
yang selalu mencoba meninggalkan syarat, untuk tidak terpeleset dari
asas ajaran. Tapi lebih jelas ialah sebagaimana ia rumuskan sendiri:
<> Selalu menurut faham dan pengertian kami, ini segala agama adalah
Kebajikan, yang membuat setiap agama menjadi baik dan indah. Tapi, duh!
orang-orang ini apakah yang telah kalian perbuat atasnya!
Agama adalah dimaksudkan sebagai karunia, untuk membentuk ikatan antara
semua makhluk Tuhan, coklat dan putih, dari kedudukan, jenis,
kepercayaan apapun, semua kita adalah anak-anak dari satu Bapa, dari
satu Tuhan! Tak ada Tuhan lain kecuali Allah! Kata kami orang-orang
Islam, dan bersama kami juga semua orang beriman, kaum monotheis; Allah
adalah Tuhan, Pencipta Sekalian Alam. Anak-anak dari satu Bapa, saudara
dan saudari jadinya, harus saling cinta-mencintai, artinya
tunjang-menunjang bertolong-tolongan. Tolong-menolong dan tunjang
menunjang, cinta-mencintai, itulah nada-dasar segala agama. Duh, kalau
saja pengertian ini difahami dan dipenuhi, agama akan menguntungkan
kemanusiaan, sebagaimana makna asal dan makna ilahiah daripada:
karunia! Itu yang justru membuat kami bersiaga terhadap agama, ialah
bahwa para pemeluk agama yang satu menghinakan, membenci, kadang
memburu-buru yang lain, malah….<> (Surat, 21 Juli 1902, kepada Nyonya
Van Kol.)
Jadi, sebagai humanis ia memandang, tanpa kemanusiaan dalam batin
manusia itu sendiri, agama tidak bakal memenuhi gunanya. Jelas sekali
pendapat ini berasal dari golongan javanis dan dirumuskan secara modern
sejalan dengan humanisme Eropa dan yang oleh Multatuli dalam
Minnerbrievennya dikristalisasikannya dengan kata-kata: „Tugas Manusia
ialah menjadi Manusia.“
Sejalan dengan gaya Kartini yang bermakna ganda,
pernyataan-pernyataannya tentang soal yang khusus nampaknya ini, bukan
tidak mungkin mempunyai latar belakang lain lagi, yaitu hubungan tanpa
perikemanusiaan antara penjajah putih dan terjajah coklat. Meninggalkan
kemungkinan adanya makna-ganda dalam pernyataannya tersebut menarik
adalah istilah-istilah Nasrani yang dipergunakannya dalam membicarakan
bidang ini, hampir tak pernah dipergunakannya istilah Arab. Benar ia
pernah menyatakan, di lingkungannya tiada seorang pun faham bahasa
Arab, tapi sedikit atau banyak mengherankan juga keadaan ini.
Namun apapun kekurangannya di bidang agama Islam, ia tiada pernah
mencederainya, sebagaimana ia pun tiada pernah mencederai Rakyatnya.
R.M. Notosuroto menyatakan, bahwa „perasaan keagamaan Kartini nampak
pada keteguhan imannya, dalam mana ia terdidik, tetapi suatu keteguhan
yang berbareng dengan pengertian yang lembut di mana sekaligus
diberikan tempat yang luas bagi kebaikan agama-agama lain.
Penghargaannya ini menyebabkan kalbunya tidak membeku dalam dogma-dogma
kaku, tapi sebaliknya menyebabkan ia menjadi lebih kaya dan membuat ia
mengerti quintessence atau inti setiap religi: kebajikan dan cinta
sesama. Dari bagian kehidupan kalbunya ini kita dapat mengenal
garis-garis watak Kartini yang menyebabkan ia menjadi permata:
toleransi, kesadaran harga diri dan penghargaan terhadap kebajikan yang
juga berasal dari orang-orang lain.“
„Keseimbangan yang sama dengan anggapannya terhadap religi sendiri
serta orang lain dapat kita temukan kembali di dalam penghargaannya
terhadap sifat pandangan hidup Timur maupun Barat.“ (R.M. Notosuroto De
Gedachten van R.A. Kartini voor de Indische Vereeniging, hlm. 11-12.)
Jadi yang manakah Tuhan Kartini sesungguhnya? Segera atas pertanyaan
ini Mr. C. Th. Van Deventer menjawab:
„Kalau orang hendak tahu tentang Tuhannya Kartini? Yah, Dialah Yang
Tertinggi tanpa Batas, yang menyebabkan orang-orang Islam, Kristen dan
Yahudi bersaudara satu dengan yang lain, yang menyebabkan juga
orang-orang Brahmana dan bahkan juga orang Kafir dijiwai dan bahwa
Kebajikan dan Cinta merupakan ketentuan-ketentuannya yang terutama.
Kepercayaan pada Tuhan itulah yang terutama baginya, keibadahan hanya
soal tradisi. Sebagai orang yang terdiri secara Islam, ia ingin tetap
menjadi Islam sekalipun ia tidak buta terhadap beberapa kelemahan dari
ajaran itu, karena bentuk kepercayaan itu baginya akhir-akhirnya adalah
soal kedua, dan setiap bentuk itupun punya kelemahannya sendiri ….“
„ …. Tidak pernah dihadapkan kepada kita dengan lebih jelas betapa
perasaan-perasaan keagamaan pada orang Jawa yang telah bersentuhan
dengan peradaban Barat mendapatkan suatu pentahbisan yang lebih tinggi
tanpa harus memunggungi agama Islam.“ (Mr. C. Th. Van Deventer Kartini
dalam De Gids, Amsterdam, September 1911.)
Dan setelah memahami Tuhan-nya Kartini, barulah orang dapat memahami
pula ucapan-ucapannya dalam mana Tuhan disebut-sebutnya.
Sungguh mengherankan, sekalipun begitu banyak menyebut-nyebutnya,
hampir selalu ia mempergunakan istilah dan isi yang ada dalam ajaran
Nasrani yang mencampuradukkannya dengan ajaran-ajaran Islam yang
diterimanya hanya secara tradisional dan asimilatif dan nampak sekali
Kartini tidak pernah berkenalan dengan theologi baik menurut Islam
maupun Nasrani, dan di sana-sini muncul teori-teorinya sendiri maupun
teori-teori yang berasal dari bacaan. Baik teori-teorinya sendiri
maupun yang telah menjadi kepunyaannya sendiri, tidak pernah
meninggalkan pengutamaan nilai manusia serta amalnya kepada masyarakat.
Kutipan selesai.
Inilah kebijakan Ibu kita Kartini yang sangat tinggi kadarnya dalam
memandang agama. Seandainya, sekali lagi seandainya pandangan Ibu
Kartini seperti yang disunting dalam Karya Pram ini menjadi kebijakan
berfikir, bertindak sekaligus menjadi budaya dan filsafat hidup
orang-orang Indonesia dalam memandang perbedaan agama, saya kira
percekcokan yang berskala mudah sekali digunakan adu-domba oleh
kelompok-kelompok yang menggunakan label agama tidak akan ada.
Salam
Lusi.-
Pramoedya A Toer - Panggil Aku Kartini Saja - Bidang Ketuhanan .pdf
Description: Adobe PDF document
