Buruh PT. Panarub Tuntut Perusahaan Kurangi Beban Target dan Lakukan Transparansi Keuangan Aksi selebaran SBGTS-GSBI PT.Panarub Industry - Tangerang menuntut pengurangan target dan transparansi keuangan perusahaan. [foto:istimewa]MRB, Tangerang – Merasa jengah dengan tekanan perusahaan untuk meningkatkan produksi, buruh PT. Panarub Industry di Tangerang lakukan aksi di pintu Pabrik. Buruh yang tergabung dalam SBGTS-GSBI (Serikat Buruh Garment, Tekstil dan Sepatu – Gabungan Serikat Buruh Indonesia) membagikan selebaran dan mengajak buruh untuk bersatu untuk menentang kebijakan perusahaan.Menurut keterangan Sari, pimpinan SBGTS-GSBI Panarub Industry, perusahaan selalu menyebarkan isu mengalami kerugian sebesar 8 Milyar Rupiah akibat klaim retur sepatu, yang menurut manajemen adalah akibat menurunnya kualitas kerja buruh. Dengan dalih itu perusahaan mengeluarkan kebijakan One Hundred Project yaitu program seratus hari kerja untuk mengganti kerugian perusahaan dan peningkatan kualitas.Pernyataan perusahaan tersebut dibantah oleh SBGTS-GSBI, “Kalau perusahaan mau jujur, penurunan kualitas disebabkan oleh penurunan kualitas bahan baku oleh perusahaan seperti bahan outsole, kulit dan lem” ujar Sari. “setiap pagi perusahaan melakukan meeting dan briefingyang selalu menekankan kerugian perusahaan serta menekan buruh untuk patuh segala aturan sembari meningkatkan beban kerja, ini adalah intimidasi yang meresahkan buruh” tambah Sari.Praktek lainnya yang merugikan buruh adalah pengurangan pegawai tanpa ada pengurangan target sehingga beban kerja buruh meningkat, bahkan target yang ditetapkan semakin tinggi. Perusahaan beralasan karena upah buruh setiap tahun juga naik. Dampaknya buruh terpaksa bekerja berlipat untuk mengejar target kuantitas dibandingkan kualitas.Buruh juga membantah kerugian yang dialami perusahaan, kenyataannya PT. Panarub Industry mengeluarkan budget besar untuk sekedar mempercantik bangunan perusahaan, membangun pabrik di Brebes dan di Cikupa. “Bahkan perusahaan kini mendapatkan keuntungan berlipat dari penurunan Upah Minimum Sektoral Kota (UMSK) tahun 2017 yang ditetapkan hanya 3,1 persen ditambah keuntungan dari mempekerjakan buruh kontrak di perusahan pemasok outsole” ujar Dwi Martini salah seorang pengurus SBGTS-GSBI.Buruh menyimpulkan isu kerugian perusahaan hanya di sebar untuk memotong hak buruh terlebih penyebaran isu kerugian tidak disertai transparansi laporan keuangan perusahaan. “Ini adalah upaya intimidasi dan teror terhadap buruh” ujar Dwi.“SBGTS-GSBI PT. Panarub Industry mendesak perusahaan untuk menurunkan beban target produksi dan menuntut transparansi keuangan perusahaan. Kami juga menuntut pemenuhan fasilitas air bersih, tempat ibadah, tempat makan dan tempat istirahat yang manusiawi bagi buruh” tegas Sari.SBGTS-GSBI juga mengajak buruh untuk memperjuangkan haknya dengan bergabung dalam organisasi buruh sejati yang tidak dapat di beli oleh pihak manapun, hanya serikat buruh sejati dan militan yang dapat konsisten memperjuangkan hak buruh serta mengangkat martabat buruh.Berkenaan dengan rencana peringatan Hari Buruh 1 Mei nanti, SBGTS GSBI menyatakan akan turun kejalan bersama seluruh gerakan buruh, kaum tani dan seluruh rakyat tertindas untuk menentang kebijakan pemerintah yang mempertahankan upah murah, sistem kontrak, outsorcing, perampasan tanah, penggusuran dan mendesak penghapusan pajak bagi buruh, tani dan rakyat miskin [M01]
[GELORA45] Buruh PT. Panarub Tuntut Perusahaan Kurangi Beban Target dan Lakukan Transparansi Keuangan
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Fri, 27 Apr 2018 08:59:55 -0700
