Kamis, 26 April 2018, telah meninggal Sri Sulistyawati, istri almarhumSukatno, 
Ketua Pemuda Rakyat. Jenazah di rumah duka Panti Jompo, jaln Kramat V, Jakarta 
Pusat
Sri Sulistyawati, salah seorang penyintas tragedi 1965. Foto oleh 
RapplerJAKARTA, Indonesia — Ia menyisir rambut putihnya yang terjuntai hingga 
sebahu dengan jari tangannya yang sudah keriput.Ia kemudian menatap pada 
Rappler dan berkata, “Eyang ini bukan siapa-siapa,” kata Sri Sulistyawati saat 
dikunjungi di sekretariat Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI), Rabu, 20 
April.Sri kemudian memulai kisahnya sebagai seorang perempuan kelahiran 
Cirebon, 19 September, 76 tahun yang lalu. Bapaknya adalah seorang guru di 
Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Lembang, Jawa Barat, yang selalu ingin 
anaknya membaca dan menulis untuk menambah wawasan.Sri mengaku sudah menggemari 
tulis menulis dan seni sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Ia 
sempat menjadi wakil Jawa Barat untuk kesenian angklung dan topeng dalam sebuah 
lomba tingkat nasional.Sejak SMP itu pula ia ikut dalam organisasi Ikatan 
Pelajar Indonesia (IPI). Sri yang menikah pada umur 18 tahun, meneruskan kuliah 
di Akademi Jurnalistik Jakarta yang didirikan oleh kantor berita Antara.Karir 
pertamanya sebagai wartawan ia mulai di Harian Ekonomi Nasional dan Suluh 
Indonesia milik Partai Nasional Indonesia (PNI), yang dipimpin Sukarno. Ia 
masih mengenang liputan pertamanya, blusukan di pasar mencatat harga 
barang-barang.Ketika bekerja di Suluh Indonesia Muda, Sukarno melirik bakatnya 
danmemintanya untuk meliput di Istana Negara. “Sebenarnya saya enggak senang 
politik, jujur,” aku Sri.Ia rajin mewawancarai presiden pertama RI itu di pagi 
hari, sekitar pukul 6:00. “Bung Karno rajin sekali menyiram tanaman dan 
membersihkan kamarnya sesudah salat Subuh,” ungkap Sri.Kesempatan langka itu 
tidak ia sia-siakan, ia menanyai Sukarno tentang berbagai macam isu, mulai dari 
politik hingga pribadi.“Terakhir ia mengatakan begini, 'Bapak sudah tidak 
sanggup lagi mengelola negara karena penyakit yang menggerogoti di dalam tubuh, 
dan juga karena kabinet sendiri menggerogoti',” tutur Sri menirukan Sukarno, 
sebelum pecah pemberontakan 1965.Menurutnya saat itu, Sukarno ingin Jenderal 
Ahmad Yani menggantikannya. “Tapi Pak Nasution (Jenderal Abdul Haris Nasution) 
tidak setuju karena Yani tidak ikut revolusi kok dijadikan presiden,” 
ujarnya.Sukarno bersikukuh ingin Ahmad Yani menggantikannya karena dinilai 
memiliki visi dan misi yang sama dengannya.Perseteruan di dalam tubuh angkatan 
bersenjata itu akhirnya berbuah pergolakan di masyarakat yang kemudian 
berdampak pada nasib Sri.“Yang jadi masalah ini bukan sipil apalagi PKI (Partai 
Komunis Indonesia), itu masalah tubuh di Angkatan Darat sendiri,” 
katanya.Apalagi setelah Nasution akhirnya merangkul Mayjen Suharto yang ia 
dorong sebagai calon pengganti Sukarno.Perseteruan di tubuh kabinet ini menguat 
dan berdampak pada masyarakat, terutama mereka yang mengikuti Bung Karno secara 
ideologis..

“Bung Karno rajin sekali menyiram tanaman dan membersihkan kamarnya sesudah 
salat Subuh.”

Puncaknya pada 1 Oktober 1965, tersiar kabar kudeta di Jakarta. Saat itu, Sri 
sedang berada di Langsa, Aceh, untuk mengikuti safari Kabinet Dwikora yang 
dipimpin oleh rombongan Wakil Perdana Menteri I Soebandrio dalam rangka 
menggalakkan perekonomian.Selama hampir satu bulan, Sri berada di luar Jakarta. 
Ia tak tahu menahu soal prahara di ibu kota, apalagi terkait tujuh jenderal 
yang dibunuh dan dibuang di Lubang Buaya.Hingga ia kembali ke Jakarta pada 3 
Oktober tahun yang sama. “Situasi di Jakarta saat itu sunyi tapi sangat 
menakutkan,” ujarnya.Saat tiba di bandara, seseorang memberitahunya agar tidak 
pulang ke rumahnya di Bungur Besar, tapi mengungsi.. “Katanya rumah saya sudah 
banyak militer. Lho kok militer? Apa hubungannya saya dengan militer?” ujarnya 
bingung.Ia sempat bersikukuh pulang tapi lagi-lagi dicegat oleh tetangganya 
yang memberi nasihat senada. "Jangan pulang, rumah sudah dikepung militer," 
ujar tetangganya kala itu..Sri kemudian memutuskan untuk mengungsi ke rumah 
mertuanya di Sunda Kelapa dengan berjalan kaki. Karena waktu itu sudah memasuki 
jam malam, ia memilih menelusuri jalan setapak di gang-gang agar tak memancing 
perhatian militer.Sesampainya di Sunda Kelapa, mertua Sri tak mau 
menerimanya.Nalurinya sebagai wartawan kemudian mengantarkannya ke Istana 
Negara untuk mencari keterangan tentang apa yang terjadi.Saat itu ia hanya 
berbekal daster.Di Istana, alih-alih mendapat penjelasan, ia malah diolok-olok 
oleh rekannya. “Ngapain kamu ke sini? Kan udah dibredel (harian Suluh Indonesia 
Muda).” Usut punya usut, ia ternyata dicari pihak militer karena kedekatannya 
dengan Sukarno.Ia pun langsung sadar, bahwa ia kini terasing, tak ada orang 
yang mau berpihak padanya. “Orang tua (mertua) saya juga takut mau menerima,” 
ujarnya.Sehingga ia mencari kios di Tanah Abang dan memutuskan berjualan dengan 
teman sekantornya. Mereka menjual bawang merah, cabe merah, dan tomat.Ia 
bertahan hidup dengan berpindah-pindah. Dari Jakarta ke Surabaya hingga 
akhirnya ia ditangkap oleh pasukan Batalion Lintas Udara 18 di Blitar, Jawa 
Timur pada 18 Juli 1968. Ketika ditangkap, ia sedang beternak siput untuk 
menyambung hidup. Tiga hari sebelum Sri ditangkap, suaminya tertangkap di 
Malang dan langsung dieksekusi.Kehidupan yang sunyi dari satu penjara ke 
penjara lain pun dilaluinya.“Ini cerita sebenarnya tentang wanita-wanita pada 
tahun 1965,” katanya.Penjara pertama yang ia huni terletak Suruhwadang, Blitar, 
kemudian Lodoyo. Penyiksaan pertama ia terima di Lodoyo, ketika dua pasukan 
militer yang berlogat Batak menindihnya dengan bangku kayu dari bahan 
jati.“Saya pendarahan sampai satu bulan,” katanya. Ia sempat terkapar dan 
kritis.. Beruntung pemilik rumah di tempat para tahanan ditampung membuat 
minuman jamu secara sukarela.“Mereka yang memberikan asem kunyit pada saya tiap 
hari. Kalau ngirim satu gelas, dan nasi serta ayam goreng,” katanya.Padahal 
konsumsi makanan untuk tahanan yang tersedia hanya gaplek atau tiwul, makanan 
khas orang Jawa dari singkong.Ia kemudian dipindah lagi ke Lembaga 
Pemasyarakatan Wanita di Malang. Dan di situlah ia ditanya tentang Lubang 
Buaya. “Saya enggak tahu Lubang Buaya itu di mana,” ujarnya.Tak memuaskan 
interogator, ia kemudian dipindah ke Posko Gang Buntu di Kebayoran Lama. 
“Tempat itu terkenal sebagai neraka dunia. Di situlah gigi saya disetrum 
menggunakan cincin, rasanya rontok,” ujarnya.Selama tiga minggu, ia dicecar 
dengan pertanyaan yang sama, tentang Lubang Buaya. Karena tak bisa menjawab, 
giginya pun disetrum kembali.Pada malam hari, penyiksaan pun tak berhenti. Ia 
dibiarkan tidur tanpa alas, bantal, apalagi selimut.Setelah itu, pihak militer 
menjadikannya sebagai juru masak. Ia pun bertahan hingga enam bulan dan 
mengajukan diri untuk ditahan saja di LP Bukit Duri. Alasannya, “Saya sebagai 
perempuan tidak kuat mendengar orang disiksa tiap hari, saya tidak bisa,” 
katanya.Akhirnya ia memilih untuk mendekam di LP Bukti Duri hingga ia 
dilepaskan pada 1979.. Ia mampu bertahan di lembaga pemasyarakatan itu selama 
11,5 tahun meski harus memakan nasi bercampur pecahan kaca setiap hari.Sri 
akhirnya menghirup udara bebas pada 1979. Konon pelepasan tahanan politik saat 
itu disebut karena tekanan dari luar ketika Indonesia memiliki utang dan butuh 
donor.Rezim Suharto disebut didesak agar membebaskan para tahanan politik. Jika 
tidak, donor duit tak akan dicairkan.Seorang pendonor bersedia memberikan dana 
dengan syarat melepaskan tahanan politik.Lalu apakah tahanan politik bebas 
setelah tahun 1979? “Belum, sampai Reformasi,” ucap Sri.Setelah lepas dari 
tahanan, Sri harus melapor pada Komandan Rayon Militer (Koramil) setiap hari, 
Komandan Distrik Militer (Kodim) setiap pekan, dan Komando Daerah Militer III 
Siliwangi setiap bulannya. Ia harus bolak-balik Jakarta-Cirebon setiap bulan.Ia 
juga tak diperbolehkan mencoblos saat pemilihan umum, karena ada tanda "ET" 
(eks tapol) di kartu tanda penduduknya. “Bahkan kami tak boleh keluar rumah 
saat pencoblosan, dan dijaga Babinsa (Bintara Pembina Desa)," ujarnyaHingga 
saat Suharto turun pada 20 Mei 1998, Sri pun mulai mendapatkan kebebasannya.Ia 
mulai berani muncul di publik.. Mantan wartawan ini pertama kali muncul pada 
masa Reformasi di sebuah acara Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) yang 
diselenggarakan oleh almarhum Taufiq Kiemas, suami Megawati Sukarnoputri.FSAB 
adalah perkumpulan anak-anak korban tragedi 1965, baik dari pihak militer 
maupun sipil.Kemunculannya terakhir di muka publik adalah ketika di acara 
Simposium Nasional 1965 di Jakarta, pada 18 April lalu, sebuah acara diskusi 
yang difasilitasi pemerintah untuk korban dan pelaku tragedi 1965.Di acara itu 
dia memegang mikrofon dan berbicara dengan lantang tentang pembantaian massal 
itu.“Bukan jumlah korban, tapi kebiadaban cara membunuh berapa manusia yang 
tidak bersalah, dikubur hidup-hidup,” ujarnya. Hadirin pun bertepuk tangan. 
—Rappler.com

Kirim email ke