Harry Potter dan dunia nyata: Ketika Donald Trump dianggap Voldemort 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-43919143 Hephzibah AndersonBBC Culture
 1 jam lalu

 Bagikan artikel ini dengan Facebook 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-43919143#  Bagikan artikel ini dengan 
Twitter http://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-43919143#  Bagikan artikel ini 
dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-43919143#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Fvert-cul-43919143
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-43919143#share-tools




 
 Hak atas fotoWARNER BROTHERSImage captionPembersihan etnis, diskriminasi, 
perbudakan, pemerintah yang korup, penyiksaan dan cuci otak, semuanya dibahas 
di Harry Potter. Berbagai poster yang dibawa pengunjuk rasa sejumlah protes di 
Inggris menggunakan referensi dari buku Harry Potter karya JK Rowling. 
Hephzibah Anderson memaparkan bagaimana kisah si penyihir ini telah memengaruhi 
cara orang berdemonstrasi.
 21 tahun sejak buku pertama Harry Potter dirilis, tampaknya kita nyaris tidak 
bisa menemukan benang merah kisah fiksi tersebut dengan dunia nyata. Namun, apa 
yang terjadi beberapa bulan terakhir bisa meruntuhkan anggapan itu.
 Bagaimana JK Rowling 'melahirkan' petualangan Harry Potter? 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-40404424 Mitos dan cerita rakyat di balik 
kisah Harry Potter http://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-38295278 JK Rowling 
siapkan dua novel baru, salah satunya soal Potter? 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-38402447 Anggapan ini bisa dilihat dari 
salah satu poster yang dibawa seorang pendemo di Massachusetts, yang kemudian 
beredar ramai di media sosial.
 Di poster itu tertulis: "Ketika saya mengatakan bahwa saya ingin dunia nyata 
berubah menjadi seperti dunia Harry Potter, yang saya maksud sebenarnya cuma 
bagian sihirnya, bukan seluruh cerita dari buku kelima, ketika pemerintah tidak 
berbuat apa-apa ketika orang-orang diancam untuk dibunuh. Anak-anak muda pasti 
bangkit dan melawan".
Image captionSalah satu poster yang menunjukkan relevansi antara kisah Harry 
Potter dan dunia nyata. Melawan. Itulah bagian pentingnya. Kaum milenial mulai 
melihat Donald Trump seperti Voldemort. Wartawan majalah Time, Charlotte Alter 
lewat cuitannya di Twitter juga sempat berbagi cerita tentang apa yang 
dilihatnya saat unjuk rasa di Amerika.
 Anak-anak muda membawa poster bertuliskan "Expelliarmus!", mantra yang 
digunakan penyihir untuk membuat senjata lawan terlepas.
 Ada juga yang menorehkan: 'Pasukan-pasukan Dumbledore masih terus direkrut di 
seantero negeri', 'Hufflepuff akan mengawasi penggunaan senjata', sementara 
'Hermione menggunakan otak dan kepintarannya sebagai senjata'.
 Alter menuliskan, "generasi kita bukan hanya generasi yang tumbuh dengan 
mendengar berbagai peristiwa penembakan, tetapi juga generasi yang membaca 
Harry Potter."
Image captionHarry Potter dijadikan sumber harapan di saat kekerasan bersenjata 
semakin kerap terjadi. Penulis buku fantasi Neil Gaiman, juga pernah menulis: 
"Dongeng bisa lebih kuat dari sekedar cerita mengawang-awang, bukan karena 
dongeng memberi tahu kita bahwa naga ada, tapi dongeng memberi tahu kita bahwa 
naga bisa dikalahkan".
 Seorang pendemo yang masih duduk di bangku SMA membawa poster bertulis, "Jika 
siswa Hogwarts bisa mengalahkan Pelahap Maut, kita pasti bisa mengalahkan NRA 
(Organisasi Senjata Amerika)."
 Pembersihan etnis, diskriminasi, perbudakan, pemerintah yang korup, penyiksaan 
dan cuci otak, semuanya dibahas di Harry Potter.
 Sederhananya, kisah si penyihir ini adalah tentang orang baik melawan yang 
jahat. Lihat saja bagaimana upaya Voldemort ingin membasmi manusia 'biasa' atau 
Muggle dan manusia darah campuran alias 'mudblood'.
Hak atas fotoWARNER BROTHERS Kisah tersebut sangat relevan dan beresonansi 
dengan berbagai hal yang terjadi sekarang.
 Namun, penggunaan referensi Harry Potter pada berbagai unjuk rasa ini bukan 
sekadar harapan naif orang-orang, bagai mengayunkan tongkat sihir untuk 
menghentikan berbagai penembakan. Bukan.
 Harry Potter adalah perlambang ideologi liberal banyak orang untuk hidup bebas 
dan melawan 'dia yang namanya tidak boleh disebut'.
 Pelajaran untuk dunia nyata Di buku Harry Potter, Voldemort dan kroni-kroni 
pelahap mautnya dikisahkan sebagai mahkluk yang terobsesi dengan darah murni. 
Orang di luar golongannya adalah makhluk terhina.
 Meskipun begitu Rowling memunculkan karakter-karakter yang mengingatkan bahwa 
dunia ini tidak hanya hitam dan putih, tetapi juga abu-abu.
Image captionPoster terkait Harry Potter menjamur di berbagai unjuk rasa. Wali 
Harry, Sirius Black pernah berujar, "dunia ini tidak hanya terdiri atas orang 
baik dan para pelahap maut. Kita semua punya sisi baik dan jahat di diri kita 
masing-masing. Yang penting adalah yang mana yang kita pilih untuk jalankan".
 Selebritas terkaya di dunia: Beyonce, JK Rowling atau Sean Combs? 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-40254229 12 penulis lagu yang pantas 
meraih Nobel sastra http://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-38246595 '22 suku 
kata' yang bisa membunuh perempuan 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-38206168 Dan juga ada pesan kebebasan 
berpendapat, serta ketegasan bahwa tindakan, meskipun kecil amatlah perlu 
dilakukan untuk membawa perubahan. Dan meski sihir dan cinta penting, kita 
diingatkan bahwa Voldemort dikalahkan dengan kooperasi dan organisasi.
 Voldemort punya Pelahap Maut, tetapi Harry Potter punya semuanya selain si 
Pelahap Maut. Ingat sihir Expelliarmus? Sihir itu digunakan bersama-sama, bukan 
hanya oleh Harry.
 Pembelajaran inilah yang membuat Aliansi Harry Potter, organisasi nirlaba yang 
memobilisasi fans, untuk menyingsingkan lengan baju melawan 'Horcruxes' di 
dunia nyata; fanatisme, diskriminasi dan intoleransi.
 Di situsnya grup ini menulis, "Kami tahu fantasi adalah cara kita untuk kabur 
dari dunia nyata, tapi kita bisa masuk jauh lebih dalam ke dunia nyata lewat 
fantasi."
Hak atas fotoWARNER BROTHERSImage caption"Kami tahu fantasi adalah cara kita 
untuk kabur dari dunia nyata, tapi kita bisa masuk jauh lebih dalam ke dunia 
nyata lewat fantasi." JK Rowling sendiri pernah mengungkapkan bahwa novelnya 
adalah kisah melawan segala jenis tirani.
 "Buku ini sendiri adalah soal toleransi dan upaya melawan fanatisme," katanya 
di tahun 2007 lalu. "Saya rasa sangat penting bagi anak muda untuk menerima 
pesan bahwa pemerintah dan pers juga perlu dipertanyakan."
 Tentu ini bukan hal baru. Dari kisah-kisah tragedi dari zaman Yunani hingga 
karya-karya Shakespeare, sampai The Lords of the Rings dan bahkan Star Wars, 
semuanya menceritakan upaya untuk meraih kebebasan. Kekuatan imajinasi yang 
dijalin ciamik lewat buku atau film akan membuat pesan lebih cepat tersampaikan.
Hak atas fotoAFPImage captionSeri buku Harry Potter adalah novel seri terlaris 
sepanjang masa. Namun, ada sisi lain dari fenomena Harry Potter. Novel ini 
punya sisi sensitif dan rasa kepemilikan yang tinggi di mata para penggemarnya. 
Para penggemar buku pertama serial Harry Potter, kini berusia 30an tahun, 
mengantre bersama di depan toko. Foto mereka mengantre jadi pemberitaan media.
 Perasaan bersama-sama menjadi fans ini membuat mereka merasakan pengalaman 
pertama menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Di masyarakat sekular, ini 
adalah hal yang penting. Sepenting apa? Kita tunggu saja bagaimana efek 
dominonya nanti.
 Anda bisa membaca versi asli artikel ini dalam Bahasa Inggris dengan judul The 
links between Harry Potter and millennial protest  
http://www.bbc.com/culture/story/20180326-the-links-between-harry-potter-and-millennial-protestdi
 BBC Culture http://www.bbc.com/culture/.

 

Kirim email ke