BUKU ADA AKU DI ANTARA TIONGHOA DAN INDONESIA, ”PENGAKUAN DOSA” ETNIS 
JAWA-TIONGHOA 
https://www.radarmalang.id/buku-ada-aku-di-antara-tionghoa-dan-indonesia-pengakuan-dosa-etnis-jawa-tionghoa/
 
 4 May 2018 3:40 pm
 
 Aan Anshori dalam acara bedah buku Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia di 
aula Yayasan Hakka, Kota Malang, kemarin (3/5). MALANG KOTA – Sentimen 
antaretnis yang masih sering terjadi membuat sejumlah pihak prihatin. Karena 
alasan inilah, kemarin (3/5) di aula Yayasan Hakka, Kota Malang, Perhimpunan 
Indonesia Tionghoa (Inti) Malang Raya menggelar bedah buku yang berjudul Ada 
Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia.
 
 Buku yang merupakan kompilasi dari 73 penulis tersebut bertujuan untuk 
mengurangi kadar ”kolesterol” yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Aan 
Anshori, salah seorang pemateri, menyatakan, buku yang digagasnya tersebut 
merupakan wujud dari keprihatinan melihat hubungan etnis Jawa dan Tionghoa.
 MALANG KOTA – Sentimen antaretnis yang masih sering terjadi membuat sejumlah 
pihak prihatin. Karena alasan inilah, kemarin (3/5) di aula Yayasan Hakka, Kota 
Malang, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Malang Raya menggelar bedah buku 
yang berjudul Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia.
 Buku yang merupakan kompilasi dari 73 penulis tersebut bertujuan untuk 
mengurangi kadar ”kolesterol” yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Aan 
Anshori, salah seorang pemateri, menyatakan, buku yang digagasnya tersebut 
merupakan wujud dari keprihatinan melihat hubungan etnis Jawa dan Tionghoa.
 Dua etnis besar tersebut seolah-olah saling bermusuhan. ”Kami sekarang ini 
seperti orang kolesterol (kelebihan lemak) sehingga gampang kejang kalau 
berdekatan antara orang Jawa dan Tionghoa,” ucap pria yang akrab disapa Gus Aan 
itu.
 Menurut dia, buku ini berisi tentang pengakuan dosa antarkedua etnis. Apalagi 
yang pernah bersinggungan secara langsung. Jadi, buku ini akan menyuguhkan 
pengalaman 73 penulis se-Indonesia tentang apa saja yang pernah dirasakan dalam 
kehidupan kesehariannya.
 Gus Aan menyebutkan salah satu pengalaman masa kecilnya yang kelam. Yakni, 
tentang dogma yang ditanamkan orang-orang sekitarnya.
 ”Saya menulis masa kecil dulu yang pernah nantang-nantang teman Tionghoa. 
Padahal, ya nggak ada masalah apa-apa,” ujarnya sambil ditertawakan banyak 
audiens.
 Dia menerangkan jika gesekan ini semakin panas ketika menghadapi isu tentang 
Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI Jakarta yang terjerat kasus 
penistaan agama. Jadi, saat ini kadar kolesterol antaretnis ini seperti gampang 
tersulut masalah.
 Padahal dulu, Gus Aan menyatakan, Jawa dan Tionghoa sebelum adanya penjajahan 
sangat bersahabat. Namun, ketika kompeni mulai menjajah Indonesia, kedua etnis 
ini malah saling bermusuhan hingga sekarang.
 ”Intinya di sini, kita ini sebenarnya sangat akur dalam sejarah sebelum 
penjajahan, mari seperti dulu lagi,” imbuh Gus Aan.
 Ratusan warga Kota Malang hadir dalam diskusi ini. Selain Gus Aan, yang 
menjadi narasumber dalam acara ini adalah dosen UMM Tonny Dia Effendi dan 
budayawan Bambang Andri Wenzel atau Bambang AW.
 Sementara itu, Bambang AW menerangkan jika dirinya terus mengajak teman-teman 
Tionghoa untuk melebur bersama warga Malang. Khususnya dalam budaya Jawa, 
seperti menonton jaranan. Meskipun hal ini sepele, tapi menurut Bambang AW, hal 
ini mampu merekatkan kembali persaudaraan antaretnis.
 ”Ya, semoga hal-hal kecil seperti ini bisalah menumbuhkan kembali toleransi,” 
pungkasnya.
 Pewarta: Rino Hayyu
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: INTI

 


 

 

 

Kirim email ke