*Bagaimna mungkin bisa dipangkas ketidak seimbangan antara Jawasentris dan
daerah-daerah yang disebut propinsi. Untuk mengejar ketertinggalan wilayah
tsb untuk sama dengan derajat dengan Jawasentris, adalah bagaikan si cebol
merindukan bulan**. Untuk menghibur hati bailah lagu ini didengar , : *
*click* : *https://www.youtube.com/watch?v=CO1ZLvyG4nQ&feature=youtu.be*
<https://www.youtube.com/watch?v=CO1ZLvyG4nQ&feature=youtu.be>

http://www.mediaindonesia.com/read/detail/158797-memangkas-kesenjangan-antarwilayah-untuk-pembangunan-indonesia


*Memangkas Kesenjangan Antarwilayah untuk Pembangunan Indonesia*

Penulis: *Bambang PS Brodjonegoro Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional
(PPN)/Kepala Bappenas* Pada: Jumat, 04 Mei 2018, 07:05 WIB Opini
<http://www.mediaindonesia.com/opini>


PERBEDAAN tingkat keberhasilan pembangunan antarwilayah merupakan hal
alamiah. Hal itu terkait dengan variasi potensi yang dimiliki setiap
wilayah, baik sumber daya alam (SDA) maupun letak geografis. Di sisi lain,
variasi kemampuan daerah dalam mengelola potensi ini juga menjadi faktor
pembeda tingkat keberhasilan pembangunan di masing-masing wilayah.

Namun, di balik keberhasilan tersebut, masih terdapat permasalahan
kesenjangan antarwilayah yang dapat berpotensi menjadi persoalan di masa
depan karena dipicu munculnya persepsi ketidakadilan antarsesama
masyarakat. Potensi negatif ini yang harus segera diminimalkan agar
pembangunan Indonesia tepat sasaran.

Untuk itu, pemerintah telah melakukan identifikasi berbagai kemungkinan
akibat kesenjangan antarwilayah ini. Dengan potensi yang dimilikinya,
Indonesia tercatat sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan lebih
dari 17 ribu pulau yang merentang 5.000 km dari timur ke barat.


Fakta ini merupakan potensi sekaligus tantangan bagi pembangunan.

Karena itu, identifikasi dan pemetaan permasalahan juga telah dilakukan
pemerintah. Kondisi ini sering kali diidentikkan dengan kesenjangan antara
Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa, antara perkotaan dan perdesaan. Bahkan, ada
beberapa wilayah yang diidentifikasikan sebagai wilayah yang memerlukan
perhatian khusus karena selama ini cenderung tertinggal, yaitu
daerah-daerah pinggiran, perbatasan, pesisir, dan pulau-pulau kecil.

Dari hasil pemetaan ini, pemerintah melalui Bappenas sedang menggodok
berbagai solusi untuk mengatasi kesenjangan antarwilayah tersebut. Berbagai
forum diskusi dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat baik pejabat,
pengamat, praktisi, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat juga telah
digelar. Tujuannya menjaring masukan, ide, hingga solusi. Semuanya akan
dirangkum dalam satu dokumen perencanaan yang selama ini dikenal sebagai
rencana kerja pemerintah (RKP).

Saat ini pemerintah juga sedang bersiap menjaring ide untuk penyusunan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Dari hasil
berbagai pertemuan tersebut, pemerintah melihat masalah yang cukup menyita
perhatian, yakni masalah konektivitas dan aksesibilitas. Hal ini berkaitan
dengan keinginan masyarakat akan hubungan yang lebih baik antara jejaring
transportasi dan tempat orang tinggal dan bekerja, serta akan memudahkan
orang untuk mengakses pasar dan layanan, dan mengurangi biaya transportasi
barang.

Jika bisa terealisasi, ini tentu akan meningkatkan produktivitas dan daya
saing di dalam wilayah dan secara nasional. Karena besar dan luasnya
Indonesia, upaya pemerintah memperbaiki jejaring transportasi dan
konektivitas ini tentu membutuhkan investasi yang besar dan pendekatan yang
terkoordinasi.

Karena menyadari pentingnya upaya untuk memperkecil kesenjangan
antarwilayah, pemerintah tengah menyiapkan dan menyusun berbagai kebijakan
sebagai upaya konkret untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dapat
berkontribusi memperlebar kesenjangan antarwilayah.

Salah satu upaya yang serius dilakukan pemerintah ialah pembangunan
pusat-pusat pertumbuhan regional khususnya di luar Jawa. Langkah ini
merupakan strategi penting untuk mengatasi disparitas regional. Apalagi,
pemerintah telah mengembangkan berbagai jenis pusat pertumbuhan, antara
lain kawasan ekonomi khusus (KEK), kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan
bebas (KPBPB), kawasan industri (KI), dan kawasan strategis pariwisata
nasional (KSPN).

Nah, program pertumbuhan regional ini yang akan kembali dimaksimalkan
pemerintah agar memberikan hasil yang diharapkan, terutama dalam
menciptakan pembangunan regional yang lebih merata.

Kebijakan strategi lain terkait dengan konektivitas ialah dengan
memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Jika bisa
terimplementasikan dengan baik, kebijakan ini akan memberikan efek domino
pada keberhasilan kebijakan lain, misalnya, memperbaiki dan meningkatkan
sistem logistik nasional dan praktik ekonomi digital serta meningkatkan
layanan dasar dan publik berbasis digital atau internet ke seluruh wilayah.

Pemerintah juga memberikan perhatian khusus pada upaya mempercepat
pembangunan daerah tertinggal dan desa. Dari 514 kabupaten/kota di
Indonesia, terdapat 122 kabupaten yang termasuk kategori daerah tertinggal.
Sebagian besar daerah tertinggal tersebut berada di wilayah timur
Indonesia. Semua program prioritas tersebut menjadi agenda utama pemerintah
dalam mengatasi masalah kesenjangan antarwilayah, termasuk mempercepat
pembangunan Papua dan Papua Barat.

Keseluruhan permasalahan kesenjangan antarwilayah yang telah dibahas
menunjukkan permasalahan ini bersifat kompleks, multidimensi, dan
multisektoral sehingga tidak dapat diatasi dalam jangka waktu yang pendek.
Hal ini mengimplikasikan upaya untuk mengatasi permasalahan kesenjangan
antarwilayah memerlukan komitmen dan konsistensi yang bersifat jangka
panjang dari seluruh pemangku kepentingan, yaitu pemerintah pusat dan
daerah, sektor swasta, dan masyarakat.

Berbagai gagasan ataupun ide dari berbagai pemangku kepentingan terus
dijaring, salah satunya melalui Forum Pembangunan Indonesia atau Indonesia
Development Forum/IDF. IDF ini merupakan salah satu kegiatan untuk
mendapatkan ide-ide dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk dari para
pemikir yang kompeten baik tingkat nasional maupun internasional.

Kegiatan IDF ini bertujuan menajamkan strategi dan kebijakan dalam
mengatasi persoalan kesenjangan antarwilayah. Pelaksanaan IDF pada 10-11
Juli 2018 bertema Jalan untuk mengatasi kesenjangan antarwilayah di seluruh
kepulauan Indonesia sangat selaras dengan prioritas pembangunan nasional.

Dengan komitmen dan konsistensi yang tinggi, permasalahan kesenjangan
antarwilayah akan dapat diatasi secara bertahap sehingga kohesi sosial
serta persatuan dan kesatuan bangsa dapat terus diperkuat.


BB

Kirim email ke