Justru karena si penulis (Ali Romdhoni) menyatakan hembusan 
anti-Cina hanya untuk kepentingan politik suatu masyarakat, tetapi 
tidak menyebutkan kelompok masyarakat yang mana, ya berarti 
si penulis sebenarnya sedang menghembus isub anti-Cina dengan 
penyajian terbalik. Di situlah menariknya tulisan ini, si penulis 
seolah peduli dengan masalah anti-Cina padahal dia sedang 
membangun isu tersebut!

Lihat saja, dia menulis soal anti-Cina tanpa membawa data atau 
contoh kasus anti-Cina yang diketahui umum. Satu-satunya contoh 
yang dia punya yah pengalaman pribadinya sendiri yang tentu sulit 
kita buktikan kebenarannya karena hanya dia sendiri yang tahu. 
Itupun contoh anti-Cina yang bersifat seloroh, tidak serius. Selebihnya, 
dia asyik ngecap pernah makan bangku sekolahan di Cina.

Jadi, soal anti Cina dalam tulisan Ali Romdhoni ini ya 100% fiktif! Itu 
sebabnya dia tidak tahu bagaimana cara menangani masalah 

 SARA / primordialisme secara luas, bukan khusus anti-Cina. 

 Bolak-balik dia malah menyalahkan pemikiran & pengetahuan pribumi 

 Indonesia. 
 
 

 Tambah menarik lagi, Anda sependapat tanpa syarat dengan tulisan 

 si provokatif Ali itu, tapi justru membawa data bantahan. Yaitu, 

 kesaksian seorang TKA yang bertugas di Morowali, bahwa antara 

 TKA Cina dan TKI setempat terjalin kerjasama yang baik bahkan kehidupan 

 yang harmonis. Alias, tidak ada itu anti-Cina.
 

 Selebihnya, seperti biasa, Anda cukup bersemangat menunjukkan 

 kepedulian pada pemerintah RRC (bukan kepada Rakyat miskin Cina). 

 Tepatnya, bersemangat mempropagandakan kekaguman Anda pada XJP, 

 hehe... 



--- SADAR@... wrote :

 Menurut saya, penulis sudah cukup jelas menyatakan, “hembusan isu anti-Cina 
sedikit atau banyak berkaitan dengan kepentingan politik salah satu kelompok 
masyarakat.”, ... “cara berpolitik dengan menghembuskan fitnah dan kebencian 
bisa berakibat sangat buruk terhadap cara pandang kaum muda, generasi penerus 
bangsa Indonesia.” dan sudah BETUL penulis menegaskan “Kita tentu tidak ingin 
ada negara lain yang terus menjajah bumi pertiwi, mengeruk kekayaan bangsa 
kita. Kekhawatiran demikian bahkan perlu diperluas, bukan saja kepada Cina 
tetapi juga kepada siapa pun, bangsa mana pun.”

 Sekalipun penulis tidak dengan TEGAS menyebutkan kelompok politik mana dan 
siapa yang meneriakkan politik ANTI-Tiongkok ini, yang lebih PENTING pihak 
PEMERINTAH Tiongkok sendiri dalam tindak-tanduknya membuktikan dirinya BERBEDA 
dengan negara kapitalis umumnya yang menjurus jadi imperialisme, mengangkangi 
dunia seperti AS itu! “Jalan Sutera”, “Satu Jalur Satu Jalan” dengan prinsip 
KEBERSAMAAN, untung bersama dan menang bersama itu bisa dirasakan betul oleh 
warga lokal.
  
 Hanya saja saya juga mengerti, kenapa pemerintah Tiongkok kurang menggunakan 
media untuk mempropagandakan KEBENARAN nyata yang terjadi sebagai usaha 
menangkal fitnah yang nampak makin keras diteriakkan itu, ... artinya, 
pemberitaan hasil investasi modal diberbagai wilayah dan kemajuan kesejahteraan 
warga sekitar sangat sedikit disuarakan dalam bhs. Indonesia, atau boleh dikata 
TIDAK terdengar! Katakanlah dengan investasi tambang Nikel, pabrik 
Baja-takberkarat di Morowali, Sulawesi-Tengah itu, yang terdengar hanya berita 
sebaliknya menghujat dengan menuding TKA, BURUH Tiongkok illegal merebut 
kesempatan kerja warga setempat! Padahal kenyataan TIDAK BEGITU!
  
 Dari tulisan bhs. Tionghoa, seorang yang bertugas di Morowali itu, justru 
sebaliknya, menggambarkan kehidupan HARMONIS antara pekerja Tiongkok dan buruh 
setemkpat, baik dalam bekerja bersama juga dalam kehidupan b ersama. Dan pihak 
pengurus selalu menekankan memperhatikan adat-kebiasaan warga setempat, 
khususnya yang ber Agama Islam jangan sampai tersinggung apalagi menyakiti hati 
mereka! Memperhatikan betul perabot kantin bagi mereka yang mengHARAMkan babi, 
misalnya. Dan, ... membangun mesjid dibeberapa tempat untuk memudahkan mereka 
ber sholat Jumat, ... 
  
 Apakah benar perusahaan Tiongkok itu melakukan penghisapan berlebih pada buruh 
lokal? Tentu saja TIDAK! Kenyataan yang terjadi justru kesejahteraan buruh 
setempat itu meningkat banyak, kalau saja yang bekerja dimulai tahun 2013, 
hanya beberapa yang naik sepeda-motor, sekarang lebih 12 ribu orang yang 
bersepeda-motor! Sedang Presiden Jokowi ditahun 2015, 29 Mei dalam kata 
sambutan Peresmian Produksi Pabrik Baja-takberkarat, menyatakan: kalau dahulu 
kita hanya bisa menjual nikel mentah dengan harga hanya 26US$/ton , sekarang 
kita bisa menjual baja-takberkarat 2000US$/ton, satu keuntungan yang jauh lebih 
BESAR bagi RI! Kemudian sepintas Presiden juga mengharapkan buruh/karyawan 
setempat bisa menggunakan waktu luang untuk menanam sayur, pelihara ayam, 
kambing untuk mempercepat peningkatan kesejahteraannya sendiri, ... Dan, 
perusahaan sudah berani menentapkan target, nanti Oktober 2018 ini, produksi 
akan mencapai 3juta ton baja-takberkarat. Indonesia menjadi penghasil baja 
takberkarat no.2 didunia! Bagi yg mengerti bhs. Tionghoa bisa lihat: 
http://www.gelora45.com/news2/WeiXin_20180505.pdf 
http://www.gelora45.com/news2/WeiXin_20180505.pdf
 
Salam,
 ChanCT
 
From: ajeg
Ya, menarik. Sarat dengan imbauan, permintaan, dan 
harapan yang baik-baik, tapi tidak tahu bagaimana cara 
memenuhinya. Bagaimana mengurangi, bila perlu 
menghapus, rasa anti itu. Lucunya, penulis bolak-balik 
menempatkan pikiran dan pengetahuan sebagai "terdakwa" 
pada kasus-kasus yang kental dengan perasaan anti tsb., 
sehingga si penulis merasa penting mengajak teman-teman 
mudanya untuk berpikiran luas dan menambah pengetahuan.
Penulis seperti tidak berpikir bahwa persoalan anti lebih 
dimotori oleh perasaaan. 

Jadi, membuka pikiran seluas apa pun ya tetap percuma 
selama perasaan masih lego jangkar di wilayah primordial; warna kulit, aliran 
darah, keimanan dst. 

 

 Dalam pergaulan antarmanusia, antarbangsa di muka bumi 

 ya pandang saja manusia sebagai manusia. Nilai dia dari 

 perbuatannya. Bukan dari tongkrongannya, bukan dari gelar / 

 ijasahnya, dan bukan juga tipis-tebalnya dompet.
 

 --- SADAR@... wrote :

  
 Satu tulisan yang sangat menarik untuk diperhatikan, diteruskan dari WA, ...



 *Isu Anti-Cina dan Nasionalisme*
 Ali Romdhoni
 
Pada September 2016 saya berangkat ke Cina untuk memulai studi doktoral di The 
University of Heilongjiang, Cina. Waktu berjalan, namun ada yang mengganjal 
dalam pikiran saya. Pasalnya, saya berkesempatan belajar di luar negeri dan 
hampir bersamaan dengan itu, terutama di jagat media sosial, di Indonesia 
sedang ramai dengan ajakan sebagian orang untuk membenci terhadap negara tujuan 
belajar saya.


 Saya sebenarnya juga menandai bahwa hembusan isu anti-Cina sedikit atau banyak 
berkaitan dengan kepentingan politik salah satu kelompok masyarakat. Namun 
demikian, sebagian masyarakat sudah telanjur merespons isu itu dengan serius, 
tanpa mengimbangi dengan melacak latar belakangnya.


 Hal ini bisa saya rasakan, misalnya, dalam beberapa kesempatan seorang teman 
dengan nada seloroh berkata, “Kamu ini bagaimana? Di sini orang-orang sedang 
tidak suka dengan Cina, eh kamu justru pergi ke sana.” Dalam tulisan ini saya 
ingin berbagi pengalaman saya di luar negeri, terutama yang terkait dengan 
sejarah kelam satu bangsa dan bagaimana kaum muda menyikapinya.


 Saya ingin menegaskan bahwa cara berpolitik dengan menghembuskan fitnah dan 
kebencian bisa berakibat sangat buruk terhadap cara pandang kaum muda, generasi 
penerus bangsa Indonesia. Sejatinya, kekhawatiran terhadap dominasi satu negara 
sing, seperti Cina, yang berujung pada hembusan isu anti-Cina adalah sikap yang 
realistis. Kita tentu tidak ingin ada negara lain yang terus menjajah bumi 
pertiwi, mengeruk kekayaan bangsa kita.


 Kekhawatiran demikian bahkan perlu diperluas, bukan saja kepada Cina tetapi 
juga kepada siapa pun, bangsa mana pun. Artinya, dengan negara mana pun kita 
harus berhati hati. Jangan lupa, bangsa Indonesia punya sejarah panjang 
penjajahan dengan Belanda. Kita juga pernah berseteru dengan Portugis. Catatan 
sejarah kita juga mencatat bahwa Jepang pernah menduduki Indonesia.


 Fakta berbicara bahwa bangsa ini juga pernah menerima para imigran (para 
pendatang) dari kawasan Arab. Pada perjalanan selanjutnya, di antara pendatang 
ini juga ada yang berkontribusi di tengah masyarakat kita. Kalau kita 
menjelajahi kota-kota penting di Indonesia, di sana kita bisa menjumpai kawasan 
(kampung) Arab, selain Pecinan. Misalnya di Semarang, Surabaya, Jakarta, Pati, 
Kudus, Demak, Pekalongan, daln lainnya. Artinya, Indonesia sudah sejak lama 
berani menerima kedatangan warga negara asing dan diajak bersama-sama membangun 
masyarakat.


 Maharnya satu, komitmen untuk merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia 
(NKRI) sebagai rumah bersama. Meskipun demikian, kita memang harus tetap 
hati-hati dengan siapa pun, dengan bangsa mana pun dalam rangka merawat dan 
melestarikan negara kita tercinta. Di atas semua itu, hal paling penting yang 
harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri dan mendidik generasi muda agar 
kelak mereka mampu menjadi pewaris di masa yang akan datang.


 Sebaliknya, kalau kita selalu curiga dan membenci bangsa lain tanpa membangun 
kualitas diri, selamanya kita akan mengalami ketakutan. Kondisi yang demikian 
jelas merugikan diri kita sendiri, karena kita hidup dalam bayang-bayang 
ketakutan dan curiga pada orang lain.


 Menurut saya, ada tiga langkah yang harus kita lakukan untuk memutus mata 
rantai adu domba di dalam internal bangsa kita sendiri. Pertama, peluang dan 
dorongan kepada kaum muda untuk menimba pengalaman dari berbagai penjuru dunia 
harus terus kita kembangkan. Program ini bertujuan untuk membuka wawasan anak 
muda, belajar kepada bangsa lain bagaimana mereka membangun negaranya. Dengan 
catatan, anak muda kita sudah memiliki bekal pendidikan nasionalisme dan 
komitmen untuk kembali dan membangun negeri kita.


 Di kampus Heilongjiang University, Cina, saya belajar bersama dengan mahasiswa 
lain dari berbagai negara. Dalam catatan statistik mahasiswa asing di kampus 
ini lebih dari dua belas ribu orang. Di antara mereka, saya berteman baik 
dengan mahasiswa dari Pakistan, Kazakhstan, Laos, Thailand, Kyrgyzstan, Yaman, 
Amerika, Kenya, Nigeria, Kameron, Korea, Jepang, Nepal, India, Mongolia dan 
Rusia (bekas Uni Soviet).


 Kita tahu, misalnya, ketika Uni Soviet (1922-1991) berkuasa, Kazakhstan berada 
di bawah kekuasaan Uni Soviet. Menurut pengakuan Marzan, mahasiswa asal 
Kazakhstan, di bawah kekuasaan Uni Soviet rakyat Kazakhstan merana. Mereka 
dilarang menuturkan bahasanya, dipaksa untuk tidak melakukan ritual agama yang 
mereka yakini, dan nyawa yang melayang tidak terhitung jumlahnya.


 Tetapi hari ini anak-anak muda dari Kazakhstan dan Rusia bersama saya belajar 
di Cina. Kami sering terlibat diskusi, membicarakan masa depan bangsa 
masing-masing, dan sesekali mengenang sejarah masa lalu yang sarat dengan 
pelajaran. Salah satu pesan yang bisa diambil sebagai pelajaran dari cerita 
saya ini adalah masa lalu jangan dilupakan, karena akan membuat kita waspada 
untuk tidak mengulangi kesalahan lagi. Tetapi, yang sangat penting adalah 
keberanian menatap masa depan dengan penuh keyakinan dan bekerja yang 
sunggug-sungguh.


 Demikian pula, saya ingin mengajak kepada teman-teman muda di Indonesia untuk 
berpikiran luas, memandang cakrawalah masa depan Indonesia dengan pengetahuan 
dan komitmen untuk membangun negeri.


 Kedua, stop segala bentuk politisasi massa dengan adu-domba dan 
hasutan-kebencian. Menggalang dukungan dari masyarakat untuk mengangkat 
pimpinan juga penting. Tetapi, jangan sampai dilakukan dengan cara mengadu satu 
kelompok dengan kelompok lain. Kerukunan dan cinta kasih antar sesama 
warga-bangsa dibutuhkan selama komitmen untuk menjadi NKRI masih ada. Jadi, 
kerukunan dan kebersamaan jauh lebih berharga katimbang apa pun. Maka, jangan 
racuni cara berpikir anak-anak muda dengan contoh perilaku yang keliru.


 Ketiga, memberi pendidikan kepada masyarakat bahwa sebagai salah satu negara 
yang ada di dunia, Indonesia berkompetisi dengan negara-negara lain di 
sekitarnya. Kalaupun kita bersatu untuk memajukan negeri ini, tugas itu saja 
sudah cukup untuk menguras energi. Apalagi kalau kita juga masih harus 
bertarung dengan saudara sendiri. Pasti energi kita akan habis, sebelum kita 
bertanding dengan lawan yang sebenarnya.


 Khusus kepada kaum muda di Indonesia, hendaknya fokus dalam menyiapkan diri 
dengan belajar yang serius, baik di bangku pendidikan formal maupun di 
masyarakat. Supaya kelak pada masanya mampu besaing dengan siapa pun dalam 
mengibarkan bendera Indonesia di dunia internasional.


 Langkah ini, menurut saya, cukup efektif dalam membendung kekuatas asing yang 
akan merangsek ke negeri kita, daripada menghasut orang lain agar membenci 
orang lain atau negara lain dengan alasan yang belum tentu benar. Bagi 
pihak-pihak yang menghembuskan isu kebencian agar berpikir jernih bahwa risiku 
politik kotor yang demikian akan melahirkan risiko berat. Hal itu bisa membuat 
masyarakat bawah bingung, misalnya benci yang tidak beralasan terhadap pihak 
yang sebenarnya tidak bermasalah.


 *Ali Romdhoni*
  
 Penulis adalah staf pengajar FAI Universitas Wahid Hasyim, Semarang. Saat ini 
sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.













  

Kirim email ke