RAPBD Jakarta Melonjak Gila-gilaan Dibandingkan Jaman Ahok: 'Semuanya lapar dan 
haus', kata seorang anggota DPRD
  a..  08-05-2018  a..  Politik SUARA Kita  
https://www.hetanews.com/article/127959/rapbd-jakarta-melonjak-gila-gilaan-dibandingkan-jaman-ahok-semuanya-lapar-dan-haus-kata-seorang-anggota-dprd
  
Lonjakan tajam RAPBD Provinsi DKI Jakarta bukan hanya menyangkut pemerintah 
provinsi, namun juga anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
Jakarta, hetanews.com - Bahkan ada yang naiknya berlipat-lipat hingga lebih 
dari 10 kali: biaya kunjungan kerja. Data yang diperoleh dari situs resmi 
pemerintah DKI Jakarta, rencana kunjungan kerja DPRD DKI tahun 2018 mencapai 
Rp107,7 miliar. Melihat angka sebelumnya yang hanya Rp8,8 miliar, anggaran kali 
ini 'tampak melonjak gila-gilaan'.

Seorang anggota DPRD Jakarta, yang tidak bersedia disebutkan namanya, 
mengatakan kenaikan itu untuk 'memenuhi dahaga para anggota dewan yang selama 
ini pendapatannya dikebiri pemerintah provinsi'.

"Semuanya lapar dan haus," katanya, kepada BBC Indonesia. Namun Wakil Ketua 
DPRD Mohamad Taufik membantah dan berkilah bahwa kenaikan itu merupakan hal 
yang wajar dan sudah berdasarkan aturan yang berlaku. "Kunjungan kerja itu ada 
di seluruh instansi di Indonesia," ujar Taufik.

Kenaikan sejumlah mata anggaran DPRD DKI dalam rencana APBD DKI terjadi usai 
pembahasan Tim Anggaran Pemerintah Daerah dengan Badan Anggaran DPRD, 
pertengahan November lalu.

Mereka menghasilkan Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran 
Sementara (KUA-PPAS). Selain kunjungan kerja, terdapat beberapa poin anggaran 
di DPRD DKI lainnya yang naik signifikan dalam KUA-PPAS, hasil bahasan 
eksekutif dan legislatif Jakarta tersebut. Baik secara nominal maupun 
persentase kenaikan.




Setelah kunjungan kerja yang naik Rp99 miliar, atau lebih dari 10 kali lipat, 
anggaran yang melonjak adalah pelaksanaan reses yang naik Rp34,4 miliar. Lalu 
diikuti pembahasan panitia khusus naik Rp27 miliar, dan pembahasan badan 
anggaran naik Rp11,9 miliar.

Yang naik signifikan secara persentase adalah pengelolaan website DPRD DKI yang 
naik sekitar 17 kali dari Rp31 juta menjadi Rp571 juta. Diikuti oleh pembahasan 
pansus naik 12 kali, kunjungan kerja 11 kali, dan pergantian insidentil sipil 
gedung 8,5 kali.

  a.. Mata anggaran baru
Selain kenaikan dari nominal yang sudah ada, terdapat poin anggaran yang tidak 
ada dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang disusun pada pertengahan tahun 
ini tapi ada setelah pembahasan dengan Badan Anggaran DPRD.

Mata anggaran itu adalah penunjang kehadiran rapat DPRD sebesar Rp16,1 miliar, 
dan pembuatan buku profil aggota dewan sebesar Rp218 juta.

Mata anggaran tunjangan rapat ini dulu dicoret mantan Gubernur Basuki Tjahaja 
Purnama. "Mana ada sih aturan kamu kalau kerja diajak rapat oleh bos minta 
uang? Kaya dong gubernur kalau tiap kali rapat dapat duit," kata Ahok 
-panggilannnya, kala itu.

Taufik sendiri mengatakan bahwa uang tunjangan rapat itu kini sudah diatur 
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan 
Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD.

"Ada dasarnya," kata Taufik.

Kenaikan persentase terbesar rencana anggaran DPRD DKI Jakarta




Direktur Eksekutif Indonesia Budget Center (IBC) Laode Roy Salam mempertanyakan 
melonjaknya anggaran DPRD tersebut. "Ada potensi menghambur-hamburkan uang 
anggaran" kata dia.

Soal kunjungan kerja misalnya, selalu disorot negatif publik. "Patut 
dipertanyakan untuk apa DPRD menghabiskan dana kunjungan kerja sebegitu besar," 
kata dia.

Menurut Roy, penyusunan anggaran tak semata-mata karena adanya aturan yang 
melandasinya seperti dikatakan Taufik. "Tapi juga harus dilihat pada aspek 
kewajaran," kata dia.

  a.. Rencana pemasukan anggota DPRD
Sumber BBC Indonesia di DPRD DKI mengatakan pemunculan kembali poin tunjangan 
rapat, bersama kenaikan poin anggaran lainnya memang diinginkan oleh anggota 
dewan.

Ia menjabarkannya.

Setiap kali rapat, nantinya anggota dewan akan mengantongi Rp350 ribu. Juga 
akan ada aturan yang membatasi maksimal seorang anggota DPRD tiga kali rapat 
dalam sehari.

Termasuk soal kunjungan kerja. Menurut dia, uang saku tiap anggota DPRD setiap 
harinya dalam kunjungan kerja adalah Rp4 juta. "Kunjungan kerja akan ada setiap 
akhir pekan," kata dia.

Taufik sendiri tidak membantah informasi itu. Menurut dia, pimpinan DPRD memang 
merancangnya seperti itu. "Jadwalnya memang seperti itu. Tapi kan belum tentu 
dipakai," kata dia.

Sumber BBC yang berkecimpung di politik Jakarta lebih dari 10 tahun itu 
menambahkan, bahwa ide untuk menaikkan angka anggaran, termasuk mengadakan 
tunjangan rapat disetujui semua anggota. Termasuk dirinya.




Dia mengatakan membutuhkan uang lebih karena 'proposal dari konstituen masuk 
terus'. Ia mewanti-wanti namanya tak disebut. Ia mengaku selama ini anggota 
DPRD tidak bisa bermain proyek karena pengetatan anggaran oleh Ahok.

Namun Taufik menegaskan, angka-angka dalam KUA PPAS tersebut belum final. Masih 
akan ada pembahasan antara legislatif dan eksekutif. Juga pemeriksaan oleh 
Kementerian Dalam Negeri. "Masih bisa dihapus," kata wakil ketua Badan Anggaran 
DPRD DKI ini.
 




Taufik menambahkan kenaikan total anggaran DPRD DKI dari Rp126 miliar menjadi 
Rp346 miliar adalah hal yang wajar. "Selama itu sesuai dengan aturan. Nanti 
bisa disisir ulang. Finalisasinya di Kemendagri," imbuh dia.

Gubernur Anies Baswedan sendiri bersyukur rancangan APBD Jakarta 2018 mendapat 
sorotan masyarakat karena kenaikan yang signifikan. Menurut dia, justru bentuk 
partisipasi seperti itu yang diharapkan.

Dia berharap banyaknya partisipasi masyarakat membuat APBD Jakarta lebih baik. 
"Ini adalah dana kita semua," kata Anies di Balai Kota, Kamis, 23 November 2017.

Senada dengan Taufik, Anies mengatakan bahwa angka-angka dalam rancangan itu 
masih bisa berubah.m "Pembahasan masih jalan, ini belum selesai. Jadi dengan 
pembahasan masih jalan, makin banyak yang melihat makin baik," pungkasnya.



sumber : beritaterheboh.com

Penulis: -. Editor: Sella.

Kirim email ke