Mengingatkan bahwa kita hidup dalam jaman kapitalisme monopoli (bukan hanya 
jaman "Modern". Jaman modern, jaman kuno itulah definisi dan pengertian yang 
diberikan orang yang tak pernah kenal teori perkembangan masyarakat). Sudah 
lama kita tinggalkan jaman kapitalisme persaingan bebas. 




Salim Group Memonopoli Air Bersih di Jakarta



Petugas mengecek persedian air bersih di instalasi pengolahan air Palyja di 
Jalan Penjernihan, Jakarta Pusat. tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 9 Mei 2018Dibaca Normal 8 menitSebelum menguasai 
Jakarta, Salim menyisir pengelolaan air bersih ke kawasan penyangga: dari 
Bekasi, Bogor, Serang, hingga Tangerang.tirto.id - Pada 1997, Salim Group 
diberi konsesi oleh Soeharto untuk mengelola air bersih di wilayah barat 
Jakarta, dengan menggandeng baron air dari Perancis, SuezLyonnaise. Konsorsium 
ini mulai bekerja pada Februari 1998. Sialnya, tiga bulan kemudian, Soeharto 
tumbang. Salim, sebagai kroni terdekat, hengkang ke Singapura.

Belasan tahun kemudian, Salim kembali berbisnis air di Jakarta. Sejak 
pertengahan 2017, Salim Group memang telah kembali menguasai separuh air bersih 
Jakarta lewat pembelian seluruh saham Acuatico Pte. Ltd., induk PT Aetra 
Jakarta.

Namun, yang masih minim terungkap ke publik adalah ada indikasi Salim kembali 
mengontrol PT PAM Lyonnaise Jaya alias Palyja. Pendeknya, hampir seluruh hajat 
kebutuhan air bersih di Jakarta saat ini bergantung di tangan bisnis Salim 
Group.

Baca juga: Perkara Janggal Salim Membeli Aetra dalam Bisnis Air Jakarta

Mengepung Jakarta dari Tangerang, Bogor, dan Bekasi
Jika memang Salim ingin kembali berbisnis air di Jakarta, mengapa mereka mesti 
menguasai Acuatico terlebih dulu dan tak langsung membeli Aetra Jakarta?

Pertanyaan sama juga diajukan saat mereka membeli Moya Asia Holdings, 
perusahaan di Singapura yang dipakai Salim untuk menguasai 100 persen saham di 
Acuatico.

Jika Salim ingin membeli Acuatico, kenapa mesti memakai bendera Moya? Kenapa 
anak usaha yang mereka kontrol langsung, yaitu Tamaris Infrastucture Pte. Ltd., 
tak langsung membeli saham Acuatico?

Jika dirunutkan secara silsilah keluarga, hubungan antara Aetra, Acuatico, 
Moya, dan Tamaris akan tergambar seperti ini: Aetra Jakarta adalah anak, 
Acuatico adalah bapak, Moya adalah kakek, dan Tamaris adalah buyut.

Hanya satu jawaban untuk dua pertanyaan di atas: Aetra dan Moya mendapatkan 
konsesi mengelola air bersih di Bekasi dan Tangerang dengan durasi 20 tahun ke 
depan.

Sebelum diakuisisi Salim pada 2015, Moya mendapatkan konsesi dari Pemda 
Kabupaten Bekasi dan Kota Tangerang pada 18 Agustus 2011 dan 20 Februari 2012.

Mereka diberi keleluasaan mendanai, merancang, membangun, dan mengoperasikan 
(build-operate-transfer) fasilitas dan pasokan air bersih pada beberapa wilayah 
di dua daerah tersebut. Konsesi itu diberikan kepada Moya dengan durasi 25 
tahun sejak kontrak ditandatangani.

Cekaknya duit pemilik Moya lama membikin kontrak tak berjalan optimal, malah 
cenderung mandek. Setelah tersendat sejak 2012, barulah proyek di 
Tangerangkembali berjalan pada Maret 2016. Sementasi di Kab. Bekasi, proyek 
baru optimalpada 2017.

Tak hanya itu, Moya melebarkan ekspansi ke Kota Bekasi dan Kota Bogor. Di Kota 
Bekasi, mereka mendapatkan kontrak kerja dengan Pemkot pada Januari 2017; 
sedangkan kerjasama di Kota Bogor dalam proses penjajakan..

Ekspansi pengembangan bisnis air Moya dalam dua tahun terakhir tak lepas dari 
peran Salim Group. Saat Salim masuk, Moya memfokuskan seluruh bisnis ke 
Indonesia dan meninggalkan Kamboja serta Singapura.

Jika Moya Tangerang dan Bekasi masih tertatih-tatih saat diakuisisi Moya, PT 
Aetra Tangerang malah sebaliknya. Perusahaan yang didirikan oleh Acuatico ini 
sudah beroperasi sejak 2008. Dengan hak konsesi selama 25 tahun dari Pemkab 
Tangerang, Aetra Tangerang diberi izin mengelola air pada 8 dari 13 kecamatan 
di Tangerang. Pelayanan mereka mencakup 62.000 sambungan pelanggan atau 
menghidupi 360.000 jiwa penduduk Tangerang.

Meski secara kapasitas masih kalah jauh dibandingkan Aetra Jakarta, prospek dan 
aset Aetra Tangerang tetap menarik di mata Salim. Sejak 2015, gerak cepat Salim 
Group membeli saham perusahaan air di daerah penyangga ibukota sebetulnya tak 
cuma dilakukan terhadap Moya dan Aetra.

Temuan kami membuktikan Salim Grup juga memegang kendali atas PT Tirta Kencana 
Cahaya Mandiri (PT Tirta Kencana) dan PT Traya Tirta Cisadane (PT Traya).

PT Tirta Kencana bekerjasama dengan PDAM Tirta Kerta Raharja milik Pemkab 
Tangerang untuk mengelola instalasi Cikokol. Kerja sama ini sudah terjalin 
sejak 2004. PT Tirta Kencana merupakan anak perusahaan PT Nusantara 
Infrastruktur Tbk.

Selain di Tangerang, PT Nusantara memilik anak usaha yang memegang konsesi 
proyek instalasi penyediaan air bersih di Kota Medan dan Serang, Banten.

Pada 8 November 2017, perusahaan asal Filipina, Metro Pacific Investments 
Corporation menjadi pemilik saham mayoritas PT Nusantara, dengan membeli 43,3 
persen saham.

Metro Pacific adalah anak perusahaan dari First Pacific, perusahaan investasi 
di Hong Kong yang didirikan Sudono Salim, ayah Anthony Salim, yang juga induk 
PT Indofood Sukses Makmur Tbk., perusahaan raksasa Salim pada bisnis pangan.

Salim Group juga ditengarai memiliki PT Traya, pemegang konsesi instalasi air 
di Serpong sejak 1997. Semula PT Traya milik pengusaha Hengki Wijaya. Pada 
2015, Henki terjerat kasus korupsi terkait kerja sama instalasi PDAM Kota 
Makassar periode 2006-2012.

Selain di Tangerang, Hengki memiliki PT Traya Tirta Makassar. Belum genap dua 
bulan mendekam di penjara, Hengki meninggal di dalam tahanan. Pada Desember 
2017, kendali PT Traya, baik di Makassar maupun Tangerang, berpindah ke pemilik 
baru.

Berdasarkan akta perusahaan, 99,9 persen saham PT Traya dikuasai PT Tanah Alam 
Makmur, yang masih anak usaha dari PT Nusantara (pemilik saham mayoritas PT 
Tirta Kencana.)


Bukti Relasi Salim Group di Palyja
Tiga bulan setelah saham PT Aetra Jakarta dilepas Recapital Group kepada Salim, 
dua korporasi pemilik PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), yaitu PT Astratel 
Nusantara dan Suez Environtment, menjual seluruh saham pada pemilik baru.

PT Astratel melepas kepemilikan 49 persen saham kepada PT Mulia Semesta 
Abadi(PT Mulia). Sementara Suez, pemain lama sejak 1998, menjual 51 persen 
saham kepada Water Future Pte. Ltd., perusahaan yang berbasis di Singapura.

Penjualan saham Palyja kepada dua perusahaan ini agak cukup janggal. 
Penelusuran kami menemukan Water Future dan PT Mulia tak terdeteksi pernah 
berbisnis air bersih sebelumnya. Dari segi umur, dua perusahaan ini relatif 
amat muda sebab baru dibentuk pada Maret 2017. Saat akuisisi berjalan, PT Mulia 
dan Water Future masih berumur enam bulan.

Dalam akta pemilik saham, PT Bahtera Hijau Mandiri (PT Bahtera Mandiri) dan PT 
Bahtera Hutama Sentosa (PT Bahtera Sentosa) menguasai masing-masing 50 persen 
PT Mulia Semesta Abadi. Dua perusahaan ini bergerak pada bidang agrobisnis, 
terutama kapas, sawit, dan kemiri di Flores.

Setelah ditelisik, kepemilikan dua perusahaan mengerucut pada dua nama: Abraham 
Pattikawa dan Ronny Alexander Waliry. Pemilik 99,9 saham PT Bahtera Sentosa 
dikuasai oleh PT Bahtera Mandiri, sementara 52,5 persen saham dan 47,5 persen 
saham PT Bahtera Mandiri dikuasai Abraham dan Ronny.

Abraham Pattikawa adalah sosok kunci pada jejaring perusahaan ini. Selain 
pemilik tak langsung, ia menjabat direktur utama di PT Mulia Semesta Abadi. 
Jadi, sesudah akuisisi saham Palyja, namanya muncul sebagai representasi PT 
Mulia.

Tapi ada hal janggal lain: nama Abraham Pattikawa muncul di Water Future, 
berposisi sebagai direktur. Posisi ini dijabatnya sejak 14 September 2017, 
tanggal yang sama saat Water Future membeli saham Suez. 

Informasi umum yang mendalami tata kelola bisnis air bersih di Jakarta menduga 
bahwa Water Future dan PT Mulia Semesta Abadi adalah dua perusahaan dari grup 
terpisah. Munculnya Abraham Pattikawa sebagai Direktur Water Future dan PT 
Mulia mengindikasikan ada relasi antara dua perusahaan pemilik Palyja ini.

Masalahnya, Abraham adalah nama asing pada lingkaran bisnis air. Kita kembali 
pada teori penting yang jadi pijakan bisnis ini: mengelola air bersih 
membutuhkan kekuasaan modal yang besar. Dan dugaan kami mengarah pada Salim 
Group.


Peran Sentral I: Abraham Pattikawa
Kami menelusuri alamat kantor PT Mulia Semesta Abadi di Jalan Pahlawan Seribu 
Ruko sektor VII, Serpong Utara, Tangerang Selatan, pada 25 April 2018. Alamat 
ini sesuai yang tertera pada akta perusahaan. Alamat ini juga dipakai oleh PT 
Bahtera Sentosa.

Lokasi ini mengarah pada sebuah ruko berlantai tiga selebar sekitar lima meter. 
Ruko ini berkaca gelap. Orang tidak akan tahu ruko ini adalah kantor sebab tak 
ada papan nama perusahaan.

Saat kami bertanya, orang yang bekerja di sana tak tahu PT Mulia Semesta Abadi. 
Namun, saat disebut PT Bahtera Sentosa, ia mengangguk. 

Ia membenarkan Abraham Pattikawa adalah atasannya. Ia menunjuk ruko di 
seberangnya dan berkata ruko itu juga bagian dari PT Bahtera Sentosa. "Di 
situlah biasa Abraham berkantor," katanya.

Ruko yang ditunjuk itu terlihat mengilap. Seluruh temboknya dari kaca. Keramik 
teras dari marmer abu-abu mengilat. Pintu masuk ruko dilengkapi mesin pemindai 
sidik jari.

Orang keluar-masuk dari gedung lama ke gedung baru. Para karyawan memakai 
kemeja biru langit dan celana biru gelap. Di bagian dada sebelah kanan seragam 
dibordir huruf TKCM. Beberapa karyawan lain mengenakan seragam dengan huruf TTC.

Kami bertanya kepanjangan TKCM dan TTC. Seorang pegawai menjawab TKCM adalah 
kependekan dari Tirta Kencana Cahaya Mandiri dan TTC adalah Traya Tirta 
Cisadane. 

"Jadi ini kantor perusahaan air?"

"Iya, betul," katanya. "Sudah beroperasi sekitar satu tahun lebih." Dua ruko 
ini kantor operasional dari PT Tirta Kencana dan PT Traya, tambahnya. 

Karyawan di sana menyebut, sejak Salim menguasai dua perusahaan ini, semua 
operasional kantor dipindahkan ke ruko baru. "Semuanya di gedung baru," katanya.

Pegawai di sana mengatakan Abraham jarang terlihat di kantor. 

Saya berbincang dengan sopir operasional kantor. Ia berkata pernah mengantar 
Abraham ke tempatnya bekerja di Kawasan Kuningan, lebih tepatnya ke Gedung 
Setiabudi 2.

Kami mendatangi gedung ini pada 26 April 2018. Hal yang cukup menarik ternyata 
di gedung ini juga berkantor PT Moya Indonesia, anak Moya Holdings Asia di 
Indonesia. 

Saat menanyakan kepada resepsionis PT Moya di lantai empat, si resepsionis 
mempersilakan kami naik satu lantai, "Pak Abraham bukan di sini, tapi kantornya 
di lantai lima."

Perusahaan yang berkantor di lantai 4 ternyata PT GMT Kapital Asia. Ketika 
ditanya soal Abraham, sang penjaga membenarkan Abraham bekerja di sana. 
Beberapa kali kami bertanya untuk lebih memastikan, dan kami menerima jawaban 
yang sama. 

"Betul, Pak Abraham bekerja di sini," kata si penjaga.

Namun, sayang, saat hendak ditemui, Abraham tidak di kantor.


Peran Sentral 2: Irwan Dinata
Dalam hierarki kepemilikan Moya, memang ada relasi PT GMT Kapital Asia. 
Mayoritas saham Moya Holdings Asia dimiliki oleh Tamaris Infrastucture Pte. 
Ltd. milik Salim. Di Indonesia, Tamaris membentuk PT Tamaris Prima Energi, dan 
50 persen sahamnya dikendalikan oleh PT GMT Kapital Asia. Temuan ini 
mengindikasikan Abraham bekerja untuk Salim Group.

Posisi Abraham, yang menjadi pegawai PT GMT Kapital Asia, mengindikasikan 
relasinya dengan Direktur Eksekutif Moya, Irwan Atmadja Dinata. Dari 
penelusuran kami, nama Irwan muncul hampir di seluruh perusahaan Salim Grup 
yang berkaitan dengan bisnis air.

Kepada Tirto, saat ditemui di kawasan Sudirman kemarin, Irwan menceritakan ia 
diminta Anthony Salim, pemilik Salim Group, untuk berbisnis air sejak tiga 
tahun silam.

Irwan menjabat Direktur Utama di PT GMT Kapital Asia; posisi yang sama pada PT 
Moya Indonesia. Di PT Tamaris, Irwan memegang komisaris.

Dalam cakupan lebih luas pada Moya Holdings Asia, Irwan ditempatkan sebagai 
Direktur Operasional. Menariknya, nama Irwan juga muncul di Acuatico, induk 
Aetra. Di Acuatico, ia terdaftar sebagai direktur.

Para karyawan PT Tirta Kencana dan PT Traya yang kami temui di kantor mereka di 
Serpong membenarkan atasan mereka adalah Irwan Atmadja Dinata. 

Soal kabar kehadiran Moya di Palyja dibenarkan oleh mayoritas karyawan Palyja 
yang kami tanyai. 

Saya mendatangi Roswita Simanjutak di rumahnya di daerah Bendungan Hilir pada 2 
Mei 2018. Roswita adalah pensiunan karyawan PAM Jaya dan sempat duduk di 
direksi Palyja.

Di Palyja, Rowsita berkiprah cukup lama, bekerja sejak era Salim menguasai 
Palyja pada era Soeharto hingga Suez hengkang tahun lalu. Di PAM Jaya, 
posisinya adalah staf ahli; sedangkan di Palyja, ia diangkat sebagai direktur 
eksternal. Saat sudah pensiun, Roswita sering diperbantukan Palyja sebagai 
konsultan. 

Soal sosok pemilik baru Palyja, ia hanya tersenyum sembari menjawab singkat: 
"Ya memang balik lagi ke yang dulu."




Bantahan Abraham Pattikawa & Irwan Atmadja Dinata
Kami memberi kesempatan kepada Abraham Pattikawa dan Irwan Dinata untuk 
menjelaskan temuan kami yang menyebut nama keduanya dalam jejaring indikasi 
Salim di balik pemilik Palyja. 

Kami lebih dulu menjumpai Abraham pada Sabtu, 5 Mei 2018, di sebuah restoran di 
Mall Pacific Place, kawasan Sudirman. Di mal yang sama juga kami bertemu janji 
dengan Irwan Dinata pada Selasa kemarin, 8 Mei 2018.

Irwan menampik tudingan bahwa Moya Indonesia mengontrol PT Tirta Kencana dan PT 
Traya Tirta. Ia membenarkan PT Nusantara Infrastruktur Tbk. dimiliki Salim 
Group. Namun, Irwan mengatakan yang mengelola perusahaan itu mayoritas 
orang-orang Filipina. 

"Kami enggak tahu dan enggak dilibatkan," katanya. Bantahan serupa saat kami 
menanyakan apakah Moya mengontrol PT Traya Tirta. 

Meski begitu, ia bercerita soal Hengki Wijaya yang terbelit kasus di KPK. Ia 
bercerita belum lama ini sempat ditelepon oleh pewaris PT Traya Tirta.

"Enggak tahu gimana caranya, saya ditelepon lagi sama dia (pewaris perusahaan). 
'Masih mau ngobrol enggak di Makassar?'" 

"Saya jawab, 'Ya mau lah saya kalau dikasih kesempatan'," kata Irwan. Ia enggan 
menjawab apakah obrolan basa-basi ini terealisasi atau tidak.

Saat bertanya relasinya dengan Abraham, ia menjawab pendek: "Dia kawan saya 
sudah lama."

Dalam kesempatan lain, ketika kami bertanya kenapa bisnis air Salim Group di 
bawah kontrolnya berkembang luas, ia memberikan kiat-kiat, dan pada saat itulah 
terselip nama Abraham. 

"Saya enggak jago. Yang saya lakukan hanya bersama-sama. Saya bicara sama Adaro 
Water, ATB, dan Abraham. Invest to this (bisnis air) together," katanya.

Kami menanyakan maksudnya menyebut Abraham. "Bukan," ia cepat meralat. "Jadi 
begini, Pak Abraham dengan saya itu teman cukup lama, kami sering diskusi 
beberapa hal. Dan mungkin dia lihat saya main air, dan dia masuk air. Ya saya 
enggak bisa melarang."

Saat kami bertemu dengan Abraham, ia didampingi Presiden Direktur Palyja Robert 
Rerimassie. Abraham menyebut sama seperti dirinya, kehadiran Rerimassie di 
Palyja adalah perwakilan dari PT Mulia. Setelah berbasa-basi selama 40 menit, 
kami mengajukan pertanyaan mengenai kepemilikan saham.

Ia tak membantah saat disebut namanya muncul sebagai Direktur Water Future. 
Namun, ketika kami bertanya kenapa namanya ada di situ, Abraham mengutarakan 
jawaban yang kurang logis: "Saya dimintain tolong. Kalau ada apa-apa enak 
kontrolnya karena posisi saya di Jakarta."

Jawaban ini menimbulkan pertanyaan bagaimana mungkin sang pemilik Water Future 
mau memberi jabatan strategis macam direktur kepada mitra yang baru mereka 
kenal?

Dalam dokumen akta perusahaan, selain Abraham, ada nama Lee Choon Chin dan 
Anthony Anne Catherine. Lee berposisi sebagai direktur, sedangkan Catherine 
sebatas sekretaris. 

Anehnya, saat ditanya soal dua profil itu, terutama Lee Choon Chin, Abraham 
mengaku tidak kenal. Lee akrab disapa Dato Lee; pengusaha Malaysia pemilik 
Weida Grup, perusahaan pengelola air yang beroperasi di Sabah dan Sarawak. 

Abraham menggeleng saat ditanya apakah Weida ikut menyokongnya. "Enggak kenal. 
Saya enggak tahu kalau yang urusan di Singapura."

Dalam konteks pemodal di belakangnya, Abraham memilih bungkam. Ia berargumen 
dengan nada pembelaan yang menyiratkan memang ada pemodal besar. 

"Kalau saya suka kamu, saya yakin kamu bener dan saya punya uang, terus saya 
bilang, 'Tolong deh, gantiin saya buat beli perusahaan ini.' Kamu enggak pernah 
dikenal dan perusahaan itu terdaftar atas nama saya. Itu boleh enggak?" kata 
Abraham, lalu menambahkan, "Ya enggak apa-apa, kan."

Namun, saat ditanya tudingan ada Moya dan Salim Group dibalik Palyja, Abraham 
membantahnya. "Maka saya bilang, kami ini selalu ribut pada isu tapi enggak 
pernah lihat di legal."

Dalih yang diutarakan Abaraham memang benar secara legal PT Mulia Semesta Abadi 
tak berelasi langsung dengan Moya. Tetapi hubungan ini terjalin secara tak 
langsung lewat beberapa perusahaan, salah satu di antaranya PT GMT Kapital Asia.

Ia membantah bekerja pada PT GMT Kapital Asia, tapi Abraham mengakui kenal 
dekat dengan Irwan Dinata. 

"Dia teman saya dulu. Orangnya waktu itu masih muda. Dia teman waktu masih 
kerja. Ruangan kami bersebelahan," katanya. 

Penelusuran kami menemukan Irwan dan Abraham memang pernah sama-sama bekerja di 
PT Riau Andalan Pulp & Paper pada 1999-2000.

Meski terus membantah, ada satu jawaban Abraham menegaskan ada relasi antara 
Palyja dan Salim Group saat ini. Kami menyodorkan pertanyaan soal temuan PT 
Tirta Kencana dan PT Traya yang ternyata satu kantor dengan PT Mulia dan PT 
Bahtera Sentosa. Semula Abraham membantah, "Itu perusahaan di depan kami saja, 
bukan satu kantor."

Namun, setelah mengajukan pertanyaan yang sama di pengujung wawancara, ia 
mengakui, "Itu masih anak perusahaan BHM. Itu perusahaan kita. Maka, kalau 
ditanya kami ujug-ujug masuk ke bisnis air, ya enggak juga. Justru kami ke sana 
dulu (PT Tirta Kencana dan PT Traya). Kami belajar dari situ."

Saat disodorkan pertanyaan bahwa dua perusahaan itu berafiliasi dengan Salim 
Grup, ia menjadi agak sedikit gugup. "Kalau Salim masuk sudah dari dulu. Kami 
baru-baru ini saja," katanya.
Baca juga artikel terkait SWASTANISASI AIR atau tulisan menarik lainnya Aqwam 
Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Bisnis) 

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan, Hendra Friana, Mawa Kresna & Arbi Sumandoyo
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Fahri Salam

Kirim email ke