https://tirto.id/benarkah-pt-bintang-8-mineral-milik-prabowo-amp-mayoritas-pakai-tka-cJ8c
<https://tirto.id/q/politik-bpt>
Benarkah PT Bintang 8 Mineral Milik
Prabowo & Mayoritas Pakai TKA?
Fact Check tuduhan perusahan Prabowo di Morowali. FOTO/melekpolitik.com
<https://tirto.id/benarkah-pt-bintang-8-mineral-milik-prabowo-amp-mayoritas-pakai-tka-cJ8c>
Fact Check tuduhan perusahan Prabowo di Morowali.
FOTO/melekpolitik.com
Oleh: Frendy Kurniawan - 9 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
/Sebuah situsweb dan fanpage di Facebook menyebarkan informasi
keterlibatan Prabowo dalam banyaknya Tenaga Kerja Asing di Morowali./
tirto.id <https://tirto.id/> - Situs /melekpolitik.com/ pada 6 Mei 2018
menurunkan artikel berjudul "PT Bintang 8 Mineral, Penyerap Tenaga Kerja
Asing Terbesar di Morowali Ternyata Milik Prabowo". Artikel itu memuat
informasi bahwa perusahaan bernama PT Bintang 8 Mineral berlokasi di
Pantai Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi
Tengah adalah milik Prabowo. Selain itu, disebutkan pula perusahaan
tersebut lebih banyak menyerap tenaga asing dibanding tenaga lokal.
Artikel juga menampilkan foto yang beredar dan banyak dikomentari oleh
warganet. Foto itu menampilkan keramaian buruh dengan seragam dan helmet
warna kuning. Tujuannya jelas: seakan memberikan bukti mengenai
banyaknya keberadaan TKA di perusahaan yang dituduhkan dimiliki Prabowo.
Tidak hanya situs /melekpolitik.com /yang menggunakan cara sama
menampilkan foto itu. Fanpage FB Kata Kita pada 6 Mei 2018 juga
mengunggah foto serupa disertai dengan caption: "PT. BINTANG 8 MINERAL
|| MOROWALI NICKEL PROJECT, penyerap Tenaga Kerja Asing terbesar di
morowali ternyata adalah milik PRABOWO SUBIANTO".
Profil PT Bintang Delapan Mineral
Berdasarkan data akta perseroan Ditjen AHU nomor: AHU-AH.01.03-0109233
disebutkan bahwa PT. Bintangdelapan Mineral beralamat di Jl. Bulevar
Gading Barat Blok LC 6/53, Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta
Utara. Perubahan terakhir dari akta perseroan ini yang tercatat di
Ditjen AHU adalah 19 Desember 2016.
Nama tercantum secara resmi dalam akta adalah “PT Bintangdelapan
Mineral”, bukan “PT Bintang 8 Mineral”. Alamat dalam akta juga tercatat
berada di Jakarta, bukan di Morowali.
Juga tidak ditemukan nama Prabowo dalam akta perseroan PT.
Bintangdelapan Mineral. Akta menyebut bahwa saham dimiliki PT Panca
Metta (35%), PT Meltapratama Perkasa (35%), Halim Mina (20%) dan Hamid
Mina (10%). Begitu pula dengan nama-nama pengurus perseroan tak ada nama
Prabowo. Hamid Mina sebagai Direktur Utama, Mikhael sebagai Direktur;
Huang Weifeng sebagai Komisaris; Letjen (Purn) Sintong Panjaitan menjadi
Komisaris Utama dan Erfindo Chandra sebagai Wakil Direktur Utama dan
Halim Mina sebagai Wakil Komisaris Utama.
Sementara berdasarkan dokumen akta perseroan AHU-AH.01.03-0200358, saham
PT Panca Metta dimiliki Halim Mina (70%) dan Husin Ali (30%). Untuk PT
Meltapratama, berdasarkan dokumen akta perseroan, AHU-45277.40.22.2014,
saham perseroan dimiliki oleh Halim Mina (99,90%) dan Aprillia Astena
(0,10%). Begitu pula dengan nama-nama pengurus perseroannya, tidak ada
nama Prabowo Subianto dalam dua PT itu.
Artinya kabar yang beredar bahwa PT Bintangdelapan Mineral di Molowari
sebagai perusahaan milik Prabowo Subianto *tidak benar (false)*.
Baca juga: 271 Proyek Strategis Dapat Investasi dari Cina
<https://tirto.id/271-proyek-strategis-dapat-investasi-dari-cina-bGZB>
Soal Jumlah Tenaga Kerja Asing
Selain kepemilikan perusahaan, situs /melekpolitik.com/ juga memberi
informasi bahwa perusahaan yang disebut "PT Bintang 8 Mineral" itu
menyerap lebih banyak tenaga asing daripada tenaga lokal. Namun mereka
tidak menyebut secara rinci berapa jumlahnya, berikut data
perbandingannya. Mereka langsung menyimpulkan begitu saja.
Berdasarkan data jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) di wilayah Sulawesi
Tengah dari Kepala Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Daerah Provinsi
Sulewesi Tengah (Sulteng), Abdul Razak, tercatat per 1 Maret 2018
terdapat 3831 orang TKA di seluruh Sulteng. TKA itu tersebar di 318
perusahaan.
China mengirim TKA paling banyak yaitu 1.931 TKA di seluruh Sulteng.
Negara-negara asal terbesar lainnya penyumbang TKA di Sulawesi Tengah
adalah Jepang (243 orang); India (199 orang); Malaysia (133 orang) dan
Australia (130 orang).
Sementara di Morowali, total jumlah TKA per 1 Maret 2018 tercatat
mencapai 1.893 orang. Artinya sekitar 50,4 persen dari total keseluruhan
TKA di wilayah Sulteng berada di Morowali.
Data TKA di Morowali itu bersumber dari informasi penempatan TKA yang
mencantumkan keterangan penempatan "Morowali". Ada 819 orang yang
mencatatkan "penempatan lintas provinsi mencantumkan Morowali"; 48 orang
"penempatan hanya mencantumkan Morowali"; 6 orang "penempatan lintas
kab/kota se-Sulteng”; dan 1.020 orang "penempatan lintas provinsi,
mencantumkan Morowali bersamaan dengan kab/kota lain di Sulteng”.
Abdul Razak menjelaskan TKA di Morowali merupakan jumlah total yang
bekerja di perusahaan-perusahaan yang beroperasi dalam pengelolaan PT
Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP). Razak tidak menyebutkan
secara detail jumlah TKA per perusahaan. Dia hanya menggarisbawahi: TKA
di Morowali masuk dalam satu perhitungan melalui PT IMIP itu.
"Di dalam PT IMIP itu ada perusahaan di sana. Termasuk Bintangdelapan
Mineral," ungkap Abdul Razak.
Baca juga: Benarkah Tenaga Kerja Asing Mudah Masuk Indonesia?
<https://tirto.id/benarkah-tenaga-kerja-asing-mudah-masuk-indonesia-cHrL>
Abdul Razak tidak menyebutkan keseluruhan perusahaan yang berada di
kompleks PT IMIP itu. Namun ia menegaskan, PT Bintangdelapan Mineral
termasuk salah satu perusahaan di kompleks kawasan industri tambang
Morowali.
PT IMIP adalah perusahaan pengelola kawasan industri pertambangan,
khususnya mineral nikel. Selain itu, PT IMIP merupakan perusahaan
pengembang kawasan industri terintergrasi. Artinya, memang perseroan itu
diplot sebagai perusahaan pengelola kompleks industri.
Data akta perseroan dari Ditjen AHU nomor: AHU-AH.01.03-0186918 mencatat
bahwa PT IMIP sahamnya dimiliki oleh Shanghai Decent Investment (Group)
Co. Ltd (49,7%), PT Bintang Delapan Investama (25,3%) dan PT Sulawesi
Mining Investment (SMI) (25%). Presiden RI Joko Widodo sendiri tercatat
meresmikan pabrik smelter nikel yang disebut sebagai kelompok kompleks
industri tambang nikel Morowali ini
PT Bintang Delapan Investama adalah perusahaan-perusahaan yang masuk
dalam satu grup dengan PT Bintangdelapan Mineral. Orang acap menyebutnya
sebagai kelompok Bintang Delapan Group. Apabila melihat struktur
kepemilikan saham atau kepengurusan perusahaan, nama Halim Mina dan
Hamid Mina menjadi dua orang kunci. Kedua nama itu hampir muncul di PT
IMIP, PT SMI, PT Bintang Delapan Investama, PT Bintangdelapan Mineral
termasuk ke anak-anak perusahaan lain. Baik sebagai sosok pemegang
saham, ataupun masuk dalam kepengurusan perusahaan.
Baca juga: Tenaga Kerja Asing sebagai Imbas dari Praktik Orde Baru
<https://tirto.id/penggunaan-tenaga-kerja-asing-dinilai-imbas-dari-orde-baru-cJrr>
Artinya, dalam konteks perusahan-perusahaan tambang nikel di Morowali,
kedua nama itulah yang mestinya disebut sebagai para "pemilik"
perusahaan tambang itu.
Kembali kepada pertanyaan sebelumnya, benarkah perusahaan-perusahaan di
Morowali lebih banyak menyerap tenaga kerja asing daripada tenaga kerja
lokal?
Abdul Razak menjelaskan1.893 TKA di seluruh Morowali itu tidak sampai 10
persen dari total 21.996 tenaga kerja lokal, atau baru mencapai sekitar
9%. Artinya, proporsi TKA tidak tepat disebut lebih banyak diserap
daripada tenaga kerja lokal.
Adanya kabar yang berkembang bahwa jumlah TKA di Morowali lebih besar
daripada tenaga kerja lokal terjadi karena masih belum konsistennya
pelaporan data tenaga kerja. Tidak semua TKA memiliki durasi kerja yang
sama. Artinya ada peluang masuk-keluar TKA bahkan dalam durasi sebelum
satu tahun.
Infografik Tenaga Kerja Asing di ASEAN
“Karena selama ini, kan, kalau masyarakat luas itu hanya menghitung apa
yang masuk. Nah, sementara Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA)
ini, kan, ada jangka panjang dan jangka pendek. Ada yang hanya tiga
bulan, ada yang hanya enam bulan, ada yang satu tahun. Di sana itu,
berdasarkan IMTA-nya, ada yang pulang. Nah itu, kondisi yang pulang ini
yang tidak perlu dilaporkan, sedangkan yang masuk pun itu tidak rutin
melaporkan,” tutur Abdul Razak.
Karenanya, untuk memperbaiki situasi yang berkembang soal TKA itu,
Pemerintah Daerah Sulteng, mendorong agar laporan soal keluar-masuknya
TKA itu menjadi lebih rutin dan teratur. Jika ini terjadi, data yang
lebih baik soal TKA tentu akan mudah untuk dilaporkan kepada masyarakat.
“Makanya salah satu pembicaraan bapak Gubernur adalah meminta supaya
rutin melaporkan. Kan ada kewajiban perusahaan [untuk melaporkan], wajib
lapor ketenagakerjaan,” katanya.
Namun dari semua itu, Abdul Razak menggarisbawahi, semua TKA yang telah
masuk ke Morowali (dalam kasus data legal dan mendapatkan IMTA) pasti
berasal dari RPTKA (Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing). RPTKA
sendiri perizinan pertamanya berasal dari pemerintah Pusat, yakni
Kementerian Tenaga Kerja. Secara prinsip, sebelum keluar IMTA, pasti
sudah ada terlebih dahulu RPTKA.
“Jadi semua yang punya IMTA pasti punya RPTKA,” pungkasnya.
Baca juga: Polemik Tenaga Kerja Asing
<https://tirto.id/polemik-tenaga-kerja-asing--tirto-kilat-cJSv>
Kesimpulan
Informasi yang menyebut PT Bintang 8 Mineral (semestinya: PT
Bintangdelapan Mineral) milik Prabowo Subianto tidak benar. Bukti-bukti
formal yang ada tidak menunjukan hal itu.
Sementara, informasi dengan tendesi bahwa perusahaan-perusahaan di
wilayah Morowali lebih banyak menyerap TKA daripada tenaga kerja lokal
juga tidak sesuai dengan data. Berdasarkan data, proporsi TKA
dibandingkan dengan tenaga kerja lokal di wilayah Morowali masih kecil,
hanya 9%, data per Maret 2018.
Artinya informasi dari /melekpolitik.com/ atapun dari Fanpage Kata Kita
masuk dalam kategori *informasi yang salah (false)* serta dipergunakan
sebagai bahan membuat *disinformasi*.
/======
Tirto/mendapatkan akses pada aplikasi CrowdTangle yang memungkinkan
mengetahui sebaran sebuah unggahan (konten) di Facebook, termasuk
memprediksi potensi viral unggahan tersebut. Akses tersebut merupakan
bagian dari realisasi penunjukan /Tirto/sebagai pihak ketiga dalam
proyek periksa fakta.
News Partnership Lead Facebook Indonesia, Alice Budisatrijo, mengatakan,
alasan pihaknya menggandeng /Tirto/ dalam program/third party fact
checking/ karena /Tirto/merupakan satu-satunya media di Indonesia yang
telah terakreditasi oleh International Fact Cheking Network
<https://tirto.id/setelah-lolos-verifikasi-ifcn-tirtoid-raih-penghargaan-adinegoro-cDNx>
sebagai pemeriksa fakta.
Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA
<https://tirto.id/q/periksa-fakta-gnQ?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
<https://tirto.id/author/frendykurniawan?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: Frendy Kurniawan
Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Zen RS