https://www.antaranews.com/berita/707252/tiga-peneliti-muda-indonesia-
dapat-penghargaan-dari-prancis
Tiga peneliti muda Indonesia
dapat penghargaan dari Prancis
Sabtu, 5 Mei 2018 04:48 WIB
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris, Prancis. (kemlu.go.id)
London (ANTARA News) - Tiga peneliti muda Indonesia bidang sains yang
tengah menyelesaikan di sertasi di Prancis mendapat penghargaan Prix
Mahar Schutzenberger dari Asosiasi Franco-Indonesia untuk Pengembangan
Sains (AFIDES) bertempat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI)
Paris, Kamis (3/5).
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris, Surya Rosa Putra, kepada
ANTARA News, Jumat (4/5), mengatakan bahwa ketiga peneliti tersebut
adalah Arief Wicaksana dari departemen Teknik Informatika dan
Mikroelektronika untuk Arsitektur (TIMA) Universitas Grenoble-Alpen,
Rifan Hardian dari program Kimia, Universitas Aix-Marseille dan
Vinsensia Ade Sugiawati juga dari departemen Kimia, Universitas Aix
Marseille.
Ketiga pemenang itu merupakan hasil seleksi dari 12 kandidat berasal
dari mahasiswa tahun kedua program doktoral. Jumlah mahasiswa program
doktoral asal Indonesia tercatat di Kementerian Pendidikan Nasional
Prancis tahun 2018 tsebanyak 118 orang.
Pemberian penghargaan dihadiri Presiden AFIDES Helene Scuhtzenberger,
Kuasa Usaha AdInterim KBRI Paris Agung Kurniadi, para juri, perwakilan
dari Kementerian Pendidikan Nasional Prancis, beberapa peneliti dari
perguruan dan mahasiswa Indonesia di negeri itu, serta staf KBRI Paris.
Penghargaan Mahar Schutzenberger lahir dari gagasan Profesor Marcel-Paul
Schutzenberger pada 1988, saat diangkat sebagai anggota Acadamie des
Sciences France (organisasi elit ilmuwan Prancis), yang setara dengan
Royal Society of London, Inggris.
Anugerah itu bertujuan untuk mempererat hubungannya dengan Indonesia
yang dijalin Profesor Schutzenberger sejak 1951, ketika dia mengikuti
misi Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) untuk pemberantasan penyakit
infeksi kronis tropis.
Nama Mahar Schutzenberger yang diambil dari nama putra Marcel-Paul
Schutzenberger (1920--1996), yang meninggal dunia saat menempuh
pendidikan di Ecole Polytechnique Paris pada 1980.
Helene Schutzenberger, yang juga putri Marcel-Paul Schutzenberger,
menyampaikan penganugerahan Prix Mahar Schutzenberger yang dilangsungkan
sejak 1991 sebagai bentuk kepedulian AFIDES terhadap pengembangan sains
Indonesia.
Kepada pemenang, AFIDES memberikan penghargaan berupa uang dan piagam.
Selain itu, AFIDES juga memberikan medali unik yang menggambarkan gedung
Academie des Sciences Prancis di satu sisi dan gambar wajah Supartinah
Pakasi, salah satu tokoh pendidikan Indonesia, yang juga kakak dari
istri Profesor Marcel-Paul Schutzenberger.
Kuasa Usaha KBRI Paris, Agung Kurniadi, menyampaikan terima kasih dan
apresiasi Pemerintah Indonesia terhadap inisiatif dan dedikasi AFIDES
untuk pengembangan sains Indonesia.
Dikatakannya kegiatan AFIDES adalah salah satu kerja sama bilateral
nyata antara Indonesia-Prancis, dan berharap akan berlanjut di
tahun-tahun mendatang.
Selain itu, Agung berpesan kepada pemenang untuk menjadikan
penghargaan Prix Mahar Schutzenberger sebagai motivasi dalam menjadi
peneliti unggulan Indonesia di masa datang.
Puncak pemberian penghargaan adalah presentasi hasil riset dari ketiga
pemenang. Arief Wicaksana menampilkan riset terbaru untuk meningkatkan
kinerja mikroprosesor FPGA (Field-Programmable Gate Array).
Sementara, Rifan Hardian mempresentasikan hasil penelitian dalam upaya
membuat material baru yang lebih efisien, efektif dan aman, untuk
menangkap, memisahkan, dan menyimpan gas sekaligus.
Senada dengan Rifan, Vinsensia yang berasal dari laboratorium yang sama
mengembangkan material komposit untuk keperluan baterai mikro.
Riset yang dilakukan ketiga pemenang menggambarkan riset unggulan utama
Prancis. Di luar kimia dan material komposit, Prancis dalam ilmu
pengetahuan dikenal sangat kuat di bidang transportasi, ekoteknologi dan
nanoteknologi.
Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2018