https://www.antaranews.com/berita/708919/pemerintah-siapkan-alternatif-
sumber-pembiayaan-utang
Pemerintah siapkan alternatif
sumber pembiayaan utang
Jumat, 11 Mei 2018 20:22 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (ANTARA /Hafidz Mubarak A)
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah terus mempersiapkan alternatif sumber
pembiayaan utang selain dari pasar, untuk mengantisipasi ketidakpastian
akibat gejolak pasar global.
Menteri Keuangan Sri Mulyani, alternatif sumber pembiayaan utang dapat
melalui mekanisme Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu (Private Placement) ataupun pinjaman dari mitra baik bilateral
maupun multilateral.
"Penerbitan SBN bisa dilakukan melalui private placement, tidak hanya
melalui market. Bisa dari pinjaman program dari development partner baik
bilateral atau multilateral dengan potensi 1,3 billion USD dan 850 juta
euro. Samurai bond juga bisa di-upsize yang saat ini mencapai 150
milliar yen," ujar Sri Mulyani saat jumpa pers di Kantor Pusat
Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat.
Terkait private placement, lanjut Sri Mulyani, pemerintah memiliki opsi
tersebut apabila pasar menunjukkan tanda-tanda tingkat imbal hasil
(return) yang tidak rasional.
Oleh karena itu, pemerintah akan terus menjaga alternatif pembiayaan
melalui private placement, sampai mendapatkan harga yang sesuai.
"Private placement kita tetap siapkan. Kita aktifkan pinjaman program
yang akan bisa ditarik pada semester satu," ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga memiliki Badan Layanan Umum (BLU) yang mampu
menyerap SBN hingga mencapai Rp12 triliun. Pemerintah pun telah
mempersiapkan dana Bond Stabilization Framework (BSF) untuk menstabilkan
pasar surat utang negara.
"Kita juga memiliki BLU yang mampu menyerap SBN hingga 12 triliun dan
pemerintah juga telah menyiagakan bonds stabilization framework untuk
menjaga pembiayaan secara stabil dan sustainable," kata Sri Mulyani.
Ia menambahkan, dalam menyikapi perkembangan di pasar SUN sendiri,
pemmerintah akan melihat `appetite` dari pemegang SUN dan menjaga secara
hati-hati mereka yang menjadi investor jangka panjang dari SUN.
"Kita tetap akan terus melakukan action sesuai jadwal, sama seperti BI
punya jadwal RDG. Dalam hal ini, keputusan mengenai apa mengambil atau
tidak didasarkan pada kondisi kas keuangan negara kita. Kita akan terus
sikapi hati-hati dari persepsi market sampai persepsi mengenai risiko
yang cukup stabil," ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah memutuskan untuk tidak menerima seluruh penawaran
lelang dari lima seri Surat Utang Negara (SUN) pada Rabu (8/5) lalu
karena para investor tersebut mematok imbal hasil (yield) yang sangat
tinggi dan tidak rasional.
Penawaran yang masuk pada lima seri SUN itu hanya Rp7,18 triliun dari
target indikatif Rp17 triliun. Penawaran tersebut merupakan yang
terendah sejak 18 Juni 2013 lalu sebesar Rp7,74 triliun.
Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018