Saya selalu bilang revisionisme itu merusak-menghancurkan perjuangan untuk
sosialisme dan sahabat kapitalisme dan imperialisme. Oleh karena itu tidak
heran kalau orang revisionis juga mendukung neoliberalisme. Pernah Noroyono
menanyakan apakah neoliberalisme itu jalan tengah alias jalan ketiga. sudah
dijawab baik oleh Ajeg apa itu neoliberalisme. Sekarang tercermin dengan jelas
orang-orang yang berpikiran neoliberal dalam kasus pupuk import. Orang-orang
seperti inilah yang diperlukan oleh kaum kapitalis dan imperialis. Karena
mereka membenarkan keinginan kaum monopoli besar dan kaum imperialis dalam
menguasai dan mematikan ekonomi nasional negeri-negeri Dunia Ketiga. Mereka
mempromosikan perdagangan harus bebas, barang dan modal harus bisa bebas, TAPI
manusia tidak bisa bebas pindah!!! Pintu negeri-negeri kapitalis-imperialis
tertutup bagi mereka yang lari dari negeri-negeri Dunia Ketiga karena perang
dan juga karena ekonomi negerinya tidak menyediakan kondisi untuk hidup manusia
layak!!! Padahal perang dan ekonomi terpuruk negeri-negeri Dunia Ketiga juga
disebabkan oleh penjarahan, penghisapan dan penindasan negeri-negeri
kapitalis-imperialis!!!Justru karena negeri-negeri dunia ketiga seperti
Indonesia tunduk kepada tongkat komando neoliberal kaum imperialis, maka mereka
tidak mau mengambil kebijakan untuk MELINDUNGI EKONOMI NASIONALNYA. Dalam
keadaan produsen dalam negeri tidak/belum mampu bersaing dengan produksi negeri
kapitalis-imperialis, NEGARALAH SEHARUSNYA YANG MELINDUNGI PRODUSEN NASIONALNYA
MELALUI SUBSIDI DAN MENUTUP IMPORT!!!! ITULAH SATU-SATUNYA CARA UNTUK
MELINDUNGI PRODUSEN NASIONAL DAN MENYELAMATAKAN EKONOMI NASIONAL! Para
pendukung politik neoliberal kaum kapitalis dan imperialis ini tidak NYAHO
bahwa negeri-negeri kapitalis-imperialis itu justru bisa menekan harga karena
MENDAPAT SUBSIDI DARI NEGARANYA!!!!Inilah justru yang pernah dituntut oleh
negeri Dunia Ketiga kepada AS dan negeri-negeri EU, supaya mereka menarik
subsidinya kepada produsen pertanian di negerinya!!! Profesor Wertheim, kawan
abadi rakyat Indonesia, pernah menulis, negeri-negeri kapitalis-imperialis itu
ingin supaya negeri-negeri Dunia Ketiga melakukan apa yang mereka perintahkan,
tapi tidak ingin mereka mencontoh apa yang pernah mereka lakukan dan terus
lakukan untuk melindungi dan mengembangkan ekonominya sendiri!!!!
On Sunday, May 13, 2018 1:43 AM, Chan CT <[email protected]> wrote:
SETUJUUUU, ... mestinya perdagangan itu dibiarkan saja berjalan sebagaimana
hukum PASAR! Hanya saja jangan dibiarkan bebas-liar, pemerintah TETAP harus
pegang kendali, lebih dahulukan kepentingan rakyat banyak jangan sampai
dirugikan dan terpukul-berat. Sebaliknya juga, jangan sampai terjadi
kebalikkan, memanjakan rakyat dengan subsidi kebablasan yang hakekatnya justru
lebih menguntungkan sekelompok pengusaha, macam subsidi BBM itu! Pada saat
Pabrik pupuk Kalimantan tergempur pupuk import, pemerintah bukan terutama
memberi subsidi ataupun melarang import pupuk, tapi boleh saja ikut turun
tangan meneliti mengapa Pertamina menjual gas 6 dollar sedang dipasar cuma 2
dollar? Dimana dan apa masalahnya? Kalau saja kondisi produksi dalam negeri
bisa disempurnakan dan bahkan mencukupi kebutuhan, kenapa masih harus import,
apalagi sampai mematikan produksi dalam negeri? Kalau saja mutu produksi
kurang baik, karena teknologi yang masih terbelakang, dorong dan bantulah
pengusaha meningkatkan mutu produksi agar bisa menyaingi produksi import itu,
bukan hanya melarang import! Karena PERSAINGAN itulah yang mendorong maju
produksi dan kwalitas produksi, ... Kalau bangsa ini tidak digembleng, menjadi
cengeng selalu minta dilingungi pemerintah dan menuntut terus memberi subsidi
bahkan mematikan penyaingnya, ... apa namanya kalau bukan jadi bangsa TEMPE?!
Inilah yang dibilang segala hal-ihwal dialam semesta ini merupakan kesatuan
dari segi-segi yang bertentangan, sesuai dengan I Ching, filsafat kuno Tiongkok
yang sudah lebih 5 ribu tahun itu! Dalam memandang masalah tidak bisa selalu
dan selamanya memutlakkan satu segi dari segi-segi yang berlawanan, ... From:
[email protected] [GELORA45] Sent: Sunday, May 13, 2018 12:37 AMTo:
[email protected] Subject: Re: [GELORA45] Produsen pupuk dalam negeri
khawatirkan serbuan pupuk impor Mestinya ya perdagangan itu harus bebas.
Konsumen diuntungkan dengan harga lebih murah dan kwalitas lebih baik. Kalo
negara proteksi terus, produsen jadi kenakan, tidak mau meningkatkan mutu dan
ngeruk keuntungan se-besar2nya.
Mau bela rakyat atau lindungi produsen?
---In [email protected], <ilmesengero@...> wrote :
Mengapa takut saingan pupuk impor, bukankah rezim neo/Mojopahit mempunyai
politik dagang bebas sesuai doktrin New World Order, dimana "Free movement of
capital, labour and goods"? Jadi mereka sudah tahu akibatnya atau juga berlagak
linglung terhadap konsekwensi tindakan politik mereka.
2018-05-12 12:56 GMT+02:00 kh djie djiekh@... [GELORA45]
<[email protected]>:
Kutipan : Kenapa pupuk impor bisa lebih murah, lanjutnya, karena biaya
opearsional, terutama untuk pos pembelian gas lebih murah, yakni hanya 2 dolar
AS, sedangkan di Indonesia masih 6 dolar AS. "Dengan harga gas 6 dolar AS ini,
kami kesulitan di biaya operasionalnya," ucapnya.
Ini yang aneh, kok Pertamina bisa jual 6 dollar ke Pabrik Pupuk Kalimantan
Timur, kalau di pasaran harganya 2 dollar . Masa pabrik pupuk terbesar di
Indonesia, jauh lebih besar dari pabrik pupuk Sriwijaya akan terpaksa import
gas alam sendiri, sedangkan sumber gas Pertamina ada di Muara Badak, 60 km dari
Bontang (pabrik pupuk Kalimantan Timur), yang disalurkan dengan pipa ke Bontang
? Lha, Pertamina jual gas Alam dengan harga berapa ke pasaran umum ?
https://id.wikipedia.org/wiki/ Pupuk_Kalimantan_Timur
https://investasi.kontan.co. id/news/harga-gas-alam- kuartal-i-2018-tertahan-
kenaikan-produksi-as
Dibanding komoditas energi lainnya, selama tiga bulan pertama, harga gas alam
kontrak pengiriman Mei 2018 turun 1,5% yaitu dari US$ 2,741 per mmbtu pada
akhir 2017 menjadi US$ 2,733 per mmbtu per akhir Maret 2018.
2018-05-12 11:29 GMT+02:00 Tatiana Lukman jetaimemucho1@... [GELORA45]
<[email protected]>:
Lha inilah memang yang dikehendaki oleh negara-negara imperialis yang
selalu berkaok-kaok tentang Globalisme dan Free Trade, bukan?? Buka lebar-lebar
pintu pasar dalam negeri kalian, biarkan produk kami masuk dengan bebas!! Dari
dulu sampai sekarang, tak pernah berubah watak kaum pemodal besar dan
imperialis!!!
On Saturday, May 12, 2018 1:53 AM, "'Chan CT' SADAR@... [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Produsen pupuk dalam negeri khawatirkan serbuan pupuk impor
Jumat, 11 Mei 2018 21:31 WIB Pupuk Kaltim. FOTO ANTARA/Ardi/sb/ed/hp/09
(ANTARA/ARDI) Malang (ANTARA News) - Pupuk Kaltim sebagai salah satu produsen
pupuk di Tanah Air mengkhawatirkan adanya serbuan pupuk impor yang masuk ke
Indonesia dengan mudah dan harganya pun murah.
"Kekhawatiran itu ada karena harganya lebih murah dan mudah didapat, apalagi
pupuk impor ini masuk dengan mudahnya ke Tanah Air," kata Kepala Kantor Wilayah
(Kanwil) Jatim II Pupuk Kaltim disela sosialisasai pengetahuan produk Pupuk
Kaltim di Malang, Jawa Timur, Jumat.
Ia mengaku khawatir petani akan beralih ke pupuk impor karena harganya
terjangkau (murah) dibanding pupuk produksi dalam negeri dan mudah didapat,
terutama pupuk dari Tiongkok dan Amerika Serikat.
Kenapa pupuk impor bisa lebih murah, lanjutnya, karena biaya opearsional,
terutama untuk pos pembelian gas lebih murah, yakni hanya 2 dolar AS, sedangkan
di Indonesia masih 6 dolar AS. "Dengan harga gas 6 dolar AS ini, kami kesulitan
di biaya operasionalnya," ucapnya.
Sementara itu, Superintendent Hubungan Internal Departeman Humas Pupuk Kaltim,
Nurdi Saptono mengatakan Tiongkok dan Amerika Serikat yang memroduksi pupuk
urea secara besar-besaran menjadikan dunia over stok.
"Dulu pernah terjadi di semua daerah ketika pupuk petani masih menggunakan
Pusri, ketika Pupuk Kaltim amsuk dianggap pupuk palsu. Nah, kondisi itu hampir
sama dengan sekarang yang banyak serbuan pupuk impor. Mudah-mudahan kondisi itu
terjadi sekarang, petani tetap `minded` dengan pupuk dalam negeri, sehingga
tidak sampai tergoda pupuk impor," katanya.
Menyinggung ketersediaan pupuk menjelang musim tanam di wilayah Jawa Timur,
Sugiyono mengatakan sangat aman, bahkan stoknya melebih ketentuan pemerintah
(Kementan).RI. "Oleh karena itu, petani tidak perlu khawatir akan terjadi
kelangkaan karena stoknya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan petani,"
ucapnya.
Pupuk Kaltim menyediakan stok urea subsidi untuk Jatim mencapai 345.533 ton,
dengan rincian stok urea subsidi di Lini I atau gudang pabrik mencapai 5.497
ton, stok di Lini II atau Gudang Provinsi 84.484 ton dan stok urea subsidi di
Lini III atau gudang kabupaten 254.269 ton.
Sedangkan untuk stok NPK subsidi mencapai 22.592 ton, dengan rincian stok pada
lini I atau gudang pabrik 9.960 ton dan stok di Lini III atau gudang kabupaten
12.632 ton. Adapun serapan urea subsidi tertinggi di Jatim, yaitu 225.306 ton,
sedangkan serapan NPK subsidi tertinggi di Kalimantan Selatan, yaitus mencapai
20.953 ton.
Secara nasional, hingga 7 Mei 2018, Pupuk Kaltim telah menyalurkan 536.758 ton
urea subsidi atau 36 persen dari alokasi SK Menteri Pertanian RI. Untuk NPK
subsidi yang telah disalurkan mencapai 69.187 ton atau 42 persen dari alokasi
SK Menteri Pertanian RI.
Sementara itu kapasitas gudang di Jatim mencapai 87.800 ton (di Surabaya dan
Banyuwangi) dari ketentuan stok 32.533 ton. Stok fisik mencapai 39.711 ton dan
stok administrasi 44.361. Sementara realisasi hingga 7 Mei mencapai 14.428 ton
dari alokasi Mei 2018 mencapai 43.377 ton.
Untuk produktivitas rata-rata per tahun mencapai 3,43 juta ton urea dan yang
didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan petani di dalam negeri sekitar 1,4
juta ton per tahun. Sedangkan selebihnya menjadi komoditas ekspor. "Untuk
ekspor ini dengan catatan kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi an harus ada
izin dari pemerintah," kata Sugiyono.
Kebutuhan pupuk bersubsidi di Tanah Air mencapai 13 juta ton per tahun,
sementara pemerintah hanya mampu mengkover sekitar 9,55 juta ton. Sehingga,
selebihnya petani harus membeli pupuk dengan harga nonsubsidi. "Petani yang
tidak terkover pupuk subsidi ini, mau tidak mau membeli dengan harga
nonsubsidi," ucapnya.
Menyinggung upaya untuk mengatasi jika terjadi kelangkaan pupuk di pasaran,
Sugiyono mengatakan perlu peningkatan kapasitas produksi, monitoring stok pupuk
bersubsidi,koordiansi dengan distributor, PPL,KP3, Dinas terkait, dan
pemerintah daerah setempat, membentuk tim posko pengamanan musim tanam, serta
Pupuk Kaltim menyediakan jaringan bebas pulsa untuk petani, kios resmi dan
distributoryang ingin menyampaikan keluhan dan saran.
Sementara itu, staf Pupuk Kaltim Ajang Christrianto mengemukakan untuk
meningkatkan produktivitas tanaman petani, pihaknya melakukan pendampingan bagi
petani, termasuk melakukan demo pemupukan secara berimbang dan tidak berlebihan
yang melibatkan Dinas Pertanian dan PLL setempat.
"Selain itu, juga melakukan kerja sama dengan distributor dan pengecer. Selama
masa tanam hingga panen juga terus dilakukan monitoring, apakah pemupukan
berimbang dan tidak berlebihan ini mampu meningkatkan produktivitas (panen
petani)," ucapnya.
Pemupukan berimbang dan tidak berlebihan tersebut menggunakan kompisisi
perbandingan 5:3:2, artinya pemupukan dengan 500 kilogram pupuk organik, 300
kilogram pupuk NPK dan 200 kilogram urea untuk setiap hektare tanaman.
"Khusus penggunaan pupuk organik yang melebihi komposisi, misalnya 1 ton dan
NPK atau ureanya tetap akan lebih baik karena untuk mengembalikan unsur hara
tanah lebih cepat," katanya.
Baca juga: Menteri BUMN: produksi pupuk NPK ditingkatkan Pewarta: Endang
Sukarelawati
Editor: Suryanto
#yiv6852733551 #yiv6852733551 -- #yiv6852733551ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv6852733551
#yiv6852733551ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv6852733551
#yiv6852733551ygrp-mkp #yiv6852733551hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-mkp #yiv6852733551ads
{margin-bottom:10px;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-mkp .yiv6852733551ad
{padding:0 0;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-mkp .yiv6852733551ad p
{margin:0;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-mkp .yiv6852733551ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-sponsor
#yiv6852733551ygrp-lc {font-family:arial;}#yiv6852733551
#yiv6852733551ygrp-sponsor #yiv6852733551ygrp-lc #yiv6852733551hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv6852733551
#yiv6852733551ygrp-sponsor #yiv6852733551ygrp-lc .yiv6852733551ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv6852733551 #yiv6852733551actions
{font-family:verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv6852733551
#yiv6852733551activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv6852733551
#yiv6852733551activity span {font-weight:700;}#yiv6852733551
#yiv6852733551activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv6852733551 #yiv6852733551activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv6852733551 #yiv6852733551activity span
span {color:#ff7900;}#yiv6852733551 #yiv6852733551activity span
.yiv6852733551underline {text-decoration:underline;}#yiv6852733551
.yiv6852733551attach
{clear:both;display:table;font-family:arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv6852733551 .yiv6852733551attach div a
{text-decoration:none;}#yiv6852733551 .yiv6852733551attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv6852733551 .yiv6852733551attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv6852733551 .yiv6852733551attach label a
{text-decoration:none;}#yiv6852733551 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv6852733551 .yiv6852733551bold
{font-family:arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv6852733551
.yiv6852733551bold a {text-decoration:none;}#yiv6852733551 dd.yiv6852733551last
p a {font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv6852733551 dd.yiv6852733551last p
span {margin-right:10px;font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv6852733551
dd.yiv6852733551last p span.yiv6852733551yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv6852733551 div.yiv6852733551attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv6852733551 div.yiv6852733551attach-table
{width:400px;}#yiv6852733551 div.yiv6852733551file-title a, #yiv6852733551
div.yiv6852733551file-title a:active, #yiv6852733551
div.yiv6852733551file-title a:hover, #yiv6852733551 div.yiv6852733551file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv6852733551 div.yiv6852733551photo-title a,
#yiv6852733551 div.yiv6852733551photo-title a:active, #yiv6852733551
div.yiv6852733551photo-title a:hover, #yiv6852733551
div.yiv6852733551photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv6852733551
div#yiv6852733551ygrp-mlmsg #yiv6852733551ygrp-msg p a
span.yiv6852733551yshortcuts
{font-family:verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv6852733551
.yiv6852733551green {color:#628c2a;}#yiv6852733551 .yiv6852733551msonormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv6852733551 o {font-size:0;}#yiv6852733551
#yiv6852733551photos div {float:left;width:72px;}#yiv6852733551
#yiv6852733551photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv6852733551
#yiv6852733551photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv6852733551
#yiv6852733551reco-category {font-size:77%;}#yiv6852733551
#yiv6852733551reco-desc {font-size:77%;}#yiv6852733551 .yiv6852733551replbq
{margin:4px;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6852733551
#yiv6852733551ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv6852733551
#yiv6852733551ygrp-mlmsg select, #yiv6852733551 input, #yiv6852733551 textarea
{font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6852733551
#yiv6852733551ygrp-mlmsg pre, #yiv6852733551 code {font:115%
monospace;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-mlmsg #yiv6852733551logo
{padding-bottom:10px;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-msg p a
{font-family:verdana;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-msg
p#yiv6852733551attach-count span {color:#1e66ae;font-weight:700;}#yiv6852733551
#yiv6852733551ygrp-reco #yiv6852733551reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-sponsor
#yiv6852733551ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv6852733551
#yiv6852733551ygrp-sponsor #yiv6852733551ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv6852733551
#yiv6852733551ygrp-sponsor #yiv6852733551ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-text
{font-family:georgia;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv6852733551 #yiv6852733551ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv6852733551
#yiv6852733551ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv6852733551