Terimakasih penjelasannya. Bisa dilihat bahwa kesalahan yang 
banyak itu ternyata lebih pada pelaksana (orang) dan penerapannya 
(cara), bukan pada sistem / paham / ajarannya. Kesalahan seperti ini 
ya lumrah saja terjadi, dan sangat manusiawi. Sangat termaafkan, 
mengingat tidak ada manusia yang sempurna, bahkan dalam 
menerapkan ajaran agama sekalipun. Lha manusia kan memang 
makhluk sontoloyo. Tapi penuh warna-warni. Aneka ragam. Indah. 

Apa asyiknya kehidupan ini kalau manusia hanya berupa bayi lucu 
selamanya. Atau, berisi rohaniwan bujangan semuanya. Atau, cuma
teroris melulu. Apalah artinya pesta kalau piring / gelas tak boleh kotor. 
Pecah piring dalam pesta ya lumrah saja. 

Itu tanggapan saya untuk contoh 'kesalahan' yang Anda soroti dalam 
strategi Lompatan Besar Mao. Bahwa mencabuti pagar besi dari 
rumah orang kaya maupun merampas benda logam lainnya hanyalah 
ekses dari semangat melompat yang menggebu. Nyaris mirip dengan 
kisah amandemen UUD'45 (al. melahirkan multipartai, pembatasan 
masa jabatan presiden dll) yang merupakan ekses dari semangat reformasi. 
Tindakan yang timbul akibat pelaksanaan semangat yang melampaui batas. 
Ekses biasa terjadi di tingkat bawah karena mereka hanya mau ke tujuan 
tapi kurang tahu caranya. Dengan demikian, berdasarkan contoh tentang 
Lompatan Besar Mao, 'banyak kesalahan' yang terjadi dalam ekonomi sosialis 
hanyalah ekses, bukan struktural. 

Yang jelas, tujuan dari Lompatan Mao maupun reformasi di Indonesia 
pada dasarnya adalah membangun keberdikarian. Bedanya, RRC sekarang 
barangkali lumayan berdikari. Tetapi untuk disebut sebagai hasil dari sistem 
sosialis kayaknya kok ya berlebihan. Sebaliknya, RI yang terus terjepit 
antara sosialisme & kapitalisme justru semakin ketergantungan. Persoalan 
di Indonesia itu unik. Secara budaya, masyarakatnya sangat sangat menganut 
filosofi sosialis. Tetapi sistem politiknya ngotot merobah jiwa politikusnya 
menjadi rusak. 

   --- SADAR@... wrote:
    Bung Ajeg yb, Bisa dikatakan terjadi banyak KESALAHAN dalam menjalankan 
sistem ekonomi sosialisme yang sepenuh berprinsip berencana itu, disebabkan 
karena sistem yang memutlakkan prinsip berencana, artinya tidak melihat 
KETERBATASAN kemampuan subjektive manusia yang menjalankan! Prinsip berencana 
tentu saja BAGUUUS dan harus diteruskan, tapi dalam pelaksanaan tetap harus 
dipadu dengan keunggulan ekonomi-pasar! Itulah yang sekarang dijalan Deng 
menjadi ekonomi pasar-sosialisme! Diswamping kesalahan-kesalahan kecil, dimana 
target produksi didaerah tidak tercapai karena kondisi yang tidak sesuai, ... 
saya ajukan satu KESALAHAN yang cukup banyak disoroti dalam menjalankan 
ekonomi-berencana itu, ditahun 1958 saat menjalakan politik “Maju Melompat”, 
hendak meningkatkan produksi baja yang ketika itu dianggap sebagai patokan satu 
negara maju, disamping berusaha keras meningkatkan produksi pabrik-baja 
“Ibu-Kota” yg dibangun dengan bantuan Sovyet, pemerintah menetapkan target 
produksi baja dengan membangun tanur-tanur rakyat dibanyak daerah. Lalu, 
darimana biji-baja itu didapat? Digerakkanlah rakyat mengumpulkan besi-besi 
yang dianggap tidak perlu, ... tidak sedikit pagar besi rumah 
kapitalis/tuantanah dibongkar, ..... bahkan wajan-wajan perseorangan dirumah 
juga dikeluarkan untuk dicor ditanur-tanur yang dibangun itu, kan rakyat 
disuruh makan dikantin bersama saja! Tentu dalam usaha membangkitkan SEMANGAT 
rakyat TIongkok yang tinggi dalam usaha membangun negaranya, gerakan rakyat 
memproduksi baja tersebut memang LUAR BIASA! Semangat BERDIKARI yang diserukan 
Ketua Mao melawan blokade sejagad AS! Tapi, dilihat dari sudut pandang produksi 
baja, dianggap sebagai satu kesalahan kekiri-kirian yang terjadi PEMBOROSAN, 
karena banyak tanur-tanur dibangun dengan teknologi yang tidak memadai terjadi 
kwalitas produksi yg baik!  Bahwa semangat BERDIKARI tentu saja HARUS 
dijalankan dan dikobarkan, ... kalau saja tidak berlebihan dan dijalankan 
sesuai dengan kemampuan dan dijalankan setapak demi setapak tentu tidak akan 
terjadi pemborosan yang tidak diperlukan itu. Sedang kegiatan dan kerja rakyat 
banyak bisa disalurkan dan dikembangkan kebidang lain yang berarti dan berguna, 
.... semisal, mengembangkan peternakan ayam, babi, kambing diperumahan, menanam 
sayuran dipekarangan/halaman rumah sebagai TAMBAHAN penghasilan bahan-makan 
yang ketika itu SANGAT-SANGAT dibutuhkan rakyat banyak! Ingat, begitu Tiongkok 
dilanda bencana alam berat, berturut-turut 3 tahun, 1959-1961, .... TIDAK 
sedikit rakyat mati kelaparan, ...! Bukankah kalau saja ketika itu, setiap 
petani diperbolehkan menggunakan waktu senggang memelihara ternak dan menanam 
sayuran dihalaman rumah mereka, KELAPARAN bisa dikurangi bahkan tidak perlu 
sampai mati kelaparan! Ini pula salah satu kesalahan kebijakan ketika itu yang 
diajukan dengan BERANI oleh Liu Shao-chi, hanya saja di masa RBKP justru 
dijadikan satu alasan menuduh Liu penempuh jalan kapitalis, ....Sementara 
demikianlah penjelasan yang bisa saya berikan, ... mudah-mudahan bisa 
dimengerti dengan baik.Salam,ChanCT
From: ajegBisa tolong diperjelas yang Anda maksud dengan 
'banyak kesalahan' dalam ekonomi sosialis; 
apakah kesalahan pada sistem, pada pelaksana, 
atau semuanya salah? 

Untuk yang ekonomi kapitalis mah kesalahannya 
sudah jelas karena memang dilahirkan sebagai 
kembar dempet dengan liberalisme. Bebas untuk 
sembarangan seenak dengkul sambil terus menjual 
"kepentingan Rakyat". Seperti yang sembarangan 
jeplak pasar bebas untuk industri pupuk dsb tapi 
ikut antre jaminan sosial dalam industri pengobatan / 
kesehatan.

--- SADAR@.... wrote:Inilah kenyataan kehidupan nyata yang BENAR adalah 
perpaduan dua segi-segi yang bertentangan, antara ekonomi sosialis yang semula 
sepenuhnya berencana dengan ekonomi kapitalis yg katanya sepenuhnya jalankan 
kebebasan ekonomi PASAR, yang kemudian diteriakkan neoliberalisme itu! Ekonomi 
sosialis yang SEPENUHnya BERENCANA dalam kenyataan bisa terjadi banyak 
kesalahan, terlalu bersandar pada keputusan subjektif dan tidak sesuai dengan 
kenyataan objeektif, sebaliknya juga apa yang diuarkan kapitalis hendak 
sepenuhnya bebas sesuai pasar, dalam kenyataan juga TIDAK TERJADI! Tetap saja 
mereka berteriak dibebaskan sesuai pasar, pemerintah tidak boleh turun-tangan, 
eeeiiih saat menghadapi kapitalis-monopoli terancam bankrut, pemerintah AS 
harus turun tangan beri kucuran dana! Pada saat gempuran produksi Tk mendesak 
dan mengalahkan kapitalis lokal, mereka akhirnya juga jalankan proteksionisme, 
...naikkan pajak masuk! Gak ada yang dibilang liberalisme, kecuali membela 
kepentingan siapa saja, kapitalis-monopoli yang dibela atau kepentingan rakyat 
banyak saja!Sedang untuk mengembangkan ekonomi nasional, sudah seharusnya 
pemerintah memberi kebijakan-kebijakan untuk kembangkan UKM, bahkan melindungi 
UKM itu jangan sampai tergerus barang import, ....
From: ajegAnalaogi yang cerdas. Memang begitulah semestinya 
menjalani hidup, meneladani hukum alam yakni: 'tumbuh 
dan berkembang' (hingga tiba s aatnya untuk lelayu) 
seperti bayi yang perlu dibantu agar kelak bisa mandiri. 

Lucu-lucu memang para pendukung pasar bebas yang 
menen tang campur tangan pemerintah tapi teriak-teriak minta 
pemerintah turun tangan supaya produsen bisa bersaing 
melawan produk impor. 

Lalu, apanya yang bebas?
Oh, ternyata cuma bebas untuk njeplak "perdagangan bebas" 
dalam industri pupuk dll. tapi tetap menuntut peran pemerintah 
dalam memastikan jaminan sosialnya di industri pengobatan / 
kesehatan. 

Pendukung perdagangan bebas harusnya konsisten jugalah dalam 
membela hak perusahaan asuransi untuk bersaing. Gantungkan saja 
nasibnya pada kartu asuransi. Jangan malah petentengan ikut antre 
jaminan sosial. 

Nggak sehat itu.

--- djiekh@... wrote:Bung Chan,Di negeri Belanda itu banyak usaha2 
perseorangan, yang didorong maju dan dibantu pemerintah.Usaha perorangan ini 
selain dapat bebas pajak selama 3 tahun, juga boleh melaporkan kerugianusahanya 
dalam 3 tahun pertama, yang akan diganti kantor pajak, setelah diteliti dulu di 
tempat,diperiksa semua administrasinya. Jadi ya seperti bayi, ya permulaan 
perlu dibantu dulu, sampai bisajalan dan lari.....Kalau orang sudah punya 
kerja, tetapi dia nyambi buka usaha sendiri, kerugiannya bisa dipotongkanpada 
penghasilan tetapnya, dan setelah itu baru dipajaki.Tidak tahu apa di Indonesia 
apa ada sistim seperti ini.Masalah pabrik pupuk Kalimantan Timur, pemerintah 
perlu selidiki benar2 apa terjadi salah kontrak dengan Pertamina, karena ini 
adalah industri yang sangat penting (tidak tahu apa sudah termasuk industri 
strategis yang perlu dibantu dengan pinjaman uang berbunga sangat rendah), agar 
hasil2 pertanian naik, dan tidak perlu import, yang menghabiskan 
devisa.Salam,KH2018-05-13 1:42 GMT+02:00 Chan CT :
         SETUJUUUU, ... mestinya perdagangan itu dibiarkan saja berjalan 
sebagaimana hukum PASAR! Hanya saja jangan dibiarkan bebas-liar, pemerintah 
TETAP harus pegang kendali, lebih dahulukan kepentingan rakyat banyak jangan 
sampai dirugikan dan terpukul-berat. Sebaliknya juga, jangan sampai terjadi 
kebalikkan, memanjakan rakyat dengan subsidi kebablasan yang hakekatnya justru 
lebih menguntungkan sekelompok pengusaha, macam subsidi BBM itu! 
 Pada saat Pabrik pupuk Kalimantan tergempur pupuk import, pemerintah bukan 
terutama memberi subsidi ataupun melarang import pupuk, tapi boleh saja ikut 
turun tangan meneliti mengapa Pertamina menjual gas 6 dollar sedang dipasar 
cuma 2 dollar? Dimana dan apa masalahnya? Kalau saja kondisi produksi dalam 
negeri bisa disempurnakan dan bahkan mencukupi kebutuhan, kenapa masih harus 
import, apalagi sampai mematikan produksi dalam negeri?Kalau saja mutu produksi 
kurang baik, karena teknologi yang masih terbelakang, dorong dan bantulah 
pengusaha meningkatkan mutu produksi agar bisa menyaingi produksi import itu, 
bukan hanya melarang import! Karena PERSAINGAN itulah yang mendorong maju 
produksi dan kwalitas produksi,  ... Kalau bangsa ini tidak digembleng, menjadi 
cengeng selalu minta dilingungi pemerintah dan menuntut terus memberi subsidi 
bahkan mematikan penyaingnya, ... apa namanya kalau bukan jadi bangsa 
TEMPE?!Inilah yang dibilang segala hal-ihwal dialam semesta ini merupakan 
kesatuan dari segi-segi yang bertentangan, sesuai dengan I Ching, filsafat kuno 
Tiongkok yang sudah lebih 5 ribu tahun itu! Dalam memandang masalah tidak bisa 
selalu dan selamanya memutlakkan satu segi dari segi-segi yang berlawanan, ...  
       From: marthajan04@...    Mestinya ya perdagangan itu harus bebas. 
Konsumen diuntungkan dengan harga lebih murah dan kwalitas lebih baik. Kalo 
negara proteksi terus, produsen jadi kenakan, tidak mau  meningkatkan mutu dan 
ngeruk keuntungan se-besar2nya.   Mau bela rakyat atau lindungi produsen 
 --- ilmesengero@... wrote : 
     Mengapa takut saingan pupuk impor, bukankah rezim neo/Mojopahit mempunyai 
politik dagang bebas sesuai doktrin New World Order, dimana "Free movement of 
capital, labour and goods"? Jadi mereka sudah tahu akibatnya atau juga berlagak 
linglung terhadap konsekwensi tindakan politik mereka.
    2018-05-12 12:56 GMT+02:00 kh djie :
 
 
      Kutipan :  Kenapa pupuk impor bisa lebih murah, lanjutnya, karena biaya 
opearsional, terutama untuk pos pembelian gas lebih murah, yakni hanya 2 dolar 
AS, sedangkan di Indonesia masih 6 dolar AS. "Dengan harga gas 6 dolar AS ini, 
kami kesulitan di biaya operasionalnya," ucapnya. 
 Ini yang aneh, kok Pertamina bisa jual 6 dollar ke Pabrik Pupuk Kalimantan 
Timur, kalau di pasaran harganya 2 dollar . Masa pabrik pupuk terbesar di 
Indonesia, jauh lebih besar dari pabrik pupuk Sriwijaya akan terpaksa import 
gas alam sendiri, sedangkan sumber gas Pertamina ada di Muara Badak, 60 km dari 
Bontang (pabrik pupuk Kalimantan Timur), yang disalurkan dengan pipa ke Bontang 
?  Lha, Pertamina jual gas Alam dengan harga berapa ke pasaran umum ?

 https://id.wikipedia.org/wiki/ Pupuk_Kalimantan_Timur
 https://investasi.kontan.co. id/news/harga-gas-alam- kuartal-i-2018-tertahan- 
kenaikan-produksi-as
 Dibanding komoditas energi lainnya, selama tiga bulan pertama, harga gas alam 
kontrak pengiriman Mei 2018 turun 1,5% yaitu dari US$ 2,741 per mmbtu pada 
akhir 2017 menjadi US$ 2,733 per mmbtu per akhir Maret 2018. 
    2018-05-12 11:29 GMT+02:00 Tatiana Lukman :
 
       Lha inilah memang yang dikehendaki oleh negara-negara imperialis yang 
selalu berkaok-kaok tentang Globalisme dan Free Trade, bukan?? Buka lebar-lebar 
pintu pasar dalam negeri kalian, biarkan produk kami masuk dengan bebas!! Dari 
dulu sampai sekarang, tak pernah berubah watak kaum pemodal besar dan 
imperialis!!! On Saturday, May 12, 2018 1:53 AM, Chan CT wrote:
              
Produsen pupuk dalam negeri khawatirkan serbuan pupuk impor
  Jumat, 11 Mei 2018 21:31 WIB  Pupuk Kaltim. FOTO ANTARA/Ardi/sb/ed/hp/09 
(ANTARA/ARDI) Malang (ANTARA News) - Pupuk Kaltim sebagai salah satu produsen 
pupuk di Tanah Air mengkhawatirkan adanya serbuan pupuk impor yang masuk ke 
Indonesia dengan mudah dan harganya pun murah.

"Kekhawatiran itu ada karena harganya lebih murah dan mudah didapat, apalagi 
pupuk impor ini masuk dengan mudahnya ke Tanah Air," kata Kepala Kantor Wilayah 
(Kanwil) Jatim II Pupuk Kaltim disela sosialisasai pengetahuan produk Pupuk 
Kaltim di Malang, Jawa Timur, Jumat.

Ia mengaku khawatir petani akan beralih ke pupuk impor karena harganya 
terjangkau (murah) dibanding pupuk produksi dalam negeri dan mudah didapat, 
terutama pupuk dari Tiongkok dan Amerika Serikat.

Kenapa pupuk impor bisa lebih murah, lanjutnya, karena biaya opearsional, 
terutama untuk pos pembelian gas lebih murah, yakni hanya 2 dolar AS, sedangkan 
di Indonesia masih 6 dolar AS. "Dengan harga gas 6 dolar AS ini, kami kesulitan 
di biaya operasionalnya," ucapnya.

Sementara itu, Superintendent Hubungan Internal Departeman Humas Pupuk Kaltim, 
Nurdi Saptono mengatakan Tiongkok dan Amerika Serikat yang memroduksi pupuk 
urea secara besar-besaran menjadikan dunia over stok.

"Dulu pernah terjadi di semua daerah ketika pupuk petani masih menggunakan 
Pusri, ketika Pupuk Kaltim amsuk dianggap pupuk palsu. Nah, kondisi itu hampir 
sama dengan sekarang yang banyak serbuan pupuk impor.. Mudah-mudahan kondisi 
itu terjadi sekarang, petani tetap `minded` dengan pupuk dalam negeri, sehingga 
tidak sampai tergoda pupuk impor," katanya..

Menyinggung ketersediaan pupuk menjelang musim tanam di wilayah Jawa Timur, 
Sugiyono mengatakan sangat aman, bahkan stoknya melebih ketentuan pemerintah 
(Kementan).RI. "Oleh karena itu, petani tidak perlu khawatir akan terjadi 
kelangkaan karena stoknya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan petani," 
ucapnya.

Pupuk Kaltim menyediakan stok urea subsidi untuk Jatim mencapai 345.533 ton, 
dengan rincian stok urea subsidi di Lini I atau gudang pabrik mencapai 5.497 
ton, stok di Lini II atau Gudang Provinsi 84.484 ton dan stok urea subsidi di 
Lini III atau gudang kabupaten 254.269 ton.

Sedangkan untuk stok NPK subsidi mencapai 22.592 ton, dengan rincian stok pada 
lini I atau gudang pabrik 9.960 ton dan stok di Lini III atau gudang kabupaten 
12...632 ton. Adapun serapan urea subsidi tertinggi di Jatim, yaitu 225.306 
ton, sedangkan serapan NPK subsidi tertinggi di Kalimantan Selatan, yaitus 
mencapai 20.953 ton.

Secara nasional, hingga 7 Mei 2018, Pupuk Kaltim telah menyalurkan 536.758 ton 
urea subsidi atau 36 persen dari alokasi SK Menteri Pertanian RI. Untuk NPK 
subsidi yang telah disalurkan mencapai 69.187 ton atau 42 persen dari alokasi 
SK Menteri Pertanian RI.

Sementara itu kapasitas gudang di Jatim mencapai 87.800 ton (di Surabaya dan 
Banyuwangi) dari ketentuan stok 32.533 ton. Stok fisik mencapai 39.711 ton dan 
stok administrasi 44.361. Sementara realisasi hingga 7 Mei mencapai 14.428 ton 
dari alokasi Mei 2018 mencapai 43.377 ton.

Untuk produktivitas rata-rata per tahun mencapai 3,43 juta ton urea dan yang 
didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan petani di dalam negeri sekitar 1,4 
juta ton per tahun. Sedangkan selebihnya menjadi komoditas ekspor. "Untuk 
ekspor ini dengan catatan kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi an harus ada 
izin dari pemerintah," kata Sugiyono.

Kebutuhan pupuk bersubsidi di Tanah Air mencapai 13 juta ton per tahun, 
sementara pemerintah hanya mampu mengkover sekitar 9,55 juta ton. Sehingga, 
selebihnya petani harus membeli pupuk dengan harga nonsubsidi. "Petani yang 
tidak terkover pupuk subsidi ini, mau tidak mau membeli dengan harga 
nonsubsidi," ucapnya.

Menyinggung upaya untuk mengatasi jika terjadi kelangkaan pupuk di pasaran, 
Sugiyono mengatakan perlu peningkatan kapasitas produksi, monitoring stok pupuk 
bersubsidi,koordiansi dengan distributor, PPL,KP3, Dinas terkait, dan 
pemerintah daerah setempat, membentuk tim posko pengamanan musim tanam, serta 
Pupuk Kaltim menyediakan jaringan bebas pulsa untuk petani, kios resmi dan 
distributoryang ingin menyampaikan keluhan dan saran.

Sementara itu, staf Pupuk Kaltim Ajang Christrianto mengemukakan untuk 
meningkatkan produktivitas tanaman petani, pihaknya melakukan pendampingan bagi 
petani, termasuk melakukan demo pemupukan secara berimbang dan tidak berlebihan 
yang melibatkan Dinas Pertanian dan PLL setempat.

"Selain itu, juga melakukan kerja sama dengan distributor dan pengecer. Selama 
masa tanam hingga panen juga terus dilakukan monitoring, apakah pemupukan 
berimbang dan tidak berlebihan ini mampu meningkatkan produktivitas (panen 
petani)," ucapnya.

Pemupukan berimbang dan tidak berlebihan tersebut menggunakan kompisisi 
perbandingan 5:3:2, artinya pemupukan dengan 500 kilogram pupuk organik, 300 
kilogram pupuk NPK dan 200 kilogram urea untuk setiap hektare tanaman.

"Khusus penggunaan pupuk organik yang melebihi komposisi, misalnya 1 ton dan 
NPK atau ureanya tetap akan lebih baik karena untuk mengembalikan unsur hara 
tanah lebih cepat," katanya.

Baca juga: Menteri BUMN: produksi pupuk NPK ditingkatkan Pewarta: Endang 
Sukarelawati
Editor: Suryanto 
    
    

Kirim email ke