Saya tampilkan dua video dan satu tulisan berkaitan dengan terorisme. Satu 
video tentang bagaimana aparat kekuasaan AS memperlakukan warga nya sendiri, 
hanya karena warna kulitnya hitam. Satu video lagi memperlihatkan dampak perang 
vietnam yang sampai sekarang masih terus dirasakan rakyat.... Jangan 
sekali-kali lupa pada musuh rakyat dunia terbesar, kaum imperialis!!


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|    |  
NowThis
 This 65-year-old woman spoke out about being violently arrested at a traffic 
stop  |   |

  |

  |

 Bagaimana Imperialisme Menciptakan Terorisme?



Banyak yang melihat persoalan terorisme sebagai soal doktrin belaka. Ada lagi 
yang melihatnya sangat psikologis: persoalan kebencian semata. Mereka 
menceraikan terorisme dari persoalan ekonomi-politik.Benarkah apa yang disebut 
“Islam radikal” benar-benar persoalan doktrin belaka? Benarkah kelempok jihadis 
semacam Al-Qaeda dan Negara Islam (ISIS) benar-benar memperjuangkan sebuah 
doktrin agama? Cerita di bawah ini mungkin bisa sedikit menjawab 
pertanyaan-pertanyaan itu.***Wilayah Timur Tengah, yang kaya dengan minyak, 
benar-benar menggiurkan bagi imperialisme barat. Tidak mengherankan, imperialis 
barat berusaha mencari berbagai jalan untuk bisa menguasai minyak Timur 
Tengah.Inggris memulainya di tahun 1800-an. Di tahun 1909, Inggris menemukan 
cadangan minyak di Iran. Penemuan itu disusul dengan berdirinya perusahaan 
minyak Inggris bernama Anglo-Persian Oil Company (APOC) yang segera menguasai 
cadangan minyak itu.Usai perang dunia kedua, Amerika Serikat (AS) juga tergiur 
dengan minyak timur tengah. Mereka berusaha mencari jalan untuk turut 
mengangkangi kekayaan minyak kawasan itu. Sayang sekali, keinginan mereka 
terbentur oleh kebangkitan nasionalisme dan sosialisme Arab yang mekar pasca 
Perang Dunia kedua.Tetapi AS tidak memakai tangannya langsung. Mereka mencoba 
tangan lain (proxy war). Mulailah mereka mendekati Arab Saudi dan kelompok 
Wahabi. Kenapa Wahabi? Sebab, kelompok ini mengadopsi cara pandang yang sangat 
puritan dan gampang mengkafirkan sesama muslim. Mereka gampang dipakai untuk 
memukul sesama muslim. Apalagi, konon ada campur tangan seorang intel Inggris, 
Hempher, dalam pendirian Wahabi ini guna melemahkan Turki Ottoman.Tahun 
1950-an, sosialisme Arab makin menguat. Mereka sekuler, nasionalis, dan 
anti-imperialis. Tahun 1952, Gamal Abdul Nasser, seorang pemeluk sosialisme 
Arab, berhasil menggulingkan Monarkhi Raja Faraouk I. Kemenangan Nasser 
menyemengati gerakan sosialis Arab di tempat lain..Ketika menjabat Presiden, 
Nasser terbilang radikal. Dia menjalankan kebijakan nasionalis dan populis yang 
mengancam kepentingan imperialisme, khususnya AS dan Inggris, di Timur Tengah. 
Terutama setelah Nasser menasionalisasi terusan Suez.Untuk melawan Nasser, AS 
mulai melirik kelompok islamis yang sejenis dengan Wahabi, yakni Ikhwanul 
Muslimin (IM). Sebab, IM punya “kemampuan yang patut dipuji untuk menggulingkan 
Nasser.” (Baer, 2003; Dreyfuss, 2005).Dalam perjuangannya, IM menggunakan jalan 
kekerasan. Beberapa kali berusaha membunuh Nasser. Pada tahun 1954, ketika 
sedang berpidato di Alexandria, Nasser diberondong oleh seorang anggota IM, 
Mahmoud Abd al-Latif. Tetapi upaya pembunuhan itu gagal.Ketika Sosialisme Arab 
makin bersemi di negeri-negeri Arab, dari Aljazair, Palestina hingga Irak, AS 
mulai melirik rezim despotik Arab Saudi. Terutama kepada kelompok 
Wahabi-nya.Tahun 1951, seorang nasionalis progressif berkuasa di Iran. Namanya: 
Mohammed Mossadegh. Begitu berkuasa, Mossadegh menasionalisasi perusahaan 
minyak Inggris, Anglo-Iranian Oil Company (AIOC/APOC). Tindakan populis 
Mossadegh membuat gemetar negeri-negeri imperialis.Akhirnya, sejak 1953, CIA 
bekerjasama dengan M-16 Inggris berusaha menggulingkan Mossadegh. Mereka 
merangkul monarkhi Iran yang sudah diujung tanduk, Shah Fahlevi. Dan pada 
Agustus 1953, kolaborasi CIA/M-26 dan Shah Fahlevi berhasil menggulingkan 
Mossadeg.. Setelah itu, Iran jatuh ke bawah kediktatoran Shah Fahlevi hingga 
1979.Begitulah imperialisme berusaha merawat membesarkan kelompok fundamentalis 
di Timur Tengah untuk membendung populisme sosialisme Arab. Dan tentu saja, 
agar kepentingan ekonomi-politik imperialisme di Timur Tengah, khususnya 
minyak, tidak terganggu oleh sosialisme Arab.***Tahun 1979, AS khawatir 
Afghanistan jatuh ke tangan Uni Soviet. Untuk mencegah itu, AS mulai 
menggandeng kelompok fundamentalis dalam peperangan suci melawan apa yang 
disebut “bahaya merah” atau komunisme.Awal 1980-an, pemerintahan Jimmy Carter 
menggelontorkan dana sebesar 500 juta USD untuk membesarkan kelompok militan 
fundamentalis, Mujahidin (Lihat dokumenter: Breaking the Silence: Truth and 
Lies in the War on Terror, John Pilger dan Steve Connelly, 2003). Tidak hanya 
bantuan dana, CIA juga menyuplai senjata dan melatih kelompok Mujahidin di 
Afghanistan.Sepanjang 1985 hingga 1992, AS melatih setidaknya 12.500 pejuang 
asing, termasuk dari Arab Saudi, di Afghanistan. Mereka dilatih membuat bom, 
melakukan sabotase, dan gerilya kota. Kelak, kelompok-kelompok inilah yang 
bertransformasi menjadi Taliban dan Al-Qaeda. Dan salah satu tokoh penting yang 
lahir dari didikan AS ini bernama Osama Bin Laden.Singkat cerita, AS bersekutu 
dengan Mujahidin. Dan Osama adalah sekutu AS. Presiden AS Ronald Reagen 
menyebut kelompok Mujahidin sebagai “pejuang kebebasan”.Usai perang, sebagian 
kelompok Mujahidin ini bertransformasi menjadi Taliban. Awalnya, AS mendukung 
penuh pembentukan Taliban. Kelompok ini sempat berkuasa sepanjang 1996 hingga 
2001. Semasa berkuasa, taliban menerapkan syariat Islam yang ekstrim: televisi, 
bioskop dan musik dilarang. Lebih ekstrim lagi pada perempuan: wajib mengenakan 
burqa, dilarang sekolah dan bekerja, dan tidak boleh ditolong dokter 
laki-laki.Di tahun 1988, Osama mendirikan Al-Qaeda. Mereka mengadopsi ideologi 
salafi-jihadi. Lama kelamaan, Al-Qaeda berkembang menjadi organisasi teroris. 
Puncaknya, 11 September 2001, mereka melancarkan serangan teror di New York, 
AS. Sejak itu Al-Qaeda dicap sebagai organisasi teroris paling berbahaya.Ini 
tentu ironis. AS dan CIA berkontribusi besar dalam melahirkan, melatih dan 
membesarkan Al-Qaeda. Seperti diakui sendiri oleh Hillary Clinton: “Dan jangan 
lupa, mereka yang kita perangi sekarang (Al-qaeda dan Taliban), kita yang 
biayai 20 tahun lalu. Dan kita lakukan itu karena kita sedang perangi 
Soviet.”Namun, jika ditelusuri, motif utama AS memerangi Soviet di Afghanistan 
tidak melulu karena persaingan ideologi. Tetapi sebagian besar karena motif 
ekonomi. Dengan sokongan Osama/Taliban, AS bukan hanya berhasil mengusir 
Soviet, tetapi juga mewujudkan apa yang disebut penulis Inggris George Monbiot 
sebagai “mimpi pipa Amerika”, yaitu proyek pipa minyak dan gas sepanjang 1000 
kilometer dari Turkmenistan, melalui Afghanistan, hingga ke Pakistan.Pasca 
serangan 11 September 2001, AS mengumandangkan perang besar melawan terorisme. 
Dengan dalih memerangi terorisme, AS menginvasi Afghanistan dan mendirikan 
rezim boneka di sana. Tentu dalam kerangka mengamankan kepentingan ekonomi AS 
di sana.***Al-Qaeda benar-benar berguna bagi AS. Tahun 2003, AS mulai membangun 
propaganda bahwa rezim Saddam Husein di Irak punya hubungan dengan Al-Qaeda. 
Tidak hanya itu, Saddam juga dituding menyimpan senjata pemusnah massal.Dengan 
tudingan sepihak itu, AS melakukan invasi ke Irak. Rezim Saddam berhasil 
digulingkan. Namun, alih-alih dianggap sebagai pembebas, tentara AS justru 
dianggap sebagai penjajah. Sebuah jajak pendapat tak lama setelah invasi 
menyebutkan bahwa 71 persen rakyat Irak menganggap tentara AS sebagai penjajah 
ketimbang sebagai pembebas.Sebelum kehadiran tentara AS di Irak, tidak ada 
kelompok militan semacam Al-Qaeda dan sejenisnya. Namun, setelah invasi AS yang 
memicu sentimen anti tentara asing, kelompok militan mulai menjamur. Termasuk 
Al-Qaeda. Dan untuk anda ketahui, kelompok Al-Qaeda di Irak menjadi unsur 
penting yang membentuk Negara Islam Irak (ISI). Tahun 2013, kelompok ini 
bergabung dengan kelompok serupa di Suriah dan membentuk Negara Islam Irak dan 
Suriah (ISIS).Jadi, alih-alih memerangi kelompok teroris yang terkait dengan 
Saddam Husein, invasi AS ke Irak justru melahirkan kelompok teroris yang lebih 
banyak dan lebih ganas. Salah satunya: ISIS.Dan terorisme hanyalah dalih. 
Tujuan sejati AS memerangi Irak adalah minyak. Sebelum invasi tahun 2003, 
hampir semua ladang minyak Irak dikuasai oleh negara. Setelah invasi, 
ladang-ladang minyak itu berpindah tangan ke asing. Perusahaan minyak raksasa, 
seperti ExxonMobil, Chevron, British Petroleum, Shell, termasuk Halliburton, 
kini menguasai minyak Irak.***Keberhasilan menggunakan Mujahidin dalam proxy 
war di Afghanistan menjadi pelajaran berharga bagi AS. Paman Sam kemudian 
menciptakan saudara kembar di banyak negara. Salah satunya adalah Kelompok 
Pejuang Islam Libya/ Libyan Islamic Fighters Group (LIFG).LIFG dipakai untuk 
menggoyang Khadafi. Tahun 2011, ketika goncangan terhadap kekuasaan Khadafi 
meningkat, LIFG bergabung koalisi oposisi (Dewan Transisi). Tidak hanya LIFG, 
Al-Qaeda juga berdiri di Libya untuk memerangi Khadafi.Dan sukses. Khadafi 
jatuh. Segera setelah itu, Libya dikoyak perang sektarian tanpa ujung. Bom 
bunuh diri terjadi hampir setiap hari. Dan cadangan minyak Libya, yang mencapai 
43,6 milyar barrel, menjadi rebutan korporasi asing dan teroris.***Sekarang 
kita bicara perang AS di Suriah. Perang yang telah melahirkan lusinan kelompok 
teroris, termasuk Al-Qaeda, ISIS dan Jabhat Al Nusra.Jadi, tahun 2009, Presiden 
Suriah Bashar al-Assad menolak proyek pipa Qatar. Proyek pipa itu, yang 
disetujui Qatar dan Turki, akan mengalirkan gas alam dari Qatar ke pasar Eropa. 
Pipa gas itu akan melalui Arab Saudi, Yordania, Turki dan tentu saja: Suriah. 
Kalau proyek ini berhasil, ketergantungan Eropa atas gas alam Rusia akan 
berkurang.Yang bikin AS dan barat makin marah terhadap Assad adalah 
keputusannya menyetujui proyek pipa Iran. Bagi barat dan sekutunya, proyek pipa 
Iran justru akan memperkaya dan memperkuat pengaruh negara Syiah itu di timur 
tengah.Karena itu, sejak 2009, AS mulai mencari cara untuk melengserkan Assad. 
Awalnya, AS mendorong aksi-aksi protes anti-Assad. Namun, karena tidak 
berhasil, AS menggunakan cara yang lebih keras: membuat kelompok 
bersenjata.Selain mendorong lahirnya Tentara Pembebasan Suriah (FSA), AS juga 
menyokong kehadiran kelompok-kelompok Jihadis-Sunni untuk memerangi Assad. 
Lagi-lagi, untuk mewujudkan rencana itu, AS menggandeng Arab Saudi.Patrick 
Cockburn, penulis buku The Jihadis Return: ISIS and the New Sunni Uprising, 
menulis: “di Suriah, AS mendukung rencana Arab Saudi membangun Front Selatan, 
yang berbasis di Yordania, yang akan bermusuhan dengan pemerintahan Assad di 
Damaskus.”Dalam kerangka itu, lanjut Cockburn, kelompok militan jihadis Brigade 
Yarmouk menerima rudal anti-pesawat dari Arab Saudi.. “Tetapi beberapa video 
menunjukkan bahwa Brigade Yarmouk sering berjuang bersama JAN (Jabhat 
al-Nusra?), yang berafiliasi dengan Al-Qaida. Karena itulah, di tengah 
pertempuran, kedua kelompok sering berbagai amunisi, Washington seringkali 
membiarkan senjatanya yang paling canggih jatuh ke tangan musuh yang 
mematikan,” tulis Cockburn.Belakangan, Brigade Yarmouk bergabung ke dalam ISIS. 
Bersamaan dengan itu, lusinan kelompok jihadis tumbuh subur di Suriah, dengan 
sokongan dana dari Arab Saudi.***Dari cerita panjang di atas, dapatlah ditarik 
beberapa kesimpulan:Pertama, imperialisme barat, khususnya AS, berkontribusi 
besar dalam menciptakan dan membesarkan kelompok jihadis, seperti Mujahidin, 
Taliban, Al Qaeda, dan ISIS.Kedua, imperialisme AS menggunakan kelompok jihadis 
sebagai “proxy war” mereka untuk melawan rezim atau pemerintahan yang menentang 
kepentingan ekonomi-politiknya.Ketiga, sudah 15 tahun “perang melawan 
terorisme” dikobarkan oleh AS, jumlah kelompok teroris bukannya berkurang, 
malah bertambah banyak dan makin buas.Keempat, jika memang serius memerangi 
terorisme, AS mestinya memutuskan hubungan dengan penyandang dana terbesar 
gerakan jihadis, yakni Arab Saudi. Faktanya, AS masih berangkulan mesra dengan 
negara despotik itu.Risal KurniaRTD Documentary Channel

  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|    |  
RTD Documentary Channel
 The Vietnam War ended 43 years ago today. The country is still suffering from 
the effects of that conflict. #To...  |   |

  |

  |

 

Kirim email ke