Mereka Tetap Jenderal Setelah Tragedi Mei 1998
Keluarga koban dan kerabat melakukan prosesi tabur bunga di makam korban 
Tragedi Mei 98 di Pondok Rangon, Jakarta Timur, Senin (8/5). ANTARAFOTO/Yulius 
Satria Wijaya
Oleh: Mawa Kresna - 22 Mei 
2017https://tirto.id/mereka-tetap-jenderal-setelah-tragedi-mei-1998-cpaH?from=groupmessage
Para perwira TNI maupun Polri tetap melenggang bebas dari peristiwa Mei 1998 di 
Jakarta.tirto.id - Penampilan Sjafrie Sjamsoeddin paling beda pagi itu.. Tiga 
orang yang berdiri sejajar dengannya mengenakan jas hitam dan kopiah hitam. 
Sjafrie mengenakan seragam militer hijau, lengkap dengan pangkat dan topi. 
Seorang petugas mengangkat Alquran di belakang mereka. Sjafrie dan tiga orang 
lain mengucap sumpah. 

Hari itu, 6 Januari 2010, Letjen Sjafrie dilantik sebagai Wakil Menteri 
Pertahanan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jabatan wakil menteri ini 
menjadi jabatan terakhir dalam karier Sjafrie. 

Penampilan Sjafrie jauh berbeda ketika ia menjalani pemeriksaan terkait 
keterlibatannya dalam kerusuhan Mei 1998. Seperti diberitakan Media Indonesia 
pada 28 Agustus 1998, pada 27 Agustus, dalam pemeriksaan oleh Tim Gabungan 
Pencari Fakta (TGPF) selama tiga jam, Sjafrie tidak mengenakan seragam militer. 

“Pemeriksaan dimulai pukul 08.55 dan berlangsung selama tiga jam. Usai 
klarifikasi, Sjafrie tidak bersedia memberikan keterangan kepada wartawan dan 
langsung masuk mobil,” tulis Media Indonesia.

Pada saat kerusuhan Mei 1998 meletus, Sjafrie menjabat sebagai Pangdam Jaya.. 
Saat itu, pangkatnya sudah Mayor Jenderal. Dalam keterangannya kepada TGPF, 
Sjafrie mengatakan saat peristiwa kerusuhan ditunjuk sebagai Panglima Komando 
Operasi (Pangkoops) dan wakilnya adalah Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Hamami 
Nata.

Pada 12 Mei, Sjafrie mengerahkan anggotanya sebanyak 60 Satuan Setingkat Kompi 
(SSK). Pada hari berikutnya, ia menambah jumlah pasukan menjadi 112 SSK.. Pada 
14 Mei, ia kembali menambah pasukan menjadi 142 SSK atau sejumlah 14..200 
orang. Tujuannya untuk "mengamankan objek vital dan meredam kerusuhan."

Namun, seperti diketahui, kerusuhan Mei 98 justru berbalik menjadi sejumlah 
kasus kekerasan, penganiayaan, dan penembakan yang dilakukan oleh militer. Pada 
12 Mei, empat mahasiswa Trisakti tewas ditembak tentara dengan peluru tajam di 
dalam kampus. Penembakan itu terjadi saat mahasiswa menggelar aksi untuk 
melengserkan diktator Presiden Soeharto.

Ketua TGPF Marzuki Darusman mengatakan kerusuhan itu dimulai dari kasus 
penculikan aktivis, krisis ekonomi, demonstrasi mahasiswa, dan "yang paling 
memicu kerusuhan adalah penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang 
dilakukan aparat keamanan pada 12 Mei 1998."

“Bukan hanya mantan Danjen Kopassus Letjen TNI Prabowo yang terkait dengan 
peristiwa kerusuhan itu, melainkan mantan Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie 
Sjamsoeddin selaku Pangkoops harus juga bertanggung jawab atas peristiwa itu,” 
kata Darusman dilansir Media Indonesia edisi 4 November 1998.

Tapi keadaan berkata lain. Prabowo dipecat, sementara Sjafrie bebas dari 
tanggung jawab. 

Setelah kerusuhan, Sjafrie dipindahkan ke Mabes TNI sebagai Asisten Teritori 
Kasum TNI. Kariernya pelan-pelan naik, menjadi Staf Ahli Polhukam Panglima TNI, 
Kapuspen TNI pada 2002, dan Sekjen Dephan pada 2005. 

Masih pada tahun 2005, di era Presiden Yudhoyono, Sjafrie naik pangkat dari 
Mayjen menjadi Letjen. Kariernya tetap mulus. Kabar terakhir Sjafrie sempat 
digadang sebagai calon Gubernur DKI Jakarta lewat partai Gerindra besutan 
Prabowo. Namun, pilihan Prabowo jatuh kepada Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. 

Mayjen Hamami Nata
Kompanyon Sjafrie saat kerusuhan Mei 1998 adalah Mayjen (Pol) Hamami Nata, yang 
sudah tutup usia pada 2003 lalu. Ia relatif nyaman pasca tragedi itu, meski 
tidak semoncer Sjafrie. Meski namanya turut disebut sebagai salah satu yang 
harus bertanggung jawab, faktanya, Hamami bisa melewati masa itu dengan lancar.

Selang dua minggu setelah kerusuhan Mei 98, Hamami dicopot dari jabatannya 
sebagai Kapolda Metro Jaya, 28 Mei 1998. Dalam pemberitaan Suara Pembaruan 
edisi 27 Mei 1998, Kadispen Polri Brigjen Pol Da'i Bachtiar mengatakan Hamami 
digantikan Mayjen (Pol) Nugroho Djayusman. Meski demikian, tidak ada keterangan 
pergantian itu terkait kerusuhan yang baru terjadi.

"Yang pasti, besok pagi ada pergantian Kapolda Metro Jaya Mayjen Pol Hamami 
Nata kepada Mayjen (Pol) Nugroho," kata Da'i Bachtiar. 

Hamami kemudian pindah jabatan menjadi Koordinator Staf Ahli Kapolri. Pada 
1999, Hamami pindah jabatan menjadi Gubernur Akademi Polisi hingga tahun 2000. 
Ia kemudian kembali menjadi staf ahli Kapolri. Setelah itu Hamami memutuskan 
pensiun tanpa pernah ada kenaikan pangkat.

Pada Rapat Pansus Trisakti dan Semanggi I-II di Gedung MPR/DPR pada 2001, 
Hamami mengatakan bahwa polisi dibekali peluru karet. Sehingga, katanya, ketika 
mendengar kabar terjadi penembakan dengan peluru tajam, ia mengaku kaget.

"Kami ingin tahu siapa sebenarnya pelaku penembakan itu," ujar Hamami dilansir 
Gatra edisi 13 Februari 2001.



Letkol Timur Pradopo
Nama Timur Pradopo nyaris tidak jadi bahan pembicaraan media massa pasca 
kerusuhan Mei 98. Ia hanya disebut beberapa kali karena turut diperiksa oleh 
TGPF terkait rentetan tragedi itu, dari penembakan mahasiswa hingga kerusuhan 
yang merebak di Jakarta Barat.

Saat itu Timur Pradopo adalah Kapolres Metro Jakarta Barat. Pangkatnya masih 
Letkol. Sebagai komandan yang memiliki pasukan, Timur mengemban kewajiban untuk 
mengamankan wilayah tugasnya dari tindakan kriminal, termasuk (seharusnya) bisa 
mengatasi secara cepat kerusuhan 98. 

Saat terjadi bentrok di Trisakti dan berujung penembakan, Timur Pradopo ada di 
sana. Timur saat itu berunding dengan pihak kampus untuk meredam saling serang 
antara polisi dan mahasiswa. Kesepakatan Timur dengan Dekan Fakultas Hukum Adi 
Andojo: polisi dan mahasiswa sama-sama mundur.

Saat mahasiswa mundur, masih terjadi aksi saling lempar batu. Polisi lantas 
menembakkan gas air mata, lalu disusul tembakan senjata api. Empat mahasiswa 
tewas terkena tembakan.

Pasca kerusuhan itu, Timur digeser jabatan menjadi Kapolres Metro Jakarta 
Pusat. Anak buah Timur kembali terlibat bentrok dengan mahasiswa dalam tragedi 
Semanggi I dan II. 

Namun, meski terlibat di lapangan dalam sejumlah tragedi 98, karier Timur 
justru makin cemerlang. 

Setelah dipindahkan ke Jawa Barat, kariernya terus menanjak. Pada 2008, ia 
dipercaya menjadi Kapolda Jabar, kemudian Kapolda Metro Jaya pada 2010. Masih 
di tahun yang sama, kariernya langsung meroket. Pada 8 Juni menjadi Kapolda 
Metro Jaya, pada 7 Oktober menjadi Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri, dan 
22 Oktober menjadi Kapolri. Pangkatnya jenderal.

Tiga nama itu hanyalah operator di lapangan saat kerusuhan Mei 1998. Dua nama 
jenderal lain yang tidak boleh dilupakan adalah Prabowo Subianto dan Wiranto. 
Keduanya kini berada di kancah politik nasional Indonesia. Sama-sama punya 
partai. Wiranto berada di kubu pemerintahan Jokowi. Prabowo di pihak oposisi.

Dalam Pilkada DKI Jakarta kemarin, pemilihan gubernur paling brutal, kompanyon 
Jokowi, Basuki Tjahaja Purnama, kalah oleh Anies Baswedan, kandidat yang 
diusung Prabowo. Ini agaknya bisa mengobati kekalahan Prabowo dalam Pilpres 
2014 terhadap Jokowi. Pada 2019, tampaknya, Prabowo masih berambisi menjadi 
presiden. 

Tak ada satu pun para perwira tinggi, baik di TNI maupun Polri, dihukum penjara 
atas kerusuhan Mei 1998 yang, berdasarkan catatan Tim Relawan untuk 
Kemanusiaan, telah menghanguskan 1.190 orang, membunuh 27 orang dengan 
tembakan, dan melukai 91 orang.

Baca juga artikel terkait MEI 98 atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna

(tirto.id - Politik) 

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam

Kirim email ke