https://www.antaranews.com/berita/709462/kahmi-teror-bom-surabaya-
cederai-nilai-kemanusiaan
Kahmi: teror bom Surabaya
cederai nilai kemanusiaan
Senin, 14 Mei 2018 01:14 WIB
Sejumlah sepeda motor hangus terbakar di lokasi ledakan di Gereja
Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu
(13/5/2018). Ledakan terjadi di tiga lokasi di Surabaya, yakni di Gereja
Kristen Indonesia (GKI), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), dan
Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, pada waktu yang hampir
bersamaan. (ANTARA FOTO/Moch Asim)
Homo homini socious atau manusia menjadi kawan atau teman bagi manusia
yang lain, itu harus kita perhatikan."
Pamekasan (ANTARA News) - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi)
muda di Pulau Madura, Jawa Timur, menilai teror bom yang terjadi di
Surabaya dan Sidoarjo, Minggu, telah mencederai nilai kemanusiaan.
"Terorisme itu bukan ajaran agama manapun dan tidak ada agama yang
mengajarkan kekerasan kepada pemeluknya," kata juru bicara Kahmi Muda
Madura Dr Moh Wardi dalam diskusi bertajuk, "Islam, Media dan Terorisme"
yang digelar Kahmi alumni IAIN Madura di Pamekasan, Minggu malam.
Terorisme atas nama agama yang terjadi selama ini, menurut dia, justru
mencederai nama baik agama tertentu, dalam hal ini adalah Islam, karena
para pelaku teror selama ini merupakan orang Islam.
Padahal, sambung dia, Islam merupakan agama yang mengajarkan perdamaian,
kebaikan dan toleransi, antarsesama pemeluk agama.
Akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nazhatut Thullab,
Sampang, Madura ini meminta semua elemen masyarakat di Jawa Timur bisa
bangkit dan menyatukan tekad melawan berbagai bentuk terorisme itu.
Nilai kemanusiaan harus dijunjung tinggi, karena inti dari semua ajaran
agama adalah humanisme.
"Homo homini socious atau manusia menjadi kawan atau teman bagi manusia
yang lain, itu harus kita perhatikan," ujar Wardi.
Cita ideal umat Islam ke depan yang harus diperjuangkan dan harus
menjadi agenda ideologis bersama adalah muslim moderat, toleran dan
humanis, bukan radikal yang selalu mengancam teror pada sesama manusia
yang berbeda paham dan keyakinan.
Sementara itu, Polda Jawa Timur menyatakan data sementara korban
meninggal dunia akibat serangan bom di tiga gereja di Surabaya, Minggu
(13/5) pagi menjadi 13 orang. Sedangkan korban luka terdata sebanyak 43
orang dan dirawat di berbagai rumah sakit di Surabaya.
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera dalam rilis yang
disampaikan kepada media menyebutkan, tujuh orang meninggal akibat
ledakan di Gereja Santa Maria, tiga korban meninggal di Gereja
Pantekosta di Jalan Arjuno dan tiga korban meninggal di Gereja Kristen
Indonesia di Jalan Diponegoro.
Sementara dari identifikasi korban meninggal dunia di RS Bhayangkara
Polda Jatim, dua korban telah diketahui identitasnya.
Jenazah dua korban itu rencananya diserahkan kepada pihak keluarga.
Namun penyerahan batal dilakukan karena dari forensik untuk data primer
masih belum terpenuhi.
"Untuk penyerahan kami tunda dan belum bisa diserahkan malam ini. Ada
pemeriksaan data primer dan sekunder yang dilakukan tim DVI Polri di RS
Bhayangkara Polda Jatim. Data sekunder sudah lengkap, namun data primer
ada yang kurang," kata Barung.
Wartawan Antara melaporkan, selain di tiga gereja itu, ledakan bom juga
terjadi di Rumah Susun (Rusun) Wonocolo, Taman Sidoarjo, Jatim sekitar
pukul 21.00 WIB, Minggu malam.
Pewarta: Abd Aziz
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018