Kelihatannya pelarangan pakaian cadar di IAIN tempo hari justru tepat.
Pakaian ketat dan/atau terbuka justru lebih baik dan aman.

---In [email protected], <marthajan04@...> wrote :

good comments,  2 thumbs up buat Noroyono. 
kalo perempuan masih ngotot memakai cadar juga di tempat umum, mungkin dia 
memang menyokong terorisme. Walaupun mungkin dia sendiri ga berani melakukan 
bom bunuh diri, setidaknya dia support pembom bunuh diri.Pantas untuk 
diwaspadai. 


---In [email protected], <noroyono1963@...> wrote :

Renungan/Komentar
Menanggapi berita keluhan Ibu Valina dibawah ini, pertanyaanya saya adalah: 
Dibawah situasi sosial-politik saat ini, adakah orang yg bisa jamin bahwa 
dibalik cadar dan jubah (jilbab) yg dikenakan Ibu Valina (yg saya hormati) 
tidak ada sesuatu yg membahayakan keselamatan umum?
Jika jawabannya, "Ada", jawaban demikian tak ayal lagi adalah dipaksakan. 
Merujuk kepada situasi sosial-politiki saat ini, jawaban seperti itu tidak 
punya dasar yg cukup kuat untuk diyakini kebenarannya.

Jika jawabannya, "Tidak ada", jawaban demikian adalah jawaban yg sangat 
realistis, mengingat situasi sosial-politik saat ini. 
Menggeneralisasi suatu hal-ihwal tanpa seperangkat data-data yg konkrit memang 
harus dipantangkan. Tapi menganggap peristiwa seorang ibu dengan membawa 
anaknya sendiri melakukan jibaku dengan bom-bunuh-diri di Surabaya satu/dua 
hari yg lalu sebagai sesuatu yg tidak ada, sebagai sebuah benda maya -- saya 
kira anggapan seperti itu benar-benar suatu kenaifan besar, sesuatu yg tidak 
sesuai dengan realitas!
Ibu Valina, sesuai dengan HAM, sesuai dengan keyakinannya, memang berhak 
mengenakan busana, inklusif cadar dan hijab, yg beliau sukai.
Namun dalam pada itu, MASYARAKAT -- yg notabene sudah sangat sibuk dengan 
berbagai tantangan kehidupan sehari-hari -- juga berhak sepenuhnya untuk 
mengambil berbagai tidakan demi mempertahankan diri dari serangan mendadak yg 
sangat biadab. Ketika awan hitam pekat sudah merata di langit, adalah bijak 
apabila orang "sedia payung sebelum hujan". Tidak ada seorangpun, yg sedikit 
saja punya pendidikan, tidak mengenal peribahasa ini.
Kalau begitu siapa yg harus dipersalahkan? Kelompok tertentu politisi 
konvensional, kelompok politisi yg berjubah "ulama" dan kelompok spekulan 
politik -- inilah orang-orang yg secara langsung atau tidak langsung telah 
mengondisikan situasi dan kondisi di hadapan kita saat ini, dan oleh karena itu 
orang-orang inilah yg harus bertanggung jawab atas sikon tsb.
Pertanyaan mendasar kepada Jokowi sekarang adalah:   
   - Berani tidak dia menerbitkan Perppu (Peraturan Pmerintah Pangganti 
Undang-Undang) yg memuat secara rinci, konkrit pasal-pasal yg akan menindak 
tegas siapa saja yg berani melakukan tindakan dalam bentuk apapun yg bersifat 
melawan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika (Keberagaman) dan NKRI?    

   - Berani tidak dia secara konsisten menindak segala sumber kesenjangan 
sosial?   

Pada hemat saya, situasi-kondisi yg kita hadapi sekarang ini terbentuk oleh dua 
faktor utama:   
   - Pertama, pembiaran sejauh ini berbagai aktivitas (yg sering-sering 
tersamar) anti Pancasila-Keberagaman-NKRI.   

   - Kedua, kekurang-tegasan dalam menindak berbagai sumber kesenjangan sosial. 
  


Kalau apa yg akan Jokowi lakukan hanya sebatas pada bengak-bengok saja, ya saya 
paling-paling hanya bisa mengucapakan: Selamat jalan ke neraka Pak Jokowi!
Noroyono15/05/2018
  ----------------------------------------------------------
Cerita Valina Diusir dari Angkot Karena Berpakaian Syar'í 

Kirim email ke