https://news.detik.com/kolom/d-4021493/melipatgandakan-efek-teror-di-tengah-kita
Selasa 15 Mei 2018, 15:26 WIB
Sentilan Iqbal Aji Daryono
Melipatgandakan Efek Teror di Tengah Kita
Iqbal Aji Daryono - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4021493/melipatgandakan-efek-teror-di-tengah-kita#>
Iqbal Aji Daryono
<https://news.detik.com/kolom/d-4021493/melipatgandakan-efek-teror-di-tengah-kita#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4021493/melipatgandakan-efek-teror-di-tengah-kita#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4021493/melipatgandakan-efek-teror-di-tengah-kita#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4021493/melipatgandakan-efek-teror-di-tengah-kita#>
3 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4021493/melipatgandakan-efek-teror-di-tengah-kita#>
Melipatgandakan Efek Teror di Tengah Kita Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi:
Edi Wahyono/detikcom)
<https://news.detik.com/kolom/d-4021493/melipatgandakan-efek-teror-di-tengah-kita#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4021493/melipatgandakan-efek-teror-di-tengah-kita#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4021493/melipatgandakan-efek-teror-di-tengah-kita#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4021493/melipatgandakan-efek-teror-di-tengah-kita#>
*Jakarta* - Teror. Sejak tragedi beruntun di Surabaya kemarin itu, di
mana-mana orang masih sibuk membicarakan kata ini. Kita benci teroris.
Kita menyatakan bersatu melawan terorisme. Kita tidak mau dianggap dekat
dengan kaum pembuat teror. Hasilnya, sebagian orang dengan kalap
menghantam siapa pun yang dianggap mendukung teroris, sementara sebagian
yang lain menyangkal habis-habisan fakta keras bahwa terorisme itu ada.
Dengan suasana demikian, saya khawatir, justru yang terwujud adalah
semakin berlipat gandanya efek yang diinginkan oleh para pembuat teror.
"/Cc Divisi Humas Mabes Polri, Divisi Humas Polri, Divisi Cyber Crime
Mabes Polri, mohon bekerja sama agar orang macam ini tidak diberi
panggung./"
Kalimat itu tiba-tiba muncul di notifikasi /Facebook/ saya. Seketika
meledaklah tawa saya. Bukan, bukan karena saya mengejek orang yang
tampaknya begitu ikhlas turut berjuang dalam menekan ruang gerak teroris
dan para pendukungnya. Melainkan karena kalimat tersebut dijadikan
/caption/, sembari si pemilik akun membagi tautan status /Facebook/
saya! Hwahaha!
Tahukah Anda, status apa yang saya tulis sehingga dia laporkan kepada
pihak-pihak berwajib? Ini dia:
"/Anak-anak labil berkaos palu-arit oleh-oleh dari backpackeran ke
Vietnam cuma muncul sekali dua kali. Teroris muncul berkali-kali,
korban-korbannya nyata, darahnya nyata, kematian-kematiannya nyata, air
mata kita juga nyata. Tapi tetap saja kesimpulan akhirnya: 15 juta kader
PKI siap menyerang, dan terorisme cuma hasil setingan untuk menjelekkan
Islam. //Okefain/."
Coba cermati unggahan saya sekali lagi. Dua kalimat pertama menunjukkan
fakta-fakta, namun kesimpulan yang saya munculkan /blas/ tidak nyambung
alias kontradiktif dengan fakta yang tersaji. Ini bentuk sindiran saya
kepada orang-orang yang /denial/, yang /ignorant/ kepada fakta-fakta
keras, sembari tetap bersetia kepada khayalan yang selalu ingin mereka
percayai.
Tentu sebagian besar orang yang menanggapi unggahan saya itu mengerti
apa yang saya maksudkan. Yaitu bahwa banyak orang tetap percaya dengan
isu kebangkitan PKI padahal buktinya minim, sembari menafikan keberadaan
teroris padahal faktanya segunung.
Malangnya, ternyata tak sedikit juga yang gagal paham, mengira saya
pendukung teori konspirasi, mengira saya menyangkal realitas teror
sembari menuduhkan ini-itu kepada siapa pun yang dianggap sutradara
teror yang sesungguhnya. Ampun deh!
Apa yang bisa kita pahami dari kejadian tersebut? Saya memandangnya
sebagai kesenjangan dalam masyarakat kita akan kepekaan atas teks. Tidak
semua orang memiliki bekal kemampuan yang sama dalam memahami tulisan.
Tidak semua orang berada pada kondisi yang sama dalam mengakrabi
ekspresi-ekspresi tertulis. Akibatnya, meski berangkat dari satu tulisan
yang sama, orang bisa memahaminya dalam makna yang benar-benar berbeda,
bahkan benar-benar bertolak belakang.
Kasus seperti ini selalu terjadi dalam keseharian kita di era kekuasaan
medsos ini. Pada mulanya, saya melihat hal demikian sebagai efek dari
rendahnya pendidikan dan terlalu berjaraknya kita dari literasi. Namun
asumsi ini runtuh seketika. Sebab, ada beberapa teman di dunia maya yang
sering meleset parah dalam memahami tulisan-tulisan saya, padahal
pendidikan mereka sangat tinggi, bahkan sekolah di luar negeri. Jelas
mereka akrab dengan bacaan, dan jelas mereka bukan orang nir-kecerdasan.
Lalu apa sesungguhnya akar penyebabnya?
Entahlah. Apa pun itu, poin bahwa ada kesenjangan dalam masyarakat kita
dalam memahami teks membawa problem turunan. Problem itu sebenarnya
sesederhana miskomunikasi. Namun sebuah miskomunikasi akan berkembang
menjadi konflik horizontal yang hebat, manakala ia berada dalam bingkai
seruan untuk saling melaporkan.
Kalau soal pelaporan yang terjadi atas saya sendiri, tak usah khawatir.
Namun bagaimana jika situasi saling melaporkan berbekal kesenjangan
pemahaman atas teks tersebut terjadi di masyarakat awam yang jauh lebih
luas, sekaligus jauh lebih awam, di mana masing-masing mereka tidak
memiliki jejaring sosial yang mendukung?
Yang akan tumbuh kemudian adalah miskomunikasi massal, hingga ujungnya
melahirkan situasi ketegangan yang penuh rasa saling curiga, saling tega
mengadukan kawan dan tetangga. Kita tidak akan lagi merasa aman
berdekatan dengan orang-orang yang biasanya dekat-dekat saja, tidak akan
tenang bergabung dalam rapat RT, tidak akan jenak duduk di pos ronda
kampung. Sebab bisa saja salah ucap kita atau salah /posting/ kita
ditafsir keliru oleh orang di kiri dan kanan kita, lalu diam-diam ia
melaporkan kita ke polisi!
Serius, Bang ini mengerikan!
Saya tahu, polisi tidak bodoh. Mereka tidak akan menangkap orang hanya
karena ujaran yang tidak cukup jelas maksudnya dalam mendukung
terorisme. Apalagi peristiwa kelabu di rutan Mako Brimob tempo hari
memberikan satu pengetahuan penting kepada kita: penjara sudah penuh.
Mengurusi kasus orang /celometan/ di medsos tanpa bukti akurat bahwa
mereka pendukung sejati teroris adalah langkah yang terlalu menyedot
energi, dan berpotensi menambah beban populasi di penjara yang sudah
terlalu sesak berjejal-jejal itu.
Meski demikian, meski polisi tidak akan mengurusi kasus per kasus ujaran
sembrono di medsos pun, kohesi sosial kita telanjur masuk ke situasi di
ujung tanduk. Perasaan aman dalam bertetangga, perasaan nyaman dalam
berteman, perasaan tenang ketika dikelilingi banyak kawan, bisa-bisa
ambrol pelan-pelan.
Yang acapkali kita lupa, rasa tidak aman dan penuh ketidakpastian
semacam itulah persis yang diinginkan oleh penebar teror. Lihatlah aksi
para teroris itu. Mereka membuat kita tak henti berpikir buruk bahwa bom
bisa meledak kapan saja, di mana saja, menyasar siapa saja. Kita ke mal
dengan waswas, ke tempat wisata dengan cemas, ke tempat ibadah apalagi.
Seperti itulah sifat dan misi teror.
Kebetulan, sehari sebelum peristiwa teror Surabaya, saya membeli buku
Yuval Noah Harari yang baru, /Homo Deus/. Ada kalimat-kalimat Mas Harari
yang menarik di situ tentang terorisme. Terorisme, kata profesor sejarah
di Hebrew University Jerussalem itu, adalah pertunjukan. Para teroris
mempertunjukkan pemandangan mengerikan kekerasan yang memerangkap
imajinasi kita, dan membuat kita merasa seakan-akan tergelincir kembali
ke kekacauan Abad Pertengahan.
Perhatikan: memerangkap imajinasi. Ya, terorisme adalah aksi fisik yang
meledakkan imajinasi. Itulah poinnya. Walhasil, dalam bahasa yang
telanjang: jika kita dengan begitu mudahnya menerapkan ajakan untuk
saling melaporkan, sehingga menyemai imajinasi ketakutan dan kecurigaan
antarteman, bisa jadi artinya kita malah dengan penuh semangat melangkah
beriringan dengan tujuan para teroris itu. Sadarkah?
Lalu, bagaimana?
Saya benar-benar tidak tahu. Di satu sisi, ruang gerak teroris memang
harus dipersempit. Itu tak bisa ditawar. Namun di sisi lain, kita tidak
perlu mengorbankan sendi-sendi sosial yang selama ini sudah mengokohkan
kehidupan kita. Pemerintah, atau Polri dalam hal ini, semestinya
menemukan formula yang lebih menjaga kemaslahatan sosial dalam memerangi
teroris.
Saya sadar, kegundahan ini lagi-lagi akan disalah-mengerti. Zaman ini
adalah zaman logika jalan pintas. Ini zaman ketika "mengkritik perilaku
segelintir umat Islam" kerap kali dianggap sama dan sebangun dengan
"membenci Islam". Demikian pula, "meminta polisi membuat metode yang
lebih maslahat secara sosial dalam melawan teroris" bisa-bisa dianggap
tak beda belaka dengan "mendukung teroris".
Lagu lama, bukan? Memang. Tapi, kita bisa apa?
*Iqbal Aji Daryono* /esais, tinggal di Bantul/
*(mmu/mmu)
*