*Bukan berita baru tentang pelecehan sex jemaah perempuan disana. Pada masa
pemerintahan pres Soekarno dilarang wanita naik haji sendirian harus
bersama suami atau orang tua laki-laki dan harus pegang tangang erat-erat
selama di sana waktu menjalankan ibadah agama, sebab banyak orang di sana.
Bukan itu saja, tetapi karena banyak wanita dari Indonesia hilang waktu
melakukan ibadah haji. Demikian keterangan menteri Soebandrio kepada
sejumlah wartawan di istana negara, diminta juga supaya beritanya tidak
disiarkan, sebab akan bisa memberikan gambaran tidak baik keadaan disana. *


*Kurang lebih demikian beritanya. Hal ini diceritakan oleh ex wartawan
Antara di Moskow pada zaman pemerintahan pres. Soekarno, Almarhum G J Hok.
Alm G.J Hok diusir dari tugasnya di Moskow oleh attache militer RI ketika
Soeharto naik tachta kekuasaan. G.J Hok meninggal di Stockholm*.


http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43268073


Pelecehan seks jemaah perempuan saat berhaji: mengapa bisa terjadi, apa
yang bisa dilakukan?

Lies Marcoes-Natsir Feminis Muslim Indonesia, direktur Rumah Kitab

   -

   3 Maret 2018

Hak atas foto BBC/DaviesSurya

Aksi #MosqueMeToo yang disuarakan Sabica Khan asal Pakistan dan disambut
dukungan Mona Eltahawy, wartawati Amerika Mesir, seharusnya menggema luas
dari rongga bumi Indonesia.



Sebab, bagaimanapun, Indonesia adalah pengirim jamaah haji terbesar di
dunia. Indonesia juga salah satu negara dengan penduduk Muslim paling
progresif dalam kaitannya dengan perlindungan terhadap perempuan dalam isu
kejahatan seksual.

Karenanya Indonesia seharusnya bisa menjadi pelopor penghentian praktik
kejahatan seksual kepada perempuan jamaah haji di Tanah Suci!

   -

   Perempuan dari berbagai negara, juga Indonesia, ungkap pelecehan seksual
   ketika berhaji <http://www.bbc.com/indonesia/majalah-43186861>
   -

   Main curang di Rumah Tuhan : Kisah-kisah terluputkan dari perjalanan haji
   <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41183923>
   -

   Surat korban pelecehan seksual bertentangan dengan keterangan Paus
   <http://www.bbc.com/indonesia/dunia-42957700>

Tagar #MosqueMeToo yang viral dalam beberapa hari belakangan ini menegaskan
kekerasan seksual selama ibadah haji bukanlah dongeng tak bersumber. Para
peneliti dari berbagai negara pengirim jamaah bisa mengumpulkan
pengalaman-pengalaman traumatik perempuan terkait kejahatan seksual yang
dialaminya.

Namun hal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah menghapus mitos bahwa
nasib buruk jamaah haji di Tanah Suci merupakan cerminan atas perbuatan
mereka di tempat asalnya.

Sebab tanpa menghapus mitos serupa itu praktik kejahatan seksual kepada
jemaah perempuan di Tanah Suci ini niscaya akan terus tertutup rapat.
Jangankan mencari solusi, sedang untuk menceritakan peristiwa itu
dibutuhkan keberanian seperti Sabica Khan.

Hak atas foto Inpho Image caption Kabah di tengah masjidil haram,
dikelilingi bangunan-bangunan modern raksasa.

Sejauh yang pernah saya dengar, sesungguhnya sudah sangat lama
perempuan-perempuan dari dunia Islam memendam kisah tentang fakta pelecehan
seksual di tempat yang seharusnya menjadi arena meningkatnya spiritualitas
manusia.

Namun, pemerintah Arab Saudi atau negara-negara asal para jamaah haji itu
yang seharusnya telah lama mengetahui terjadinya berbagai pelecehan seksual
yang dialami jemaah haji setiap tahun, tidak pernah menempuh jalan keluar
sistemik.

Kampanye global anti kekerasan seksual #MeToo saat ini menjadi momentum
yang dapat menggema luas di dunia Islam agar perempuan jamaah haji dari
berbagai belahan dunia bisa terhindar dari penghinaan atas tubuh dan
kedaulatannya.

Harapan serupa itu patutlah digarisbawahi dengan tinta tebal. Terutama
karena kemungkinan untuk meredupkannya kembali juga tak kurang-kurang. Ini
dapat dilihat dari stigma yang justru diarahkan kepada para korban, sepinya
respons negara-negara Islam, dan jenis solusi yang ditawarkan.
Hukum karma?

Banyak pemuka agama, pejabat negara, maupun sesama jamaah sendiri seperti
melakukan persekongkolan jahat dengan menghidupkan mitos bahwa pengalaman
pelecehan seksual sang perempuan saat berhaji merupakan teguran Tuhan atau
balasan atas perbuatan buruknya di tempat asal masing-masing.

Dan dengan berlindung kepada mitos serupa itu negara pengirim jamaah atau
Arab Saudi sebagai negara penyelenggara ibadah haji, secara sengaja
melakukan pembiaran yang terencana atas fakta kekerasan seksual yang
dialami jamaah perempuan ini.

Alih-alih membantu korban dengan penanganan trauma atau berupaya menindak
pelaku, korban malah distigma sebagai pelaku kejahatan seksual di tempat
asalnya.

Anehnya, meski dalam ajaran Islam tak dikenal konsep hukum karma, dalam
kasus-kasus seperti itu justru karma dijadikan sebagai jawaban atas nasib
buruk yang dialami perempuan korban kekerasan seksual selama mereka
berhaji.

Bayangkan, jika seorang perempuan mengalami perkosaan ketika sedang
berhaji, maka stigma yang akan disandangkannya adalah ia pernah menjadi
pezina di masa lalunya. Sudah barang tentu, dengan kuatnya mitos serupa
itu, hanya perempuan seteguh Sabica Khan yang berani bicara kepada publik
melalui tagarnya #MosqueMeToo.

Bahkan setelah ia melaporkan pengalamannya pun ia merasakan kekhawatiran
yang amat sangat bahwa ia akan mengalami ancaman fisik lanjutan.

Kuatnya mitos bahwa apa yang dialami di Tanah Suci, termasuk pengalaman
atas pelecehan dan kejahatan seksual itu merupakan karma masing-masing
orang, jelas akan menyuburkan dan melanggengkan praktik kekerasan seksual
kepada perempuan selama berhaji.

Ini juga sekaligus menunjukkan bahwa negara negara Muslim tak menganggap
peristiwa ini sebagai kejahatan yang harus dipersoalkan.

Hak atas foto BBC/DaviesSurya
Pemisahan perempuan dan pria saat berhaji

Ada dalil lain yang cukup masuk akal mengapa pelecehan seksual bisa
terjadi. Jumlah jamaah haji jumlahnya jutaan orang. Berjejalnya manusia
menciptakan situasi yang seakan memungkinkan terjadinya pelecehan.

Tapi jika penyelenggara memiliki mekanisme yang baik dalam penanganan haji
niscaya ada yang dipikirkan sebagai solusi daripada menghidupkan mitos soal
karma.

Salah satu solusi yang diwacanakan adalah cara yang pragmatis seperti
melakukan pemisahan ruang gerak perempuan dan pria saat berhaji. Atau
memberlakukan jam ibadah yang berbeda bagi keduanya dan membangun arena
tawaf sa'i yang terpisah.

Padahal pemisahan itu justru akan mempersulit dan merugikan perempuan untuk
menjalankan ritual ritual hajinya. Sebab perempuan bukanlah pihak yang
dianggap penting dalam formasi ibadah. Dalam shalatpun mereka diposisikan
di belakang.

Pemisahan ruang tanpa pemikiran yang matang dilihat dari aspek gendernya
hanya akan mengesampingkan perempuan dari Ka'bah: jika tidak ditempatkan di
belakang, mereka akan menempati 'jembatan layang' paling atas dalam arena
tawaf (mengelilingi Ka'bah) dan sya'i (berlari kecil dari bukit Safa dan
Marwa).

Pemisahan tempat antara jemaah haji lelaki dan perempuan juga riskan
terjadinya pemerkosaan dan penculikan oleh lelaki oknum jamaah haji atau
dari lelaki non-jemaah seperti *muqimin* (pemukim) atau penduduk setempat
yang mencuri kesempatan dalam kesempitan.

Hak atas foto KARIM SAHIB/AFP/Getty Images
Penjagaan lembaga internasional

Pilihan lain yang paling masuk akal adalah melakukan penjagaan secara
seksama oleh lembaga-lembaga internasional yang berwenang dalam mengatasi
pelecehan seksual.

Jika ini diterima maka pertama-tama harus ada pengakuan dari jamaah/umat
Islam di seluruh dunia bahwa pelecehan seksual di Tanah Suci adalah sebuah
kenyataan dan itu adalah kejahatan, bukan takdir.

Adanya pengakuan serupa ini akan berimplikasi kepada kewajiban untuk
melakukan pengawasan serta tersedianya lembaga pelapor kekerasan seksual di
tingkat dunia internasional yang beroperasi di Tanah Suci.

Laporan-laporan itu kemudian wajib ditindak-lanjuti oleh penyelenggara,
dalam hal ini pemerintah Saudi.

Jika gagasan ini diterima, maka lembaga internasional seperti PBB atau
khususnya lembaga yang terkait dengan perlindungan perempuan dari
kekerasan, dan lembaga HAM Internasional lainnya, harus mendapatkan akses
untuk ikut mengawasi jalannya penyelenggaraan haji.

Sebetulnya sudah cukup lama muncul usulan, terutama disuarakan oleh Iran,
agar Tanah Suci tidak dimonopoli oleh pemerintah Saudi sendiri. Iran
meminta agar Saudi membuka akses kepada negara-negara asal jamaah untuk
ikut mengelola Mekkah.

Namun, pemerintah Saudi bersikukuh mempertahankan posisi sebagai penguasa
tunggal atas Tanah Suci umat Islam sedunia itu.

   -

   Ribuan orang klaim jadi korban pelecehan seks pastor Katolik di
   Australia <http://www.bbc.com/indonesia/dunia-38877912>
   -

   Guru spiritual India ditahan atas tuduhan perkosaan
   <http://www.bbc.com/indonesia/majalah-41376618>
   -

   Lima hal tentang dana haji dan kontroversinya
   <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40778194>

Kini, makin terungkapnya fakta-fakta kekerasan seksual selama berhaji
mungkin bisa menjadi momentum bagi negara-negara asal jemaah untuk meminta
kewenangan dalam ikut melindungi warga negara mereka dari perundungan
seksual, sebagaimana juga terjadi para tenaga kerja yang bekerja di luar
negeri.

Dengan adanya kewajiban untuk mematuhi hukum internasional terkait
kekerasan seksual kepada perempuan, pemerintah Saudi memiliki berkewajiban
untuk menyediakan mekanisme hukum dalam menindak pelaku.

Hak atas foto AHMAD GHARABLI/AFP/Getty Images Image caption Sejumlah jemaah
perempuan ketika berdesakan di depan kabah

Tentu saja, itu berarti Saudi dan negara-negara pengirim jamaah haji juga
memiliki satu standar yang sama dalam memaknai kekerasan seksual itu.
Misalnya dengan mengambil standar hukum internasional dalam mendefinisikan
kekerasan seksual seperti "*against her will*" "tindakan kekerasan yang
melawan kehendak si perempuan untuk bebas dari pelecehan".

Arab Saudi dan negara-negara yang mengirimkan jamaahnya untuk berhaji juga
harus memiliki standar yang sama tentang konsep dan praksis kekerasan
berbasis gender dan menjadikannya sebagai materi-materi bimbingan haji.

Demikian juga hal yang sama harus diberlakukan kepada para petugas haji,
pemukim dan warga setempat yang ikut menjadi bagian dari penyelenggara haji
untuk patuh pada hukum internasional soal pencegahan dan penindaan
kekerasan seksual itu.

Tanpa adanya upaya itu, jamaah haji akan tinggal dengan keyakinan yang kuat
bahwa Tanah Suci bukanlah tanah yang aman bagi perempuan.
------------------------------

Artikel-artikel semacam ini akan hadir berkala di BBC Indonesia, karya
berbagai penulis, mencakup beragam tema. Tulisan-tulisan itu merupakan
pandangan pribadi penulis sepenuhnya.

Kirim email ke