Kerusuhan Mei 1998: 
"Apa salah kami sampai (diancam) mau dibakar dan dibunuh?"
Sri LestariBBC Indonesia
  http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43940188 a.. 16 Mei 2018a.. 
Hak atas fotoCHOO YOUN-KONG/AFP/GETTY IMAGESImage captionPenjarahan yang 
terjadi di sejumlah tempat di Jakarta pada pertengahan Mei 1998
 
Kerusuhan Mei yang terjadi pada 20 tahun yang lalu masih menyisakan luka bagi 
orang yang mengalaminya. BBC Indonesia menemui sejumlah orang yang menyaksikan 
atau mengalami langsung kerusuhan yang terjadi pada 13-15 Mei tersebut.

Candra Jap "Apa salah kami sampai (diancam) mau dibakar dan dibunuh?"
Tak jauh dari Plaza Glodok, Candra Jap yang 20 tahun lalu masih SMP, tengah 
mengerjakan soal Ebtanas hari terakhir ketika mendengar teriakan pertokoan 
glodok dibakar.

Dari jendela ruang kelasnya di lantai 3, Candra melihat asap dari pertokoan 
Glodok Plaza. Pikirannya pun tak tenang.

  a.. #TrenSosial: Di mana Anda ketika kerusuhan Mei 1998? 
  b.. Vonis Ahok, kampanye anti-Cina, dan trauma 98
"Guru waktu itu bilang selesaikan saja sebisanya, lalu pulang," jelas Candra.

Setelah mengerjakan soal Candra pun pulang ke rumah yang tak jauh dari rumah. 
Sampai di rumah, pintu dan jendela ditutup, dan dia pun tak boleh keluar rumah 
sampai sekitar tiga hari.

"Dari rumah bisa kelihatan tuh rumah teman saya di seberang kali, ada rumahnya 
dijarah, mobilnya dibakar," ungkap Candra, "Teriakannya ga enak didengar 'bakar 
Cina, bunuh Cina, jarah."

Hak atas fotoOKI BUDHI/BBC INDONESIAImage captionCandra aktif di organisasi 
yang mendukung toleransi dan keberagaman
 
Bagi Candra yang baru berusia sekitar 15 tahun, teriakan itu mengusik hatinya 
"Untuk anak kecil yang sejak kecil didoktrin pelajaran PMP sampe berpikir, 
salah kami apa, sampe (diancam) mau dibakar atau dibunuh, dan polisi pun tidak 
ada saat itu," kata Candra.

Ketika bertanya pada orangtuanya, dia tak mendapat jawaban "Udah diam kata 
orang tua ini masalah politik," kata Candra.

Sepanjang hari, Candra melihat orang-orang berseliweran membawa barang-barang 
yang diambil dari pertokoan. "Ada ibu-ibu yang mengangkat kulkas dua pintu, dan 
barang-barang lainnya,"kata Candra.

Sekolah pun diliburkan dan setiap hari Candra dan para tetangga berjaga-jaga di 
sekitar rumah.

"Semua anak cowo bawa sapu golok untuk jaga-jaga buat blokadÄ™ di rumah masing 
masing, gerobak sampah ditutup itu kalau ada gerombolan lewat, ada juga yang 
sempat lewat tapi tidak diapa-apain, karena yang jaga banyak orang yang bukan 
Tionghoa.

Ketika kembali sekolah, banyak teman-temannya yang tak kembali lagi "Banyak 
yang pergi keluar negeri sampai beberapa tahun lalu baru kembali," kata dia.

Hak atas fotoOKI BUDHI/BBC INDONESIAImage captionCandra menunjukkan pagar 
tinggi yang dibangun di depan jalan menuju permukiman warga
 
Tak lama setelah kerusuhan, warga membangun pagar tinggi di rumah dan jalan 
masuk ke rumah mereka. Pagar-pagar itu masih ada setelah 20 tahun.

Cerita tentang kerusuhan, penjarahan dan perkosaan disejumlah tempat 
didengarnya dari teman-temannya. Situasi di Mei 1998 itu membuat Candra terus 
mencari mengapa etnis Cina dijadikan sasaran.

"Akhirnya saya tahu ini bukan yang pertama etnis Tionghoa dijadikan sasaran," 
kata dia.

Candra pun berupaya memahami situasi tersebut dengan memperluas pergaulannya 
dengan orang-orang di luar keturunan Cina dengan masuk ke SMA Negeri, dan 
kemudian aktif di organisasi Indonesia Tionghoa, yang banyak melakukan kegiatan 
yang berkaitan dengan toleransi dan hubungan antar etnis serta agama.

Muhamad Ridwan "Restoran saya dibakar, pelaku masih berkeliaran"
Muhamad Ridwan (57) baru saja selesai memasak di dapur di restoran masakan 
Padang miliknya yang terletak persis di bawah jembatan yang menghubungkan 
Glodok City dan Harco Glodok. Ketika melihat di depan restoran, Ridwan melihat 
kerumunan orang di depan pusat perbelanjaan.

"Saat itu aku perkirakan hanya demo besar-besaran saja" ungkap Ridwan.

Namun tak lama kemudian, massa tersebut tiba-tiba menjadi beringas, mereka 
membuka pintu-pintu toko yang terkunci lalu mengambil barang-barang di 
dalamnya. "Diambil diangkuti semua, aku ga tau ke mana, di toko orang diambil 
sampe kosong," ungkat Ridwan.

Hak atas fotoOKI BUDHI/BBC INDONESIAImage captionRidwan kehilangan restoran di 
Glodok dan Cipete dalam kerusuhan Mei 1998.
 
Melihat situasi tersebut, Ridwan memutuskan untuk pulang ke rumahnya di kawasan 
Cempaka Putih. Dia meminta 15 orang karyawannya menyelamatkan diri dan tidak 
usah mempedulikan restorannya.

Sampai di sekitar Hotel Jayakarta, Ridwan sempat dihadang aparat keamanan " Mau 
kemana? Katanya, saya katakan saya mau pulang, 'ayo cepat' kata petugas itu." 
Dia mempercepat langkahnya dan melanjutkan jalan kaki menuju rumah.

"Saya ikuti saja orang-orang itu, soalnya perusuh itu ga diapa-apain, saya ikut 
kalau mereka teriak saya teriak, tapi saya ga ikuti cara mereka, saya hanya 
ingin pulang," ungkap Ridwan.

Di sepanjang jalan di kawasan Mangga Besar, massa tersebut membuka paksa pintu 
toko mobil dan mengeluarkan isinya. "Lalu mobil-mobil itu mereka bakar, saya 
juga lihat ada orang yang membawa barang apa saja, dari kulkas sampai beras dan 
sofa," jelas pria yang sudah 35 tahun berbisnis restoran tersebut.

Sejumlah orang, menurut Ridwan juga menghentikan motor-motor yang lewat di 
sekitar mereka. "Kalau orang Cina, motornya diambil lalu dibakar, orangnya 
disuruh pergi," kata dia.

Sore hari dia sampai di rumahnya, dan melihat para tetangganya sudah 
berjaga-jaga di mulut jalan yang menuju rumahnya. Malam itu perasaan Ridwan tak 
tenang, setelah mendengar dari salah seorang karyawannya bahwa kompleks 
pertokoan mulai dibakar.

Esok harinya, Ridwan pergi kembali ke Glodok, walaupun situasi di sejumlah 
tempat di Jakarta masih kacau. Di Glodok, restorannya terbakar habis tak ada 
yang bisa diselamatkan. "Mobil saya yang isinya stok beras juga hilang, kalau 
terbakar kan pasti ada bekasnya, ini tidak, " kata Ridwan.

Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionMuhamad Ridwan kembali menempati kios di 
Glodok City dengan ukuran yang lebih kecil.
 
Di sana dia juga melihat sejumlah pemilik toko mulai berdatangan.

"Banyak yang kaget, ada satu orang saya kenal, dia membawa tas berisi kertas 
yang dianggapnya sebagai uang, saya sapa dia diam saja, tidak mengenali saya," 
ungkap Ridwan.

Tak hanya di Glodok, restoran miliknya di Cipete pun terbakar habis. Namun para 
karyawan masih sempat menyelamatkan kursi makan.

"Saya rugi sampai ratusan juta, hampir satu miliar," keluhnya.

Meski sempat syok, namun wajah anak-anak yang terbayang dalam pikirannya 
membuatnya optimis untuk bangkit kembali.

"Saya lalu meminta agar diberikan tempat untuk berjualan, modal saya pinjam 
dari keluarga," kata Ridwan. Setahun setelah kebakaran, Ridwan pun kembali 
berjualan di salah satu kios di Glodok City.

"Yang saya sayangkan pemerintah tak ada keringanan sama sekali padahal kita 
dapat kerusuhan musibah, jadi kita bayar bangunan standar harga pemerintah 
bangunan yang baru, cuma dikasih kelonggaran kredit selama lima tahun," kata 
Ridwan.

Hak atas fotoOKI BUDHI/BBC INDONESIAImage captionLokasi bekas warung Ridwan 
yang sekarang menjadi parkiran motor.
 
Dua puluh tahun setelah kerusuhan Mei, Ridwan masih membuka restoran di kawasan 
Glodok, sekarang bernama Glodok City. Tak sebesar dulu, dan hanya memiliki satu 
karyawan saja. Dia mengatakan memulai usahanya dari awal tanpa bantuan 
pemerintah.

Dia mengaku heran para pelaku kerusuhan tersebut tidak dihukum.

"Padahal yang bakar toko ada wajahnya di TV, aku lihat mereka aman-aman saja, 
kalau mereka berbuat salahya dihukum donk, kalau tidak kan mereka semakin jadi 
nantinya," ujar Ridwan.

Christianto Wibisono "Rumah putri saya dibakar dan saya mendapatkan ancaman"
Sehari setelah penembakan mahasisws Trisakti pada 12 Mei 1998, telepon 
berdering di rumah pengamat ekonomi dan pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia 
PDBI Christianto Wibisono. Putri sulungnya yang tinggal di Pantai Indah Kapuk, 
memberitahu bahwa warga di kompleks perumahan elit tersebut harus mengungsi ke 
sebuah 'shelter' yang disediakan pengembang untuk 'menyelamatkan diri'..

Christianto yang menyadari situasi akan kacau meminta anaknya berserta 
keluarganya untuk sementara mengungsi ke rumahnya di kawasan Jakarta Pusat.

"Karena waktu itu masih punya baby dan bagaimana nanti situasinya di sana," 
kata Christianto. Di hari yang sama, dia juga melihat pergerakan massa menuju 
rumah konglomerat yang dekat dengan Presiden Soeharto.

"Mereka membakar rumah oom Liem," kata dia.

Hak atas fotoOKI BUDHI/BBC INDONESIAImage captionChristianto Wibisono sempat 
tinggal di luar negeri pasca kerusuhan Mei, karena mendapatkan ancaman.
 
Esok harinya, Christianto meminta supirnya untuk mengecek rumah putrinya di 
Pantai Indah Kapuk, dan ternyata sudah habis terbakar. Ada 80 lokasi yang 
dibakar di permukiman tersebut.

Sebagai pengamat, Christianto sering menyampaikan pandangan kritis terhadap 
krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia. Dia pun menerima ancaman bernada 
rasis.

"Sudah Juni ada ancaman surat kaleng yang tidak nyaman, surat ancaman ditujukan 
ke saya, waktu itu PDBI itu yang kritis menilai situasi politik," jelas dia.

Ancaman itu membuat dirinya memilih untuk pindah ke Amerika Serikat, dan 
kembali lagi ke Indonesia pada 2006. Christianto seringkali menjadi membantu 
kerja-kerja pemerintah RI selama di Amerika.

Dia berharap setelah Mei 1998, Indonesia jangan sampai kembali mengalami 
kerusuhan rasial.

"Jangan sampai lagi mengalami masalah SARA itu, dan disayangkan terjadinya 
gejolak pilkada kemarin ya yang kalau terjadi lagi akan membuat mundur negara 
ini," ujar Christianto.

Hak atas fotoDOKUMENTASI CHRISTIANTO WIBISONOImage captionRumah putri 
Christianto Wibisono yang dibakar di Pantai Indah Kapuk pada Mei 1998
 
Cahyo Paniling "Rumah dan motor saya dibakar, celana dalam pun dijarah"
Paniling tak menyangka akan terjadi kerusuhan, pagi itu dia pergi bekerja dari 
rumahnya di Solo ke Boyolali seperti biasa. Sore hari dia mendapatkan telepon 
dari tetangganya agar dirinya jangan pulang ke rumahnya dulu.

"Saya lantas ngungsi di tempat teman saya di Fajar Indah," kata dia.

Esok harinya Panailing pun kembali ke rumahnya, "Kok pintu rumah sudah dijebol 
semua, kondisi rumah sudah berantakan semua," ungkap dia, uang yang disimpan 
dilaci rumahnya pun hilang.

Tak hanya pintu yang dijarah, seisi rumah ikut ludes dijarah oleh kerumanan 
massa saat kerusuhan berlangsung. Sepeda motor kesayangannya, pun tak luput 
dibakar oleh massa di jalan depan rumah.

"Di jalan itu ada bekas motor saya yang dibakar. Aspalnya sampai meleleh. 
Padahal itu motor yang paling saya sukai dan limited edition," ujar Panailing, 
"Celana dalam ikut dijarah".

Hak atas fotoFAJAR SODIQ 
Setelah peristiwa itu, Panailing hanya mengandalkan pemberian dari kawan dan 
tetangga untuk melanjutkan hidup.

"Hubungan saya dengan tetangga bagus. Setelah penjarahan itu, saya tidak punya 
apa-apa. Warga sekitar mengirimi makanan. Kemudian ada juga yang memberikan 
pakaian, " kenang Paniling.

Tak ingin larut dalam kesedihan, dia punsedikit demi sedikit mengumpulkan uang 
untuk menghidupi keluarga. Dia kemudian pindah ke rumah milik mertuanya di 
Kemlayan, Solo pada tahun 2001.

Sumartono Hadinoto "Melarikan diri dengan menjebol tembok dan sempat dirawat 
psikiater"
Sumartono langsung menutup toko begitu mendengar dari teman radio amatir bahwa 
ada demo besar-besaran di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

"Saya juga mengabarkan kepada teman-teman tentang demo itu. Tapi tak beberapa 
lama, rumah saya sudah dilempari batu, " kata Sumartono yang memiliki usaha 
aluminium di Jalan Juanda, Jebres, Solo.

Tempat usahanya menyatu dengan tempat tinggal. Ketika terjadi kerusuhan, 
seluruh anggota keluarganya ada di rumah. Tak berselang lama, dia mendapatkan 
telepon dari ketua RT dan Ketua RW. Mereka meminta kepada Sumartono dan 
keluarganya segera menuju belakang rumah.

"Tembok di belakang rumah itu dijebol dan dilubangi dengan diameter sebesar 1 
meter. Lalu kami (saya, istri, anak, ibu) keluar dengan kepala ditarik ke 
belakang, " jelas dia.

Hak atas fotoFAJAR SODIQ 
Ia bersama dengan keluarga mengungsi selama lima hari di rumah Ketua RT. Pada 
malam hari saat kejadian itu, ia menengok kondisi rumah. Ia mendapati isi rumah 
sudah dijarah. "AC, kompor, gas elpiji, sepatu roda, pompa air. Pokoknya semua 
yang terlihat dijarah, " kata dia.

Sumartono mengatakan penjarahan dan kerusuhan di Solo berlangsung tiga hari dan 
tidak adanya petugas keamanan yang berusaha meredakan kerusuhan.

  a.. 'Larangan warga keturunan memiliki tanah' di Yogyakarta: penggugat 
diancam akan diusir dari Yogyakarta 
  b.. Museum peranakan Cina di tengah Pasar Lama Tangerang
Usai kerusuhan mereda, ia bersama dengan kawan-kawannya yang tergabung dalam 
Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) membuka Posko untuk mendata dan membantu 
korban. Organisasi ini memberikan bantuan biaya hidup para korban, pengurusan 
surat dan stimulan untuk modal usaha.

"Nha saat wawancara pendataan itu banyak korban yang menangis. Mereka cerita 
dipukul, dijarah, dibakar rumahnya. Cerita-cerita itu menjadi gangguan 
psikologis bagi saya. Lalu saya dirawat di psikiater selama satu setengah 
tahun," kenang Sumartono.

Setelah itu Sumartono kembali menata usahanya dan terlibat dalam kegiatan 
sosial dan toleransi. Dia mendapatkan penghargaan Global Interfaith, organisasi 
yang berafiliasi dengan PBB. Penghargaan tersebut dalam kategori Advokasi dan 
Keterlibatan dalam Kebijakan Publik.

Foto dan video Oki Budhi, laporan dari Solo oleh Fajar Sodiq

Kirim email ke