Ya, apa salah mereka sehingga setiap Mei harus 
mengulang-ulang cerita horor yang sama. Bagaimana 
dengan korban lain & keluarga korban dari tragedi 
yang sama yang jumlahnya berkali lipat?
TGPF & Romo Sandy pernah merilis data korban 
pribumi yang tewas ter/dibakar saja lebih dari 1000 
(seribu) orang. Belum lagi yang tewas akibat senjata dll 
karena menjaga / melindungi kawasan pecinan.

BBC / imperialis Inggris tentu punya agenda sendiri 
dengan ketekunannya memberitakan penderitaan 
semacam ini.
Hanya Wiranto cs yang tahu alasan sebenarnya ngapain 
mereka (para jendral) malah berbondong-bondong pergi
meninggalkan Jakarta mulai tanggal 14 Mei 1998.
--- SADAR@... wrote:
  



Kerusuhan Mei 1998: 

"Apa salah kami sampai (diancam) mau dibakar dan dibunuh?"
Sri LestariBBC Indonesia   
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43940188    
   -  16 Mei 2018
   -   
Hak atas fotoCHOO YOUN-KONG/AFP/GETTY IMAGESImage captionPenjarahan yang 
terjadi di sejumlah tempat di Jakarta pada pertengahan Mei 1998 Kerusuhan Mei 
yang terjadi pada 20 tahun yang lalu masih menyisakan luka bagi orang yang 
mengalaminya. BBC Indonesia menemui sejumlah orang yang menyaksikan atau 
mengalami langsung kerusuhan yang terjadi pada 13-15 Mei tersebut.
Candra Jap "Apa salah kami sampai (diancam) mau dibakar dan dibunuh?"
Tak jauh dari Plaza Glodok, Candra Jap yang 20 tahun lalu masih SMP, tengah 
mengerjakan soal Ebtanas hari terakhir ketika mendengar teriakan pertokoan 
glodok dibakar.Dari jendela ruang kelasnya di lantai 3, Candra melihat asap 
dari pertokoan Glodok Plaza. Pikirannya pun tak tenang.   
   - #TrenSosial: Di mana Anda ketika kerusuhan Mei 1998? 
   - Vonis Ahok, kampanye anti-Cina, dan trauma 98
"Guru waktu itu bilang selesaikan saja sebisanya, lalu pulang," jelas 
Candra.Setelah mengerjakan soal Candra pun pulang ke rumah yang tak jauh dari 
rumah. Sampai di rumah, pintu dan jendela ditutup, dan dia pun tak boleh keluar 
rumah sampai sekitar tiga hari."Dari rumah bisa kelihatan tuh rumah teman saya 
di seberang kali, ada rumahnya dijarah, mobilnya dibakar," ungkap Candra, 
"Teriakannya ga enak didengar 'bakar Cina, bunuh Cina, jarah."Hak atas fotoOKI 
BUDHI/BBC INDONESIAImage captionCandra aktif di organisasi yang mendukung 
toleransi dan keberagaman Bagi Candra yang baru berusia sekitar 15 tahun, 
teriakan itu mengusik hatinya "Untuk anak kecil yang sejak kecil didoktrin 
pelajaran PMP sampe berpikir, salah kami apa, sampe (diancam) mau dibakar atau 
dibunuh, dan polisi pun tidak ada saat itu," kata Candra.Ketika bertanya pada 
orangtuanya, dia tak mendapat jawaban "Udah diam kata orang tua ini masalah 
politik," kata Candra.Sepanjang hari, Candra melihat orang-orang berseliweran 
membawa barang-barang yang diambil dari pertokoan. "Ada ibu-ibu yang mengangkat 
kulkas dua pintu, dan barang-barang lainnya,"kata Candra.Sekolah pun diliburkan 
dan setiap hari Candra dan para tetangga berjaga-jaga di sekitar rumah."Semua 
anak cowo bawa sapu golok untuk jaga-jaga buat blokadę di rumah masing masing, 
gerobak sampah ditutup itu kalau ada gerombolan lewat, ada juga yang sempat 
lewat tapi tidak diapa-apain, karena yang jaga banyak orang yang bukan 
Tionghoa.Ketika kembali sekolah, banyak teman-temannya yang tak kembali lagi 
"Banyak yang pergi keluar negeri sampai beberapa tahun lalu baru kembali," kata 
dia.Hak atas fotoOKI BUDHI/BBC INDONESIAImage captionCandra menunjukkan pagar 
tinggi yang dibangun di depan jalan menuju permukiman warga Tak lama setelah 
kerusuhan, warga membangun pagar tinggi di rumah dan jalan masuk ke rumah 
mereka.. Pagar-pagar itu masih ada setelah 20 tahun.Cerita tentang kerusuhan, 
penjarahan dan perkosaan disejumlah tempat didengarnya dari teman-temannya. 
Situasi di Mei 1998 itu membuat Candra terus mencari mengapa etnis Cina 
dijadikan sasaran."Akhirnya saya tahu ini bukan yang pertama etnis Tionghoa 
dijadikan sasaran," kata dia.Candra pun berupaya memahami situasi tersebut 
dengan memperluas pergaulannya dengan orang-orang di luar keturunan Cina dengan 
masuk ke SMA Negeri, dan kemudian aktif di organisasi Indonesia Tionghoa, yang 
banyak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan toleransi dan hubungan antar 
etnis serta agama.
Muhamad Ridwan "Restoran saya dibakar, pelaku masih berkeliaran"
Muhamad Ridwan (57) baru saja selesai memasak di dapur di restoran masakan 
Padang miliknya yang terletak persis di bawah jembatan yang menghubungkan 
Glodok City dan Harco Glodok. Ketika melihat di depan restoran, Ridwan melihat 
kerumunan orang di depan pusat perbelanjaan."Saat itu aku perkirakan hanya demo 
besar-besaran saja" ungkap Ridwan.Namun tak lama kemudian, massa tersebut 
tiba-tiba menjadi beringas, mereka membuka pintu-pintu toko yang terkunci lalu 
mengambil barang-barang di dalamnya. "Diambil diangkuti semua, aku ga tau ke 
mana, di toko orang diambil sampe kosong," ungkat Ridwan.Hak atas fotoOKI 
BUDHI/BBC INDONESIAImage captionRidwan kehilangan restoran di Glodok dan Cipete 
dalam kerusuhan Mei 1998. Melihat situasi tersebut, Ridwan memutuskan untuk 
pulang ke rumahnya di kawasan Cempaka Putih. Dia meminta 15 orang karyawannya 
menyelamatkan diri dan tidak usah mempedulikan restorannya.Sampai di sekitar 
Hotel Jayakarta, Ridwan sempat dihadang aparat keamanan " Mau kemana? Katanya, 
saya katakan saya mau pulang, 'ayo cepat' kata petugas itu." Dia mempercepat 
langkahnya dan melanjutkan jalan kaki menuju rumah."Saya ikuti saja orang-orang 
itu, soalnya perusuh itu ga diapa-apain, saya ikut kalau mereka teriak saya 
teriak, tapi saya ga ikuti cara mereka, saya hanya ingin pulang," ungkap 
Ridwan.Di sepanjang jalan di kawasan Mangga Besar, massa tersebut membuka paksa 
pintu toko mobil dan mengeluarkan isinya. "Lalu mobil-mobil itu mereka bakar, 
saya juga lihat ada orang yang membawa barang apa saja, dari kulkas sampai 
beras dan sofa," jelas pria yang sudah 35 tahun berbisnis restoran 
tersebut.Sejumlah orang, menurut Ridwan juga menghentikan motor-motor yang 
lewat di sekitar mereka. "Kalau orang Cina, motornya diambil lalu dibakar, 
orangnya disuruh pergi," kata dia.Sore hari dia sampai di rumahnya, dan melihat 
para tetangganya sudah berjaga-jaga di mulut jalan yang menuju rumahnya. Malam 
itu perasaan Ridwan tak tenang, setelah mendengar dari salah seorang 
karyawannya bahwa kompleks pertokoan mulai dibakar.Esok harinya, Ridwan pergi 
kembali ke Glodok, walaupun situasi di sejumlah tempat di Jakarta masih kacau. 
Di Glodok, restorannya terbakar habis tak ada yang bisa diselamatkan. "Mobil 
saya yang isinya stok beras juga hilang, kalau terbakar kan pasti ada bekasnya, 
ini tidak, " kata Ridwan.Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionMuhamad Ridwan 
kembali menempati kios di Glodok City dengan ukuran yang lebih kecil. Di sana 
dia juga melihat sejumlah pemilik toko mulai berdatangan."Banyak yang kaget, 
ada satu orang saya kenal, dia membawa tas berisi kertas yang dianggapnya 
sebagai uang, saya sapa dia diam saja, tidak mengenali saya," ungkap Ridwan.Tak 
hanya di Glodok, restoran miliknya di Cipete pun terbakar habis. Namun para 
karyawan masih sempat menyelamatkan kursi makan."Saya rugi sampai ratusan juta, 
hampir satu miliar," keluhnya.Meski sempat syok, namun wajah anak-anak yang 
terbayang dalam pikirannya membuatnya optimis untuk bangkit kembali."Saya lalu 
meminta agar diberikan tempat untuk berjualan, modal saya pinjam dari 
keluarga," kata Ridwan. Setahun setelah kebakaran, Ridwan pun kembali berjualan 
di salah satu kios di Glodok City."Yang saya sayangkan pemerintah tak ada 
keringanan sama sekali padahal kita dapat kerusuhan musibah, jadi kita bayar 
bangunan standar harga pemerintah bangunan yang baru, cuma dikasih kelonggaran 
kredit selama lima tahun," kata Ridwan.Hak atas fotoOKI BUDHI/BBC 
INDONESIAImage captionLokasi bekas warung Ridwan yang sekarang menjadi parkiran 
motor. Dua puluh tahun setelah kerusuhan Mei, Ridwan masih membuka restoran di 
kawasan Glodok, sekarang bernama Glodok City. Tak sebesar dulu, dan hanya 
memiliki satu karyawan saja. Dia mengatakan memulai usahanya dari awal tanpa 
bantuan pemerintah.Dia mengaku heran para pelaku kerusuhan tersebut tidak 
dihukum."Padahal yang bakar toko ada wajahnya di TV, aku lihat mereka aman-aman 
saja, kalau mereka berbuat salahya dihukum donk, kalau tidak kan mereka semakin 
jadi nantinya," ujar Ridwan.
Christianto Wibisono "Rumah putri saya dibakar dan saya mendapatkan ancaman"
Sehari setelah penembakan mahasisws Trisakti pada 12 Mei 1998, telepon 
berdering di rumah pengamat ekonomi dan pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia 
PDBI Christianto Wibisono. Putri sulungnya yang tinggal di Pantai Indah Kapuk, 
memberitahu bahwa warga di kompleks perumahan elit tersebut harus mengungsi ke 
sebuah 'shelter' yang disediakan pengembang untuk 'menyelamatkan 
diri'..Christianto yang menyadari situasi akan kacau meminta anaknya berserta 
keluarganya untuk sementara mengungsi ke rumahnya di kawasan Jakarta 
Pusat."Karena waktu itu masih punya baby dan bagaimana nanti situasinya di 
sana," kata Christianto. Di hari yang sama, dia juga melihat pergerakan massa 
menuju rumah konglomerat yang dekat dengan Presiden Soeharto."Mereka membakar 
rumah oom Liem," kata dia.Hak atas fotoOKI BUDHI/BBC INDONESIAImage 
captionChristianto Wibisono sempat tinggal di luar negeri pasca kerusuhan Mei, 
karena mendapatkan ancaman. Esok harinya, Christianto meminta supirnya untuk 
mengecek rumah putrinya di Pantai Indah Kapuk, dan ternyata sudah habis 
terbakar. Ada 80 lokasi yang dibakar di permukiman tersebut.Sebagai pengamat, 
Christianto sering menyampaikan pandangan kritis terhadap krisis ekonomi yang 
terjadi di Indonesia. Dia pun menerima ancaman bernada rasis."Sudah Juni ada 
ancaman surat kaleng yang tidak nyaman, surat ancaman ditujukan ke saya, waktu 
itu PDBI itu yang kritis menilai situasi politik," jelas dia..Ancaman itu 
membuat dirinya memilih untuk pindah ke Amerika Serikat, dan kembali lagi ke 
Indonesia pada 2006. Christianto seringkali menjadi membantu kerja-kerja 
pemerintah RI selama di Amerika.Dia berharap setelah Mei 1998, Indonesia jangan 
sampai kembali mengalami kerusuhan rasial."Jangan sampai lagi mengalami masalah 
SARA itu, dan disayangkan terjadinya gejolak pilkada kemarin ya yang kalau 
terjadi lagi akan membuat mundur negara ini," ujar Christianto.Hak atas 
fotoDOKUMENTASI CHRISTIANTO WIBISONOImage captionRumah putri Christianto 
Wibisono yang dibakar di Pantai Indah Kapuk pada Mei 1998 
Cahyo Paniling "Rumah dan motor saya dibakar, celana dalam pun dijarah"
Paniling tak menyangka akan terjadi kerusuhan, pagi itu dia pergi bekerja dari 
rumahnya di Solo ke Boyolali seperti biasa. Sore hari dia mendapatkan telepon 
dari tetangganya agar dirinya jangan pulang ke rumahnya dulu."Saya lantas 
ngungsi di tempat teman saya di Fajar Indah," kata dia.Esok harinya Panailing 
pun kembali ke rumahnya, "Kok pintu rumah sudah dijebol semua, kondisi rumah 
sudah berantakan semua," ungkap dia, uang yang disimpan dilaci rumahnya pun 
hilang.Tak hanya pintu yang dijarah, seisi rumah ikut ludes dijarah oleh 
kerumanan massa saat kerusuhan berlangsung. Sepeda motor kesayangannya, pun tak 
luput dibakar oleh massa di jalan depan rumah."Di jalan itu ada bekas motor 
saya yang dibakar. Aspalnya sampai meleleh. Padahal itu motor yang paling saya 
sukai dan limited edition," ujar Panailing, "Celana dalam ikut dijarah".Hak 
atas fotoFAJAR SODIQ Setelah peristiwa itu, Panailing hanya mengandalkan 
pemberian dari kawan dan tetangga untuk melanjutkan hidup."Hubungan saya dengan 
tetangga bagus. Setelah penjarahan itu, saya tidak punya apa-apa. Warga sekitar 
mengirimi makanan. Kemudian ada juga yang memberikan pakaian, " kenang 
Paniling.Tak ingin larut dalam kesedihan, dia punsedikit demi sedikit 
mengumpulkan uang untuk menghidupi keluarga. Dia kemudian pindah ke rumah milik 
mertuanya di Kemlayan, Solo pada tahun 2001.
Sumartono Hadinoto "Melarikan diri dengan menjebol tembok dan sempat dirawat 
psikiater"
Sumartono langsung menutup toko begitu mendengar dari teman radio amatir bahwa 
ada demo besar-besaran di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)."Saya 
juga mengabarkan kepada teman-teman tentang demo itu. Tapi tak beberapa lama, 
rumah saya sudah dilempari batu, " kata Sumartono yang memiliki usaha aluminium 
di Jalan Juanda, Jebres, Solo.Tempat usahanya menyatu dengan tempat tinggal. 
Ketika terjadi kerusuhan, seluruh anggota keluarganya ada di rumah. Tak 
berselang lama, dia mendapatkan telepon dari ketua RT dan Ketua RW. Mereka 
meminta kepada Sumartono dan keluarganya segera menuju belakang rumah."Tembok 
di belakang rumah itu dijebol dan dilubangi dengan diameter sebesar 1 meter. 
Lalu kami (saya, istri, anak, ibu) keluar dengan kepala ditarik ke belakang, " 
jelas dia.Hak atas fotoFAJAR SODIQ Ia bersama dengan keluarga mengungsi selama 
lima hari di rumah Ketua RT. Pada malam hari saat kejadian itu, ia menengok 
kondisi rumah. Ia mendapati isi rumah sudah dijarah. "AC, kompor, gas elpiji, 
sepatu roda, pompa air. Pokoknya semua yang terlihat dijarah, " kata 
dia.Sumartono mengatakan penjarahan dan kerusuhan di Solo berlangsung tiga hari 
dan tidak adanya petugas keamanan yang berusaha meredakan kerusuhan.   
   - 'Larangan warga keturunan memiliki tanah' di Yogyakarta: penggugat diancam 
akan diusir dari Yogyakarta 
   - Museum peranakan Cina di tengah Pasar Lama Tangerang
Usai kerusuhan mereda, ia bersama dengan kawan-kawannya yang tergabung dalam 
Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) membuka Posko untuk mendata dan membantu 
korban. Organisasi ini memberikan bantuan biaya hidup para korban, pengurusan 
surat dan stimulan untuk modal usaha."Nha saat wawancara pendataan itu banyak 
korban yang menangis. Mereka cerita dipukul, dijarah, dibakar rumahnya. 
Cerita-cerita itu menjadi gangguan psikologis bagi saya. Lalu saya dirawat di 
psikiater selama satu setengah tahun," kenang Sumartono.Setelah itu Sumartono 
kembali menata usahanya dan terlibat dalam kegiatan sosial dan toleransi. Dia 
mendapatkan penghargaan Global Interfaith, organisasi yang berafiliasi dengan 
PBB. Penghargaan tersebut dalam kategori Advokasi dan Keterlibatan dalam 
Kebijakan Publik.Foto dan video Oki Budhi, laporan dari Solo oleh Fajar Sodiq 
   

Kirim email ke