Jumlah pelajar SMA sekitar 5 juta murid, bila survey itu benar artinya sekitar 
15 ribu orang pelajar SMA berpotensi jadi teroris. Dan angka ini baru dari 
pelajar SMA saja.
---
Survei toleransi pelajar Indonesia yang dilakukan oleh Setara Institute pada 
2016 menyimpulkan bahwa 35,7% siswa memiliki paham intoleran yang baru dalam 
tataran pemikiran, 2,4% persen sudah menunjukkan sikap intoleran dalam tindakan 
dan perkataan, serta 0,3% berpotensi menjadi teroris.

Survei ini dilakukan atas 760 responden yang sedang menempuh pendidikan SMA 
negeri di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.
....
3 Tipe Sekolah Swasta Islam Ini Rentan Disusupi Radikalisme


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
3 Tipe Sekolah Swasta Islam Ini Rentan Disusupi Radikalisme

Sebuah penelitian dilakukan di 20 sekolah swasta Islam di Jawa Tengah untuk 
melihat upaya mereka dalam merespons...
 |

 |

 |



18 Mei, 2018 - 00:03


Ilustrasi

TEROR yang melanda negeri ini seminggu terakhir, isunya melebar ke mana-mana. 
Mulai dari revisi UU Antiterorisme, wacana kegagalan pemerintah dalam upaya 
deradikalisasi, hingga sistem pendidikan yang tak mendukung menjadi bahasan 
hangat.

Khusus dunia pendidikan, Menteri Ristek dan Dikti bahkan telah memecat dekan 
dan tiga dosen di sebuah universitas terkenal di Indonesia karena dianggap 
mengajarkan radikalisme. Jenjang sekolah dasar dan menengah juga menjadi 
sorotan.

Berikut adalah hasil penelitian yang dilakukan Agus Mutohar, kandidat PhD di 
Fakultas Pendidikan, Monash University, Australia, tentang tipe sekolah swasta 
Islam yang rentan disusupi paham radikalisme.

**

RENTETAN aksi terorisme kembali terjadi di Indonesia seminggu terakhir ini. 
Mulai dari aksi terorisme di rumah penahanan narapidana teroris di Markas 
Komando Brigade Mobil Depok Jawa Barat, serangan bom di tiga gereja di 
Surabaya, Jawa Timur Minggu lalu, dan teror bom lainnya di Markas Kepolisian 
Resor Kota Besar Surabaya.

Puluhan korban tewas dan luka-luka.

Menyikapi rentetan tindakan teror tersebut, Presiden Joko Widodo menegaskan 
bahwa pemerintah akan membasmi terorisme sampai ke akar-akarnya.

Upaya serius Presiden Jokowi tersebut patut diapresiasi. Namun, permasalahan 
terorisme sangat kompleks karena tidak ada faktor tunggal yang bisa menjelaskan 
mengapa seseorang melakukan tindakan teror.

Pentingnya sekolah untuk mencegah radikalisme

Salah satu langkah yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah 
merebaknya terorisme di Indonesia adalah menggunakan lembaga pendidikan untuk 
menyemai tumbuh kembangnya sikap toleransi sehingga dapat menghentikan masuknya 
pemikiran-pemikiran radikal.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, sekolah-sekolah di Indonesia menjadi lahan 
tumbuh suburnya paham ekstremisme.


Survei terkini yang dirilis oleh beberapa lembaga seperti Wahid Institute, 
Pusat Pengkajian Islam Masyarakat (PPIM), dan Setara Institute mengindikasikan 
terjadinya penyebaran ajaran intoleransi dan paham radikalisme di lembaga 
pendidikan di Indonesia.


Survei toleransi pelajar Indonesia yang dilakukan oleh Setara Institute pada 
2016 menyimpulkan bahwa 35,7% siswa memiliki paham intoleran yang baru dalam 
tataran pemikiran, 2,4% persen sudah menunjukkan sikap intoleran dalam tindakan 
dan perkataan, serta 0,3% berpotensi menjadi teroris.

Survei ini dilakukan atas 760 responden yang sedang menempuh pendidikan SMA 
negeri di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.

Survei dari Wahid Institute dan PPIM juga menunjukkan kecenderungan serupa yang 
mengkhawatirkan.

Karakter sekolah yang rentan

Pada 2017, saya terlibat dalam penelitian di 20 sekolah swasta Islam di Jawa 
Tengah untuk melihat upaya mereka dalam merespons paham radikal. Penelitian ini 
melibatkan akademisi dari Monash University, Australia, Universitas Islam 
Negeri Walisongo di Semarang dan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dengan 
dukungan dari Australia-Indonesia Centre.

Salah satu capaian dalam riset yang kami lakukan adalah kami berhasil 
mengidentifikasi tiga tipe sekolah yang rentan terhadap paham-paham radikal. 
Karena alasan prinsip penelitian dan kesepakatan dengan sekolah yang kami 
teliti, kami tidak akan merilis nama-nama sekolah yang kami teliti.

Tiga tipe sekolah yang rentan terhadap paham radikal dalam penelitian kami 
adalah:

1. Sekolah tertutup (closed schools)

Alih-alih menerima perubahan, ciri-ciri sekolah tertutup adalah mengajarkan 
sikap yang sempit dan cenderung menutupi ide-ide dan perkembangan dari luar.

Salah seorang kepala sekolah yang kami temui menjelaskan pentingnya menggunakan 
peradaban Islam (tsaqofah Islamiyah) sebagai benteng untuk melawan globalisasi 
Barat.

Selain membenturkan peradaban Islam dan Barat, sekolah yang mempunyai tipologi 
tertutup ini menekankan pentingnya praktik ajaran Islam versi mereka dan 
menolak versi Islam yang kebanyakan dianut oleh Muslim di Indonesia.

2. Sekolah terpisah (separated schools)

Kedua, sekolah yang berisiko menumbuhkan ajaran radikal adalah tipe sekolah 
terpisah. Sekolah jenis ini bisa dilihat dari cara mereka merekrut guru dan 
partisipasi mereka dalam kegiatan sosial keagamaan.

Sekolah terpisah sangat ketat dalam proses perekrutan guru, terutama guru agama.

Berdasarkan data yang kami dapat, sekolah dalam kategori ini hanya akan 
merekrut guru agama dari kelompok mereka. Sekolah akan menggunakan rekomendasi 
dari jejaring mereka atau merekrut alumni yang mempunyai paham Islam yang sama.


Selain itu, sekolah tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat yang 
tidak sesuai dengan paham mereka.


Sekolah jenis ini sangat berbeda dengan sekolah Islam lainnya yang menerapkan 
konsep terintegrasi (integrated schools).

Beberapa sekolah yang berafiliasi dengan organisasi Islam besar seperti 
Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah tidak mempermasalahkan latar belakang 
kelompok Islam yang berbeda.

Salah seorang kepala sekolah dari sekolah NU misalnya menyatakan bahwa di 
sekolahnya terdapat guru-guru yang berlatar belakang Muhammadiyah. 
Sekolah-sekolah ini juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan bermasyarakat, 
termasuk mengikuti kegiatan antaragama.

3. Sekolah yang mengajarkan identitas Islam murni (schools with pure Islamic 
identity)

Tipe sekolah yang ketiga bisa dilihat dari cara sekolah mengkonstruksi 
identitas Muslim. Sekolah yang berisiko menumbuhkan radikalime menjadikan Islam 
sebagai konstruksi identitas tunggal dan menolak identitas-identitas yang lain.

Hal ini berbeda dengan sekolah Islam yang lain yang cenderung mengganggap bahwa 
identitas sebagai Muslim dan identitas lainnya tidak bertentangan dengan ajaran 
Islam.

Sekolah Islam moderat biasanya tidak mempertentangkan identitas sebagai Muslim 
dan identitas sebagai warga negara Indonesia.

Ketika sebuah sekolah memunculkan identitas Muslim yang tunggal, sekolah 
tersebut menumbuhkan sikap radikal karena mereka hanya mempunyai penafsiran 
Islam tunggal sesuai dengan aliran mereka.


Kepala sekolah dari sekolah model ini biasanya menjelaskan bahwa semua siswa 
harus mengikuti semua ritual agama yang dianut di sekolah meski mereka berasal 
latar belakang organisasi Islam yang berbeda.


Sebuah pernyataan dari kepala sekolah yang kami temui misalnya mengatakan bahwa 
walau siswa berlatar belakang NU yang membaca qunut (doa ketika salat subuh), 
setelah masuk sekolah tidak boleh lagi mempraktikkan doa tersebut.

Praktik ini sangat berbeda dengan sekolah lain yang memberikan kewenangan 
kepada guru agama untuk memberikan keleluasaan siswa untuk melakukan qunut atau 
tidak.

Selain itu, identitas tunggal dan penolakan terhadap identitas-identitas lain 
cenderung memunculkan sikap "kami melawan mereka" atau "we versus them" 
sehingga memunculkan upaya pengkotak-kotakan seperti Muslim dan non-Muslim 
bahkan antar sesama Muslim yang memiliki penafsiran agama yang berbeda.

Apa yang bisa kita lakukan?

Tiga tipe sekolah di atas memfasilitasi tumbuhnya sikap intoleransi dan paham 
radikal di lembaga pendidikan yang bisa berujung pada tindakan terorisme..


Rentetan teror bom yang terjadi akhir-akhir ini bisa dijadikan momentum 
pemerintah untuk merencanakan langkah proaktif untuk mempromosikan keterbukaan, 
keberagaman, integrasi sosial, dan konstruksi identitas yang beragam di 
sekolah-sekolah di tanah air.


Kampanye toleransi yang dilakukan oleh pemerintah akhir-akhir ini seyogyanya 
bisa menjangkau lembaga-lembaga pendidikan di tanah air lewat Kementerian 
Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama.

Sekolah harus dibekali kerangka kerja dan program untuk menumbuhkan sikap 
moderat dan toleransi. Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kantor Wilayah 
Kementerian Agama di daerah juga harus mampu mengidentifikasi sekolah-sekolah 
yang rentan terhadap radikalisme dan melakukan langkah persuasif untuk mencegah 
menyebarnya radikalisme di sekolah tersebut.***

Tulisan ini sebelumnya tampil di The Conversation edisi 16 Mei 2018 dengan 
judul "Radikalisme di sekolah swasta Islam: tiga tipe sekolah yang rentan". 






  • [GELORA45] 3 Tipe Sekola... Jonathan Goeij jonathango...@yahoo.com [GELORA45]

Kirim email ke