Salah dalam pemahan Syariat Islam ataupun SALAH dalam menafsirkan bait-biat
Alquran tentu boleh-boleh saja, ... KESALAHAN yang bisa dikatakan BIADAB adalah
merenggut nyawa manusia lain yang dituduh KAFIR! Satu KESALAHAN terkutuk yang
TIDAK BISA ditoleransi oleh siapapun, ... khususnya umat Islam sendiri!
Salam-damai,
ChanCT
MUI: Pelaku Teror Salah dalam Memahami Paham Syariat Islam
FAR, CNN Indonesia | Rabu, 16/05/2018 00:34 WIB
Wakil Sekretaris KAUB MUI menyatakan pelaku teror yang mengatasnamakan agama
sesungguhnya salah dalam memahami syariat Islam dan sejarah Nabi Muhammad SAW.
(CNN Indonesia/Andry Novelino)Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Sekretaris Komisi
Kerukunan Antarumat Beragama (KAUB) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdul Moqsith
Ghazali menilai pelaku teror yang mengatasnamakan agama, khususnya Islam, salah
dalam memahami syariat Islam dan sejarah Nabi Muhammad SAW.
Moqsith menyoroti soal pemahaman para pelaku yang menganggap saat ini dalam
situasi berperang, kemudian melibatkan istri dan anak-anak untuk terlibat dalam
aksi bom bunuh diri seperti yang terjadi di Surabaya, Minggu (14/5) dan Senin
(15/5).
"Mereka (para pelaku) keliru membaca (memahami) Al-Quran dan sejarah nabi,"
kata Moqsith dalam diskusi di Rumah Pergerakan Griya Gusdur, Menteng, Jakarta
Pusat, Selasa (15/5).
Lihat juga: Anak Pelaku Teror Surabaya Alami Gangguan Psikologi Berat
Moqsith mengatakan sepanjang sejarahnya Nabi Muhammad tidak pernah sekalipun
mengajak ibu atau istrinya ikut berperang, meskipun dalam kondisi terdesak.
"Pada kasus Dita Oepriarto, Nabi tidak melibatkan orang tua dalam perang. Ini
tidak ada syariatnya. Istri nabi juga tidak dilibatkan dalam perang. Makanya
kalau melibatkan istri, itu tidak syar'i," kata Moqsith.
Selain itu, Nabi juga tidak pernah mengajarkan untuk melibatkan anak-anak dalam
peperangan. Moqsith mencontohkan sejarah hidup anak angkat Rasulullah, Usamah
bin Zaid.
Dalam perang Uhud, jumlah prajurit Nabi Muhammad tidak sebanding dengan
musuhnya. Saat itu, Usamah menawarkan diri menjadi prajurit dan ikut berperang..
"Usama bin Zaid menawarkan diri 'bagaimana kalau saya ikut berperang?'. Nabi
tidak membolehkan karena usama masih berusia 13 tahun," kata Moqsith.
Singkat cerita ketika usia Zaid menginjak dewasa atau sekitar 18 tahun, saat
itulah Nabi Muhammad mengangkatnya sebagai panglima perang. Dari cerita ini,
menurut Moqsith, perlu dipahami Nabi Muhammad sebagai junjungan Umat Muslim
tidak pernah mengizinkan anak-anak ikut terlibat dalam peperangan.
Oleh karena itu, menurut Moqsith, para pelaku Bom di Surabaya kemarin salah
memahami syariat Islam dan sejarah Nabi Muhammad yang merupakan junjungan dalam
agama Islam.
"Kasus Surabaya, kalau ini adalah (diartikan) perang dan melibatkan permepuan
dan anak-anak ini tidak syar'i," kata Moqsith.
Lihat juga: 'Ghirah' Sel Teroris Bidik Jawa Timur Sasaran Dendam
Dakwah Nilai Kebangsaan dan Toleransi
Moqsith pun mengimbau seluruh alim ulama menyampaikan dakwah yang mengandung
nilai-nilai kebangsaan dan toleransi. Hal ini sebagai langkah pencegahan atas
tumbuh dan berkembangnya bibit-bibit terorisme di Indonesia.
"(Mengantisipasi) salah satunya itu menyediakan dakwaah moderat dan yang
toleran bahwa keragaman bukan ancaman, bahwa keragaman adalah sunatullah,"
ujarnya.
Seseorang, katanya, tidak bisa memilih untuk terlahir dari keluarga dengan
latar belakang tertentu. Begitu pun dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Ia menambahkan, bagi alim ulama yang terkait dengan jaringan teroris sedianya
bukan diberikan sanksi. Namun, diajak untuk kembali memahami nilai-nilai
pancasila. Ulama tersebut perlu diberikan pemahaman bahwa Indonesia merupakan
nengara yang plural di mana hidup berbagai macam suku dan agama hidup di
dalamnya.
"Ustad terafiliasi kelompok radikal tentu tidak harus disanksi, secara langsung
diajak serta tergabung kembali dalam Pancasila dan UUD 1945. Bahwa Indonesia
bukan jawa mayoritas Islam, tapi Indonesia ini ada Bali juga Papua dan
lainnya," kata dia.
Sebelumnya, serangkaian teror bom terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Pada Minggu
(13/5) pelaku yang merupakan satu keluarga dari Dita Oepriarto melakukan
pengeboman di tiga gereja, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel
utara, GKI Diponegoro, dan GPPS Sawahan di Jalan Arjuno.
Bom juga meledak di salah satu tempat tinggal pelaku teror di Rumah Susun
Wonocolo, Kabupaten Sidoarjo. Dua anak-anak terluka dan tiga orang tewas atas
kejadian itu. Diduga kuat ledakan itu tidak sengaja terjadi saat pelaku sedang
merakit bom.
Kemudian pada Senin (14/5), Tri Murtiono bersama Istri dan tiga anaknya
melakukan serangan bom bunuh diri ke Mapolrestabes Surabaya. Satu anak Tri
selamat dari kejadian tersebut. (kid)