-------------------------BilaZeti sukses membawa pendapatan perkapita masyarakat Malaysiamencapai USD 10 ribu di 2020, Sri Mulyani baru padatahun 2042 nanti, atau 22 tahun lebih lambat dari Malaysia.------------------------------------------------ Zeti Akhtar Aziz, Ekonom Perempuan Malaysia ‘Anti-tesis’ Sri Mulyani Rabu, 16 Mei2018 ZetiAkthar Aziz Oleh: Gede Sandra PerdanaMenteri Mahathir Mohamad beberapa waktu lalu (12/5) mengumumkan suatu DewanPenasehat, Council ofElders, yang terdiri dari Taipan, Mantan Menteri Keuangan, MantanDirut Petronas, dan seorang mantan Gubernur Bank Sentral.
Mahathirmengatakan tugas dari dewan adalah mengawasi perekonomian Malaysia yang tengahberjalan agar tetap dalam koridor: memacu pertumbuhan, mengurangi utang, danbersahabat dengan investasi. Satu-satunya perempuan dalam dewan penasehattersebut adalah Dr. Zeti Akthar Aziz, sang mantan Gubernur Bank SentralMalaysia. Zetijelas bukan makroekonomis yang biasa.Ia adalah seorang mantan Gubernur BankSentral yang menjabat selama 16 tahun, sejak masa pemerintahan Mahathir yangpertama. Ketika tahun 1998, tepat pada saat Malaysia berada di tengah pusaranKrisis Keuangan Asia 1997-1998, ia menjabat sebagai pelaksana tugas (acting) Gubernur BankSentral yang juga ketua tim kebijakan capitalcontrolled, sekaligus Deputi Gubernur Bank Sentral. Zeti adalahekonom perempuan yang memimpin perekonomian Malaysia mengambil jalan yangberbeda dari doktrin IMF. Dan ia berhasil membawa Malaysia melalui krisisekonomi terburuk dalam sejarah Asia tersebut. Saatitu di tahun 1997-1998, IMF menginginkan agar negara-negara pasiennya di AsiaTenggara, seperti Indonesia dan Thailand, memberlakukan rezim kapital bebas,kurs mata uang mengambang, dan suku bunga tinggi (pengetatan moneter). Zetimalah memberlakukan hal sebaliknya di Malaysia. Ia kemudian menerapkan apa yangdisebut sebagai rezim kapital terkendali (capitalcontrolled), kurs mata uang tetap (pegged), dan suku bunga rendah. Kendalikapital hanya diberlakukan selama setahun, sementara kurs tetap diterapkanhingga tahun 2005 di Malaysia. PendukungIMF, seperti Prof. Steve Hanke dari John Hopkins University menyebut dalamsebuah artikel di majalah Forbes,“Malaysia, telah membuang jauh-jauh pelajaran (ekonomi) dari setengah abadterakhir”. Steve Hanke menyitir kata-kata dari Friedrich Hayek’s,Bapak Ekonomi Neoliberal, yang menyatakan bahwa karakterisasi dari kendalipertukaran (kapital) sebagai “langkahpasti menuju jalan totalitarianisme dan .. penindasan akhir dari segala carauntuk bebas”. TapiZeti memiliki alasan mengapa ia menolak pendekatan model IMF, yang disebutnyasebagai “ortodoks dan konservatif”, dan malah melakukan pendekatan yangbertolak belakang. Jawabannya Zeti sederhana, “untuk mencegah kehancuran (ekonomi)”.Dalam sebuah wawancara dengan majalah Wharton, Zeti menyimpulkan situasi tersebut,“Mungkin tantangannyaadalah ketika menyimpang dari pendekatan kebijakan yang ortodoks dankonvensional dalam mengatur sistem ekonomi dan keuangan, khususnya dalam suatukrisis atau ketika mengambil inisiatif yang melibatkan pemecahan landasanbaru.” PerekonomianMalaysia pun sukses melalui Krisis Keuangan Asia 1997-1998 tanpa tergoressedikit pun. Joseph Stiglitz, peraih penghargaan Nobel Ekonomi, sampai memujiZeti sebagai “suatucontoh utama dari institusi yang bagus dan seseorang yang dari dirinya seluruhdunia dapat belajar banyak hal”. Selamamenjadi Gubernur Bank Sentral (2000-2015), Zeti memainkan peran utama dalammempromosikan inklusi keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat Malaysia.Sehingga pada tahun 2020 yang tinggal dua tahun lagi, Malaysia akan masuk kekelompok negara berpendapatan tinggi (GDP Percapita di atas USD 10ribu).. Padamasanya juga, Malaysia pada tahun 2009 memiliki terobosan sebuah undang-undangbaru tentang Bank Sentral (Malaysia’sCentral Banking Act), yang memastikan setiap proses pengambilankebijakan Bank Sentral dapat lebih demokratis, transparan dan jelas sehinggamenghindarkan penyalahgunaan wewenang. Dalamundang-undang ini diatur tujuan Bank Sentral adalah “stabilitas moneter dan stabilitas keuangan yangkondusif untuk pertumbuhan yang berkelanjutan” dari perekonomianMalaysia. Istilah “pertumbuhan yang berkelanjutan” memberikan Bank Sentralkeleluasaan melakukan interpretasi stabilitas harga secara lebih luas. Di siniterlihat Zeti berbeda pendekatan dari ekonom konvensional yang hanya melulumenjaga agar inflasi rendah, tanpa mempedulikan dampaknya yang memperlambatpertumbuhan ekonomi. Daripemaparan tentang Zeti Akhtar Aziz, kita dapat menangkap perbedaan yang kontrasantara dirinya dengan sesama ekonom perempuan dari Indonesia, Sri Mulyani. Zetilebih merupakan anti-tesis Sri Mulyani. Bila Zeti menolak pendekatan IMFterhadap perekonomian Malaysia, Sri Mulyani sejak dahulu hingga kini masihbangga sebagai promotor IMF di Indonesia. BilaZeti dalam 18 tahun kiprahnya (2 tahun plt Gubernur Bank Sentral & 16 tahunGubernur Bank Sentral) sukses membawa pendapatan perkapita masyarakat Malaysiamencapai USD 10 ribu di 2020, setara negara maju, Sri Mulyani dalam 8 tahunkiprahnya (5 tahun Menkeu era SBY & 2 tahun Menkeu era Jokowi) dapatmembawa pendapatan perkapita masyarakat Indonesia ke USD 10 ribu baru padatahun 2042 nanti, atau 22 tahun lebih lambat dari Malaysia. BilaZeti berhasil membuat terobosan inklusi finansial dan UU Reformasi Bank Sentraldi Malaysia, Reformasi yang dilakukan Sri Mulyani di Kementerian KeuanganIndonesia, yang digembar-gemborkan dahulu sejak zaman SBY, telah gagal karenakini pegawai Kemenkeu tetap saja korup.** Editor: TriWibowo Santoso
