https://www.merdeka.com/peristiwa/membedah-sel-terorisme-jad-di-jawa-timur.html
Membedah sel terorisme JAD di Jawa Timur

Sabtu, 19 Mei 2018 07:00 Reporter : brur
<https://www.merdeka.com/reporter/brur/>


Bom di Mapolres Surabaya. ©Istimewa

*Merdeka.com - *Dalam kurun waktu lima hari, Densus 88 Antiteror Mabes
Polri bergerak melakukan penangkapan para terduga teroris di Jawa Timur.
Mulai dari *Surabaya* <http://www.merdeka.com/tag/s/surabaya/>, Sidoarjo,
*Malang* <http://malang.merdeka.com/>, Probolinggo sampai Mojokerto.

BERITA TERKAIT

   -

   MTA pusat mengecam aksi terorisme yang terjadi di Indonesia
   
<https://www.merdeka.com/peristiwa/mta-pusat-mengecam-aksi-terorisme-yang-terjadi-di-indonesia.html>
   -

   Buntut teror di Surabaya, Densus geledah 2 rumah di Tasikmalaya
   
<https://www.merdeka.com/peristiwa/buntut-teror-di-surabaya-densus-geledah-2-rumah-di-tasikmalaya.html>
   -

   Wiranto: Yang disalahkan teroris, jangan malah aparat!
   
<https://www.merdeka.com/peristiwa/wiranto-yang-disalahkan-teroris-jangan-malah-aparat.html>

Penangkapan ini bisa dikatakan terbesar. Selama lima hari dari Minggu,
tanggal 13 hingga Kamis tanggal 17, terduga teroris yang ditangkap
diperkirakan lebih dari 15.

Para terduga teroris ini dicokok setelah insiden bom bunuh diri di gereja
Santa Maria Tak Bercela (SMTB), GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta,
Minggu (13/5) pagi.

Pelakunya masih satu keluarga, yakni DT melakukan bom bunuh diri di Gereja
Pantekosta. Kemudian istrinya melakukan bom bunuh diri bersama dua anak
perempuannya di GKI Diponogoro. Sedangkan anak lakinya, melakukan bom bunuh
diri di SMTB.

Insiden tersebut langsung menarik perhatian Kapolri Jenderal *Tito
Karnavian*
<https://www.merdeka.com/peristiwa/keluarga-anggota-polri-korban-meninggal-kerusuhan-mako-brimob-dihadiahi-rumah.html>,
Kepala BIN Budi Gunawan, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Bahkan
Presiden *Joko Widodo*
<https://www.merdeka.com/politik/demokrat-sebut-kritik-jokowi-ke-sby-tak-pengaruhi-koalisi-pilpres-2019.html>
(Jokowi) juga datang meninjau lokasi ledakan bom.

Jokowi menyampaikan, teror bom di tiga titik lokasi Surabaya itu dianggap
di luar batas kemanusiaan. Bahkan juga dikatakan biadab. Sebab bom bunuh
diri menyebabkan orang tidak berdosa menjadi korban.

"Teror bom di Surabaya dilakukan terorisme ini sungguh biadab dan di luar
batas kemanusiaan," kata *Jokowi*
<https://www.merdeka.com/peristiwa/membedah-sel-terorisme-jad-di-jawa-timur..html>,
Minggu (13/5).

Tidak berselang lama, malamnya terjadi ledakan bom di Rusunawa, Wonocolo
Sepanjang, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Insiden
tersebut menewaskan seorang pelaku teror bom diketahui berinisial AT, istri
dan anaknya.

Baru keesokan harinya, Senin (14/5) sekitar pukul 09.10 WIB, bom bunuh diri
terjadi lagi di kantor polisi, Mapolrestabes Surabaya. Ledakan bom ini
menewaskan tersangka TM, istrinya dan kedua anak laki-laki.

Sedangkan anak perempuannya selamat, setelah dievakuasi Kasat Narkoba
Polrestabes Surabaya AKBP Rony Faisal.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan para pelaku masih satu
jaringan. "Ketiga-tiganya masih satu bagian kelompok jaringan JAD (Jamaah
Ansharut Daullah) wilayah Kota Surabaya," kata *Tito Karnavian*
<https://www.merdeka.com/peristiwa/ini-penyebab-anak-bomber-mapolrestabes-surabaya-selamat-dari-maut.html>
..

Dari rangkaian itulah, Densus 88 terus bergerak melakukan penangkapan
terduga teroris yang menjadi kelompok jaringan JAD. Hingga kini
diperkirakan sudah lebih dari 15 teroris yang ditangkap.

Baik itu terduga teroris ditangkap dalam kondisi tewas maupun hidup.

Lalu pergerakan JAD ini sebenarnya seperti apa dan bagaimana? Apakah ada
kaitan dengan kelompok teroris Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), NII (Negara
Islam Indonesia), Majelis Islam Tauhid atau lebih dikenal dengan sebutan
Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Kemudian Mujahidin Indonesia Barat (MIB), termasuk Jamaah Islamiyah (JI).
Lalu apa hubungan dari semua kelompok teroris yang ada di Indonesia ini
dengan ISIS (Islamic State Irak and Syria) Indonesia?.

Penelusuran merdeka.com, kelompok teroris yang pertama dikenal di kalangan
mereka ini adalah JI. Ini setelah tim antiteror (sebelum ganti nama menjadi
Densus 88) bentukan Mabes Polri melakukan perburuan terhadap pelaku bom
bunuh diri di Bali tahun 2002.

Kemudian, berlanjut bom bunuh diri jilid II, yakni bom Bali di tahun 2005.
Dari insiden ini, tim antiteror memburu dalang di balik dua aksi tersebut.

Akhirnya, jaringan terorisme mulai terungkap. Seperti Imam Samudra, Amrozi,
Ali Imron, Noordin M Top, Dr. Azhari, dan beberapa kelompok teroris lain.

Dari penangkapan kelompok JI ini, sasaran mereka adalah orang asing. Yang
artinya warga negara asing berinvestasi atau tinggal di Indonesia.

Untuk JI di Asia ada nama Dulmatin, Umar Patek dan Abu Thalib. Ketiganya
bisa dikatakan sebagai amir atau pemimpin JI Asia. Sebab, ketiga sama-sama
mempunyai keahlian, mulai dari berperang, merakit bom, melakukan kaderisasi
dan perekrutan.

Lalu, apa hubungannya dengan kelompok teroris yang sekarang ini dikenal
dengan JAD?

Dari penelusuran merdeka.com, sangat berbeda sekali. Kalau JAD ini lebih
banyak ke permasalahan ideologi, dengan berperang melawan rakyat dan
masyarakat juga budaya di negaranya sendiri, sedangkan JI sendiri berperang
melawan orang asing atau dalam bahasa mereka sebut kafir.

Menurut sumber merdeka.com di internal JI, JAD ini muncul ketika para
pemimpin JI sudah tidak ada yang bisa dijadikan panutan. Hal itu
dimanfaatkan dari kelompok lain yang berseberangan dengan JI.

Akhirnya muncul kelompok teroris seperti NII, MIT, JAT dan JAD yang
berbaiat ke ISIS. Kelompok teroris ini lebih banyak melakukan cuci otak ke
masyarakat supaya bisa bergabung untuk berperang. Salah satu yang menjadi
sasaran adalah aparat keamanan.

"JI itu tidak kenal ISIS, tidak tahu ISIS. Tapi tahu siapa orang di balik
terbentuknya ISIS. Berbeda dengan ISIS. Kalau ISIS di Indonesia ini adalah
NII, MIT, JAT dan JAD," ujar sumber tersebut.

"ISIS Indonesia ini tidak tahu seperti apa JI yang sebenarnya. Kalau
dipertemukan akan terjadi perdebatan, termasuk bisa akan berperang. Karena
JI sendiri sudah tidak ada, karena mulai sadar. Bisa-bisa akan beperang,"
tambah dia.

"Apalagi, dalam afiliasinya, JI ini organisasi tertinggi kalau di Indonesia
hingga di Asia dari pada mereka (kelompok ISIS Indonesia). Makanya bagi
kami, ISIS itu tidak ada dan tidak manusiawi," kata sumber tadi lagi.

Menurutnya, teror bom yang terjadi di Indonesia setelah banyak kombatan
(sebutan pelaku bom bunuh diri) dari JI tidak ada, banyak dimanfaatkan
kelompok lain. Mereka mengatasnamakan aksi-aksi teror dilakukan oleh
sempalan JI. Padahal, lanjut sumber tersebut, tidak ada kaitannya dengan
kelompok JI. Walaupun para pemimpin JI dan ISIS Indonesia dulunya sama-sama
pernah melakukan kamp berlatih di Poso, Mindanao Filiphina dan Afghanistan.

"Kalau JAD ini adalah afiliasinya dari NII, MIT, JAT. Lebih banyak
melakukan cuci otak, mengajak masyarakat untuk bergabung, untuk melakukan
jihad," katanya.

Terpisah, sumber merdeka.com di JAD menuturkan, orang yang sudah terkena
cuci otak diajak untuk bergabung berperang di Suriah.

Di sana, mereka mendapat pelatihan berperang, baik menggunakan senjata
maupun tangan kosong. Kemudian merakit bom hingga cara meledakan. Usai dari
Suriah, orang yang otaknya sudah dicuci oleh kelompok ISIS kemudian juga
mendapatkan pelatihan di kamp.

Jika sudah mempunyai keahlian, baru mereka diminta untuk melakukan
perekrutan dan memberikan pendanaan untuk kebutuhan.

"Rata-rata yang lebih banyak dicuci otak ini terpelajar, mempunyai
keahlian. Terutama di bidang IT," katanya.

Sumber tadi mencontohkan, seperti pelaku terduga teroris bom bunuh diri di
gereja Surabaya. Pelakunya yakni DT mempunyai keahlian dalam bidang IT,
kemudian terduga teroris yang ditangkap di gedung Graha Pena juga mempunyai
keahlian dalam bidang IT.

Selanjutnya pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya, dan perakit
bom di Rusunawa, Woncolo Sepanjang juga mempunyai keahlian IT.

Alasan dari kelompok JAD, karena dengan keahlian IT, maka akan bisa
melakukan pendeteksian, selangkah lebih maju untuk berperang. Di samping
itu, untuk memanfaatkan teknologi di era modern.

"Kalau sudah dilakukan cuci otak, ada yang diberi keahlian cara merakit
bom, dengan melihat tutorial di media sosial, untuk yang instan. Kalau yang
belajar tidak modern, maka akan diajarkan di dalam kamp pelatihan," ucapnya..

Tidak hanya itu, dengan merektrut seorang IT, nantinya saat orang yang
sudah menjadi 'pengantin' (bom bunuh diri) beraksi sesuai dengan sasaran,
akan diambil gambarnya oleh orang yang sudah ditunjuk, turun di lokasi
dekat lokasi kejadian setelah itu disebarkan ke media sosial.

"Iya seperti membuat laporan gitu. Apa yang dilakukan pengantin. Dengan bom
bunuh diri di Indonesia itu berhasil," ujar dia.

Menurut dia, hingga kini anggota JAD di Jawa Timur banyak. Jumlahnya
diperkirakan bisa lebih dari puluhan hingga ratusan. Perkiraan ini mengacu
pada banyak terduga teroris yang ditangkap usai peristiwa bom bunuh diri.

"Yang paling banyak itu di Surabaya. Kebetulan, di Jawa Timur ini dekat
dengan rutan atau lapas berpenghuni para narapidana teroris. Jadi
keberadaan napi teroris di dalam rutan ini dimanfaatkan untuk menjalin
hubungan dengan para auliya," tuturnya.

"Makanya apa yang dilakukan Densus itu bagus. Bergerak cepat, melakukan
penangkapan, agar tidak melakukan bom bunuh diri di daerah," katanya.

Seperti di Probolinggo, teroris yang ditangkap Densus 88 ini mempunyai
peran dalam memetakan situasi yang akan menjadi titik sasaran bom bunuh
diri. Serta bagian logistik juga memberikan informasi ke anggota lain.

"Tapi, rata-rata yang ditangkap Densus 88 ini kalau dalam bahasa kami
pengantin. Para pengantin ini dibawa DT. Karena DT ini auliya yang
dipercaya, meski bukan sebagai amir atau ketua JAD," ujar. *[cob]*
Baca Juga:

Pintu Tol Sidoarjo dibuka, polisi buru pembuang benda diduga bahan peledak
<http://www.merdeka.com/peristiwa/pintu-tol-sidoarjo-dibuka-polisi-buru-pembuang-benda-diduga-bahan-peledak.html>

Tiga jenazah terduga teroris Rusunawa Sidoarjo diserahkan ke keluarga
<http://www.merdeka.com/peristiwa/tiga-jenazah-terduga-teroris-rusunawa-sidoarjo-diserahkan-ke-keluarga.html>

Jihandak cek benda mencurigakan di pintu Tol Sidoarjo, terdengar ledakan
<http://www.merdeka.com/peristiwa/jihandak-cek-benda-mencurigakan-di-pintu-tol-sidoarjo-terdengar-ledakan.html>

MTA pusat mengecam aksi terorisme yang terjadi di Indonesia
<http://www.merdeka.com/peristiwa/mta-pusat-mengecam-aksi-terorisme-yang-terjadi-di-indonesia.html>

Cerita pilu keluarga relakan kepergian 2 bocah korban bom gereja di Surabaya
<http://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-pilu-keluarga-relakan-kepergian-2-bocah-korban-bom-gereja-di-surabaya.html>

Kirim email ke