DI BALIK PENGIBARAN BENDERA ISRAEL DI PAPUA: KRISTEN EVANGELIS, ISRAEL, DAN 
PAPUA https://mojok.co/mds/esai/pengibaran-bendera-israel-di-papua/ MADE 
SUPRIATMA https://mojok.co/penulis/mds/ 19 MEI 2018
 ESAI https://mojok.co/esai/ 12


 
 MOJOK.CO – Di Papua, orang-orang mengibarkan bendera Israel? Lho, ada apa ini?
 Tidak terlalu sering apa yang terjadi di Papua menarik perhatian Jakarta. 
Salah satunya adalah kejadian beberapa hari lalu. Dalam video yang tersebar 
luas, ada gambar orang-orang Papua mengibar-ngibarkan bendera Israel.
 Aksi pengibaran bendera Israel itu memang terjadi. Itu dilakukan pada acara 
Kebaktian Budaya Bangsa ke-12 di Gedung Olahraga (GOR) Waringin Kotaraja 
Jayapura beberapa waktu lalu. Bahkan di beberapa tempat di Jayapura, bendera 
Israel dikibarkan terus-menerus selama beberapa tahun belakangan ini.
 Isu ini agak tenggelam karena serangan teroris. Jika tidak, tentu dia akan 
jadi halaman depan dan pusat perbincangan politik kita. Sekalipun demikian, 
suara-suara “prihatin” dari politisi Jakarta dan beberapa kelompok toh cukup 
deras muncul ke permukaan.
 Di media sosial, kelompok-kelompok oposisi mulai menyerang pemerintah yang 
membiarkan itu terjadi. Beberapa mempertanyakan mengapa bendera HTI dilarang 
tapi bendera Israel boleh dikibarkan. Juga mengapa bendera hitam yang berisikan 
kalimat tauhid dituding bertentangan dengan Pancasila.
 Politisi PKS yang juga Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid tidak lupa mengecam, 
“Dunia Internasional kecam israel yg menteror warga Palestina (dg bunuh lagi 
puluhan&lukai ratusan). Eh di Papua, sebagian WNI malah konfoi kibarkan bendera 
teroris israel. Polisi kita sedang jadi target teroris,mestinya laku kibarkn 
bendera teroris israel harusnya tak dibiarkn.,” demikian tulisnya di Twitter.
 Sementara aparat keamanan di Papua sendiri tampaknya tidak terlalu 
mempersoalkan pengibaran itu. Acara di GOR Waringin serta konvoi kecil yang 
mengibarkan bendera Israel dijaga aparat kepolisian dan tentara. Acara itu 
diselenggarakan oleh komunitas Sion Kids.
 Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar juga tidak menampik keberadaan konvoi dan 
acara itu. Dia mengatakan bahwa acara itu adalah peringatan budaya dan sudah 
menjadi tradisi. Dia menampik ada kepentingan politik di balik itu.
 Isu ini menjadi berpilin sedemikian rupa. Sekalipun komunitas Sion Kids 
mengatakan bahwa gerakan mereka bersifat rohaniah dan non-politis, sulit untuk 
mengatakan bahwa mereka tidak sedang memegang obor politik.
 Sebagian orang Papua sendiri tidak nyaman dengan kecaman yang dilontarkan 
orang Indonesia. Mengapa orang boleh mengibarkan bendera Palestina tetapi tidak 
bendera Israel? Demikian pertanyaan mereka.
 Politisi Papua, Natalius Pigai, bahkan menulis catatan panjang di laman 
Facebooknya. Pigai mengatakan bahwa lambang Bintang Daud yang ada pada bendera 
itu tidak semata bendera Israel. Dia menulis,
 “[P]engibaran Bendera Israel di Papua tidak boleh hanya dilihat dari sudut 
pandang politik terkait konflik Israel dan Palestina tetapi juga harus dilihat 
dari perspektif Kristen yaitu bendera Israel dalam konteks bintang Daud. 
Pemerintah dan Kepolisian tidak bisa melarang lambang tauhid umat Kristen yang 
tertulis dalam kita suci Alkitab, karena itu sama saja dengan melarang ajaran 
agama yang diyakini.”
 Pigai mengatakan bahwa pengibaran bendera Israel itu harus dilihat dalam dua 
perspektif. “[Y]aitu lambang Bintang Daud sebagai Bendera Israel dan Lambang 
Bintang Daud sebagai lambang bangsa atau Bani Israel. .. Bagi orang Papua 
pengikut Yesus Kristus memahami Lambang Bintang Daud dalam perspektif yang 
kedua yaitu lambang Bintang Daud Sebagai Simbol Bani Israel.”
 Baca juga:  Asal Jangan Baper, Semua Aliran Islam Oke Saja 
https://mojok.co/edi/esai/asal-jangan-baper-semua-aliran-islam-oke-saja/
 Di dalam komunitas Kristen, khususnya di kalangan Evangelis, pandangan ini 
sesungguhnya tidak terlalu aneh. Beberapa komunitas Kristen akan menyodorkan 
segepok ayat kitab suci yang akan memberikan justtifikasi atas lambang Bintang 
Daud ini. Hanya saja, dalam perspektif sejarah, ada beberapa masalah.
 Bendera Israel itu sesungguhnya bukan ciptaan kitab suci. Dia adalah produk 
politik. Bendera itu disahkan oleh parlemen Israel beberapa bulan sesudah 
kemerdekaan. Penggunaan Bintang Daud sendiri serta warna putih biru itu baru 
dilakukan pada tahun 1850-an seiring dengan tumbuhnya gerakan Zionisme (paling 
gampang lihat saja Wikipedia). Gerakan politik ini mengadopsi simbol-simbol 
religi agama Yahudi untuk melegitimasi gerakan mereka.
 Kemudian muncul soal lain yang tidak banyak dimengerti bahkan di kalangan 
mereka yang memeluk kekristenan sekalipun. Ada sejarah panjang pendirian negara 
Israel yang tidak ada hubungannya dengan kekristenan. Pembentukan Israel 
setelah Perang Dunia II dipicu oleh pembantaian 6 juta orang Yahudi oleh Hitler 
dengan Nazi-nya di Jerman. Ini adalah juga soal politik. Dan Israel diciptakan 
sebagai negara yang eksklusif Yahudi. Mereka mencaplok dan menggusur 
tanah-tanah orang Palestina—termasuk di dalamnya tanah-tanah suci orang Kristen 
juga.
 Namun, di dalam komunitas Kristen ada denominasi-denominasi Kristen yang 
sangat fanatik pro-Israel tapi anti-semit. Lho kok bisa? Aneh bukan? Bagaimana 
logikanya? Simpan dulu logika Anda baik-baik. Anda sedang berhadapan dengan 
kepercayaan di sini.
 Sebagian publik Amerika marah-marah ketika pendeta Robert Jeffress dari Gereja 
Southern Baptist memberi doa pembukaan pada peresmian Kedubes AS di Yerusalem, 
dan pendeta John Hagee, pendiri Christians United for Israel, memberi berkat 
penutup (benediction prayer).
 Kedua pendeta Evangelis ini sangat kontroversial. Robert Jefress pernah 
mengatakan bahwa orang Yahudi tidak akan bisa diselamatkan (kata lain dari: 
tidak bisa masuk surga) dan hanya mereka yang percaya pada Yesus Kristus yang 
bisa “selamat”. Jeffres juga mengatakan bahwa Islam dan Mormon “is wrong. It is 
a heresy from the pit of hell.” Biasanya, kaum Evangelis tidak pernah lupa 
mengikutkan Katolik satu napas dengan Islam dan Mormon.
 Ada tambahan lagi. “Not only do religions like Mormonism, Islam, Judaism, 
Hinduism — not only do they lead people away from the true God, they lead 
people to an eternity of separation from God in hell,” demikian kata Jeffress. 
“Hell is going to be filled with good religious people who have rejected the 
truth of Christ.” Neraka akan diisi oleh orang-orang baik yang taat beragama, 
tapi menolak Kristus yang benar.
 Baca juga:  Agama yang Tak Lagi Ampuh untuk Mengusir Setan 
https://mojok.co/agm/esai/agama-yang-tak-lagi-ampuh-untuk-mengusir-setan/
 Lain lagi dengan John Hagee. Dia pernah mengatakan bahwa badai dahsyat Katrina 
yang melanda kota New Orleans adalah akibat dari dosa penduduk kota itu. Kita 
di Indonesia tidak terlalu aneh dengan pikiran seperti ini, bukan? Sering kita 
dengar dari pendakwah-pendakwah negeri ini. Sama seperti Jeffress, dia juga 
sangat anti pada Islam, Mormon, Katolik (“gereja murtad” dan “the great whore”, 
katanya). Namun, yang paling kontroversial adalah Tuhan mengirim Hitler agar 
bangsa Yahudi menemukan Tanah Terjanjikan.
 Golongan Kristen Evangelis punya kecintaan terhadap negara Israel. Untuk 
mereka, Israel adalah sebuah pertanda bahwa kedatangan Yesus Kristus ke dunia 
untuk kedua kalinya sudah dekat. Mereka mendukung pendirian negara Israel apa 
pun harganya. Dan anehnya, Israel sendiri tidak terlalu peduli dengan 
kekristenan karena mereka adalah negara Yahudi, yang secara formal negara 
sekuler, tetapi kaum Yahudi agamis-Kanan semakin memperoleh pengaruh.
 Ketidakpedulian orang Israel itu tidak terlalu berpengaruh pada kaum 
Evangelis. Untuk mereka, yang penting negara Israel ada. Mereka sangat yakin, 
ketika kiamat datang, Mesias (Yesus Kristus sendiri) akan datang bersama Musa 
dan Elias. Ketika itulah Musa dan Elias akan berbicara kepada orang-orang 
Yahudi dan meyakinkan mereka akan Yesus Kristus, sang Mesias, Juru Selamat Yang 
Benar. Hanya dalam seminggu, begitu John Hagee pernah bilang, orang-orang 
Yahudi akan percaya kepada Kristus dan akan diselamatkan.
 Saya tidak tahu apakah gerakan Sion Kids di Papua berhubungan langsung dengan 
gerakan-gerakan Evangelis ini. Akan tetapi, tidak terlalu sulit mengindra 
kesamaan cara pandang mereka. Gerakan pro-Israel seperti ini tidak hanya tumbuh 
di Amerika. Dia juga subur berkembang di berbagai benua, khususnya Afrika.
 Saya mengapresiasi aparat keamanan, polisi dan tentara, di Papua yang tidak 
mengambil tindakan apa pun terhadap kelompok ini sekalipun mereka mendapat 
tekanan dari berbagai kelompok di luar Papua. Tapi, saya mengerti sekali 
sebabnya. Mereka mengibarkan bendera Israel. Kalau saja mereka mengibarkan 
bendera Bintang Kejora, tentu lain akibatnya. Bintang Daud tidak akan 
memerdekakan bangsa Papua. Dan dengan Bintang Daud, diharapkan orang Papua 
melupakan Bintang Kejora.
 Akan tetapi, mereka mengerti Papua akan tersenyum dengan anggapan ini (inilah 
pentingnya belajar antropologi). Israel sangat populer di Papua. Banyak orang 
Papua percaya bahwa kemerdekaan bangsa Papua akan datang dengan bantuan negara 
Israel.
 Mengapa? Mereka percaya bahwa bangsa Papua adalah salah satu dari sepuluh suku 
bangsa Israel yang hilang. Sebenarnya keyakinan seperti itu tidak hanya ada di 
Papua, tapi juga di Nigeria, Ethiopia, dan banyak suku dan bangsa Afrika yang 
Kristennya kuat. Juga di Amerika Latin atau bahkan di Amerika Serikat di mana 
kemudian orang membentuk “suku” sendiri.
 Mumet, kan?
 

Kirim email ke