Suharto, suara dari Timur: antara 'diktator sukses' dan 'penindas kejam' 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43513185 22 Mei 2018

 Bagikan artikel ini dengan Facebook 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43513185#  Bagikan artikel ini dengan 
Twitter http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43513185#  Bagikan artikel ini 
dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43513185#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Findonesia-43513185
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43513185#share-tools




 
 Hak atas fotoJOHN GIBSON/AFP/GETTY IMAGESImage captionDua puluh tahun pasca 
reformasi, warga Timor Leste dan Papua masih ingat apa yang dilakukan Suharto 
ketika berkuasa Ribuan jiwa menjadi korban di Timor Leste dan Papua selama 
Suharto berkuasa. Kekerasan dan penindasan tak terlupakan -namun ada pula yang 
mengenang sisi positifnya, yang bukan sekadar pembangunan.
 Begitu banyak yang sudah terjadi sejak dua puluh tahun lalu, ketika gelombang 
reformasi yang dipelopori mahasiswa dan pra pegiat demokrasi menjatuhkan 
Soeharto dari 32 tahun kekuasaan yang sebagian besar dijalankannya dengan 
tangan besi.
 Menoleh ke belakang, orang memandang Soeharto dengan cara yang berbeda. 
Sebagian menganggapnya sebagai koruptor dan penindas yang seharusnya diadili 
sebelum meninggal. Namun ternyata banyak juga yang memandang Suharto dengan 
hormat dan menganggapnya sebagai tokoh yang berjasa.
 Timor Leste dan Papua adalah dua kawasan yang akan selalu melihat Suharto 
dengan pandangan khusus.
 Jose Ramos Horta: Generasi kami harus mundur dari politik sesudah pemilu ini 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-43484768 Hari-hari jelang Reformasi, 20 
tahun lalu, dalam gambar dan catatan 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44192970 Reformasi 20 tahun lalu dan 
sejumlah langkah mundur demokrasi Indonesia 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44192835 Di Timor Leste, Suharto akan 
selalu dikenang sebagai tokoh yang pada tahun 1975 mengambil keputusan untuk 
mengerahkan tentara Indonesia meintasi perbatasan. Dan menduduki negeri itu, 
menyatukannya dengan Indonesia dengan kemasan 'integrasi' melalui Deklarasi 
Balibo.
 Pemerintah Soeharto pun menjalankan apa yang dibanggakan sebagai pembangunan 
besar-besaran di berbagai bidang di sana, namun sebagian dengan jalan 
kekerasan. Sebelum akhirnya Timor Timur merdeka melalui referedum akhir tahun 
1999, dan menjadi Timor Leste.
 Sementara di Papua, Suharto dikenang dengan kebijakan tangan besinya dalam 
memadamkan gerakan kemerdekaan.
 Timor Leste: Antara pembangunan dan penindasan Siapa nyana, ada juga 
orang-orang, bahkan tokoh-tokoh penting dari wilayah-wilayah itu yang melihat 
sisi baik Soeharto.
 Misalnya Jose Ramos Horta, pemenang Nobel perdamaian dan mantan presiden Timor 
Leste, yang kendati menyebut bahwa Suharto adalah seorang diktator, namun 
menurutnya Soeharto merupakan jenis yang berbeda.
 "Suharto bukan tipikal diktator lama jaman dulu seperti Salazar di Portugal 
atau diktator negara-negara Amerika Latin," kata Ramos Horta, yang sekarang 
menjabat sebagai Menteri Khusus Urusan Keamanan Nasional.
Hak atas fotoGING GINANJAR / BBC INDONESIAImage captionJose Ramos Horta di 
rumahnya di Dili: banyak jatuh korban semasa pemerintahannya, tetapi Soeharto 
harus dilihat secara seimbang. Menurut dia, Suharto adalah diktator yang sukses 
mengantarkan Indonesia menjadi negara dengan perekonomian yang menjanjikan. 
"Suharto lebih mirip diktator di Korea Selatan," katanya kepada Ging Ginanjar 
dari BBC Indonesia, dalam perbincangan di rumahnya di Dili.
 Horta menambahkan, meski banyak jatuh korban semasa pemerintahannya, tetapi 
Soeharto harus dilihat secara seimbang.
 Salah satu yang dicatat Ramos Horta adalah, pemerintahan Suharto mengirim 
begitu banyak mahasiswa untuk menimba ilmu di luar negeri. "Diktator lain tidak 
akan mengirim para mahasiswanya ke luar negeri," kata dia.
 Perkosaaan Mei 1998 'tak pernah terungkap, tak pernah dituntaskan' 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-44134808 Di mana Anda ketika kerusuhan Mei 
1998? 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150511_trensosial_mei_1998_dimana_anda
 Tragedi Mei 1998 : Kenangan dua ibu yang kehilangan anaknya 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44069438 Menurut Horta, selain gerakan 
demokrasi warga sipil Indonesia yang kuat yang berpuncak pada Mei 1998, 
berbagai faktor seperti korupsi dan kesalahan pengelolaan ekonomi seiring 
dengan legitimasinya yang menurun, berkombinasi menjadi faktor kejatuhan 
Soeharto.
 "Andai saja dia bersedia mempersingkat kekuasaannya dengan mundur lebih awal, 
dia bisa menjadi Bapak Modernisasi Indonesia," kata Horta.
 "Tapi diktator ya memang selalu seperti itu," tambah dia.
 Di lapisan lain Timor Leste, sejumlah orang mengenang Soeharto dengan cara 
berbeda.
 Misalnya Alexander Maya, seorang petugas di sebuah kantor di Dili, yang pernah 
menjadi korban kekerasan.
 "Saya dipukuli dan ditendang dan dissiksa oleh milisi di Elmera waktu itu. 
Alasannya dikarang-karang," kata Alex.
Hak atas fotoBBC INDONESIA/GINGImage captionAlexander Maya menjadi salah satu 
korban kekerasan di jaman pemerintahan Suharto di Timor Timur Ketika itu, 
katanya, sekelompok milisi Aitarak memasuki desanya mencari pelaku yang 
menabrak anak dari salah satu anggota milisi. Alex tidak tahu menahu namun dia 
diseret ke jalanan bersama sejumlah warga lain.
 "Kata-kata mereka waktu itu 'Kalian itu pro kemerdekaan. Kalau macam-macam, 
kami bisa pukul kalian'," ujar Alex yang kini berusia 49 tahun, mengenang 
kejadian tersebut.
 "Itu Pak Soeharto yang mengirim tentara dan membuat milisi-milisi ada di Timor 
Leste waktu itu," katanya.
 Alex adalah satu dari ratusan ribu korban pendudukan Indonesia di Timor Leste 
di bawah Soeharto.
Hak atas fotoAFPImage captionWarga Timor Leste masih menilai Suharto sebagai 
diktator dan penindas Berbagai kasus kekerasan hingga pelanggaran HAM berat 
terjadi di Timor Timur -saat menjadi provinsi ke 27 Indonesia 1975-1999, selama 
pemerintahan Suharto.
 Laporan Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) mencatat 
terjadinya pembunuhan, penyiksaan, penghilangan paksa, pemerkosaan atau 
kekerasan berbasis gender, dan pemindahan paksa.
 Dalam laporan CAVR disebutkan sedikitnya 102 ribu orang Timor meninggal. Dari 
jumlah itu, ada lebih dari 18 ribu orang yang dibunuh atau hilang, sementara 84 
ribu orang meninggal akibat kelaparan dan sakit parah.
 Kerusuhan Mei 1998: "Apa salah kami sampai (diancam) mau dibakar dan dibunuh?" 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43940188 Kisah traumatis di balik 
kerusuhan Mei 1998 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150513_trensosial_trauma_mei1998
 Mengapa 'merindukan' sosok Suharto? 
http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2013/11/131125_lapsus_suharto_baju_dan_museum
 Beberapa kasus yang dikenal luas dan menelan banyak korban antara lain 
penembakan di Santa Cruz, Dili pada 1991, yang membuat mata dunia terbuka. Dan 
kekerasan-kekerasan pasca jejak pendapat 1999 setelah para milisi mengetahui 
bahwa hasil referendum dimenangkan oleh pendukung kemerdekaan.
 Virgilio da Silva Guterrez adalah salah satu korban lain dari tindakan 
sewenang-wenang aparat keamanan. Ia ditangkap dan kemudian dipenjara karena 
terlibat demonstrasi di Jakarta menuntut pengusutan kasus penembakan Santa Cruz 
1991.
Hak atas fotoGING GINANJAR / BBC INDONESIAImage captionVirgilio da Silva 
Guterrez pernah dipenjara bertahun-tahun di masa Soeharto. Virgilio tak 
menyisakan keraguan sedikit pun tentang Suharto.
 "Rejim Suharto yang menginvasi dan menindas kami selama 24 tahun. Bagi saya, 
Suharto pada saat itu adalah musuh besar kami: dialah yang menghambat 
kemerdekaan kami," kata Virgilio, 47 tahun.
 Hal yang sama diungkapkan warga Timor Leste lainnya, Rosa Marcal. "Dia adalah 
penjahat, bukan orang baik. Dia mengirim tentara banyak sekali untuk melawan 
rakyat Timor Leste," kata ibu berusia 64 tahun itu.
 Rosa adalah seorang guru yang mengalami kekerasan tentara karena dituduh 
memihak Fretilin, kelompok utama gerakan kemerdekaan Timor Leste waktu itu.
Hak atas fotoGING GINANJAR / BBC INDONESIAImage captionRosa Marcal: "Soeharto 
adalah penjahat, bukan orang baik. Dia mengirim tentara banyak sekali untuk 
melawan rakyat Timor Leste," Adapun Mericio Alkara, mantan aktivis mahasiswa 
1998 asal Timor Leste, mengakui Soeharto berusaha melakukan pembangunan ekonomi 
dan infrastruktur di Timor Timur waktu itu.
 "Kesuksesan kecil pada pembangunan fisik tidak bisa dibandingkan dengan 
kerusakan kemanusiaan, mental, dan lain sebagainya yang diderita rakyat Timor," 
kata Mericio.
 Bagi Mericio, berbagai kekerasan yang terjadi di Timor Leste waktu itu bagian 
dari kebiajakan Suharto sebagai presiden. "Dia adalah sumber persoalan yang 
terjadi di mana-mana," kata Mericio yang juga lulusan Universitas Indonesia ini.
 Papua: Soeharto adalah momok Papua adalah wilayah lain di Timur yang memandang 
Soeharto tidak dengan kenangan manis. Soeharto pertama-tama adalah pemimpin 
Komando Mandala dalam Operasi Trikora, sebuah operasi militer yang dilancarkan 
pada tahun 1962 atas perintah Presiden Soekarno pada watu itu, untuk menyatuan 
Papua dengan Indonesia.
 Koordinator Monitoring dan Investigasi Elsham Papua, Daniel Randongkir 
mengatakan, salah satu peninggalan Suharto yang membekaskan horor bagi rakyat 
Papua adalah kekerasan selama Papua ditetapkan sebagai Daerah Operasi militer 
atau DOM.
 "Bagi kami rakyat Papua, Suharto adalah momok, pemimpin yang otoriter. Kami 
menganggap dia sebagai penindas," kata Daniel.
Hak atas fotoAFPImage captionHasil penyelidikan Komnas HAM menemukan beberapa 
pelanggaran HAM berat di Papua Tidak ada catatan pasti berapa banyak korban 
persis yang jatuh di Papua saat DOM diberlaukan di Papua, yang braktis bermula 
sejak tentara Indonesia masuk tahun 1960an, dan dicabut pada 1998, seiring 
jatuhnya Soeharto.
 Daniel mengaku bingung dengan banyak orang yang masih merindukan jaman 
kekuasaan Suharto. Menurut dia, bisa saja karena memang mereka tidak mengalami 
kekejaman seperti yang dialami warga Papua dan Timor Leste.
 Tuntut penyelesaian kasus HAM, mahasiswa Papua gelar demo di depan kantor PBB 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39149824 Orde Baru dibenci, Orde Baru 
dirindukan 
http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2013/11/131125_lapsus_suharto_stabiltas_dulu_sekarang
 Dwifungsi ABRI, azas tunggal hingga P4 
http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2013/11/131125_lapsus_suharto_kebijakankeamananorba
 Sebagaimana di Timor Leste, banyak orang di Papua yang kehilangan keluarga, 
karena terbunuh atau hilang, diduga oleh aparat, selama masa kekuasaan Soeharto.
 Septi Meidodga, 25 tahun, adalah salah satunya.
 "Paman saya Irogi Meidodga hilang sejak 1996 dan Simson Meidodga ditembak mati 
pada 1984," kata Septi, yang aktif di pergerakan mahasiswa Universitas 
Cenderawasih, Jayapura.
Hak atas fotoLIVA LAZORE/AFP/GETTY IMAGESImage captionKorban jiwa di Papua 
semasa rejim Suharto tak bisa dihitung secara pasti Sejauh ini tak ada 
pengusutan atas dua kasus itu, dan tak ada yang bertanggung jawab. Dalam 
penyesalan, Septi mengatakan abhwa satu-satunya saksi yang melihat pamannya 
dibawa tentara adalah neneknya, yang sudah meninggal pada 2000.
 Berbagai lembaga sudah mendokumentasikan berbagai kekerasan aparat di Papua 
ketika Suharto berkuasa. Berbagai kasus pelanggaran HAM berat juga sudah 
diselidiki Komisi Nasional HAM terjadi di propinsi paling timur Indonesia itu.
 "Ada lebih dari 2 ribu kasus pelanggaran HAM di Papua, dengan korban jiwa 
diperkirakan lebih dari 3 ribu orang," kata Daniel Randongkir dari Lembaga 
Studi Advokasi Hak Asasi Manusia (Elsham) Papua.
 Berdasarkan catatan Elsham Papua, hanya satu kasus yang sudah dibawa ke meja 
hijau. Sementara begitu banyak kekerasan terhadap arga oleh aparat keamanan 
belum jelas penyelesaiannya.
Hak atas fotoADEK BERRY/AFP/GETTY IMAGESImage captionSejumlah elemen pro 
demokrasi dan mahasiswa masih terus menuntut petanggungjawaban Suharto
 

 

Kirim email ke