Daripada buang waktu ngalor-ngidul menepis isyu, lebih baik kan pak presiden jelaskan prestasi seputar kerja-kerja-kerjanya. Bicaralah soal harga kebutuhan. Atau, soal divestasi. Boleh jugalah soal terorisme. Atau, tantang Sri Mulyani debat soal utang.
Ingat, sebentar lagi 2019. - Saat Jokowi Tepis Isu PKI di Tiga Lokasi Berbeda di Sumbar Selasa 22 Mei 2018 00:41 WIBRep: Sapto Andika Candra/ Red: BayuHermawan PresidenJokowi memberikan sertifikat tanah di Provinsi Sumatera Barat, Senin (21/5). Foto: dok.Biro Pers Istana Negara PresidenJokowi sampai mengulang pidato bantahan terlibat PKI di tiga lokasi berbeda. REPUBLIKA.CO.ID,PADANG -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkali-kali menepis isu soal PartaiKomunis Indonesia (PKI) yang menyerang dirinya, dalam beberapa waktu terakhir.Dalam kunjungan satu harinya di Kota Padang pada Senin (21/5), Jokowi sampaimengulang isi sambutannya tentang bantahan terlibat PKI, di tiga lokasi yangberbeda. Pertama saatmeresmikan KA Minangkabau, kedua saat menyerahkan sertifikat wakaf di Ketaping Bypass,dan ketiga saat meresmikan bangunan asrama Ponpes Modern Prof Dr Hamka II diKota Padang. Sebagian isi sambutannya sama, yakni klarifikasi dirinya tentangisu PKI. "Sayapernah datang ke sebuah pondok. Pimpinan pondok berbisik ke saya, ingin bicaraempat mata. Lalu beliau bertanya apakah benar Presiden Jokowi PKI?" ujarJokowi memulai pembahasan mengenai isu yang selama ini membelitnya. BagiJokowi, isu tersebut tidak benar sama sekali. Klarifikasi ini juga sempatJokowi sampaikan dalam kunjungan kerjanya di daerah lain di Indonesia. Iamenjelaskan bahwa ia lahir tahun 1961, sebelum PKI sendiri dibubarkan tahun1965. "Artinyasaya baru 4 tahun. Apa ada PKI balita? Ini namanya isu kan. Sekarang ini zamanketerbukaan. Sekarang bisa telusuri," katanya. Selainsoal PKI, Jokowi juga menyampaikan kegeramannya soal kabar yang menyebutdirinya sebagai anak dari pengusaha keturunan Cina-Singapura. Ia mengingatkanbahwa di kota kelahirannya yakni Solo, terdapat sejumlah organisasi masyrakat(ormas) Islam besar termasuk Muhammadiyah dan NU. Ia pun meminta pihak-pihakyang ragu tentang 'silsilah'-nya untuk menanyakan langsung kepada tokoh-tokohmasyarakat di Kota Solo. "Tanyakandi masjid di dekat rumah saya, siapa orang tua saya, siapa saya, gampangbanget. Terbuka saya ini, ndak ada yang bisa ditutupi. Malah ada lagi isu,Presiden Jokowi itu, anaknya Chinesedari Singapura," kata Jokowi.Meskibegitu, Jokowi maklum bahwa seluruh isu miring yang menempa dirinya merupakanbagian dari perpolitikan Indonesia. Ia juga yakin masyarakat sudah mulai piawaidalam berpolitik dan memilah isu. "Terakhir,saya ingin mengingatkan kembali kutipan dari Buya Hamka: Kemunduran negara takakan terjadi kalau tidak karena kemunduran budi dan jiwa," katanya.
