http://suara-islam.com/2018/05/23/celaka-rupiah-terpuruk-utang-bertumpuk/
Celaka, Rupiah Terpuruk Utang Bertumpuk!


*BI Tak Bisa Sendirian Menjaga Rupiah.*


Begitu judul berita yang dimuat sejumlah media *(online),* hari ini (23/5).
Bagaimana kita memaknai berita ini? Apakah ini isyarat Bank Indonesia (BI)
melempar handuk?
Rupiah dalam beberapa waktu terakhir memang terkulai, tidak berdaya
menghadapi keperkasaan dolar Amerika. Kurs tengah BI hari ini menunjukkan
angka Rp14.192/US$. Jika dihitung sejak awal tahun, rupiah tercatat melemah
sekitar 4,5%.

Publik percaya, kalau pun rupiah tidak terjerembab ke angka Rp15.000/US$
bahkan Rp17.000/US$ itu semata-mata karena BI mati-matian berusaha
menjaganya melalui intervensi pasar. Sayangnya sampai sekarang tidak jelas
betul, berapa devisa yang telah digerojok ke pasar.

Namun bisik-bisik di pasar menyebutkan angkanya sudah menembus US$8 miliar.
Wow!

Menurut Gubernur BI Agus Martowardojo, upaya penguatan rupiah tidak bisa
melulu mengandalkan intervensi BI. Pemerintah juga kudu harus ikut
gotong-royong menopang agar rupiah tidak benar-benar terkapar.

Salah satu usaha yang bisa Pemerintah lakukan adalah dengan mereduksi
defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Agus yakin
upaya ini dapat menjadi amunisi ampuh bagi penguatan rupiah. Pada titik
ini, jelas Pemerintah punya peran amat vital.
Sekadar mengingatkan saja, BI tahun memperkirakan defisit transaksi
berjalan bakal bertengger di 2,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Nominalnya di kisaran US$23 miliar, alias sekitar Rp326,4 triliun. Angka
ini lebih tinggi kertimbang proyeksi sebelumnya yang berkisar 2,2%-2,3%
terhadap PDB.

Kita memang tidak bisa menyimpulkan BI seperti hendak lempar handuk alias
menyerah. Tentu saja, ini (nyaris) tidak mungkin terjadi. Tapi, paling
tidak, pernyataan Agus itu menjelaskan bahwa BI sudah kerepotan, kalau
tidak mau disebut sempoyongan. Itulah sebabnya BI minta Pemerintah ikut
cawe-cawe dalam menopang rupiah.

Lampu kuning

Bicara soal defisit transaksi berjalan sebagai elemen penting vitamin
penguat rupiah, sebenarnya bukanlah perkara baru. Lebih dari tiga tahun
silam ekonom senior Rizal Ramli sudah memberi warning soal ini. Dalam satu
kalimat pendeknya yang terkenal, Menko Ekuin dan Menkeu era Presiden Gus
Dur ini menyebut, ekonomi Indonesia sudah lampu kuning!

Hari-hari ini peringatan serupa kembali dia kumandangkan. Mantan anggota
panel ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ini bukan sekadar
mengkhawatirkan terus membumbungnya jumlah utang yang kini nyaris menyentuh
Rp5.000 triliun. Tapi dia juga menyoroti sejumlah indikator makro ekonomi
kita yang belepotan warna merah.

Sepanjang 2018, angka-angka itu memang bertabur defisit. Sampai April
neraca perdagangan (trade balance) tercatat minus US$1,6 miliar. Begitu
juga dengan neraca perdagangan jasa dan neraca perdagangan migas kuartal
pertama, masing-masing defisit US$1,4 miliar dan USS2,4 miliar. Bahkan
defisit transaksi berjalan sudah berada di US$5,5 miliar. Berikutnya,
neraca pendapatan primer dan neraca pembayaran (balance of payment) US7,9
miliar dan US$3,9 miliar.
“Lha wong semuanya defisit, kok Menkeu masih saja ngotot bilang mengelola
APBN dengan prudent. Apanya yang prudent? Kalau benar-benar prudent, tentu
angka-angkanya tidak defisit seperti itu. Sayangnya Presiden tidak tahu
kalau para pembantunya memberi laporan ABS,” tukas Rizal Ramli. ABS yang
dia maksudkan adalah Asal Bapak Senang.

Sehubungan dengan itu, tokoh nasional yang dikenal gigih melawan penerapan
mazhab ekonomi neolib ala Bank Dunia ini, mengeritik pemerintah yang doyan
menyalahkan asing atas memburuknya perekonomian nasional. Para pajabt
publik kita selalu menyebut faktor global, terutama Amerika, sebagai biang
kerok terkulainya rupiah dan jebloknya kinerja ekspor nonmigas.

Benar-benar celaka

Di sisi lain, tentu saja, Rizal Ramli tidak menampik bahwa faktor global
dan regional punya peran penting. Tapi, ibarat tubuh, jika kondisinya kuat
dan sehat, walau duduk di ruangan bersama banyak orang yang kena flu, tentu
kita tidak kena dampak. Ga ngefek, kata anak muda zaman now.

Sebaliknya, jika tidak sehat, kondisi fisik memang lemah, ada orang lewat
dan bersin saja, langsung bisa tertular. Jadi, kalau Pemerintah, khususnya
para pejabat yang bertanggungjawab di bidang ekonomi, bekerja dengan benar
tentu stamina Indonesia akan sehat dan kuat. Hal itu ditandai dengan
birunya angka-angka sejumlah indicator makro tadi.

Sayangya, alih-alih bekerja cerdas dan bekerja keras, para menteri tersebut
malah sibuk berkelit. Berbagai alasan dan dalih mereka sorongkan untuk
menutupi kelemahan dan ketidakmampuan. Mereka juga tidak segan menyodorkan
data dan angka yang sering tidak relevan untuk membodohi publik. Koor yang
teramat sering dinyanyikan, di antaranya menisbatkan menggunungnya utang
dengan PDB. Padahal, para ekonom waras dan bernurani sudah lama mengritik
rasio utang dengan PDB yang disebut sebagai sesat dan menyesatkan.

Tapi sudahlah, memang begitu karakter mazhab ekonomi neolib. Dan, celakanya
para menteri ekonomi Kabinet Kerja dijejali para penganut sekaligus pejuang
neolib yang gigih. Padahal, jauh-jauh hari Soekarno sudah memperingatkan
bangsa ini, bahwa neolib adalah pintu gerbang neokolonialisme dan
neoimperialisme. Lebih celaka lagi, Presiden Jokowi makin ke sini tampaknya
makin nyaman dengan para menteri tersebut.

Celaka, benar-benar celaka! (*)

Jakarta, 23 Mei 2018

*Edy Mulyadi*
Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Kirim email ke