Ada seorang teman yg memilih mengikuti wajib militer dan dikirim ke Irak
walaupun secara pribadi beliau tidak setuju dgn alasan serangan ke Irak itu,
tetapi teman itu mengambil sikap sebagai warga negara yg mengikuti
seruan/panggilan negara.
Sekitar awal 60-an itu banyak anak muda sedemikian terpana-nya pada jargon2
nasionalisme apalagi negara dalam keadaan berperang. Saya tidak bermaksud
mempertanyakan atau meragukan Herlina, dalam melihat kebijakan negara yang saya
lihat para pemimpinnya.
Sebagai tambahan, ada beberapa hal yang memabukkan seseorang bahkan sampai
bersedia mengorbankan diri dengan mengenyampingkan logika dan bahkan nurani,
diantaranya adalah nasionalisme, dan juga agama.
On Wednesday, May 23, 2018, 6:43:56 AM PDT, Tatiana Lukman
<[email protected]> wrote:
Ya betul! Ibu pertiwinya adalah Indonesia yang termasuk Irian Barat!!! Dia
jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri bendera Belanda berkibar di Irian
Barat dan tentara Belanda masih nongkrong di situ!! Itulah KENYATAAN SEJARAH
yang dia dan saya lihat dan akui. Sebaliknya anda tidak melihat dan mengakui
kenyataan itu!! Jadi tuduhan anda kepada saya yang jelas-jelas ngawur
sebenarnya juga tuduhan kepada Herlina!!!Sebenarnya saya heran melihat sikap
anda dalam masalah Papua yang ngotot, yang tidak logis karena tidak sesuai
dengan KENYATAAN SEJARAH. Padahal dalam perdebatan masalah lain, seperti
masalah Tiongkok, masalah NEP di Soviet, dan beberapa masalah lain, jelas
kelihatan jalan pikiran anda yang logis. Bertentangan dengan si Chan yang
betul-betul sudah tidak ketulungan lagi !!!!
On Wednesday, May 23, 2018 3:21 PM, Jonathan Goeij
<[email protected]> wrote:
Herlina adalah anak bangsa yang terketuk dan memenuhi panggilan ibu pertiwi.
On Wednesday, May 23, 2018, 4:49:45 AM PDT, Tatiana Lukman
<[email protected]> wrote:
Terima kasih banyak sudah sharing cerita para anak buah dedengkot "imperialis"
Sukarno melawan imperialis Belanda!!
On Wednesday, May 23, 2018 5:07 AM, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Kisah Herlina Kasim, Sebulan di Hutan Belantara Hingga Merangkak di Bawah
Desingan Peluru Belanda
Senin, 30 April 2018 17:19
INTISARIHerlina Kasim di antara prajurit Pembebasan Irian Barat
TRIBUNJOGJA.COM - Meski bukan seorang pria, hati Herlina Kasim ikut terketuk
saat Ibu Pertiwi memanggilnya untuk ikut membebaskan Irian Barat dari Belanda.
Dia tercatat sejarah sebagai wanita pertama TNI yang dengan sukarela berjibaku
di rimba perawan Irian untuk bergerilya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5.40 pagi hari. Angin Mamiri yang akan membawa
Herlina Kasim dengan teman-temannya menerobos ke Irian Barat masih
terapung-apung di tengah laut.
Kompas tak ada, yang ada malah kabut tebal. Tidak ada jalan lain untuk masuk
teluk dan harus menunggu sampai kabut agak reda. Daripada menunggu di kapal,
mereka turun sebentar. Alangkah kagetnya. Yang disinggahi justru pos tentara
Belanda.
Untung tidak ada penjaga. Tanpa pikir panjang, mereka seketika kembali ke
perahu. Motor dihidupkan, terus meluncur. Arah dikira-kira saja, asal sudah
bisa keluar dari lubang buaya.
Fajar sudah mulai menyingsing, waktu mereka tiba di perairan musuh. Tanpa punya
kompas mereka yakin sudah menuju ke arah yang benar. Bendera Belanda dipasang,
demi berhasilnya usaha mereka. Lihai, tetapi apa boleh buat.
Pulau Waigeo di mana sebagian dari Pasukan Gerilya (PG) 500 mendarat, sudah
berada di depan mata. Namun di mana posnya?
Bendera merah putih biru diganti dulu dengan merah putih. Sangat berbahaya,
tetapi tidak ada jalan lain. Mereka sudah diberi pesan, di sekitar Pulau Waigeo
harus menggunakan bendera Indonesia. Salah-salah bisa diganyang oleh kawan
sendiri.
Akhirnya mereka toh bisa bertemu dengan rekan-rekannya. Pos mereka di Teluk
Arago. Kapal tak dapat dinaikkan ke darat, karena sudah telanjur air surut..
Padahal kapal sama dengan urat nadi.
Tanpa kapal mereka tidak mungkin dapat berkutik. Lagi pula kapal tersebut dapat
memberi petunjuk kepada musuh. Tetapi sekarang tak ada jalan lain, daripada
menunggu sampai sore hari.
Selama itu awak Angin Mamiri menggunakan kesempatan untuk terjun ke laut. Badan
rasanya sudah ketat. Beberapa hari tidak pernah menyentuh air. Baru
enak-enaknya mandi, tiba-tiba ada seorang berteriak, “Kapal musuh!”
Kapalnya memang terlihat memakai bendera merah putih. Tetapi tidak mungkin
kapal Republik Indonesia berlayar dengan seenaknya di perairan tersebut.
Herlina merangkak keluar di bawah hujan peluru. Bagaimanapun juga mereka yakin,
Belanda tidak akan berani mendarat.
Hujan peluruLetak Teluk Arago terlalu masuk ke darat dan pohon-pohon tumbang
bergeletakan di mana-mana. Posisi mereka sekarang sangat berbahaya, oleh karena
sudah diketahui musuh.
Satu-satunya jalan untuk mempertahankan diri ialah main kucing-kucingan di
pulau-pulau kosong sekitarnya. Apa yang harus mereka lakukan dalam keadaan
segawat itu?
Suara peluru terakhir baru saja lenyap, sewaktu Komandan J. Komontoy membuat
rencana untuk meluncurkan sebagian pasukannya, agar musuh tidak terus-menerus
menghadang mereka. Sungguh suatu putusan yang sangat berani.
Dua puluh tiga orang yang akan ikut. Sisanya harus mengembara di hutan,
termasuk Herlina.“Sebulan lamanya kami mengembara di hutan belantara,” kata
Herlina.
“Juli 1962, kami mendarat di Irian Barat. Makanan yang dibawa sudah habis,
binatang-binatang tak ada, kecuali kerang di tepi pantai. Itu pun harus dimakan
mentah. Karena kami tidak boleh menyalakan api. Takut ketahuan musuh.”
Herlina tidak doyan. Jadi terpaksa hanya minum air melulu, kalau tidak bisa
menemukan makanan lain. Pulau Waigeo tandus. Para gerilyawan pada umumnya warga
masyarakat dari daerah sekitarnya. Mereka tidak mengalami kesulitan menu.
Penduduk setempat sudah biasa makan ikan mentah-mentah, segera setelah
ditangkap.
Selama pengembaraan tersebut Herlina bertemu dengan wanita Irian Barat pertama,
istri penunjuk jalan mereka, Domingus. Herlina masih terkesan bila dia
mengenang pengalaman mereka bersama.
“Kami mandi sama-sama di sungai, jalan bersama-sama.” Ibu Domingus malah juga
dia buatkan pakaian baru. “Padahal saya jarang memegang jarum dan benang.”
Tentunya bukan dari bahan baru, hanya rok lama yang dipermak. Herlina masih
geli kalau teringat akan hasil kerjanya. “Rupanya, jangan ditanya.”
Suatu hari Domingus datang menghadap. Apa gerangan yang dikehendaki?
“Ibu,” katanya “... apakah rambut istri saya tak dapat dipotong seperti Ibu?”
Sungguh suatu permintaan yang sangat sukar. Pertama, karena rambutnya lebih
keriting. Kedua, Herlina tidak pernah mengikuti kursus menata rambut.
Namun dia tak mau mengecewakan harapan Domingus. Keesokan harinya mereka
bersama menuju ke sungai untuk mencuci rambut dulu, seperti dalam salon
benar-benar. Sesudah agak terurai, rambut istri Domingus dipotong model poni.
“Saya tak berani memotong lebih dari itu. Takut menyalahi adat kebiasaan.”
Sisa rambut diikat ke belakang dengan tali serat pisang, seperti ekor kuda.
Bagaimanapun juga, Domingus puas. Dengan bangga dia memperkenalkan istrinya
kepada anggota pasukan lain.
“Selama di Irian Barat, saya tak pernah mengalami sesuatu yang kurang sedap
dari siapa pun juga,” Herlina menandaskan, “Dari orang-orang yang sedang mabuk
maupun yang sadar.”
Bukan sesuatu yang aneh, kalau dia dulu pukul 3 dini hari masih berada di
tengah hutan belantara dengan pengendara jip.
Dikalungi emasHerlina orangnya memang berani. Waktu duduk di SMA dia sudah
mempunyai angan-angan untuk mengelilingi Tanah Air.
Lamunan itu tak sekadar lamunan. Sesudah lulus dia benar-benar berangkat
setelah mengikuti Tour de Java, naik sepeda bersama Dorine The. Rutenya,
Jakarta - Jawa Timur - Bandung, sepanjang 1.900 km.
Apakah ada pengalaman yang mengesankan selama dalam perjalanan?
“Banyak sekali. Kesan utama ialah, bahwa tugas kita jauh dari selesai. Masih
banyak daerah yang sangat terpencil, sehingga kurang hubungannya dengan dunia
luas dengan segala macam konsekuensinya. Kesulitan bahasa pada umumnya tidak
ada. Mereka semuanya sedikit banyak dapat berbahasa Indonesia berkat bersekolah
di madrasah.”
Indonesia memang sangat luas dengan penduduk yang beraneka ragam. Di daerah
Indragiri misalnya, wanita-wanitanya masih memakai tutup muka. Mereka juga
hanya diperbolehkan keluar rumah di waktu malam. “Bagaimana caranya menemui
mereka,” pikir Herlina.
Syarat mutlak untuk bisa mencapai hasil ialah, di mana-mana harus menyesuaikan
diri dengan keadaan. Jangan sekali-kali menyinggung perasaan penduduk setempat.
“Bila mereka hanya boleh keluar pada malam hari, baiklah pertemuan kami
selenggarakan juga pada malam hari,” pikirnya.
Para ibu dikumpulkan dan diberi “kuliah” tentang tugas dan kewajiban kaum
wanita.
Apakah setelah “indoktrinasi” tersebut mereka akan tenggelam lagi dalam keadaan
semula?
Dalam hal ini Herlina sangat optimistis. “Masa dari sekian banyak wanita tidak
ada satu pun yang berani memberontak?”
Pernah dia tiba di suatu daerah yang baru saja dilanda wabah influenza.
Kebetulan dia membawa tablet antiinfluenza, yang segera saja dia bagi-bagikan.
Tetapi sebelum mereka mau menelan, Herlina harus memberi contoh dulu.
Mereka agaknya merasa takut kalau-kalau pendatang tersebut hanya ingin membuat
gara-gara. Namun ketika benar-benar bisa sembuh, kegirangan mereka tidak dapat
dilukiskan. Herlina didukung-dukung dan dianggap”dewa” penyelamat.
Walau pun sudah mendapat gelar Srikandi Indonesia dan sudah pernah merasakan
betapa beratnya pending emas yang dikalungkan di lehernya, di samping sedikit
banyak juga ikut berjuang untuk kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi,
Herlina masih tetap saja Herlina biasa.
Sebagai informasi, Herlina sering dikaitkan dengan pending emas karena ia
mendapat hadiah pending emas sebagai perempuan pertama yang didaratkan ke Irian
Barat dalam usaha mengembalikan wilayah itu ke pangkuan RI.
Presiden Sukarno pun memberinya hadiah berupa emas yang berbentuk seperti
“kendi kecil” yang disebut pending, beratnya sekitar 1-2 kg..
“Perjuangan saya tak ada artinya,” katanya. “Saya masih belum apa-apa.” Banyak
yang sudah dialaminya sejak Herlina dilahirkan tanggal 24 Februari 1941. Namun
mungkin yang paling mengesankan ialah waktu dia tiba di Jakarta untuk pertama
kalinya dari Irian Barat.
Pada saat yang sama kebetulan juga berlabuh sebuah kapal niaga Pelni. Mas
Harkomojo, mualim kapal tersebut ternyata juga ingin menyongsong kedatangan
Srikandinya.
Pertemuan yang menentukan bagi hari depan mereka.
Setelah perjuangan merebut Irian Barat berakhir, Herlina meniti karier di
Kementerian Luar Negeri. Hingga akhirnya dia meninggal dunia pada di RSPAD
Jakarta pada Selasa malam, 17 Januari 2017, pukul 22.45 WIB di usia 75 tahun..
(Ditulis oleh Jacob Oetama, dalam buku Sketsa Tokoh – Intisari)--Artikel ini
sudah tayang di INTISARI dengan judul Kisah Herlina Kasim: Merangkak di Bawah
Hujan Peluru Guna Merebut Irian Barat Dari Belanda
Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Kisah Herlina Kasim,
Sebulan di Hutan Belantara Hingga Merangkak di Bawah Desingan Peluru Belanda,
http://jogja.tribunnews.com/2018/04/30/kisah-herlina-kasim-sebulan-di-hutan-belantara-hingga-merangkak-di-bawah-desingan-peluru-belanda?page=all.
Editor: mon