Adolf Bastian adalah ahli antropology Jerman yang mempopulerkan nama 
"Indonesia" melalui bukunya "Indonesien; Oder Die Inseln Des Malayischen 
Archipel" 
Mungkinkah dimasa depan ada unifikasi Papua seperti halnya unifikasi Jerman 
ataupun unifikasi Korea?
---Sedangkan bagi pemerintah Belanda, perlu menyiapkan hak penentuan nasib 
sendiri bagi orang-orang Papua bagi masa depannya. Paling tidak 1970 an 
masyarakat Papua sudah menentukan hak bagi kemerdekaan mereka dan tergabung 
dalam negara-negara di kawasan Pasifik Selatan.

Apalagi secara antropologi sesuai pendapat ahli Adolf Bastian dari Jerman kalau 
orang Papua masuk dalam wilayah-wilayah berkebudayaan Melanesia. Tak heran 
kalau pemerintah Belanda dan Asutralia berusaha agar ke depan ada unifikasi 
Papua New Guinea Australia dan Nederlands Nieuw Guinea sebagai negara “Papua 
New Guinea Bersatu.”
....
PAPUA BARAT YANG DIREBUTKAN INDONESIA DAN BELANDA

Akhir dari perebutan Pulau Papua Barat, tambang emas di Gunung Grasberg, jatuh 
ke tangan Perusahaan tambang miliki negara adi daya Amerika 
Serikat.(Jubi/ist)Akhir dari perebutan Pulau Papua Barat, tambang emas di 
Gunung Grasberg, jatuh ke tangan Perusahaan tambang miliki negara adi daya 
Amerika Serikat.(Jubi/ist)


Jayapura, 29/4 (Jubi)- Sejak awal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 
Agustus 1945, wilayah Irian Barat termasuk dalam wilayah Provinsi Maluku. Bagi 
pemerintah Indoensia penempatan ini sesuai dengan wilayah-wilayah bekas jajahan 
Belanda di Indonesia.

Walau pun pemerintah Indonesia telah memasukan Irian Barat ke dalam wilayah 
Provinsi Maluku. Kenyataannya Belanda masih menguasai West Irian dengan nama 
Nederlands Nieuw Guinea. Bahkan Belanda menetapkan Nieuw Guinea sebagai 
wilayahnya sejak 24 Agustus 1828.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 meliputi wilayah 
bekas jajahan Nederlands Indie dari Sabang sampai Merauke. Itulah salah satu 
dasar yang menjadi alasan bagi para pejuang Republik Indonesia. Hanya Bung 
Hatta saja yang menolak untuk memasukan West Papua atau West Irian ke dalam 
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Komisaris Pemerintah Hindia Belanda AJ van Delden membacakan suatu proklamasi 
yang menyatakan atas nama dan untuk Sri Baginda Raja Nederland, Pangeran Oranje 
van Nassau, Hertog Agung Luxemburg, dan lain-lain, bagian daerah Nieuw Guinea 
serta daerah-daerah pedalaman mulai garis meridian 140 derajat sebelah Timur 
Greenwich di pantai selatan terus ke arah barat, barat daya dan utara sampai ke 
semenanjung Goede Hoop di pantai utara.

Terkecuali daerah Mansarai, Karondefer, Ambarpura dan Ambarpon yang dimiliki 
oleh Sultan Tidore dinyatakan sebagai milik Belanda. Bendera Belanda dikibarkan 
dan tembakan meriam sebanyak 21 kali, menandai tanda resminya Nieuw Guinea 
menjadi wilayah Nederland.(Sejarah Pemerintahan Provinsi Papua, Lembaga Riset 
Papua, 2014).

Selanjutnya The Liang Gie dalam bukunya berjudul Pertumbuhan Pemerintahan 
Propinsi Irian Barat dan Kemungkinan-kemungkinan Perkembangan Otonominya Dihari 
Kemudian menyebutkan pada 19 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan 
Indonesia menetapkan pembagian wilayah pemerintahan Negara Republik Indonesia.

Indonesia saat itu dibagi ke dalam delapan provinsi masing-masing dikepalai 
oleh seorang gubernur. Adapun ke delapan provinsi tersebut adalah Jawa Barat, 
Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Sunda Kecil dan Maluku.

Wilayah Irian Barat termasuk dalam lingkungan Provinsi Maluku seperti halnya 
pada jaman Nederkands Indie, wilayah ini tergabung dalam Residentie Molukken. 
Jadi bagi pemerintah Indonesia, sejak proklamasi 17 Agustus 1945 sudah mencakup 
wilayah Irian Barat.

Sebelumnya pada 1824 wilayah Irian Barat dimasukan pula sebagai bagian dari 
Keresidenan Ternate, dan dalam 1861 secara resmi atas persetujuan Sultan Tidore 
Ternate wilayah Irian Barat dimasukan sebagai salah satu wilayah jajahan 
Belanda, Nederlands Indie.

Usai Perang Dunia Kedua, pada 27 Desember 1949 Pemerintah Belanda mengeluarkan 
sebuah pernyataan yang memproklamasikan Provinsi Nederlands Nieuw Guinea. 
Kebijakan ini dibuat setelah Konfrensi Meja Bundar antara Belanda dan 
Indonesia. Keadaan ini memaksakan pemerintah Belanda mempercepat proses 
pemerintahan dan pembentukan partai-partai politik di Nederlands Nieuw Guinea. 
Pemerintah Belanda juga mengeluarkan sebuah pernyataan ;

Proklamasi

Bagi penduduk Nieuw Guinea, berdasarkan keputusan –keputusan yang ditetapkan 
dalam Konfrensi Meja Bundar. Maka kepada Republik Indonesia Serikat terjadi 
penyerahan kedaulatan dengan terkecuali yang disebut Resindetie Nieuw Guinea.
Sejak hari ini kamu semuanya adalah penduduk Gouvernement Niueuw Guinea, dalam 
hal ini pemerintahan umum diselenggarakan atas nama Ratu yang kita muliakan.
Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa kita mohon pemberkatannya atas tanah ini dan 
berdoa agar Dia melindungi kita di bawah Ratu Juliana boleh membawa kemakmuran 
dan kedamaian.

Hollandia, 27 Desember 1949
Pejabat Gubernur Nieuw Guinea
JPK van Eechoud

Berdasarkan proklamasi di atas, Irian Barat telah resmi menjadi bagian dari 
Belanda yang telah dibentuk sebagai Provinsi Nederlands Nieuw Guinea, di 
Samudera Pasifik Selatan. Perebutan wilayah Irian Barat antara Belanda dan 
Indonesia terus bergulir. Bagi pemerintah Indonesia yang disebut wilayah 
Indonesia adalah wilayah bekas jajahan Belanda termasuk Irian Barat.

Sedangkan bagi pemerintah Belanda, perlu menyiapkan hak penentuan nasib sendiri 
bagi orang-orang Papua bagi masa depannya. Paling tidak 1970 an masyarakat 
Papua sudah menentukan hak bagi kemerdekaan mereka dan tergabung dalam 
negara-negara di kawasan Pasifik Selatan.

Apalagi secara antropologi sesuai pendapat ahli Adolf Bastian dari Jerman kalau 
orang Papua masuk dalam wilayah-wilayah berkebudayaan Melanesia. Tak heran 
kalau pemerintah Belanda dan Asutralia berusaha agar ke depan ada unifikasi 
Papua New Guinea Australia dan Nederlands Nieuw Guinea sebagai negara “Papua 
New Guinea Bersatu.”

Pemerintah Belanda sendiri tengah membangun partai-partai politik dan 
mengadakan pemilihan anggota Nieuw Guinea Raad, April 1961. Selanjutnya 
pengibaran Bendera Bintang Kejora, lagu Hai Tanah ku Papua dan Lambang Negara 
Burung Mambruk.

Upaya pembentukan ini kemudian dijawab oleh Presiden Sukarno dengan 
mengeluarkan seruan Trikomando Rakyat pada 19 Desember 1961. Salah satu adalah 
seruan bubarkan negara Papua buatan Belanda. Benarkah negara Papua itu buatan 
Belanda atau negara itu lahir dari kesadaran orang Papua sendiri akan 
pentingnya sebuah negara bernama Papua Barat?

Pergolakan antara pro dan kontra Papua Merdeka hingga kini menjadi sebuah 
perdebatan antara NKRI harga mati atau Merdeka harga mati. Celakanya 
mereka-mereka yang dianggap penggangu pelaksanaan Pepera 1969 ditangkap dan 
dipenjara. Pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat(Pepera) 14 Juli 1969 sampai 
dengan 2 Agustus 1969 memerlukan suasana tenang dan tenteram.

Menurut buku terbitan Pemerintah Provinsi Irian Barat berjudul Pepera 1969 
disebutkan terpaksalah para penggangu keamanan dan para pemimpinnya serta 
keamanan pribadi mereka harus diamankan oleh pihak aparat. Tindakan pengamanan 
mereka disusul dengan meneliti para tahanan, untuk menilai apakah mereka 
dihasut atau karena pengertian yang sesat.

Bahkan dua bulan sebelum pelaksanaan Pepera, pada 30 April 1969 terjadi 
pemberontakan di Enarotali wilayah Paniai. Terlibat sebanyak 120 anggota polisi 
putra Papua dengan persenjataan lengkap, dibantu puluhan ribu rakyat Paniai 
menentang pemerintah Indonesia. Mereka juga mendukung pelaksanaan Pepera atau 
Act of free choice yaitu pemilihan praktis yang dapat mewakili pikiran rakyat 
untuk menentukan kehendaknya. Sistem ini dalam dunia modern yaitu , “one man 
one vote atau satu orang satu suara.”

Bagi pemerintah Indonesia jelas tak mungkin melaksanakan sistem one man one 
vote, karena wilayah georgrafis yang sulit dan masalah transportasi. Wilayah 
Papua yang begitu luas dan tak mungkin bisa dilakukan sebaiknya perwakilan 
rakyat, “Stamhoulder.”

Berpuluh-puluh tahanan telah dilepas termasuk mantan Gubernur Irian Barat 
Pertama almarhum EJ Bonay, dan juga mahasiswa kembali mengikuti kuliah seperti 
biasanya. Apalagi pemerintah Indonesia telah berhasil memenangkan Pepera 
melalui 1025 anggota Dewan Musyawarah Pepera(DMP) yang dipilih mewakili 
sebanyak 815.904 penduduk Irian Barat.

Dolf Faidiban, mantan pamongpraja Papua dalam buku berjudul Bakti Pamongpraja 
Papua di Era Transisi Kekuasaan Belanda ke Indonesia menyebutkan peranan 
militer dalam pemerintahan sipil dan Act of Free Choice, semakin intensif, 
terutama dalam persiapan pelaksanaan New York Agreement di Provinsi Irian Barat.

Surat Rahasia Komandan Resort Militer XVII Merauke, Kolonel Blego Sumarto, 
Nomor: R-24/1969 perihal pengamanan Pepera, 8 Mei 1969 yang ditujukan kepada 
Bupati Merauke selaku anggota Muspida. Isi surat tersebut antara lain 
menyatakan, apabila pada masa pooling diperlukan adanya penggantian anggota 
Dewan Musyarawarah Pepera(DMP), penggantian harus dilakukan jauh sebelum 
musyawarah Pepera. Kesimpulan dari surat rahasia itu adalah Pepera harus secara 
mutlak kita menangkan, baik secara wajar atau secara tidak wajar.( Bakti 
Pamongpraja Papua di Era Transisi Kekuasaan Belanda ke Indonesia)

”Yah, PEPERA telah kita menangkan. PEPERA kini telah lewat dan telah menjadi 
bagian dari sejarah bangsa Indonesia yang patut ditulis dengan tinta emas,”kata 
mantan Pangdam XVII Trikora mendiang Brigjen TNI Sarwo Edhie Wibowo. Bukan 
hanya itu saja Presiden RI Kedua Soeharto juga menegaskan Provinsi Irian Barat 
adalah wilayah khusus.

“Wilayah khusus itu adalah masalah memajukan dan membangun daerah ini dari 
situasi terlepas dari penjajahan Belanda ke arah alam kemerdekaan sejak daerah 
ini secara nyata dan resmi dimasukan ke dalam lingkungan kekuasaan Republik 
Indonesia pada 1 Mei 1963,”tegas Presiden RI Kedua mendiang Jenderal Besar 
Soeharto.

Meskipun kebijakan UU Otsus maupun Otsus Plus terus didorong oleh pemerintah 
Indonesia melalui Gubernur Papua dan Papua Barat. Apabila masih saja ada 
praktek-praktek pasca kolonial, yang membuat diskriminasi dan menekan suatu 
kelompok tertentu di dalam negara merdeka. Tentunya ini akan memperkuat 
pernyataan mendiang Muridan tokoh penggagas Dialog Papua – Jakarta yang 
mengatakan kalau Pemerintah Indonesia gagal merebut hati orang Papua. 
(Jubi/dominggus a mampioper)





Kirim email ke