OPERASI-OPERASI MILITER DI PAPUA: PAGAR MAKAN TANAMAN?

Amiruddin al Rahab
(Jurnal Penelitian Politik, Vol.3/No.1/2006, LIPI, Jakarta)

Abstract

The aim of this paper is to describe military operations in Papua undertaken by 
Kodam Tjendrawasih. The operations conducted by the Kodam based on security 
approach have caused thousands of civilian victims. Therefore, Kodam that 
suppose to be the protector of the people and the state has triggered bigger 
problem for unity of the nations, separating movement in the region. The 
problem of Papua has to be solved by targeting the roots of the problem, which 
is the role of military as a tool for solving conflict in Papua. After all, the 
main problem in Papua has to be identified and solved by an approach that 
reaches the basic problem in that region: self esteem and the welfare of the 
people of Papua.

1. Pengantar

Rezim militer Orde Baru Soeharto menjadikan Papua sebagai daerah kekuasaan 
militer, terutama Angkatan Darat (AD). Kesan seperti itu sangat terasa karena 
instansi militer dan para petinggi militer di Kodam dan jajarannya mendominasi 
ranch politik dan jalannya pemerintahan di Papua. Cengkraman AD atas Papua kian 
kuat karena adanya dwifungsi ABRI dan dijadikannya Papua sebagai Daerah Operasi 
Militer (DOM). 

Dengan semangat berdwifungsi, obsesi utama semua pimpinan militer Indonesia, 
khususnya di jajaran Kodam Trikora dan di Pemda Papua alah menghancurkan apa 
yang mereka sebut gerombolan bersenjata OPM. Obsesi penghancuran OPM itu juga 
dimotivasi oleh kepetingan ekonomi dan politik. Secara politik petinggi AD, 
seperti Pangdam, Danrem, dan Dandim adalah juga Ketua Pembina Golkar di 
wilayahnya. Secara ekonomi, semua perusahaan besar di Papua dikategorikan 
sebagai objek vital nasional. Artinya perusahaan-perusahaan itu berada di bawah 
naungan militer untuk keamanannya. Untuk itu, perusahaan-perusahaan harus 
menyetor sejumlah uang.

Pada gilirannya dalam setiap kepala pimpinan dan anggota ABRI, semua orang 
Papua adalah separatis, kecuali orang itu bisa menunjukkan dirinya bukan 
separatis. Untuk motivasi ini, OPM yang selalu kecil kekuatannya selalu 
dikampanyekan sebagai ancaman serius bagi NKRI. Obsesi itu tumbuh dari cara 
pandang yang melihat gerakan menuntut pengakuan identitas politik Papua sekadar 
masalah "bom waktu yang ditinggalkan Belanda" atau bush dari hasutan kelompok 
separates, bukan merupakan persoalan mendasar yang berkaitan dengan rasa 
keadilan dan harga dire orang Papua. Maka dari itu untuk mengenyahkan "hantu 
OPM" itu, kebijakan yang diambil di Papua adalah menghancurkan OPM secara fisik 
(membunuh) dengan menggelar operasi militer berkesinambungan (DOM) dari tahun 
ke tahun.

Dr. Benny Giyai seorang rohaniwan dan intelektual Papua mencatat bahwa 
pengalaman di bawah cengkraman militer itu merupakan pengalaman pahit yang tak 
akan pernah terlupakan oleh orang-orang Papua. Benny menuliskan bahwa dalam 
seluruh pengalaman pahit itu, orang Papua merasa diperlakukan bukan sebagai 
manusia, melainkan hanya sebagai objek, yaitu objek operasi militer. 

Sejarah sebagai objek kekerasan itulah yang selalu diingkari oleh Indonesia 
sampai hari ini. Pihak-pihak militer atau aparat keamanan di Papua sama sekali 
tidak pernah merasa melakukan kejahatan terhadap siapa pun di Papua, karena 
operasi-operasi militer yang mereka lancarkan, atau penangkapan-penangkapan 
serta penyiksaan atau pembunuhan dengan segala bentuknya di Papua hanyalah 
dalam rangka menjalankan tugas sebagai pelindung NKRI dari rongrongan 
organisasi yang disebut sebagai OPM.

Tulisan ini berusaha membeberkan operasi-operasi militer yang digelar oleh 
Kodam yang berpataka "Praja Ghupta Kra" (Ksatria Pelindung Masyarakat) di 
Papua. Dalam pandangan orang-orang Papua, ABRI alih-alih menjadi pelindung, 
malah menjadi seperti pagar makan tanaman. Operasi¬operasi militer mendatangkan 
kesengsaraan lahir dan batin bagi orang-orang Papua. Pandangan orang Papua itu 
masih bertahan sampai saat ini sehingga mendorong mereka menuntut merdeka 
karena rendahnya kepercayaan terhadap instansi pemerintah yang ada di Papua.

Dalam keperluan tulisan ini, operasi-operasi militer yang berjalan 
terus-menerus dilihat sebagai kemenangan politik ABRI dalam melakukan 
bargaining dengan aktor¬aktor negara lain dalam mengambil kebijakan. Dwifungsi 
ABRI membuat aktor¬aktor politik lainnya kehilangan kendali terhadap ABRI. Hal 
itu tej adi karena kuatnya pengaruh perwira militer dalam politik lokal Papua 
baik dalam badan legislatif Papua maupun dalam lembaga eksekutif di Papua. 

2. ABRI: Wajah Indonesia di Papua

Sampai saat ini, argumen Indonesia bahwa proses penggabungan Papua ke dalam 
Indonesia adalah suatu "kehendak dan panggilan sejarah" dari sikap patriotisme 
para sukarelawan terasa tidak memadai lagi. Apa lagi argumentasi yang 
menyatakan bahwa Papua telah menjadi bagian dari Indonesia sejak alam 
terbentang karena terdapatnya persamaan adanya kapak batu persegi dan adanya 
persamaan relief lukisan di dinding gua batu. Lebih tak berarti lagi, apabila 
klaim Indonesia itu semata disandarkan pada penguasaan Papua oleh kerajaan kuno 
seperti Sriwijaya, Majapahit sampai Sultan Tidore. Klaim atas Papua yang 
disandarkan pada argumen bahwa Papua adalah wilayah jajahan Belanda —sejak 
tahun 1828 berkat keberhasilan Belanda mendirikan benteng Fort du Buis di Teluk 
Triton, Kaimana¬secara otomatis menjadi wilayah Indonesia, juga tidak membantu 
banyak dalam menyakinkan orang Papua bahwa mereka adalah bagian sah dari 
Republik Indonesia. 

Semua argumen itu terasa hambar karena tidak berasal dari pengalaman nyata 
orang-orang Papua sendiri dalam berintegrasi dengan negara Republik Indonesia 
yang diproklamasikan 17 Agustus 1945. Lebih tepatnya, orang Papua berinteraksi 
secara nyata dengan entitas negara Indonesia adalah melalui sebuah pedanjian 
internasional yang ditandatangani pada tanggal 12 Agustus 1962 di New York dan 
dilanjutkan dengan referendum tujuh tahun kemudian. Referendum itu disebut oleh 
Indonesia sebagai Pepera yang dijalankan secara musyawarah antara 1.025 orang 
mewakili seluruh orang Papua yang ada kala itu. Baru setelah Pepera di tahun 
1969 itulah Papua berintegrasi dengan Indonesia dengan tulang punggungnya 
pemerintahan militer.

Operasi militer untuk memaksa Papua berintegarasi ke dalam Indonesia secara 
faktual dirintis mulai tahun 1961 dengan masuknya bala tentara Indonesia ke 
Papua dengan sebutan sukarelawan dalam rangka melakukan infiltrasi untuk 
menguasai sebagian wilayah Papua dari Belanda dan kemudian daerah itu 
dimanfaatkan untuk mengacaukan jalannya pemerintahan Belanda atas Papua. Sejak 
k tahun 1961 itulah, masyarakat Papua mengenal Indonesia secara nyata berkat 
adanya pasukan-pasukan ABRI yang menyusup ke Papua. Artinya, wajah pertama 
Indonesia di Papua diwakili oleh sepak terjang para pasukan infiltran ini.

Fase infiltrasi ini ditujukan untuk membentuk basis-basis gerilya dan 
mempersiapkan pembentukan pos terdepan bagi upaya penyerbuan Papua oleh 
Indonesia. Dalam fase ini, dimasukkan Lebih kurang 10 kompi prajurit ABRI ke 
Papua. Fase kedua adalah melakukan serangan terbuka di beberapa daerah seperti 
Biak, Fak-fak, Sorong, Kaimana, dan Merauke. Fase ketiga adalah konsolidasi 
pasukan sebagai kekuatan militer Indonesia di Papua. 

Salah satu perwira ABRI yang menjadi infiltran ini adalah Kapten Benny Moerdani 
(kemudian menjadi Menghankam/ Pangab 1983-1988, Menhankam 1988¬1993) dengan 
pasukan berkekuatan 206 yang berasal dari RPKAD dan Kompi II Batalyon 530/Para 
dari Kodam Brawijaya. Pasukan ini diteijunkan di Merauke dengan sandi Operasi 
Naga. Operasi penyusupan di Papua ini secara keseluruhan diberi sandi Operasi 
Djayawijaya. Setelah New York Agreement disetujui, Benny dipindahkan ke 
Holandia (Jayapura) menjadi komandan sementara seluruh pasukan infiltran 
Indonesia di Irian Barat. 

Seluruhpasukan infiltran ini sebagaimana disyaratkan oleh New York Agreement 
kemudian diorganisasi ke dalam Kontingen Indonesia (Kotindo) sebagai pasukan 
keamanan UNTEA. Konsentrasi dari pasukan Indonesia ini awalnya adalah Merauke, 
Kaimana, FaMak, dan Sorong. Semua pasukan Indonesia ini kemudian dibagi ke 
dalam empat datasemen, yaitu Datasemen A di Merauke, Datasemen B di Kaimana, 
Detasemen C di Fak-fak, dan Detasemen D di Sorong.

Pasukan-pasukan Indonesia ini kemudian diperbantukan kepada United Nation 
Security Force (UNSF) yang merupakan aparat keamanan UNTEA. Meskipun demikian, 
seluruh komando tetap berada di bawah Panglima Mandala. Artinya, pasukan 
Kotindo secara organik tetap merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ABRI. 
Maka dari itu, segala tanggung jawab organisatoris dan administratif tetap 
menjadi tanggung jawab Indonesia.

Dengan posisi yang demikian, ABRI di Papua memiliki dua misi, formal merupakan 
alai kelengkapan dari UNTEA dalam UNSF, sementara infomal adalah untuk 
melanjutkan komando Trikora. Maka dari itu, ABRI dalam Kotindo, lebih 
mementingkan tugas informalnya, yaitu mengawasi UNTEA agar tidak merugikan 
Indonesia dan menekan kekuatan-kekuatan sosial politik orang-orang Papua yang 
menentang Indonesia.

Kehadiran dan sepak terjang ABRI yang kerap melakukan kekerasan di Papua di 
kemudian melahirkan satu sikap yang khas Papua pula, yaitu Indonesia 
diasosiasikan dengan kekerasan. Untuk keluar dari kekerasan, orang-orang Papua 
mulai membangun identitas Papua sebagai reaksi untuk menentang kekerasan yang 
dilakukan oleh para anggotaABRI yang menjadi representasi Indonesia 
bertahun-tahun di Papua. Makna yang terbangun di balik itu adalah menolak 
menjadi Indonesia berarti menolak menjadi korban kekerasan dari ABRI. Sikap 
ABRI atas reaksi orang-orang Papua bukannya mencari jalan penyelesaian secara 
damai, melainkan mengintensifkan kekerasan dengan Skala yang lebih besar 
melalui operasi militer dengan menjadikan Papua sebagai DOM. Akibatnya, 
kekerasan menjadi lingkaran yang tiada putus di Papua selama puluhan tahun. 

Sejak itu secara perlahan, orang-orang Papua, baik elit maupun jelata jugs 
mulai mengenal Indonesia dalam arti sesungguh¬nya. Singkatnya dalam pandangan 
orang Papua, ABRI adalah Indonesia, Indonesia adalah ABRI. Akibatnya, 
perlawanan terhadap Indonesia yang mulai buncah sejak tahun 1963 sampai hari 
ini tidak pernah berhenti. Selalu ada pemimpin baru dengan pengikut yang juga 
potensial terus tumbuh. 

3. Kodam: Tulang Punggung Security Approach

Tahun 1963, Men/Pangad Jend A. Yani mengeluarkan perintah Operasi Wisnumurti 
untuk mendatangkan pasukan dari divisi-divisi di Jawa, Makassar, dan Maluku 
untuk mengembangkan kekuatan tempur dan staf Kodam. XVII. Tugas pokok Kodam ini 
adalah menegakkan kewibawaan Pemerintah Indonesia, menjamin keamanan dan 
ketertiban serta membantu pemerintah sipil dalam membangun Irian Barat. Para 
infiltran yang tergabung dalam Kotindo adalah inti kekuatan ABRI di Papua 
ketika Kodam XVII/ Tjendrawasih dibentuk. 

Sesunguhnya Kodam XVII yang awalnya bernama Kodam XVII/Irian Barat dibentuk 
melalui Surat Men/Pangad/No. Kpts¬105 8/8/1962 pada tanggal 17 Agustus 1962 
atau 2 hari setelah New York Agreement ditandatangani. Karena mass itu, 
Indonesia belum memiliki kewenangan pemerintahan di Papua. Kodam ini hanya 
berada secara bayangan dengan fungsi mengawasi UNTEA dan gerak-gerik politik 
orang-orang Papua, terutama yang pro-kemerdekaan Papua. Brigjen U. Rukmana yang 
komandan Kotindo merangkap sebagai Pangdam pertama di Papua. 

Kodam ini kemudian direalisasikan secara nyata baru 12 Januari 1963 mendekati 
hari penyerahan administrasi ke pemerintahan Papua dari UNTEA ke Indonesia. 
Kodam ini kemudian membentuk komando teritorialnya yang terdiri dari 3 Korem 
dan 23 Kodim. Kemudian komando teritorial ini diubah pada tanggal 3 Maret 1963 
menjadi 3 Korem dan 8 Kodim, 70 Puterpa dan 20 Kooterpa. Komando-komando ini 
berfungsi sebagai gelar pasukan dan sekaligus penguasaan teritorial dalam 
rangka fungsi sosial politik secara nyata. Di samping itu, jugs ditambah dengan 
dua batalion infantri. Kodam mulai berfungsi secara riil 17 Mei 1963, setelah 
UNTEA mengalihkan tanggung jawab administrasi kepemerintahan ke Indonesia.

Kodam XVII/Irian Barat pada tanggal 30 Juni 1964 berganti nama menjadi Kodam 
XVII/Tjendrawasih dengan pataka-nya Praja Ghupta Vira yang berarti Ksatria 
Pelindung Masyarakat. Sejak tahun 1964, inti kekuatan Kodam XVII/Tjendrawasih 
terus berkembang dengan dibentuknya batalion¬batalion baru, yaitu Batalion 751/ 
Tjendrawasih di Manokwari yang berasal dari Kodam VII/Diponegoro, Yonif 752/ 
Tjendrawasih di Sorong berasal dari Kodam VI/Siliwangi, dan Yonif 
753/Tjendrawasih di Jayapura. Ketiga yonif ini merupakan pembaharuan dari yonif 
sebelumnya, yaitu. Yonif 641/Tjendrawasih I yang berasal dari Diponegoro dan 
Yonif 642/Tjendrawasih II yang berasal dari Siliwangi. Ke dalam kedua batalion 
ini telah bergabung unsur dari Papua, yaitu para gerilyawan Kasuari/Trikora dan 
anggota eks-PVK (Papuan Vrywillingers Korp) setelah mereka dididik di Siliwangi 
dan di Diponegoro. Jurnlah seluruh pasukan
ABRI pada awal kehadiran Kodam ini sekitar 2.000 prajurit lebih.

Peran militer—terutama AD¬menjadi kian dominan di Papua ketika ter adi 
reorganisasi militer Indonesia setelah kekuasaan beralih dari tangan Soekarno 
ke tangan Soeharto. Dominasi militer di Papua itu sejalan dengan menguatnya 
militer dalam kekuasaan di Indonesia. Menhankam/Pangab Benny Moerdani yang juga 
anggota, MPR dalam sidang MPR tahun 1988 pernah menyatakan kekuatan militer 
dalam politik itu tak ubahnya sebagai partai politik. Di era Benny Moerdani 
menjadi Menhankam/Pangab inilah peranan Kodam menjadi komando yang dominan di 
daerah dan sekaligus satu-satunya kekuatan militer yang mengendalikan kondisi 
keamanan dan ketertiban sekaligus kondisi sosial-politik daerah. Dalam 
menjalankan fungsi sosial¬politik ini, ABRI aktif dalam menggalang kekuatan 
politik bersama dengan Golkar. Sejak orang Papua ikut Pemilu Indonesia di tahun 
1971 sampai Pemilu tahun 1997, Golkar tetap merupakan partai politik dominan di 
Papua dengan perolehan suara di atas 80%.

Sejalan dengan kebijakan itu, kemudian Kodam XVIYriendarawasih digabung dengan 
Kodam XV/Patimura menjadi KodamXVII/ Trikora yang menjadi kekuatan uatan hankam 
dan sosial politik utama pula di Papua. Sebagai kekuatan hankam dan 
sosial-politik titik berat tugas ABRI di Papua adalah mengatasi gangguan 
kamtibmas dan menangkal subversi dalam negeri. Dengan titik berat tugas militer 
seperti itu, Kodam akhirnya menjadi institusi yang dikuasai oleh AD. 

Sejalan dengan itu, rangkaian kekerasan dan pelanggaran HAM terjadi. Pengalaman 
buruk di bawah DOM ini, kemudian membangkitkan pengalaman buruk rakyat Papua 
selama proses awal integrasi dan Pepera. Pengalaman buruk itu kemudian tampil 
ke permukaan secara terbuka di kala kekuasaan militer dalam pemerintahan surut 
ketika reformasi politik terjadi tahun 1998. Di era reformasi, di Papua tumbuh 
keberanian mempersoalkan seluruh kekuasaan Indonesia di Papua yang didominasi 
oleh militer itu. Keberanian itu kian buncah ketika Panglima ABRI Jenderal 
Wiranto di bulan Agustus 1998 menyatakan mints maaf dan mencabut status Papua 
sebagai daerah DOM. 

Dengan latar sejarah dan posisi politik seperti itu, militer di Papua merasa 
dan melihat dirinya sebagai satu-satunya institusi yang menjaga keutuhan 
Indonesia di Papua. Pada gilirannya, militer di Papua selalu bertindak kerena 
terhadap segala bentuk gerakan atau opine yang mempertanyakan atau memprotes 
keadaan yang dirasakan kurang adil oleh tokoh-tokoh Papua. pada gilirannya, 
militer Indonesia di Papua sangat mudah memvonis seluruh bentuk protes orang 
Papua sebagai gerakan separatis.
Ketika cap separatis sudah dialamatkan oleh militer kepada seseorang di Papua 
maka orang itu akan bisa menjadi korban dalam sekejap. Baik menjadi korban 
penculikan, penyiksaan, bahkan pembunuhan. Aksi kekerasan itu berlangsung 
bertahun-tahun, dengan ribuan korban jiwa. Para korban dan keluarganya inilah 
bersama-sama dengan kalangan muds dan mahasiswa Berta tokoh-tokoh terpelajar 
Papua di era reformasi mulai menyuarakan perlunya Indonesia 
mempertanggungjawabkan seluruh kekerasan itu. Untuk meminta pertanggung¬jawaban 
itu, wacana hak asasi manusia menjadi wacana yang paling dominan di Papua..

Kian menghujamnya cengkraman militer terhadap kehidupan sosial politik di Papua 
juga tidak terlepas dari potensi ekonomi daerah ini yang begitu besar. Hal itu 
terlihat ketika PT Freeport mulai menanamkan investasinya di Papua.. Untuk 
melindungi PT Freeport, militer di Papua mulai mengembangkan pengaruhnya dalam 
politik lokal dengan cara yang lebih keras. Selain itu, militer juga 
memperbesar kekuasaanya dengan menempatkan dire sebagai pelindung dari 
mengalirnya ribuan para imigran dan transmigran dari luar Papua. Semuanya ini 
disebut oleh para petinggi militer sebagai tugas nasional dalam rangka menjaga 
integritas teritorial Indonesia di Papua. Seluruh sepak terjang militer yang 
mendatangkan luka di hate orang Papua inilah yang hendak diperbaiki dengan 
diberikan status otonomi khusus terhadap, Papua. Pada bagian Menimbang dari UU 
Otsus menyatakan bahwa penyelenggmmpemenntahm dan pelAsmaan pembangunan di 
Provinsi Papua selama ini belum sepenuhnya memenuhi rum keadilan, memenuhi 
kesejahteraan rakyat, penegakan hukum, dan belum sepenuhnya menghormati hak 
asasi manusia, khususnya hak asasi masyarakat Papua.

4. Operasi-Operasi Militer: Penderitaan Rakyat Papua

Untuk mendapatkan perhatian, OPM kerap melancarkan gerakan bersenjata secara 
sporadic. Hal itu ditempuh OPM karena terbatasnya kemampuan tempur akibat 
sedikitnya jumlah persenjataan. Selain itu, juga karena tidak mudahnya medan 
Papua untuk membangun kekuatan besar yang terorganisasi secara baik. Selain 
gerakan bersenjata, secara umum usaha OPM untuk menunjukkan diri mereka tetap 
eksis adalah aksi penculikan, aksi penyergapan, pengibaran benders Bintang 
Kejora, penyebaran propaganda melalui media selebaran, dan mobilisasi 
demonstrasi atau rapat umum di daerah-daerah terpencil. Selain itu, kerap pula 
ditempuh aksi lintas batas, terutama ke PNG.

OPM pada awalnya adalah reaksi orang¬orang Papua atas sikap pejabat-pejabat 
asal Indonesia yang mengecewakan mereka sejak tahun 1963. Perlawanan secara 
bersenjata pertama kali diluncurkan di Kebar, Manokwari 26 Juli 1965.. 
Perlawanan di Kebar ini dipimpin oleh Johannes Djambuani dengan kekuatan 400 
orang yang berasal dari suku Karun dan Ayamaru. Seiring dengan itu, sukuArfak 
di Arfai, Manokwari melancarkan pula perlawanan yang dipimpin oleh Mayor 
Tituler Lodewijk Mandatjan yang diikuti oleh Kapten Tituler Barent Mandatjan 
dan Lettu Tituler Irogi Maedogda dengan mengajak penduduk lari ke hutan.

Sementara di Manokwari 28 Juli 1965 juga terjadi perlawanan yang dipimpin oleh 
Permanas Ferry Awom dengan pengikutnya sekitar 400 orang yang berasal dari suku 
Biak, Ajamaru, Serui dan Numfor menyerang asrama Yonif 641/Tjendrawasih I. 
Dalam penyerangan ini 3 anggota ABRI tewas. 

Setelah terjadi penyerangan, ABRI melancarkan Operasi Sadar di bawah komando 
Pangdam Brigjen R. Kartidjo untuk menghancurkan kelompok perlawanan. Operasi 
Sadar ini tidak saja bertujuan untuk mematahkan perlawanan yang terjadi di 
Manokwari, tetapi juga menegaskan kekuasaan Kodam XVII atas seluruh wilayah 
Papua. Tugas pokok operasi adalah melakukan penghancuran terhadap gerombolan 
yang bergerak di sekitar Manokwari dan Kebar sekaligus, minimum menangkap Ferry 
Awom dan Julianus Wanma, baik coati maupun hidup sebelum tanggal 17 Agustus 
1965. Operasi ini sejak 10 Agustus dilancarkan secara intensif dan 
terus-menerus ke kampung-kampung yang menjadi basis-basis perlawanan. Dalam 
operasi pengejaran terhadap kelompok perlawanan, 36 orang penduduk yang disebut 
sebagai anggota OPM tewas. 

Sejalan dengan operasi pengejaran ini, Operasi Sadar dikembangkan ke seluruh 
wilayah Irian Barat pada tanggal 25 Agustus 1965. Sejak ini, Operasi Sadar 
langsung dipimpin oleh Pangdam. Berdasarkan perintah operasi ini, wilayah Papua 
kemudian dibagi ke dalam 4 sektor. Sektor I adalah daerah yang meliputi 
Manokwari dan sekitarnya menjadi pos terdepan operasi. Untuk daerah ini 
dilancarkan operasi intelijen dan teritorial untuk mendukung operasi fisik 
(tempur). Di sektor lainnya yang belum menujukan adanya perlawanan fisik, hanya 
dilancarkan operasi intelijen dan teritorial dengan tujuan untuk mencegah 
meluasnya pengikut perlawanan. 

Operasi ini dilanjutkan oleh Pangdam yang baru, yaitu Brigjen R. Bintoro. 
Sepanjang tahun 1966-1967 operasi tempur ABRI kian massif untuk menghadapi 
kelompok-kelompok perlawanan yang tumbuh dari suku Arfak di Manokwari di bawah 
pimpinan Lodewijk Mandatjan dan Ferry Awom dan juga di daerah sekitar Jayapura 
dan Merauke. Nama operasi kali ini adalah Operasi Baratayudha dengan 
mendatangkan pasukan dari Yonif 314/ Siliwangi dengan 2 kompi Yon 700/RIT dan 2 
kompi Yon 935/Brimob. Selain itu dalam operasi ini juga dilibatkan 2 Ton 
KKO/ALRI, 1 Ton Kopasgat dan 1 tim RPKAD. Pasukan tempur ini juga diperkuat 
dengan 2 pesawat Bomber B-26 dan 1 Pesawat Dakota dan 1 Kapal Perang. 

Operasi Baratayudha bertujuan menghancurkan perlawanan dan mempersiapkan 
pemenangan Pepera. Operasi ini bersifat tempur dengan dibantu oleh operasi 
intelijen dan teritorial yang disiapkan dalam tiga fase, yang fase terakhirnya 
adalah tahun 1968. Fase ketiga, ini ditujukan untuk konsoliasi persiapan 
memenangkan Pepera.

Operasi Baratayudha yang banyak menelan korban jiwa membuat kelompok perlawanan 
terpecah menjadi kecil-kecil dan surut. Untuk mengintensifkan kemenangan dalam 
Pepera, kelompok-kelompok kecil ini kemudian dikejar terus-menerus.. Inti dari 
pasukan yang mengejar ini adalah dari RPKAD. Sejalan dengan ini, show offorce 
dari kekuatan yang diiringi dengan operasi intelijen dan territorial 
dilancarkan di daerah yang perlawanan kecil dan melemah untuk memenangkan 
situasi psikologis. Sepanjang tahun 1967, operasi berhasil menembak coati 73 
orang dan menangkap 60 orang dengan menyita 39 pucuk senjata. Adapun yang 
menyerahkan diri 3.539 orang. Operasi Barathayuda ini menggetarkan hati banyak 
orang Papua, karena mereka tidak mengira Indonesia akan melancarkan perang 
terbuka yang banyak mendatangkan penderitaan fisik dan psikis dalam menghadapi 
protes mereka.

Ketika Brigjen Sarwo Edi menjadi Pangdam, digelar operasi baru yaitu operasi 
Wibawa dengan tugas utama adalah memenangkan Pepera untuk Indonesia. Tugas 
pokok dari operasi ini adalah menghancurkan kelompok perlawanan, mengamankan 
usaha memenangkan Pepera Berta menumbuhkan dan memelihara kewibawaan 
pemerintah. Untuk tujuan itu, Kodam melakukan sinkronisasi operasi tempur, 
intelijen, dan teritorial. Sejalan dengan ini, Pangdam memerintahkan di setiap 
Kodim disiapkan kekuatan tempur agar bisa digunakan jika diperlukan.

Dalam kerangka memenangkan Pepera, OPSUS di bawah pimpinan Mayor Ali Moertopo 
yang bergerak dalam bidang intelijen dan sosial-ekonomi berperan dominan dalam 
melakukan operasi teritorial untuk penggalangan. Dalam kerangka Operasi Wibawa, 
pemenangan Pepera ke Kodam diperbantukan intelijen dari Den Dipiad dan 
intelijen dari Tim Karsa Yudha/RPKAD. Untuk memenangkan Pepera itu, intimidasi 
dan kekerasan telah memaksa sebagian orang memilih menjadi Indonesia. Secara 
keseluruhan, dalam operasi ini dilibatkan 6.220 orang pasukan..

Operasi pemenangan Pepera ini dibagi ke dalam 4 fase. Fase pertama adalah 
menghancurkan kelompok perlawanan dan sekaligus memperluas sebaran pasukan ABRI 
ke daerah-daerah yang telah dikuasai. Selain itu, di setiap Puterpa disiapkan 1 
regu pasukan infantri untuk melakukan operasi teritorial. Fase kedua adalah 
memastikan di daerah-daerah Kepala Burung Pepera dimenangkan oleh Indonesia. 
Untuk ini, segenap unsur ABRI dilibatkan untuk mengeliminir kelompok 
perlawanan. Fase ketiga dan keempat adalah memastikan kemenangan pada hari 
H-nya dan mengamankan hasilnya. 
Meski pun fase-fase itu telah disiapkan, ternyata upaya memastikan Pepera bisa 
dimenangkan oleh Indonesia tidak berjalan secara mulus. Di daerah Erambo 
(Merauke), Dubu/Ubrub (dekat perbatasan), Enaratoli dan Wahgete (Paniai) 
terjadi penolakan oleh masyarakat setempat. Para utusan pemerintah dan unsur 
ABRI yang ada di daerah itu dilawan oleh penduduk.

Di Enarotali, perlawanan lebih hebat dengan melancarkan gerakan bersenjata 
serta terang-terangan menolak bergabung ke Indonesia yang dipimpin oleh A.R.. 
Wamafma, Senen Mote, Maphia Mote, dan Thomas Douw. Perlawanan ini juga didukung 
oleh beberapa orang polisi asal Papua yang berpihak kepada kelompok perlawanan. 
Untuk menghentikan gerakan ini, Pangdam Sarwo Edi 'memerintahkan menghancurkan 
kelompok perlawanan. Untuk itu, pasukan Kopashanda dan pasukan dari Kompi 3, 
Batalyon 724/Hasanuddin diterjunkan di Enarotali untuk membantu pasukan yang 
ada di Kodim 1705/Nabire. Pasukan ini dalam operasinya didukung pula oleh 
Dipiad (Dings Pelaksana Intelijen AD) dan Satgas AURI yang dilengkapi pesawat B 
26, Dakota, dan Hercules. Pasukan Yon 724/Hasanuddin ini kemudian bergerak 
melancarkan operasi ke berbagai daerah di sekitar Paniai. Operasi yang dipimpin 
oleh Mayor Mochtar Jahja dan Mayor Sitompul ini tidak mudah dilupakan oleh 
rakyat Paniai karena dalam operasi ini militer bertindak secara kasar dan 
membabi buts itu. Ditengarai ada sekitar 634 orang penduduk terbunuh sepanjang 
operasi itu. 

Aksi perlawanan menjelang Pepera ini jugs pecah di Piramid, Wamena. Dua orang 
anggota ABRI dibunuh oleh penduduk. ABRI dalam pensttwa Piramid ini melancarkan 
operasi intelijen dan teritorial untuk mencari pelakunya. Pasukan dari Satgas 
3/Hasanuddin dikerahkan untuk menguasai kampung-kampung dan mencari pelaku.

Gencarnya operasi-operasi militer yang diperintahkan oleh Pangdam Sarwo Edi 
tidak terlepas dari fungsinya sebagai Ketua Proyek Pelaksana Daerah. Sesuai 
dengan surat Mendagri No. 30/1969, Pangdam bertanggung jawab atas pengendalian, 
penggerakan, dan koordinasi kegiatan semua aparatur pemerintah daerah, sipil, 
dan swasta dan ABRI di Papua. Dengan lain kata, Pangdam adalah penguasa 
tertinggi di Papua dalam menjalankan pemerintahan dan bertanggung jawab penuh 
untuk memenang-kan Pepera. Dalam posisinya sebagai Ketua Proyek, Pangdam 
melancarkan usaha-usaha peningkatan operasi tempur di semua line untuk 
menghancurkan perlawanan, melakukan operasi teritorial untuk penggalangan 
kondisi bagi pemenangan Pepera dan mengintensifkan operasi intelijen untuk 
mematahkan sisa-sisa, gerakan separates. Selain itu, melakukan operasi 
pengamanan objek vital dan tempat-tempat sidang Dewan Pepera. 

Sejalan dengan kemenangan Indonesia dalam Pepera, ABRI melakukan pula 
fungsi¬fungsi sosial-politiknya. Untuk itu, Kodam melancarkan program 
penggantian para pej abat kabupaten dan dinar-dinar yang dilihat diragukan 
loyalitasnya pada Indonesia. Bersamaan dengan ini, keanggotaan DPRD I dan II 
melakukan penyusunan ulang dengan memasukan anggota, ABRI menj adi anggota atau 
pimpinan dewan. Dalam konteks ini, pasukan ABRI juga dirapatkan di 
kampung-kampung untuk mengawasi kehidupan masyarakat secara langsung. Di 
ramping itu, juga melancarkan proyek civilisasi dan kesehatan bekerja sama 
dengan zending dan misi yang telah ada. Dalam bidang ekonomi, Kodam juga turut 
serta melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi dengan mengontrol arcs dan harga 
barang. Semua kegiatan ini disebut sebagai kegiatan civic mission ABRI di 
Papua.. 

Setelah memenangkan Pepera, 29 Januari 1970 Brigjen Acub Zainal ditunjuk 
menjabat Pangdam Tj endrawasih. Di tangan Pandam baru ini, organisasi Kodam 
menjadi 3 Korem, 9 Kodim, dan 3 Yonif. Yonif 751/ Tjendrawasih di Arfai, 
Manokwari berasal dari Kodam Diponegoro dengan status tugas jangka panjang. 
Yonif 752/Tjendrawasih di Sorong berasal dari Kodam Siliwangi dan Yonif 
753/Tjendrawasih di Ifar Gunung, Jayapura berasal dari Brawijaya ditambah 
prajurit asli orang Papua. Ketiga Yonif ini dikembangkan menjadi pasukan 
organik Kodam Tjendrawasih. Sementara pasukan¬pasukan ABRI dari kesatuan 
lainnya yang berasal dari luar Papua mengalami rotasi penugasan. Pasukan lama 
pulang dan diganti dengan pasukan baru dari asal kesatuan yang sama. 
Reorganisasi ini juga sejalan dengan reorganisasi Kopkamtibda di Irian Jaya. 
Semua ini dipersiapkan untuk menyambut pelaksanaan Pemilu 1971.

Pemilu 1971 ini merupakan pemilu pertama Indonesia di bawah kekuasaan rezim 
Orde Baru Soeharto. Pemilu ini juga merupakan pemilu pertama bagi orang Papua 
dalam kekuasaan Indonesia. Dalam mempersiapkan Pemilu 1971 ini, Kodam juga 
menghadapi perlawanan, terutama di Biak Utara dan Barat, serta di kepala burung 
Manokwari. Untuk menghentikan perlawanan tersebut dilancarkan operasi militer. 
Sandi operasi adalah Operasi Pamungkas dengan pendekatan pada operasi 
teritorial yang dibantu tempur dan intelijen. Pelaksana Operasi adalah Kodim 
Biak yang dibantu pasukan tempur dari Yonif 753 dan 752/Tjendrawasih serta 
Dipiad. Operasi di Biak ini dipimpin oleh Dandim Biak Mayor R.A. Hendrik dan 
Mayor Puspito yang juga Komandan Yon 753. 

Bulan Juli 1971 ini, Kodam juga melancarkan Operasi Pamungkas di Manokwari 
untuk mengejar Ferri Awom yang belum menyerah. Operasi ini dipimpin oleh 
Danyongab Satgas 3/Merdeka, Mayor Ahmad. Kemudian digantikan oleh Letkol S. 
Mardj an. Dalam Operasi ini terlibat pasukan dari Satgas 3/.N4erdeka dan 1 
peleton dari Yon 751 dan 1 peleton dari Kompi 753. Batalion-batalion bertugas 
mengejar kelompok perlawanan sepanjang hari selama berbula-bulan, Siang, dan 
malam. Dalam pengejaran ini Kapten Sahala Rajaguguk berhasil membujuk Ferry 
Awom untuk Turín menyerah dengan 400 orang anggotanya. 

Operasi militer yang masif di tahun 1971 ini alih-alih membuat sentimen anti 
Indonesia surut, malah perlawanan berkembang ke berbagai kota dalam bentuk 
penyerangan terhadap pos-pos ABRI dan pemerintahan. Melihat perlawanan menguat, 
Kodam kian memperkuat kekuasaannya di Papua dengan menutup, Papua bagi media. 
Suasana ketakutan merajalela di seantero Papua. Selama menjelang dan sesudah 
Pemilu 1971 tidak ada satu pun orang di Papua berani mempersoalan ketidakadilan 
atau tindakan-tindakan anggota militer yang menyakitkan hati mereka.

Atmosfer ketakutan itu muncul dari tindakan militer Indonesia yang selalu 
melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap daerah-daerah yang 
ditengarai sebagai basis OPM. Dalam melakukan serangan, ABRI kerap melibatkan 
pasukan dalam jumlah besar dengan dibantu oleh pesawat pembom Bronco dan 
helikopter bersenjata. Serangan besar-besaran itu tidak saja mengejar anggota 
OPM yang mencoba menyerang pos-pos ABRI, melainkan kerap kali menelan korban 
jiwa dari penduduk kampung yang tidak terlibat dalam OPM.

Banyaknya korban jiwa di akhir tahun 1970-an ini juga disebabkan oleh sikap 
militer Indonesia sendiri yang tidak pernah secara jelas memposisikan OPM 
sebagai gerakan kemerdekaan. OPM hanya dilihat sebagai gerakan kriminal yang 
disebut sebagai Gerakan Pengacau Liar (GPL) atau Gerakan Pengacau Keamanan 
(GPK). Dengan cara seperti ini, setiap korban jiwa yang jatuh dari kalangan 
orang-orang Papua dengan mudah diklaim oleh militer sebagai anggota OPM. 

Menjelang Pemilu 1977 kembali perlawanan dilancarkan, oleh kelompok-kelompok 
OPM di Papua, terutama di daerah Kobagma, Bokondini, Mulia, Ilaga, Piramid, 
Kabupaten Jayawijaya. Perlawanan ini dipicu oleh penempatan kesatuan-kesatuan 
ABRI di hampir seluruh wilayah Papua. Operasi-operasi militer untuk mematahkan 
perlawanan menjelang Pemilu 1977 dan Sidang Umum MPR 1978 ditingkatkan baik 
secara kuantitatifmaupun kualitatif. Selain itu, perlawanan juga pecah di 
Enarotali, Biak, dan Mimika serta di sepanjang daerah perbatasan dengan PNG Era 
ini dianggap oleh orang Papua sebagai era awal status Daerah Operasi Militer 
bagi Papua diterapkan . Pangdam Tjendrawasih waktu ini dijabat oleh Brigjen 
Imam Munandar.

Di Jayawijaya, terutama di daerah sekitar Tiom dan Kwiyawage yang merupakan 
lembah-lembah di Baliem dilangsungkan pula operasi militer untuk menghentikan 
perlawanan dan mempersiap-kan Pemilu 1977. Operasi dilancarkan di bulan April 
dan Juni. Perlawanan orang Ndani di daerah ini diawali oleh perasaan tidak suka 
Suku Ndani terhadap kebijakan Indonesia yang memaksa mereka berganti pakaian. 
Sekitar 15.000 orang berkumpul melakukan protes. Perlawanan ini diawali oleh 
Operasi Koteka yang dilancarkan untuk mengadabkan orang-orang di daerah itu. Di 
Tiom sekitar 4.000 orang melawan dengan cara menyerang pos pemerintah di daerah 
itu. Kemudian ke daerah ini diterjunkan pasukan khusus dari RPKAD dengan didrop 
dari helikopter. Selain itu, para penduduk yang mencoba menyelamatkan diri ke 
hutan-hutan dihujani tembakan dari udara..

Di areal PT Freeport di Timika bulan Juli 1977 juga terjadi gejolak. penduduk 
setempat yang ditengarai digerakkan oleh OPM juga melancarkan serangan terhadap 
pips-pips dan fasilitas PT Freeport karena merasa kecewa atas kehadiran 
perusahaan itu. ABRI membalas aksi penduduk itu dengan melakukan penembakan 
dari udara menggunakan pesawat Bronco. Setelah itu, ke berbagai deretan kampung 
di selcitarAgimuga diterjukan pasukan infantri dari Batalion 753/Tjendrawasih 
untuk mengejar penduduk dan membakar perkampungan. Implikasi dari aksi 
kekerasan ini penyelengaraan Pemilu 1977 di beberapa kampung di daerah 
pegunungan ini terpaksa ditunda. 

Robin Osborne mencatat operasi militer di tahun 1977-1978 adalah operasi 
militer paling buruk. Dalam setiap operasi pengejaran terhadap mereka yang 
disebut kelompok OPM diterjunkan pasukan dalam jumlah besar yang berintikan 
kesatuan RPKAD dan pasukan angkatan darat lainnya. Di daerah selatan Jayapura 
yang berdekatan dengan perbatasan yang dikenal sebagai daerah Markas OPM 
diterjukan 10.000 orang tentara setelah daerah itu dibombardir dari udara oleh 
dua pesawat Bronco. Dalam penyerangan ini, diperkirakan 1.605 orang para 
pendukung OPM dan penduduk di wilayah itu tewas. operasi militer ch tahun-tahun 
ini selalu diingat oleh orang-orang tua di daerah itu, sebagai kenyataan paling 
pahit dalam hidup mereka. 

Sepanjang tahun 1977-1978 itu, Dubes Indonesia untuk PNG memperkirakan 1.800 
orang pasukan dikerahkan beroperasi di hutan-hutan untuk melakukan pengejaran 
dan 3.000 orang siaga berada di Jayapura untuk setiap saat menggantikan. 
Menyadari operasi militer itu telah menciptakan ketakutan dan menelan banyak 
korban jiwa yang tidak perlu, Panglima ABRI kala itu, Jenderal M. Yusuf, 
mengumumkan akan mengurangi operasi militer di Papua dengan mengintrodusir 
kebijakan bare yang dikenal dengan kebijakan Operasi Senyum. Dalam Operasi 
Senyum ini dinyatakan Indonesia tidak akan melancarkan operasi besar-besaran, 
karena OPM mulai dilihat kecil dan tidak membahayakan. ABRI hanya, akan 
melancarkan patroli di perbatasan dan tugas keamanan rutin. 

Gejolak kembali membuncah di tahun 1980-an, terutama sekitar tahun 1984. Di 
tahun 1980-an Kodam telah dinyatakan sebagai Kotama dalam jajaran AD. Panglima 
Kodam menjadi pimpinan di daerah untuk seluruh jajaran komando. Pangdam dalam 
reorganisasi organisasi ABRI ini langsung berada di bawah Panglima ABRI. 
Sejalan dengan itu, Panglima ABRI juga memiliki komando langsung kepada Kotama 
AD lainnya, yaitu Kostrad dan Kopassus. Oleh karena itu, di era ini kerap kah 
operasi militer melibatkan pasukan-pasukan dari Kostrad dan Kapassus dengan 
perintahnya langsung dari Panglima ABRI, dan Kodam hanya memfasilitasi. 
Kenyataan ini kemudian dikenal dengan nama pasukan BKO (bawah kendali operasi). 
Di era ini, Papua juga tertutup bagi media sehinggabanyak operasi yang 
dilancarkan oleh militer tidak diketahui oleh orang luar. Robin Osborne 
menyebut keadaan ini sebagai perang rahasia Indonesia di Papua.

Di awal tahun 1980-an, Kopkamtib mengeluarkan analisis bahwa kekuatan OPM telah 
mengecil dan terpencar-pencar ke dalam kelompok kecil-kecil dengan senjata yang 
sangat terbatas. Meskipun demikian, Laksusda Irian Jaya kala itu juga melihat 
gerakan kelompok-kelompok OPM itu kembali mulai aktif setelah menerima pukulan 
telak sepanjang tahun 1977-1978. Gerakan OPM itu aktif sepanjang daerah 
perbatasan dengan PNG. Antara bulan Maret dan Juni 1984, pasukan dari 
Kopasandha (Kopassus) mulai melakukan penyusupan ke daerah-daerah sekitar 
perbatasan.

Aksi pasukan baret merah ini adalah dengan melakukan penangkapan terhadap 
setiap orang yang dicurigai. Osborne mencatat gerakan pasukan ini sangat 
menakutkan penduduk sekitar perbatasan karena perlakuan buruknya terhadap 
penduduk. Akibatnya, ratusan orang melarikan diri ke daerah PNG karena takut. 
Pengungsian ke PNG di tahun 1984 ini kian banyak ketika Suku Muyu di 
Mindiptana, Woropko, dan Merauke juga masuk ke PNG. Pengungsian Suku Muyu ini 
dipicu oleh kehadiran pasukan ABRI, yaitu intelijen Kopassus di daerah itu 
untuk mencari anggota OPM setelah ter adinya penyerangan pos ABRI di desa 
Kanggewot dan Kakuna tanggal 11-12 April 1984. Gerakan suku Muyu ini kemudian 
juga diikuti oleh penduduk dari daerah lainnya, yaitu dari Jayapura, Wamena, 
Sorong, Mimika (Amungme), Manokwari, dan Fak-fak. Seluruh pengungsi asal Papua 
yang masuk ke PNG ini diperkirakan mencapai 10.000 orang. Sementara Yafet 
Kambai mencatat dari seluruh pengungsi itu hanya sekitar 7.500 berhasil masuk 
ke PNG dan 1.900 orang berdiam diri di hutan-hutan sekitar perbatasan.. Seluruh 
pengungsi ini ditempatkan di kamp East Aswin dan Western Province, PNG. 

Gerakan pengungsian ke PNG selain faktor operasi militer di daerah perbatasan 
itu, juga disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, yaitu aktifnya 
OPM di daerah itu, munculnya rasa kecewa karena macetnya pembangunan, banyaknya 
operasi intelijen, dan masuknya arcs transmigrasi secara besar-besaran ke Papua 
terutama di sekitar daerah perbatasan. Transmigrasi yang di dalamnya juga masuk 
keluarga ABRI dan para pensiunan ABRI kian membuat orang takut sekaligus merasa 
tanahnya dirampas. Para purnawirawan ABRI yang ikut dalam pemukiman 
transmigrasi sekaligus menjadi Intel Kodam dalam mengawasi daerah itu. Daerah 
daerah transmigrasi ini seperti di Arso dan Koya atau di beberapa daerah di 
Merauke dijadikan pula sebagai daerah penyangga bagi OPM dan memudahkan ABRI 
untuk melakukan patroli di daerah itu. 


Pengungsian ke PNG di tahun 1983-1984, juga dipicu oleh banyaknya terjadi 
penangkapan-penangkapan di kota-kota Papua, terutama Jayapura oleh intelijen 
Kopasandha. Mereka yang ditangkap ada 20 orang yang berasal dari Uncen dan 
pegawai Gubernuran Irian Jaya. Salah seorang dari mereka adalah Arnold Ap yang 
menjabat sebagai Kepala Museum Antropologi Uncen. Penangkapan ini menimbulkan 
keresahan di Jayapura. Akibatnya, banyak dari para mahasiswa Uncen dan pegawai 
di pemerintah daerah lari ke PNG. Bahkan di Jakarta, tiga orang sahabat Amol Ap 
yang memprotes penangkapan dan pembunuhan Arnold oleh Kapassus ke DPR-RI 
terpaksa meninggalkan Jakarta. 

Setelah pelarian besar-besaran ke PNG tahun 1984 ini, gerakan perlawanan dari 
OPM betul-betul surut. Namun, ABRI yang kian merasa berkuasa atas Papua tidak 
bisa meninggalkan cars-cars kekerasan untuk menunjukkan dominasinya. Stigma OPM 
diekploitasi sedemikian rupa untuk melumpuhkan siapa saja yang dianggap 
menentang Indonesia. Tindakan kekerasan itu kerap pula dipakai setiap menjelang 
pemilu demi memenangkan Golkar di Papua.

Operasi militer setelah tahun 1984 berjalan secara lebih masif, namun aksi 
kekerasan dalam operasi itu tidak diketahui oleh publik di luar Papua karena 
media massa dilarang memberitakannya. Kemasifan operasi itu ditopang oleh 
kebijakan ABRI yang menjadikan yonif sebagai kekuatan inti tempur dengan 
pasukan tambahan dari Jakarta atau Makassar dan Maluku yang di-BKO-kan ke 
kodam. Di tahun 1984 ini, kodam. memilik 6 yonif, 3 di Papua dan 3 yonif di 
Maluku sebagai hasil penggabungan kodam. Dare 3 yonif di Maluku, satunya adalah 
Yonif Linud 733 di Ambon yang berkualifikasi para. Yonif dare Maluku ditugaskan 
melakukan operasi secara bergantian, sementara yonif di Papua melakukan operasi 
sepanjang tahun di bawah kendali korem. 

Papua sebagai daerah operasi, satuan intelijen kodam dan jajarannya memegang 
peranan yang besar untuk menghancurkan gerakan yang disebut separates. Oleh 
karena itu, peranan intelijen dan operasi kontra intelijen selalu aktif 
sepajang tahun. Para intelijen dari kodam dan korem direkrut dari anggota 
satuan tempur yang memiliki naluri intelijen dan kemudian dilatih 3 sampai 10 
hari sebelum diterjunkan mengumpulkan informasi. Selain itu, anggota intelijen 
ini latihan sambil bertugas bersama dengan intelijen tempur yang datang dari 
Kopassus. 

Operasi-operasi di masa ini adalah Operasi Gagak I (1985-1986) yang dipimpin 
oleh Pangdam Mayjen H. Simanjuntak. Dalam operasi ini, pasukan operasi dibagi 
ke dalam sektor A di perbatasan, B di tengah dan C kepala burung dengan komando 
Korem masing-masing. Danrem adalah komandan sektor operasi. Kodim menjadi 
subsektor dengan Dandim sebagai Dansubsektor. Titik tekan operasi adalah 
teritorial dengan didukung oleh operasi intelijen dan tempur serta kamtibmas. 
Sektor Al meliputi daerah Kodim 1701/Jayapura, yaitu Membramo, Arso, Wares. 
Senggi, Kemtuk dan Demta. Pasukan yang dikerahkan di daerah ini adalah Yonif 
733/ BS, satu kompi dari Yonif 751, 9 tim intelijen, aparat teritorial setempat 
serta dibantu oleh 2 SSK Wanra. Sementara A2 meliputi daerah Kodim 1702/Wamena 
dengan kekuatan pasukan dari 1 regu Yonif 751, 2 peleton Kilipur-4/Diponegro, 2 
peleton Senzipur 10 serta pasukan teritorial setempat berserta 2 SST 
wanra/hansip. A3 adalah daerah Kodim 1707/Merauke dengan sasaran utama adalah 
desa Mendiptana dan Waropko. Pasukan yang ditedunkan di daerah ini adalah 1 
kompi Yonif 751,1 peleton Zipur 4/Diponegoro, I peleton Denzipur 10, dan aparat 
teritorial yang dibantu oleh 2 SST wanra/hansip.

Daerah operasi sektor B adalah meliputi daerah Korem 173/PVB, dengan hot spot 
operasi di Nabire. Sasaran utama adalah Enarotali dan Kebo, Ilaga. Operasi ini 
bertujuan memburu pimpinan OPM, yaitu Daniel Kogoya, Tadius Yogi, dan Simon 
Kogoya. Pasukan yang dikerahkan ke daerah ini adalah 1 pleton Yonif 753,1 
peleton Zipur 4/Dip dan Apter setempat dan dibantu oleh 2 SST hansip/wanra.

Sektor C adalah daerah Fak-fak dengan fokus operasi di daerah C3, yaitu daerah 
kompleks Tembagapura, Agimuga, dan Timika. Pimpinan OPM yang hendak dikejar di 
daerah tambang PT Freeport ini adalah Vicktus Wangmang dengan mengerahkan 
pasukan dari Yonif 752 dengan kekuatan 2 kompi dibantu Apter dan 2 SST 
hansip/wanra. Dalam Operasi Gagak I ini, Kodam mencatat 14 orang yang diduga 
OPM berhasil dibunuh dan 8 orang ditangkap dengan menyita 2 pucuk senjata.

Memasuki tahun 1986 operasi ini dilanjutkan Pangdam Mayjen Setiana dengan sandi 
Operasi Gagak II (1986-1987) dengan tugas pokok penghancuran GPK. Titik tekan 
operasi adalah operasi teritorial dan intelijen untuk memisahkan GPK dari 
rakyat serta melakukan deteksi loyalitas rakyat terhadap pemerintah. Operasi 
intelijen melakukan penggalangan agar loyalitas rakyat meningkat. Operasi 
tempur terus dijalankan dengan menggelar patroli untuk mengejar dan 
menghancurkan. Operasi dilancarkan dengan tetap membagi daerah operasi ke dalam 
3 sektor. Pasukan yang dilibatkan dalam Operasi Gagak II ini adalah seluruh 
pasukan organik tempur dan teritorial Kodam VIII/ Trikora. Serta pasukan BKO 
dari Satgas Yonif321/Kostrad, 6 Tim Intelpur Kostrad, I Kompi Yonzipur/Dip, 1 
Kompi Yon Zipur/ Brawijaya, satuan dari TNI AL dan AU serta Penerbad. Selama 
operasi ini, ABRI melaporkan 21 orang berhasil dibunuh, 5 ditangkap dan 
menyerah 12 orang dengan menyita 13 pucuk senjata. 

Ketika Mayjen Wismoyo Arismunandar menjadi Pangdam Trikora digelar operasi 
dengan sandi Operasi Kasuari 01 (1987-1988), yaitu Juni 1987 sampai Mei 1988 
dengan tugas utama menghancurkan GPK secara fisik, terutama di sekitar daerah 
perbatasan. Selain itu, operasi juga ditekankan di Kabupaten Jayapura, Paniai, 
Fak-fak dan Biak. Perkiraan ABRI waktu ini kekuatan OPM hanya 222 orang dengan 
64 pucuk senjata campuran. Akan tetapi, operasi digelar dalam 3 sektor dengan 
Danrem tetap sebagai komandan. sektor. Untuk daerah subsektor Al yang meliputi 
perbatasan di Kabupaten Jayapura dikerahkan pasukan dari Satgas Yonif 321/ 
Kostrad, Satgas Patimura II, 2 peleton Yonif 751, tim Yonif 752, tim analis 
Kopassus, tim Intelpur Kostrad, Satgas Intel Laksusda, satu peleton Kizipur 
4/Diponegoro, I kompi Zipur 5/Brawijaya dengan dibantu 4 SSK wanra sebagai TBO. 
Sementara untuk Subsektor A2, Wamena dikerahkan 1 Ton Yon 751, 1 Ton Zipur 
5/Brawijaya, 1 tim Intelpur Kostrad, 1 Ton Plus Satgas 642/Tanjungpura dan 
dibantu. SST wanra. Sementara di sector yaitu Merauke dikerahkan pasukan 1 Ton 
Yonif 751, dan 1 Ton Zipur 5/Brawijaya, Satgas Intel Laksusda dan Tim Intelpur 
Kostrad dan 2 SST wanra. 

Di daerah operasi subsektor Bl, Nabire sasaran adalah Enarotali dan Sugapa, 
dengan mener unkan pasukan dari Yonif 753, Intel Laksusda, Kizipur 
4/Diponegoro, peleton Intelrem 173, Ru Marinir, 1 peleton Kopaskhas AU, I Tim 
Khusus Kodim Nabire dan 2 SSK wanra. Kampung yang menjadi sasaran adalah 
Kampung Tagitakaida, Seruai, Kampung Swaipak, Ampobukar, Supriori dan 
Swainober, Biak Barat. Selain itu juga di desa Hitadipa, Kecamatan Komopa, 
Kecamatan Sing, Desa Sapolinik, Kecamatan Sinak dan Lereh, Nabire. Begitu. juga 
Desa Tamakuni, Waropen. Pimpinan OPM yang dikejar di daerah ini adalah Tadius 
Yogi dan Simon Kogoya.

Sementara itu di sektor C, pasukan dikonsentrasikan untuk patroli tempur dan 
penjagaan areal PT Freeport serta Kecamatan Agimuga dan kampung Jila. Pasukan 
yang dikerahkan adalah berasal dari Yonif 752 satu kompi, Yonif 753 satu. regu, 
Ton Intelrem 171, Satgas Intel Laksusda dibantu satu SSK wanra. Semua pasukan 
di-BKO-kan kepada Kodim 1706/Fak-fak. 

Operasi militer ini kemudian dilanjutkan dengan Operasi Kasuari 02 (1988-1989). 
Operasi ditekankan di sepanjang perbatasan dengan PNG dengan titik tekan 
operasi teritorial, intelijen dan tempur serta kamtibmas. Operasi teritorial 
diarahkan untuk membentuk desa binaan agar rakyat berpihak pada ABRI. Pasukan 
yang bertugas dan sektor operasi sama dengan Operasi Kasuari 01. Kelly Kwalik 
muncul sebagai pimpinan OPM di daerah Agimuka dan Tembagapura di masa Operasi 
Kasuari 02 ini.

Mayjen Abinowo setelah meng-gantikan Wismoyo Arismunandar mengelar Operasi 
Rajawali 01 (1989-1990) dan Operasi Rajawali 02 (1990-1991). Operasi tetap, 
ditujukan untuk penghancuran OPM di sepanjang perbatasan dengan PNG. Jenis 
operasi adalah teritoril, intelijen clan tempur secara terpaclu dan serentak. 
Operasi teritorial diarahkan untuk pembentukan desa binaan dengan tujuan 
memisahkan rakyat dari GPK. Sementara, operasi intelijen ditujukan untuk 
mengidentifikasi gerakan GPK dan menetralisir penganihnya. Sementara itu, 
operasi tempur melancarkan patroli, pengejaran, dan penghancuran. Pasukan yang 
terlibat dalam operasi ini adalah pasukan organik Kodam VIII ditambah Yonif 621 
/Tanjungpura, Yonif 43 1 / Brawijaya, (diganti Yonif 3 1 O/Siliwangi), 1 tim 
Intelpur Kostrad, Satgas Dampak XX Kopassus, Satgas Udara 3 Heli Puma, 1 Cassa 
AL, dan 32 Polsek, dan 6 SSK wanra. Di mass inilah, Thomas Wangai mengibarkan 
Benders Melanesia Barat di Jayapura.

Memasuki tahun 1990, kekuatan OPM diperkirakan hanya 215 orang dengan 69 pucuk 
senjata campuran. Konsentrasi gerakan berada di sepanjang perbatasan dan 
sebagian tersebar di Kabupaten Jayapura, Biak, Yapen-Waropen, Fak-fak, Merauke. 
Pada periode ini, ABRI telah membagai empat kelompok GPK, yaitu politis, orang 
hutan, rakyat pendukung, dan clandestine yang berada dalam Pemda I dan II, 
perguruan tinggi, dan SLTA. Pasukan pendukung operasi ini adalah pasukan 
organik Kodam tambah 32 Koramil rawan, yaitu Satgas Yonif 732 asal Maluku, 
Satgas Ki. Denzipur 10, 1 Ki. Yon 751, 752, 753, Satgas Intel, dan ditambah 
pasukan nonorganik, yaitu Satgas Yonif 621, 431, 310, tim Intelpur Kostrad, Den 
Kopassus, dan Satgas Udara.

Di tahun 1990 inilah, operasi intelijen militer yang berintikan pasukan 
Kopassus di Papua meningkat. Penangkapan-penangkapan yang disertai pembunuhan 
terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai OPM kerap terjadi di berbagai 
tempat.

Operasi jenis ini kemudian terkuak ketika terjadi serangkaian pembunuhan 
terhadap penduduk kampung di desa Wea, Tembagapura di bulan Oktober sampai 
Desember 1995. Dalam aksi ini, pasukan dari Yonif 752 melakukan penembakan 
membabi buts terhadap penduduk yang sedang berada dalam ruma-rumah mereka. 
Tindakan ABRI itu diawali oleh adanya demontrasi beberapa bulan sebelumnya 
dengan mengibarkan benders Bintang Kejora. Dalam peristiwa ini, 11 orang 
terbunuh dan bebeberapa orang lainnya ditangkap dan kemudian disekap, di 
kontainer milik PT Freeport. Sebagian dari penduduk di kampung-kampung itu juga 
mengalami penyiksaan. Aksi kekerasan yang sama jugs terjadi di Mapenduma ketika 
pasukan Kopassus mencoba membebaskan orang-orang yang disandera oleh kelompok 
Yudas Kogoya dan Kelly Kwalik.

Operasi militer dengan tujuan untuk memburu kelompok yang disebut OPM kembali 
terjadi di tahun 2003 tepatnya antara bulan April sampai Juni dan kemudian 
terus bertahan sampai Oktober di Wamena. Dalam operasi pengejaran di tahun 2003 
ini diterjunkan pasukan dari Kopassus dan Kostrad yang di BKO-kan kepada Korem 
171/Jayapura.

Operasi militer ini diawali oleh terjadinya pembobolan gudang senjata Kodim 
1702 Wamena oleh sekelompok orang bersenjata dini hari tangal 4 April 2003.. 
Untuk mengejar kelompok bersejata itulah operasi ke kampung-kampung di 
seputaran kota Wamena dilancarkan. Pengejaran bahkan sampai ke daerah 
Kwiyawage. Mereka yang ditangkap di sekitar kota Wamena ditahan di Kodim dan 
kemudian mengalami penyiksaan yang luar biasa.

Di kampung-kampung yang dilewati pasukan TNI ini terjadi rangkaian kekerasan 
terhadap penduduk. Namun, tindakan kekerasan yang luar biasa dilakukan pasukan 
TNI terjadi di Kwiyawage. Kampung-kampung yang diperkirakan berpenduduk hampir 
7.000 jiwa ini dihujani tembakan dan rumah-rumahnya dibakar. Ribuan 
penduduk¬nya yang berhasil ditangkap mengalami penyiksaan dan beberapa orang di 
antaranya dibunuh. Ketika penulis datang keKampung Kwiyawage ini di bulan 
September 2003, kampung ini masih kosong dan sisa-sisa pembakaran dan 
pengrusakan masih terlihat jelas. 

Operasi militer yang paling mengejutkan setelah DOM dicabut di Papua adalah 
tindakan Kopassus di tahun 2001, yaitu membunuh Theis H. Eluay di Jayapura.. 
Pembunuhan itu dilakukan setelah Theis diundang Kopassus ke markasnya di 
Hamadi, Jayapura. Mayatnya kemudian dibuang di jurang pingir jalan di daerah 
Koya. Sampai hari ini, pembunuhan Theis ini belum terungkap siapa yang 
memerintahkcannya. Yang jelas, seorang letkol dan seorang mayor Kapassus 
divonis oleh Makamah Militer Tinggi III Surabaya sebagai penanggung-jawabnya. 
Metode pembunuhan terhadap Theis bukanlah metode baru di Papua. Ratusan orang 
di Papua dibunuh dengan cars seperti itu, baik di kampung-kampung maupun di 
kota di seluruh Papua.

Sebenarnya ketika memasuki era reformasi politik Indonesia di tahun 1998, OPM 
tidak berarti lagi secara politik karena tidak memiliki kekuatan senjata yang 
memadai. Bahkan, para anggotanya terpecah-pecah dan banyak yang bertalian 
dengan aparat TNI. Maka dari itu ketika menjabat Menkopolkam, SBY menyatakan 
OPM bukanlah ancaman yang serius. Namun, aksi kekerasan oleh TNI di Papua tidak 
pernah surut.

5. Penutup: Hak Asasi Manusia Agenda yang Tersisa

Rangkaian operasi militer yang terpapar di atas jika disimak dalam literatur 
resmi Indonesia terdapat kesan bahwa operasi itu bedalan mulus tanpa cela.. 
Seluruh operasi itu digelar semata-mata untuk mematahkan perlawanan Gerakan 
Pengacau Liar atau Gerakan Pengacau Keamanan. Tetapi, banyak saksi di Papua 
menyatakan dalam seluruh operasi itu banyak korban jiwa jatuh dari penduduk 
biasa di kampung-kampung serta puluhan orang Papua yang terpelajar 
dipenjarakan. 

Ketika situasi politik berubah, rangkaian Operasi Militer di Papua, digugat 
oleh orang-orang Papua karena mereka mencatatnya sebagai pelanggaran terhadap 
hak-hak asasi mereka. Ternyata dalam operasi militer yang tiada putus itu yang 
dibunuh, disiksa, dan dihilangkan atau diperkosa bukanlah sekadar musuh negara, 
melainkan ratusan penduduk kampung yang daerahnya menjadi sasaran operasi 
militer tersebut.

Antara tahun 1963-1969 korban orang Papua oleh operasi militer diperkirakan 
oleh Osborne dengan mengutip Hasting berjumlah 2.000 sampai 3.000 orang. 
Sementara Eliaser Bonay mantan Gubernur Papua di tahun 1981 pernah menyatakan 
korban berkisar 30.000 j iwa. Jan Warinussy Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari 
memperkirakan jumlah korban hampir 100.000jiwasejakPepera sampai sekarang. 
Namun, jumlah korban yang moderat ditulis oleh Agus Sumule ketika merumuskan 
perlunya Pengadilan HAM serta Komisi Kebenaran. dan Rekonsiliasi dijamin 
pembentukannya dalam UU Otonomi Khusus untuk Papua. Sumule merinci jumlah 
korban tersebut adalah antara tahun 1969-1997 di Paniai 614 orang dibunuh. 
Hilang 13 orang dan diperkosa 80 orang (1980-1995). Tahun 1979 Kelila 
(Jayawijaya) 201 dibunuh, serta tahun 1977 di Asologaiman, 126 dibunuh, dan 
Wasi 148 orang dibunuh. Jumlah korban pembunuhan oleh aparat dalam rangkaian 
operasi militer itu belum teridentifikasi secara jelas sampai saat ini. 
Meskipun demikian, masalah hak asasi manusia yang serius telah tejadi di Papua.

Menyikapi masalah hak asasi manusia yang serius itu, ketika fajar tahun 2000 
merekah, Presiden Abdurrahman Wahid yang kala itu berada di Jayapura mengubah 
nama provinsi Irian Jaya menjadi Provinsi Papua. Seiring dengan perubahan nama 
itu, Presiden juga memperbolehkan pengibaran bendera Bintang Kejora dan meminta 
TNI mengunakan jalan damai dan meninggalkan cars-cars kekerasan dalam menyikapi 
masalah di Papua. Setahun kemudian, status Otonomi Khusus juga disetujui oleh 
Presiden Megawati kepada Papua melalui UU No. 21/2001..

Jalan dialog ini mulai terbuka karena munculnya gelombang protes yang tiada 
henti di Papua sepajang tahun 1998. Gelombang itu dimulai oleh para kalangan 
mahasiwa di Jayapura dan kemudian menjalar ke hampir semua kota di Papua.. 
Titik cetusnya terjadi di Biak, bulan Juli 1999. Ribuan orang berdemonstrasi 
dan mengibarkan bendera Bintang Kejora di Pelabuhan Biak. Demonstrasi kemudian 
juga menyebar ke kota-kota Papua lainnya, seperti Manokwari, Wamena, Merauke, 
Timika, dan Jayapura. Sayang dalam berbagai aksi demonstrasi yang diikuti 
pengibaran bendera Bintang Kejora ini, lagi-lagi, aparat keamanan bertindak 
secara kasar. Sepanjang tahun 2000, demonstrasi-demonstrasi yang menuntut 
keadilan dengan mengibarkan bendera Bintang Kejora juga mengalami tindakan 
kekerasan oleh aparat keamanan. Sepanjang tahun 1999-2000, puluhan orang tewas 
tertembak oleh aparat. 

Sayangnya, seluruh jalan dialog itu dan status Otonomi Khusus belum menyentuh 
persoalan mendasar di Papua, yaitu pemulihan harga diri orang Papua. Bagi 
orang-orang Papua, pengalaman bersama Indonesia, terutanxt selama rezim militer 
Soeharto berkuasa dirasakan begitu melecehkan harkat dan martabat mereka. 
Seluruh pelecehan itu, kemudian dikatakan oleh orang-orang Papua sebagai 
realitas pelanggaran hak asasi manusia, baik yang berupa tindak kekerasan, 
seperti pembunuhan, penyiksaan, penangkapan dan pemerkosaan.

Pelecehan yang lain adalah Indonesia telah membiarkan orang-orang Papua 
terperangkap dalam kemiskinan yang kronis tanpa infrastruktur kesehatan, 
pendidikan, dan transportasi serta komunikasi yang memadai. Kondisi ini, dalam 
data yang dilansir oleh harian Kompas sekitar 80% orang asli Papua berada dalam 
gelimang kemiskinan."

Belum adanya jalan keluar bagi masalah kemiskinan dan kelangkaan infrastruktur, 
serta belum adanya upaya pertanggungjawaban atas terjadinya pelanggaran berat 
hak asasi manusia membuat Papua tetap bergejolak meskipun Otonomi Khusus telah 
diberikan. Pada hal, Otonomi Khusus dirancang sebagai jalan keluar bagi seluruh 
persoalan yang mengganjal dalam hubungan Jakarta dengan Jayapura.

Belum efektifnya Otsus sebagai jalan keluar tidak terlepas dari realita politik 
di Papua itu sendiri. Para perancang Otonomi Khusus hanya mengandaikan, bahwa 
dengan adanya Otonomi Khusus, maka semua pihak akan suka rela mendukungnya. 
Namun, dalam kenyataanya belum semua pihak mendukung. Salah satu pihak yang 
belum mendukung sepenunya adalah pihak-pihak dari kalangan militer.

Maka dari itu, sampai saat ini, Pengadilan HAM dan KKR yang diwaj ibkan oleh UU 
Otonomi Khusus untuk meminta pertanggungjawaban dari mereka yang terlibat belum 
terwujud di Papua. Pada hal, dua instansi ini diharapkan menjadi sarana untuk 
membongkar masalah kejahatan terhadap kemanusian di Papua.

Dengan demikian, membicarakan masalah Papua saat ini yang paling pokok adalah 
menjelaskan peran dan posisi militer dalam keseluruhan konflik di Papua 
tersebut. Sikap pemerintah yang selalu membantah dan menutup mats atas 
terjadinya berbagai bentuk kekerasan yang dilancarkan oleh anggota ABRI akan 
merugikan Indonesia sendiri. Selain itu, sikap merasa tak pernah bersalah dari 
pemerintah Indonesia jugs akan menjauhkan orang Papua dari Indonesia.

Gambaran yang terpapar di atas adalah merupakan kenyataan-kenyataan yang pernah 
dialami oleh orang-orang Papua. Dengan membuka seluruh pengalaman itu, dan 
memberikan ruang bagi pengalaman orang-orang Papua untuk menjadi bagian darinya 
akan lebih memudahkan dalam mencari jalan keluar bagi persoalan Papua yang kini 
kian remit. Singkatnya, peranan ABRI atau TNI dan Polri di Papua sejak tahun 
1960-an sampai tahun 2000 hares dibuka. Sementara itu,' seluruh pengalaman 
pahit orang-orang Papua mesti diakomodasi pula di dalamnya sebagai bagian yang 
utuh.

Maka dari itu, pembentukan pengadilan HAM dan KKR di Papua sebagaimana 
diamatkan oleh UU Otonomi Khusus menjadi agenda mendesak di Papua. Tanpa kedua 
sarana itu, membicarakan masalah Papua seperti jalan di tempat. hka itu yang 
terjadi, kekecewan dan perasaan tidak diangap sebagai bagian dari keindonesiaan 
akan kian meluas di Papua.*


Daftar Pustaka

Aditjondro, George J. 2000. Cahaya Bintang Kejora. Jakarta: ELSAM.

Amiruddin. 2005. "Gerakan Papua Merdeka: Penciptaan Identitas Ke-Papua-an 
versus Ke-Indonesia-an" dalam Jurnal Hak Asasi Manusia Dignitas, Vol.Ill/No. I 
Tahun 2005.

Amiruddin dan Aderito Soares. 2003. Perjuangan Amungme: Antara Freeport dan 
Militer. Jakarta: ELSAM.

Bhakti, Ikrar Nusa. 2005. "Hak Menentukan Diri Sendiri Jenis Baru di Papua: 
Pilihan Antara Kemerdekaan dan Otonomi." Dalam Dewi Fortuna Anwar (Ed.), 
Konflik Kekerasan Internal. Jakarta: Obor. Hlm. 255-256.

Chauvel, Richard dan Ikrar Nusa Bhakti. 2004. The Papua Conflict: Jakarta's 
Perceptions and Policies, East-West Center, Washington.

Cholil. 1971. Sejarah Operasi-Operasi Pembebasan Irian Barat. Puserjarah 
ABRI–Dephankam.

Deplu RI. 1998. Sejarah Kembalinya Irian Jaya ke Pangkuan Republik Indonesia. 
Jakarta: Deplu RI.

Djoparai, John R.G. 1993. Pemberontakan Organisasi Papua Merdeka. Jakarta: 
Grasindo.

Elisabeth, Adriana dan Muridan S. Widjojo. 2004. Pemetaan Peran dan Kepentingan 
Aktor dalam Konflik di Papua. Jakarta: LIPI.

Elisabeth, Adriana, dkk. (2005). Agenda dan Potensi Damai di Papua. Jakarta: 
LIPI.

Giyai, Benny. 2000. Menuju Papua Baru: Beberapa Pokok Pikiran Sekitar 
Emansipasi Orang Papua, Elsham-Dieyai.

Kambai, Yafet. 2003. Gerakan Papua Merdeka di Bawah Bayang-Bayang Mega-Haz. 
Jayapura: ELSHAM. 

Kodam XVII/Tjendrawasih. 1971. Irian Barat dari Masa ke Masa, Sejarah 
MiliterKodam XVIII Tjendrawasih. Puserjarah ABRI.

Laporan Tim Pengkajian Komnas HAM tentang Permasalahan HAM di Papua (Wamena dan 
Wasior), Oktober 2003.

Leith, Denise. 2003. The Politics of Power: Freeport in Seharto ' Indonesia.. 
Honolulu: Universiti of Hawaii Press.

Majalah Sampari, edisi 02/Februari 2006.

Mayjen Samsudin. 1994. Pergolakan di Perbatasan: Operasi Pembebasan Sanders
Tanpa Pertumpahan Daerah. Jakarta: Gramedia.

Osborne, Robin. 2001. Kibaran Sampari: Gerakan Pembebasan OPM dan Perang 
Rahasia di Papua Barat, (ted.). Jakarta: Elsam.

Pigai, Decki Natalis BIK. 200,1. Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik 
Politik di Papua. Jakarta: Sinar Harapan.

Pour, Julius. 1993. Benny Mordani: Profil Prajurit Negarawan. Jakarta: Yayasan 
Kejuangan Panglima Besar Sudirman.

Raweyai, Yorris T.H. 2002, Mengapa Papua Ingin Merdeka. Jayapura: PDR
Sejarah Kodam VIIIITrikora Priode 1982-1990.

Sumule, Agus. 2004. Mencari Jalan Tengah: Otonomi Khusus Provinsi Papua. 
Jakarta: Gramedia.

Tebay, Neles Kebadabi. 1999. "Orang Papua Menuju Kepunahan," makalah dalam 
Seminar yang diselengarakan oleh Kelompok Studi Gaise, Keuskupan Bandung dan 
Lembaga Penelitian Universitas Katolik Parahiyangan Bandung, tanggal 12-13 
November 1999.

Van den Broek Off, Theo P.A dan J. Budi Hermawan Off. 2001. Memoria Passionis 
di Papua: Kondisi Hak Asasi Manusia dan Gerakan Aspirasi Merdeka, Gambaran 
1999. Jakarta: Keuskupan Jayapura, .

Van den Broek, Theo. 1999. Returnees from PNG to Irian jays: Dealing in 
Particular with Returnees to Woropko-Mindiptana Area. Jayapura: SKP.

Widjojo, Muridhan S. 2005. "Separatisme - Hak Asasi Manusia – Separatisme: 
Siklus Kekerasan di Papua, Indonesia" dalam Jurnal HakAsasi Manusia Dignitas, 
Vol.III/ No.1 Tahun 2005. 


Artikel Terkait
   
   - ULAMA, DENDAM DAN KEBENARAN 08 Feb 2007
   - Normalization of Aceh: Impossible Without Truth-telling 08 Mar 2009
   - GERAKAN PAPUA MERDEKA: PENCIPTAAN IDENTITAS KE-PAPUA-AN VERSUS KE 
INDONESIA-AN 08 Feb 2009


| 
| 
|  | 
OPERASI-OPERASI MILITER DI PAPUA: PAGAR MAKAN TANAMAN? - Elsam.or.id


 |

 |

 |




Kirim email ke