Rupiah terpuruk, utang bertumpuk


| 
| 
|  | 
Rimanews.com | Rupiah terpuruk, utang bertumpuk

Rupiah dalam beberapa waktu terakhir memang terkulai, tidak berdaya menghadapi 
keperkasaan dolar Amerika. Kurs t...
 |

 |

 |



PUBLISHED ON:24 Mei 2018REPORTED BY:Dhuha Hadiansyah


Rupiah dalam beberapa waktu terakhir memang terkulai, tidak berdaya menghadapi 
keperkasaan dolar Amerika. Kurs tengah BI hari ini menunjukkan angka 
Rp14.192/US$. Jika dihitung sejak awal tahun, rupiah tercatat melemah sekitar 
4,5%.

“BI Tak Bisa Sendirian Menjaga Rupiah.” Begitu judul berita yang dimuat 
sejumlah media (on line), Rabu (23/5). Bagaimana kita memaknai berita ini? 
Apakah ini isyarat Bank Indonesia (BI) melempar handuk?
Publik percaya, kalau pun rupiah tidak terjerembab ke angka Rp15.000/US$ bahkan 
Rp17.000/US$ itu semata-mata karena BI mati-matian berusaha menjaganya melalui 
intervensi pasar. Sayangnya sampai sekarang tidak jelas betul, berapa devisa 
yang telah digerojok ke pasar. Namun bisik-bisik di pasar menyebutkan angkanya 
sudah menembus US$8 miliar. Wow!
Menurut Gubernur BI Agus Martowardojo, upaya penguatan rupiah tidak bisa melulu 
mengandalkan intervensi BI. Pemerintah juga kudu harus ikut gotong-royong 
menopang agar rupiah tidak benar-benar terkapar.

Salah satu usaha yang bisa Pemerintah lakukan adalah dengan mereduksi defisit 
transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Agus yakin upaya ini 
dapat menjadi amunisi ampuh bagi penguatan rupiah. Pada titik ini, jelas 
Pemerintah punya peran amat vital.

Sekadar mengingatkan saja, BI tahun memperkirakan defisit transaksi berjalan 
bakal bertengger di 2,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Nominalnya di 
kisaran US$23 miliar, alias sekitar Rp326,4 triliun. Angka ini lebih tinggi 
kertimbang proyeksi sebelumnya yang berkisar 2,2%-2,3% terhadap PDB.

Kita memang tidak bisa menyimpulkan BI seperti hendak lempar handuk alias 
menyerah. Tentu saja, ini (nyaris) tidak mungkin terjadi. Tapi, paling tidak, 
pernyataan Agus itu menjelaskan bahwa BI sudah kerepotan, kalau tidak mau 
disebut sempoyongan. Itulah sebabnya BI minta Pemerintah ikut cawe-cawe dalam 
menopang rupiah.

Lampu kuning

Bicara soal defisit transaksi berjalan sebagai elemen penting vitamin penguat 
rupiah, sebenarnya bukanlah perkara baru. Lebih dari tiga tahun silam ekonom 
senior Rizal Ramli sudah memberi warning soal ini. Dalam satu kalimat pendeknya 
yang terkenal, Menko Ekuin dan Menkeu era Presiden Gus Dur ini menyebut, 
ekonomi Indonesia sudah lampu kuning!

Hari-hari ini peringatan serupa kembali dia kumandangkan. Mantan anggota panel 
ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ini bukan sekadar mengkhawatirkan 
terus membumbungnya jumlah utang yang kini nyaris menyentuh Rp5.000 triliun. 
Tapi dia juga menyoroti sejumlah indikator makro ekonomi kita yang belepotan 
warna merah.

Sepanjang 2018, angka-angka itu memang bertabur defisit. Sampai April neraca 
perdagangan (trade balance) tercatat minus US$1,6 miliar. Begitu juga dengan 
neraca perdagangan jasa dan neraca perdagangan migas kuartal pertama, 
masing-masing defisit US$1,4 miliar dan USS2,4 miliar. Bahkan defisit transaksi 
berjalan sudah berada di US$5,5 miliar. Berikutnya, neraca pendapatan primer 
dan neraca pembayaran (balance of payment) US7,9 miliar dan US$3,9 miliar.

“Lha wong semuanya defisit, kok Menkeu masih saja ngotot bilang mengelola APBN 
dengan prudent. Apanya yang prudent? Kalau benar-benar prudent, tentu 
angka-angkanya tidak defisit seperti itu. Sayangnya Presiden tidak tahu kalau 
para pembantunya memberi laporan ABS,” tegas Rizal Ramli. ABS yang dia 
maksudkan adalah Asal Bapak Senang.

Sehubungan dengan itu, tokoh nasional yang dikenal gigih melawan penerapan 
mazhab ekonomi neolib ala Bank Dunia ini, mengeritik pemerintah yang doyan 
menyalahkan asing atas memburuknya perekonomian nasional. Para pajabat publik 
kita selalu menyebut faktor global, terutama Amerika, sebagai biang kerok 
terkulainya rupiah dan jebloknya kinerja ekspor nonmigas.

Benar-benar celaka

Di sisi lain, tentu saja, Rizal Ramli tidak menampik bahwa faktor global dan 
regional punya peran penting. Tapi, ibarat tubuh, jika kondisinya kuat dan 
sehat, walau duduk di ruangan bersama banyak orang yang kena flu, tentu kita 
tidak kena dampak. Ga ngefek, kata anak muda zaman now.

Sebaliknya, jika tidak sehat, kondisi fisik memang lemah, ada orang lewat dan 
bersin saja, langsung bisa tertular. Jadi, kalau Pemerintah, khususnya para 
pejabat yang bertanggungjawab di bidang ekonomi, bekerja dengan benar tentu 
stamina Indonesia akan sehat dan kuat. Hal itu ditandai dengan birunya 
angka-angka sejumlah indicator makro tadi.

Sayangya, alih-alih bekerja cerdas dan bekerja keras, para menteri tersebut 
malah sibuk berkelit. Berbagai alasan dan dalih mereka sorongkan untuk menutupi 
kelemahan dan ketidakmampuan. Mereka juga tidak segan menyodorkan data dan 
angka yang sering tidak relevan untuk membodohi publik. Koor yang teramat 
sering dinyanyikan, di antaranya menisbatkan menggunungnya utang dengan PDB. 
Padahal, para ekonom waras dan bernurani sudah lama mengritik rasio utang 
dengan PDB yang disebut sebagai sesat dan menyesatkan.

Tapi sudahlah, memang begitu karakter mazhab ekonomi neolib. Dan, celakanya 
para menteri ekonomi Kabinet Kerja dijejali para penganut sekaligus pejuang 
neolib yang gigih. Padahal, jauh-jauh hari Soekarno sudah memperingatkan bangsa 
ini, bahwa neolib adalah pintu gerbang neokolonialisme dan neoimperialisme.

​Penulis: Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy 
Studies (CEDeS)





Kirim email ke