Kisah Para Komandan Udara Loyalis Sukarno 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160417211220-20-124566/kisah-para-komandan-udara-loyalis-sukarno
 Prima Gumilang, CNN Indonesia | Rabu, 20/04/2016 14:17 WIB
 Bagikan :    
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160417211220-20-124566/kisah-para-komandan-udara-loyalis-sukarno#
  
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160417211220-20-124566/kisah-para-komandan-udara-loyalis-sukarno#
  
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160417211220-20-124566/kisah-para-komandan-udara-loyalis-sukarno#
 KSAU Suryadi Suryadarma (paling kanan) bersama Presiden Sukarno (kedua dari 
kanan). (Dok. Pribadi)
 Jakarta, CNN Indonesia -- Marsekal Suryadi Suryadarma memeluk istrinya mesra 
sebelum meninggalkan rumah. Sang Kepala Staf Angkatan Udara RI juga mengecup 
kening perempuan yang telah memberinya tiga anak itu.

Erlangga Suryadarma, anak kedua Suryadarma, heran. Ritual seperti itu tak lazim 
dilakukan ayahnya. Biasanya, pagi buta Suryadarma langsung berangkat kerja, dan 
pukul 06.00 sudah tiba di kantor. Memeluk dan mencium istri sebelum berangkat, 
tak lumrah ia lakukan.

“Kayak orang baru pacaran saja. Enggak biasanya begitu. Enggak pernah dia pakai 
sun-sunan. Kami enggak mengerti, tiap kali ada upacara begitu,” ujar Erlangga 
kepada CNNIndonesia.com di Tangerang, Jumat (1/4).


 
Pada pagi di luar kelaziman itu, Suryadarma rupanya hendak mengikuti upacara 
bersama Sukarno. Sebagai KSAU, ia memang kerap mendampingi Presiden saat apel 
bersama kepala staf angkatan lain.

 Baca juga:Suryadarma, di Balik Angkatan Udara RI yang Ditakuti Dunia 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160417185758-20-124536/suryadarma-di-balik-angkatan-udara-ri-yang-ditakuti-dunia/
 Belakangan setelah Suryadarma wafat, Erlangga baru tahu alasan ayahnya berlaku 
lebih romantis jika hendak upacara bersama Presiden: sebab Suryadarma tak tahu 
apa masih akan ada hari esok baginya. 

“Jika terjadi sesuatu, kalau ada orang yang mencoba membunuh Bung Karno, saya 
akan pasang badan di depan dia,” ujar Suryadarma kepada istrinya, Utami, 
seperti kemudian diceritakan kepada Erlangga.

Tiap apel, Suryadarma tak suka bila posisi berdirinya terlalu jauh dari 
Sukarno. Dia selalu berusaha mendekat.

“Bukan untuk cari muka, tapi supaya jika terjadi sesuatu, bisa segera pasang 
badan. Kayaknya heroik banget, tapi dia memang begitu, memikirkan semua orang,” 
kata Erlangga yang kini berusia 74 tahun.


 Sukarno mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan pada periode awal 
kemerdekaan Indonesia. Untuk melindungi sang Presiden, KSAU Suryadi Suryadarma 
kerap pasang badan. (Asian-African Conference Museum)

 Suryadarma bahkan pernah memberikan jipnya kepada Sukarno untuk melindungi 
sang Presiden. Jip asal Rusia itu lebih dulu dilapisi baja oleh teknisi Bandara 
Halim Perdanakusuma yang dipanggil Suryadarma. Lapisan baja berfungsi untuk 
menangkis peluru yang mungkin diarahkan kepada Presiden saat berada dalam mobil.

Namun begitu jip rampung dirombak dan dibawa ke Istana untuk diserahkan kepada 
Sukarno, sang Presiden yang mencoba mobil serbaguna itu malah tertawa. 

“Panas,” kata Sukarno singkat sambil keluar dari jip lapis baja tersebut. 

Di masa Indonesia baru merdeka, percobaan pembunuhan terhadap Sukarno bukan 
cuma sekali terjadi, dan Sukarno belum punya pasukan pengawal. Maka Suryadarma 
dengan senang hati jadi tameng tanpa diminta. 

Istana diserang prajurit AU

Loyalitas Suryadarma pada Sukarno tak diduga tercoreng ulah anah buahnya. 
Kejadian pada 9 Maret 1960 membuatnya merasa malu dan bersalah kepada Sukarno. 

Pagi itu, aktivitas Skadron Udara 11 di Kemayoran, Jakarta, mulai berdenyut. 
Skadron tempur yang mengoperasikan pesawat Mikoyan-Gurevich MiG-15, MiG-17, dan 
MiG-19 itu mengintensifkan latihan mereka karena Indonesia sedang 
berkonfrontasi dengan Belanda atas Irian Barat. 

Skadron 11 kala itu berlatih dengan MiG-17. Letnan Dua Udara Daniel Alexander 
Maukar mendapat urutan terakhir terbang. Jelang tengah hari ketika tiba 
gilirannya mengudara, Daniel mengenakan helm pelindung dan masuk ke kokpit 
Mi-17 bernomor 1112.

Ia beroleh instruksi untuk mengarahkan pesawat ke selatan Jakarta. Namun pria 
berdarah Manado, Sulawesi Utara, itu punya rencana lain. Dia berniat menyerang 
Istana. Daniel terpengaruh Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang bermarkas 
di Manado.

Permesta tidak puas dengan ketimpangan pembangunan di Manado, dan kecewa dengan 
pemerintah pusat di Jakarta yang tak membiarkan warga Manado menentukan nasib 
sendiri. Di sinilah Daniel terseret meski ia sesungguhnya tak begitu mengenal 
Manado karela lahir di Bandung dan besar di Jakarta.

Menerbangkan MiG-17 hari itu, Daniel terbang rendah di ketinggian 3.600 kaki 
untuk menghidari radar. Oleh sebab pesawat dilarang melintasi pusat kota, dari 
atas kawasan Senen, ia terbang memotong jalur ke arah Jalan Sabang dan berbelok 
ke Istana.

Daniel yang mengaku tahu Soekarno tak ada di Istana, lantas melancarkan 
serangan dari sudut 45 derajat. Tembakan mengenai pilar-pilar di sisi kanan 
Istana. Kaca-kaca rontok seketika. Daniel menceritakan ulang kisahnya itu 
kepada Majalah Angkasa, Juni 2007.

Rentetan suara tembakan mengagetkan warga ibu kota, termasuk KSAU Suryadarma 
yang sedang mengikuti rapat Dewan Nasional bersama Sukarno di gedung berjarak 
sekitar 20 meter dari Istana.

 Baca juga:Kisah Salatun, 'Pembisik' Sukarno di Balik Armada Pengebom RI 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160417194646-20-124539/kisah-salatun-pembisik-sukarno-di-balik-armada-pengebom-ri/
 Suryadarma, begitu mendengar informasi ada pesawat melepas tembakan, bergegas 
menuju Istana. Dia mengecek kondisi Istana, dan melihat peluru yang dipakai 
adalah kanon 37 milimeter milik MiG-17. Suryadarma langsung tahu, ini ulah anak 
buahnya.

Sang KSAU lalu menemui Sukarno. Dia memberi salam hormat, melepaskan tanda 
pangkat, dan menyerahkannya kepada Presiden. Suryadarma mengundurkan diri, 
lantas pulang.

Para perwira Angkatan Udara meminta Suryadarma tak mundur. Namun dia bergeming. 

“Kalian tunggu perintah Panglima Tertinggi (Sukarno). Jangan sampai terjadi 
lagi! Bikin malu,” ujar Suryadarma akhirnya, mengeluarkan amarah di hadapan 
para bawahannya.

Keesokan paginya, ajudan Sukarno menelpon Suryadarma. Ia diminta menghadap. Di 
depan Presiden, pangkat Suryadarma disematkan kembali.

“Di, saya masih percayakan Angkatan Udara sama kamu. Jangan sampai terjadi 
lagi,” kata Sukarno, memanggil Suryadarma dengan kependekan namanya.

Sementara Daniel yang menimbulkan kegemparan dihukum penjara seumur hidup. 
Selama proses persidangannya, Suryadarma banyak membantu. Pun Sukarno 
mengampuninya sehingga Daniel hanya dibui delapan tahun.

“Dia masih muda dan pilot terbaik. Very good pilot. Dia termakan politik saja,” 
kata Erlangga.

Nestapa Omar Dhani 

Tahun 1962, setelah 16 tahun menjabat, Suryadarma digantikan Omar Dhani, 
lulusan Royal Air Force staff college Inggris yang pernah menjadi pilot 
pribadinya.

Omar Dhani, seperti Suryadarma, merupakan loyalis Sukarno. Meneruskan apa yang 
telah dirintis pendahulunya, Omar Dhani menjaga kejayaan Angkatan Udara RI.

Namun semua itu berakhir setelah Gerakan 30 September 1965 meletus. Enam 
jenderal dan beberapa prajurit Angkatan Darat dibunuh. Partai Komunis Indonesia 
dituding menjadi dalang, dan Sukarno dianggap dekat dengan PKI. Bola bergulir 
liar. Angkatan Udara ikut jadi bulan-bulanan karena mendukung Sukarno.


 KSAU Omar Dhani. Kariernya yang melesat cepat, terjungkal sekejap 
pascaperistiwa G30S. (Wikimedia)

 Omar Dhani, yang mengira G30S hanya konflik internal AD, mengeluarkan Perintah 
Harian 1 Oktober 1965 yang fatal dan dinilai tergesa-gesa karena mengesankan 
AURI mendukung gerakan tersebut. 

“Gerakan 30 September untuk mengamankan dan menyelamatkan revolusi dan pemimpin 
besar revolusi terhadap subversi (usaha menjatuhkan kekuasaan) oleh CIA. Dengan 
demikian telah diadakan pembersihan dalam tubuh Angkatan Darat dari 
anasir-anasir yang didalangi subversif asing dan membahayakan revolusi. 
Angkatan Udara sebagai alat revolusi selalu menyokong tiap gerakan yang 
progresif revolusioner,” demikian isi Perintah Harian Omar Dhani yang langsung 
menjadi bola liar.

Sadar salah langkah, Omar Dhani melakukan apa yang pernah diperbuat Suryadarma: 
mengundurkan diri. Seperti pada Suryadarma pula, pengunduran diri itu ditolak 
Sukarno.

Sebulan kemudian, Omar Dhani ditugasi Sukarno melawat ke negara-negara Asia dan 
Eropa dengan alasan menjajaki kerja sama luar negeri untuk AURI. Pada bulan 
keenam lawatannya, saat berada di Kamboja, datang surat dari Suryadarma. 

Omar Dhani diminta segera kembali ke Indonesia untuk menyelamatkan Angkatan 
Udara yang kian tenggelam seiring melemahnya kekuasaan Sukarno. 

“Kamu harus bertanggung jawab. Kamu adalah nakhoda Angkatan Udara, jangan bikin 
malu,” pesan Suryadarma.

Omar Dhani memenuhi tanggung jawab. Ia pulang.

Apel di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta menjadi pertemuan terakhir antara 
Suryadi Suryadarma dengan Omar Dhani, dua komandan udara loyalis Sukarno. 

Di sela apel, Omar Dhani menepi mendekati Suryadarma. Dia bertanya, “Apakah 
yang saya lakukan salah?” “Tidak,” jawab Suryadarma. “Bung Karno itu panglima 
tertinggi kamu. Apapun perintahnya, itu yang harus kamu jalankan.” 

Oleh sebab itu saat Omar Dhani dituduh makar, Suryadarma tak terima. Mahkamah 
Militer Luar Biasa menjatuhkan hukuman mati kepada Omar Dhani, yang kemudian 
diubah menjadi vonis penjara seumur hidup.

 Baca juga:Sekelumit Kisah Suram Dirgantara RI di Tengah Gejolak 1966 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160417201351-20-124543/sekelumit-kisah-suram-dirgantara-ri-di-tengah-gejolak-1966/
 Suryadarma di akhir hidupnya banyak duduk diam menatap horizon. Raut wajahnya 
seperti orang linglung, lalu kadang menangis. Jatuh bangun mendirikan AURI, 
matra yang ia banggakan bak kehilangan nyawa selepas G30S.

Kenangan sedih itu tak bisa dilupakan Erlangga, putranya. “G30S yang membuat 
dia mati. AURI saat itu betul-betul jadi korban karena pro-Bung Karno. Setengah 
mati bangun Angkatan Udara, hancur begitu saja. Semua dihabisi.” 

Suryadarma tutup usia pada 16 Agustus 1975, sehari sebelum Indonesia merayakan 
hari jadinya yang ke-30. Sebelum dikebumikan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta, 
Presiden Soeharto memberikan sambutan saat melepas keberangkatan jenazah 
almarhum.

“Selama Suryadarma memegang tampuk pimpinan Angkatan Udara RI sampai 1962, ia 
lebih menitikberatkan pada masalah teknis militer. Semboyannya yang selalu 
ditegaskan kepada para perwira muda ABRI ialah ‘Jadilah perwira-perwira sejati 
dan pembela tanah air.’ Para perwira dianjurkan selalu mengikuti perkembangan 
teknologi, melarang ikut campur urusan politik, serta membendung campur tangan 
dari luar.”

“Tetapi ternyata penggantinya, Omar Dhani, membuka pengaruh politik dalam AURI 
sehingga AURI yang semula buta politik, tiba-tiba dipaksa berpolitik...” kata 
Soeharto seperti dikisahkan dalam buku Aku Sayap Tanah Air: Kisah Hidup dan 
Perjuangan Bapak AURI Marsekal R. Soeriadi Suryadarma.

Di kala duka itu pun, Angkatan Udara tetap tersudut.

 Baca juga:Menengok Masa Kelam Angkatan Udara Republik Indonesia 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160418043718-20-124573/menengok-masa-kelam-angkatan-udara-republik-indonesia/
 (agk) 
 
 

 

Kirim email ke