https://koransulindo.com/agenda-imf-bank-dunia-memastikan-skema-privatisasi-di-indonesia/
Agenda IMF-Bank Dunia: Memastikan Skema Privatisasi di Indonesia

Agenda pokok pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali adalah
mempromosikan apa yang disebut sebagai hyperglobalization. Dan Indonesia
dalam pertemuan tersebut merupakan percontohan dari skema
hyperglobalization itu. Lantas apa sebetulnya hyperglobalization?

21 Mei 2018

   -


<https://koransulindo.com/wp-content/uploads/2018/05/Direktur-IMF-Christine-Lagarde-The-Financial-Express.jpg>Direktur
IMF Christine Lagarde [Foto: Istimewa]

*Koran Sulindo* – Selain karena biayanya yang fantastis, pertemuan tahunan
Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bali pada tahun ini
dibayang-bayangi rentetan aksi terorisme dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, pertemuan tahunan dua lembaga keuangan di bawah kendali
Amerika Serikat (AS) itu dipastikan tetap terlaksana sehingga persiapannya
pun dimatangkan terutama dari aspek keamanan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan, panitia pertemuan
tahunan IMF dan Bank Dunia akan meningkatkan aspek keamanan baik sebelum
maupun selama penyelenggaraan pertemuan tahunan itu berlangsung. Juga akan
mengevaluasi berbagai bentuk kemungkinan serangan atau teror. Kemudian dari
sisi penganggaran, panitia telah menetapkan sekitar Rp 855,5 miliar untuk
penyelenggaran pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia.

Panitia pertemuan tahunan itu, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar
Panjaitan mengatakan, persiapan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia telah
mencapai 75 persen. Persiapan itu meliputi sarana transportasi, hotel,
venue hingga mitigasi bencana alam seperti gempa, erupsi gunung berapi dan
tsunami. “Semuanya sudah disiapkan,” kata Luhut seperti dikutip
*metrotvnews.com
<http://metrotvnews.com>* pada pertengahan bulan ini.

Dari semua penjelasan dan persiapan itu, yang kerap terlupakan adalah apa
sesungguhnya agenda utama pertemuan IMF dan Bank Dunia di Indonesia?
Pemerintah tampaknya belum pernah sekalipun menjelaskan agenda pertemuan
tersebut. Penjelasan mengenai agenda pertemuan kedua lembaga tersebut hanya
mengenai hal-hal umum seperti menjaga stabilitas moneter dan sistem
keuangan global dan membahas perkembangan ekonomi digital serta mata uang
digital yang dinilai masih menciptakan kontroversi.

Memang tidak mudah mengenali dan mengidentifikasi apa sesungguhnya agenda
utama pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia untuk negara-negara seperti
Indonesia. Akan tetapi, merujuk kepada sebuah tulisan berjudul *The
Hijacking of Global Financial Governance?* yang dimuat sebuah laman *Heinrich
Boll Stiftung* berbasis Amerika Utara menjelaskan, kelompok G20 dan Eminent
Persons Group (EPG) yang ditunjuk pejabat G20 untuk Tata Kelola Keuangan
Global (GFG) pada tahun lalu merekomendasikan reformasi praktis untuk
meningkatkan fungsi arsitektur keuangan global dan pemerintahan sehingga
pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan dapat terjaga.

Pejabat G20 dan EPG bertemu dengan konstituennya pada musim semi tahun lalu
dan membahas rancangan rekomendasi soal tata kelola keuangan global itu.
Saat ini bentuknya masih kerangka acuan dan laporan sementara. Sedangkan
laporan akhir dan rekomendasinya (pelaksanaannya tiga hingga lima tahun)
akan diserahkan pada pertemuan Menteri Keuangan G20 dan gubernur bank
sentral yang digelar secara bersamaan dengan pertemuan tahunan IMF dan Bank
Dunia di Bali pada Oktober 2018.

Dalam tulisan itu disebutkan, Grup Bank Dunia telah mengadakan reformasi
yang disebut sebagai memaksimalkan pembiayaan untuk pembangunan (*Maximizing
Finance for Development*/MFD). Dan berdasarkan pertemuan 21 April 2018,
Bank Dunia telah terikat dalam perjanjian untuk mendorong peningkatan modal
untuk lembaga yang secara resmi akan disetujui pada pertemuan tahunan pada
Oktober nanti. Dalam pertemuan 21 April itu, para pemegang saham Grup Bank
Dunia telah menetapkan paket peningkatan modal sebesar US$ 13 miliar.

Dari jumlah itu, sekitar US$ 7,5 miliar disetor ke Bank Internasional untuk
Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD) dan sekitar US$ 5,5 miliar diberikan
untuk modal International Finance Corporation (IFC). Juga menetapkan
peningkatan modal IBRD hingga maksimal US$ 52,6 miliar. Dari peningkatan
modal dan berbagai perubahan serta reformasi operasional tersebut
tujuannya: membuat Bank Dunia semakin kuat.

*Privatisasi*
Poin penting dari perjanjian itu bisa dirangkum dalam tiga bagian. Pertama,
memberikan kewenangan lebih besar kepada kelompok G20 untuk mengendalikan
pembiayaan pembangunan. Kemudian, perjanjian itu juga mempromosikan
privatisasi atau Kemitraan Pemerintah Swasta (PPP) yang tidak memedulikan
pembangunan berkelanjutan dan lingkungan. Terakhir, memastikan keuntungan
dari proyek yang dibiayai itu bisa menjadi aset yang akan diperdagangkan di
pasar keuangan.

Lewat skema PPP, maka tidak akan ada lagi hambatan untuk mendapatkan
keuntungan dari proyek negara atau badan usaha milik negara (BUMN) yang
diperdagangkan di pasar keuangan. Lewat skema tersebut, G20 dan lembaga
keuangan internasional justru akan merusak kepercayaan publik karena
semata-mata mengutamakan keuntungan atau perputaran keuangan.

Grup Bank Dunia telah menetapkan pendekatan MFD pada Maret 2018. Visinya
hingga 2030 menargetkan peran pembiayaan G20 dan Bank Pembangunan
Multilateral (MDB) secara kolektif antara 25 persen hingga 35 persen dalam
setiap periode tiga tahunan. G20 akan mengukur kinerja MDB sejauh mana
lembaga tersebut memanfaatkan investasi swasta. Dan MDB akan mengukur
kinerja negara-negara yang mendapatkan pinjaman seefektif apa mereka
memanfaatkan investasi swasta.

Proyek percontohan memaksimalkan pembiayaan pembangunan (MFD) meliputi
sembilan negara yaitu Kamerun, Pantai Gading, Mesir, Indonesia, Irak,
Yordania, Kenya, Nepal dan Vietnam. Proyek percontohan MFD ini merupakan
keterlibatan swasta dalam sektor energi, transportasi dan infrastruktur. Di
masa mendatang – kendati Grup Bank Dunia awalnya fokus pada infrastruktur –
proyek MFD ini juga akan terlibat di sektor kesehatan, pendidikan, keuangan
dan pertanian kecil serta menengah.

Tujuan akhir dari semua skema itu berdasarkan tulisan tersebut adalah
mempromosikan upaya untuk menghilangkan sebagian besar hambatan atau dengan
kata lain efisiensi biaya transaksi yang selama ini dinilai menghambat arus
perdagangan modal. Ini disebut sebagai upaya *hyperglobalization*.
Pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali itu hanya peresmian dari
agenda yang tidak saja melibatkan kedua lembaga melainkan juga PBB. Dan
Indonesia dalam pertemuan tersebut merupakan percontohan dari skema
*hyperglobalization* itu! *[Kristian Ginting]*

Kirim email ke