Skema Privatisasi  IMF dan Bank Dunia adalah merupakan 

serangan terhadap kedaulatan Industri Indonesia

Neoliberalisme adalah doktrin pasar yang tidak terkendalikan: kemakmuran mereka 
muncul karena kekuasaan politik berada di tangan para individu-individu yang 
egois dalam mengejar kepentingannya sendiri; dalam konteks ini kaum neoliberal 
(neolib) menghendaki agar supaya peranan negara harus diperkecil, ini tercermin 
dalam kebijakan rezim-rezim Neolib Indonesia di era ´´reformasi´´,yang hobinya 
menjual barang milik Negara (BUMN) , untuk disesuaiakan dengan skema 
Priwatisasi di Indonesia  yang telah diprogram oleh IMF dan Bank Dunia, dalam 
konteks ini IMF dan Bank Dunia akan memberikan preoritas investasi kepda sektor 
swasta dalam bentuk Privatisasi di Indonesia kepada mekanisme globalisirung, 
dan Neoliberalisme, bukan pada preoritas sosial; atau secara singkat dapat 
dikatakan bahwa IMF dan Bank Dunia secara terang-terangan telah melakukan 
serangkaian serangan terhadap kedaulatan perekonomian Indonesia, ini tercermin 
dalam bebentuk penempatkan kedaulatan Pasar diatas kedaulatan Rakyat. Dalam 
praktek yang terjadi misalnya dalam konteks minyak (BBM). Dalam praktek yang 
terjadi adalah: kita bangsa Indonesia diharuskan membeli bensin produksi dalam 
negeri dengan harga pasar dunia.(Kebijakan Ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar. 
Kwik Kian Gie- halaman 193)

Fenomena ini dimungkinkan oleh karena adanya campur tangan negara, seperti juga 
korporatisme dan fasisme pada 1930-an. Neoliberalisme dirancang dan 
dilaksanakan oleh para politisi visioner : Seperti Jenderal Suharto dan 
militer-fasis-nya yang membawa ketampuk kekuasaan politik, Pinochet di Cili, 
Thatcher dan lingkaran ultra-konservatifnya di Inggris, Regan dan para Pejuang 
Perang Dingin yang membawanya ke tampuk kekuasaan di Amerika Serikat. Mereka 
menghadapi perlawanan sengit dari serikat-serikat buruh diseluruh dunia. 
Akhirnya bahwa para Pionir neo-liberalisme ini menarik diri dari konflik, yang 
di Indonesia tercermin dalam bentuk``reformasi``,yang menjalankan taktik 
pemunduran strategis, yang bertujuan untuk meraih kembali kekuasaan orba; dan 
ini berhasil setelah memakan waktu 20 tahun ``reformasi``dan menghasilkan neo 
orde baru.

 

Meskipun peranan negara telah diperkecil namun demikian negara diharuskan 
memiliki cukup polosi khusus,militer dan polisi rahasia, untuk menekan 
demo-demo dengan cara-cara kekerasan, seperti zamannya Orde baru, dalam suatu 
operasi yang menggunakan nama ´´penertipan``terhadap para pendemo yang menolak 
priwatisasi, menuntut kenaikann gaji, memprotes kenaikan harga BBM, menolak 
pemecatan buruh (PHK), menolak penggusran lahan hunian dan pertanian,menolak 
kehadiran IMF dan Bank Dunia, yang adalah merupakan pengejowantahan dari 
Nekolim (Neokolonialisme) di Indonesia. Dalam keadaan alamiahnya neoliberal itu 
terdiri dari manusia-manusia yang srakah, kejam dan bengis yang saling 
bertarung secara brutal. 

 

Gengsi neo-liberalisme didasarkan pada keberhasilan nyata: Dalam 25 tahun 
terakhir, ia telah membuat lompatan terbesar dalam sejarah dan pertumbuhan 
eksponensial dalam teknologi informasi, sementara pada saat yang sama 
mempraktekkan system ketidak setaraan yang  memicu neolib untuk berjuang demi 
bertahan hidup. Ini tercermin dalam Perang sipil (perang dalam negeri) di 
Ukraina, yang membawa pasukan khusus Rusia ke Dniester, kemenangan Negara Islam 
di Suriah dan Irak, kebangkitan partai fasis di Eropa; dan di Inonesia 
munculnya gerakaan pendukung Negara Islam di Suriyah dan Irak (ISIS),yang 
bergerak dengan aksi terornya. Akhirnya masalah-masalah ini harus dilihat 
sebagai aspek-aspek yang berbeda dari krisis tunggal yakni krisis persepsi .  
Khususnya di Indonesia krisis ini berasal dari fakta bahwa sebagaian besar 
kita,masih mendukung konsep-konsep yang berasal dari Orde baru, yaitu idelogi 
neoliberalisme yang sudah gagal, dalam bentuk persepsi realistis yaitu 
amandemen UUD 45, yang dampanya adalah pengkhianatan terhadap konstitusi negara 
kita yaitu UUD 45. Khusnya Pasal 33 UUD 45, dan Pancasila 1 Juni 1945.

 

Biar bagaimanapun kehidupan neoliberal akan terancam oleh situasai yang 
menyebabkan ketidak nyaman hidup, yang akan memicu terjadinya kesejangan 
ekonomi, yang cepat atau lambat akan membentuk  polarisasi sosial, dengan 
berbagai macam bentuknya seperi  eklusivisme, parokalisme, antagonosme dan 
ketidak selarasan sosial, yang kemudian akan mempengaruhi  kadar kohesi 
nasional, seperti yang kita saksikan dewasa ini.

Jutaan rakyat Indonesia telah menolak neoliberalisme yang digerakkan oleh Orde 
Baru;  dalam proses reformasi yang sudah berlangsung selama 20 thun berlalu 
ini, nampaknya reformasi yang didengung-dengungkan sejak tahun 1998 itu, sudah 
gagal dalam melawan sisa-sisa rezim totaliterisme milite (orde baru), yang 
terus mengibarkan bendera Neoliberalisme, dan menduduki tempat-tempat yang 
strategis dalam kekuasaan rezim.rezim reformasi sejak awal reformasi dasampai 
sekarang ini.Ya,  reformasi sudah gagal, karena gerakan refornasi itu sendiri 
nampaknya bahkan tidak ingin menang dalam pertarungan melawan ideologi 
neoliberal. Ini tercermin dalam kebijakan rezim-rezim reformasi yang selalu 
menggantungkan dirinya pada utang luar negeri dari IMF dan Bank Dunia. Jadi 
tidaklah menherankan jika IMF dan Bank Dunia secara terang-terangan berani 
menginjak-injak dan memberaki kedaulatan bangsa Indonesia dan secara arogan 
Memastikan Skema Privatisasi di Indonesia.

 

Roeslan

 

 

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Samstag, 26. Mai 2018 09:45
An: undisclosed-recipients:
Betreff: [GELORA45] Agenda IMF-Bank Dunia: Memastikan Skema Privatisasi di 
Indonesia

 

  

 

https://koransulindo.com/agenda-imf-bank-dunia-memastikan-skema-privatisasi-di-indonesia/


Agenda IMF-Bank Dunia: Memastikan Skema Privatisasi di Indonesia


Agenda pokok pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali adalah mempromosikan 
apa yang disebut sebagai hyperglobalization. Dan Indonesia dalam pertemuan 
tersebut merupakan percontohan dari skema hyperglobalization itu. Lantas apa 
sebetulnya hyperglobalization?

21 Mei 2018

*        

 
<https://koransulindo.com/wp-content/uploads/2018/05/Direktur-IMF-Christine-Lagarde-The-Financial-Express..jpg>
 
https://koransulindo.com/wp-content/uploads/2018/05/Direktur-IMF-Christine-Lagarde-The-Financial-Express-640x427..jpgDirektur
 IMF Christine Lagarde [Foto: Istimewa]

Koran Sulindo – Selain karena biayanya yang fantastis, pertemuan tahunan Bank 
Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bali pada tahun ini 
dibayang-bayangi rentetan aksi terorisme dalam beberapa waktu terakhir. Meski 
demikian, pertemuan tahunan dua lembaga keuangan di bawah kendali Amerika 
Serikat (AS) itu dipastikan tetap terlaksana sehingga persiapannya pun 
dimatangkan terutama dari aspek keamanan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan, panitia pertemuan tahunan 
IMF dan Bank Dunia akan meningkatkan aspek keamanan baik sebelum maupun selama 
penyelenggaraan pertemuan tahunan itu berlangsung. Juga akan mengevaluasi 
berbagai bentuk kemungkinan serangan atau teror. Kemudian dari sisi 
penganggaran, panitia telah menetapkan sekitar Rp 855,5 miliar untuk 
penyelenggaran pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia.

Panitia pertemuan tahunan itu, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar 
Panjaitan mengatakan, persiapan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia telah 
mencapai 75 persen. Persiapan itu meliputi sarana transportasi, hotel, venue 
hingga mitigasi bencana alam seperti gempa, erupsi gunung berapi dan tsunami. 
“Semuanya sudah disiapkan,” kata Luhut seperti dikutip metrotvnews.com pada 
pertengahan bulan ini.

Dari semua penjelasan dan persiapan itu, yang kerap terlupakan adalah apa 
sesungguhnya agenda utama pertemuan IMF dan Bank Dunia di Indonesia? Pemerintah 
tampaknya belum pernah sekalipun menjelaskan agenda pertemuan tersebut. 
Penjelasan mengenai agenda pertemuan kedua lembaga tersebut hanya mengenai 
hal-hal umum seperti menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan global dan 
membahas perkembangan ekonomi digital serta mata uang digital yang dinilai 
masih menciptakan kontroversi.

Memang tidak mudah mengenali dan mengidentifikasi apa sesungguhnya agenda utama 
pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia untuk negara-negara seperti Indonesia. 
Akan tetapi, merujuk kepada sebuah tulisan berjudul The Hijacking of Global 
Financial Governance? yang dimuat sebuah laman Heinrich Boll Stiftung berbasis 
Amerika Utara menjelaskan, kelompok G20 dan Eminent Persons Group (EPG) yang 
ditunjuk pejabat G20 untuk Tata Kelola Keuangan Global (GFG) pada tahun lalu 
merekomendasikan reformasi praktis untuk meningkatkan fungsi arsitektur 
keuangan global dan pemerintahan sehingga pertumbuhan ekonomi secara 
berkelanjutan dapat terjaga.

Pejabat G20 dan EPG bertemu dengan konstituennya pada musim semi tahun lalu dan 
membahas rancangan rekomendasi soal tata kelola keuangan global itu. Saat ini 
bentuknya masih kerangka acuan dan laporan sementara. Sedangkan laporan akhir 
dan rekomendasinya (pelaksanaannya tiga hingga lima tahun) akan diserahkan pada 
pertemuan Menteri Keuangan G20 dan gubernur bank sentral yang digelar secara 
bersamaan dengan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali pada Oktober 2018.

Dalam tulisan itu disebutkan, Grup Bank Dunia telah mengadakan reformasi yang 
disebut sebagai memaksimalkan pembiayaan untuk pembangunan (Maximizing Finance 
for Development/MFD). Dan berdasarkan pertemuan 21 April 2018, Bank Dunia telah 
terikat dalam perjanjian untuk mendorong peningkatan modal untuk lembaga yang 
secara resmi akan disetujui pada pertemuan tahunan pada Oktober nanti. Dalam 
pertemuan 21 April itu, para pemegang saham Grup Bank Dunia telah menetapkan 
paket peningkatan modal sebesar US$ 13 miliar.

Dari jumlah itu, sekitar US$ 7,5 miliar disetor ke Bank Internasional untuk 
Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD) dan sekitar US$ 5,5 miliar diberikan untuk 
modal International Finance Corporation (IFC). Juga menetapkan peningkatan 
modal IBRD hingga maksimal US$ 52,6 miliar. Dari peningkatan modal dan berbagai 
perubahan serta reformasi operasional tersebut tujuannya: membuat Bank Dunia 
semakin kuat.

Privatisasi
Poin penting dari perjanjian itu bisa dirangkum dalam tiga bagian. Pertama, 
memberikan kewenangan lebih besar kepada kelompok G20 untuk mengendalikan 
pembiayaan pembangunan. Kemudian, perjanjian itu juga mempromosikan privatisasi 
atau Kemitraan Pemerintah Swasta (PPP) yang tidak memedulikan pembangunan 
berkelanjutan dan lingkungan. Terakhir, memastikan keuntungan dari proyek yang 
dibiayai itu bisa menjadi aset yang akan diperdagangkan di pasar keuangan.

Lewat skema PPP, maka tidak akan ada lagi hambatan untuk mendapatkan keuntungan 
dari proyek negara atau badan usaha milik negara (BUMN) yang diperdagangkan di 
pasar keuangan. Lewat skema tersebut, G20 dan lembaga keuangan internasional 
justru akan merusak kepercayaan publik karena semata-mata mengutamakan 
keuntungan atau perputaran keuangan.

Grup Bank Dunia telah menetapkan pendekatan MFD pada Maret 2018. Visinya hingga 
2030 menargetkan peran pembiayaan G20 dan Bank Pembangunan Multilateral (MDB) 
secara kolektif antara 25 persen hingga 35 persen dalam setiap periode tiga 
tahunan. G20 akan mengukur kinerja MDB sejauh mana lembaga tersebut 
memanfaatkan investasi swasta. Dan MDB akan mengukur kinerja negara-negara yang 
mendapatkan pinjaman seefektif apa mereka memanfaatkan investasi swasta.

Proyek percontohan memaksimalkan pembiayaan pembangunan (MFD) meliputi sembilan 
negara yaitu Kamerun, Pantai Gading, Mesir, Indonesia, Irak, Yordania, Kenya, 
Nepal dan Vietnam. Proyek percontohan MFD ini merupakan keterlibatan swasta 
dalam sektor energi, transportasi dan infrastruktur. Di masa mendatang – 
kendati Grup Bank Dunia awalnya fokus pada infrastruktur – proyek MFD ini juga 
akan terlibat di sektor kesehatan, pendidikan, keuangan dan pertanian kecil 
serta menengah.

Tujuan akhir dari semua skema itu berdasarkan tulisan tersebut adalah 
mempromosikan upaya untuk menghilangkan sebagian besar hambatan atau dengan 
kata lain efisiensi biaya transaksi yang selama ini dinilai menghambat arus 
perdagangan modal. Ini disebut sebagai upaya hyperglobalization. Pertemuan 
tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali itu hanya peresmian dari agenda yang tidak 
saja melibatkan kedua lembaga melainkan juga PBB. Dan Indonesia dalam pertemuan 
tersebut merupakan percontohan dari skema hyperglobalization itu! [Kristian 
Ginting]

 



Kirim email ke