SAJAK KUSNI SULANG:
SEPERTI KASONGAN kasongan desa-kota lipat siku di tengah katingan pernah terbelah dua di hilir kampung protestan basis belanda, sisanya pangkalan perlawanan tetua merahasiakannya agar dendam tak terpelihara sejarah terpenggal, manik-manik terberai putus tali; yang kemudian dewasa mesti mencari diri -- pulang-pulang kudapatkan memang sejarah masih begitu mengerikan di sini begitu menakutkan orang-orang; maka dipenggal, diputihkan hari ini didiamkan dan dilupakan orang-orang tak lagi membedakan barangkali juga tak berkemampuan mana khianat mana jasa salah-benar gantangnya kepentingan orang-orang makin terasing juga dari diri sendiri sehingga dayak jadinya hanyalah sebutan derita lama dikemas sutera kemilau globalisasi angkatan zaman now aku melihat dayak ibarat penakik jelutung pemotong rotan sesat di rimba nelayan hilang jalan di samudera purun danau gambut kata-kata inggris depan t-shirt, telepon genggam dan mobil terbaru proklamasi modernitas menjadi kian gengsi oleh deretan gelar akademi sejak lama jadi loakan seperti kasongan dahoeloe palangka raya kota yang dibangun dari hutan hari ini para pemabuk jabatan memilah dayak menurut nama-nama tuhan sementara perguruan tinggi menjadi kuil-kuil sunyi kedap cahaya pabrik ijazah dan pengangguran pada pelabuhan kecil kapal -kapal berlabuh remaja dahoeloe republik membiarkannya lapuk kian kumuh lambang dari kemerdekaan yang kian lusuh dan menjauh aku melihat kampungku melaju kencang ke belakang melomba arus katingan yang kian keruh di kampung ini di kampungku hari ini republik adalah mimpi para gerliyawan kini tak ubah bendera compang-camping lusuh dan sobek republik di sini legenda yang kian susut isi panarung oi, dayak petarung masihkah kau ada? manusia oi manusia kau di mana? apakah kau tiarap di rimba-rimba duka? Pedalaman Benua, 2018.
