"Celakanya disadari atau tidak, ini (ajaran teroris) diangkat, dijadikan bahan 
tausiah atau orasi bagi para mubalig yang sebenarnya moderat. Sadar atau tidak 
ajaran mereka mengadopsi ISIS. Ini seharusnya para ulama bisa bangkit bekerja 
sama dengan pemerintah dan Polri, TNI, serta intelijen untuk melawan ini," ujar 
Ansyaad dalam diskusi publik bertajuk 'Pemberantasan Terorisme: Legislasi, 
Tindakan Polisi dan Deradikalisasi' di Jakarta, Sabtu (26/5/2018).

 ...
 "Jadi negara kita ini kafir menurut teroris. Kemudian pemahaman kafir, orang 
mengkafirkan orang lain, bom bunuh diri itu keistimewaan, mati syahid, ajaran 
ini merasuki para bom bunuh diri yang sekarang sedang merambah," ungkapnya.

 ...
 Bongkar Cara Rekrut Anggota, Mantan Komandan NII: Kelompok Teroris Incar Anak 
Jenderal 
http://jakarta.tribunnews.com/2018/05/27/bongkar-cara-rekrut-anggota-mantan-komandan-nii-kelompok-teroris-incar-anak-jenderal?page=all
 Minggu, 27 Mei 2018 14:22
 
 

 
 
 DOK POLRI
 
 Proses penyerahan diri para tahanan terorisme Rumah Tahanan Cabang Salemba di 
Mako Brimob Kelapa Dua, Jakarta, Kamis (10/5/2018). Semua tahana terorisme 
sebanyak 155 orang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada pihak aparat 
kepolisian RI. 
 


 TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Pendiri Rehabilitasi Korban Negara Islam 
Indonesia (NII Crisis Center) yang juga mantan Komandan NII, Ken Setiawan 
buka-bukaan soal perekrutan kelompok teroris.
 

 Ken mengemukakan, semula kelompok teroris ini merekrut anggota masyarakat.
 

 Mereka berusaha menghindari merekrut anggota keluarga dari kalangan TNI/ Polri.
 

 Bagi mereka, merekrut anggota keluarga TNI dan Polri bisa berbuah fatal. 
Operasi kelompok mereka bisa terdeteksi lebih dini sebelum operasi dilancarkan.
 

 Namun, kisah dahulu.
 

 Ken Setiawan mengatakan, kelompok teroris zaman now justru menyasar anak dari 
keluarga jenderal TNI dan Polri.
 

 Mereka bisa dengan mudah direkrut oleh kelompok kelompok radikal yang pada 
akhirnya akan menjadikannya seorang teroris.
 

 Bila bisa diyakinkan dan mau meninggalkan keluarga, maka perekrutan bisa 
dilanjutkan.
 

 Faktanya, lanjut Ken, banyak anak tentara dan polisi menjadi korban 
perekrutan, bahkan tentara dan polisi aktif juga banyak terkena paham radikal 
sehingga meninggalkan tugas mulia sebagai abdi negara demi bergabung di 
kelompok radikal.
 

 Luar biasanya, ada anak rektor kampus tentara yang juga direkrut kelompok 
radikal sehingga mengkafirkan orang tuanya.
 

 "Anak Kapolda di wilayah Sumatera juga ada yang pernah ada yang direrut oleh 
kelompok radikal," beber Ken.
 

 Menurut Ken, salah satu cara yang dipakai dalam perekrutan kelompok radikal 
adalah dengan mencuci otak sasaran yang akan direkrut.
 

 Misalnya, dengan simulasi yang melibatkan audiensi dalam 5 menit orang 
tersebut bisa berkata bahwa dirinya ternyata berada dinegara jahiliyah dan 
dirinya adalah orang kafir.

Ia mencontohkan model perekrutan oleh NII, sebagaimana yang pernah ia lakukan 
beberapa tahun silam.
 

 "Model model perekrutan itu dibeberkan agar seluruh peserta waspada dan 
berhati hati apabila menemui hal serupa," terang Ken.
 

 Menurutnya, sebelum merekrut, ia akan melakukan screening terlebih dahulu 
terhadap orang yang akan direkrut.
 

 "Kita pelajari aktivitas kesehariannya, pekerjaannya apa, bagaimana 
keluarganya, hobinya apa, apa yang dia suka/ tidak sukai dan sebagainya," 
ungkap Ken.
 

 Baca: Hendardi Warning TNI Soal Operasi Militer Terkait Terorisme 
http://jakarta.tribunnews.com/2018/05/27/hendardi-warning-tni-soal-operasi-militer-terkait-terorisme
 

 Ken menjelaskan, dalam dialog perekrutan mengatakan apakah dalam memutuskan 
perkara di Indonesia menggunakan hukum islam atau hukum KUHP peninggalan 
penjajah Belanda? Ini pertanyaan yang nanti menjebak.
 

 Diungkapkan pula, calon yang akan direkrut diibaratkan sebagai buah apel yang 
masih bersih, lalu jatuh di tempat sampah.
 

 Maka untuk membersihkannya harus dicuci dengan proses 'pencuciannya' yang 
terbilang lama.
 "Ada yang dikatakan sampai 30 tahun, ada yang lebih lama dari itu," ujarnya.
 

 Doktrin doktrin semacam itu, imbuh Ken, dimaksudkan untuk membuat kita ragu 
terhadap negara yang kita cintai ini.
 

 Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Ansyaad Mbai, 
menyebut ada empat ajaran terkait terorisme yang telah masuk dan menjadi bahan 
tausiah penceramah di masjid.
 

 ia berharap ada kerjasama semua pihak dari ulama, pemerintah, Polri, TNI dan 
intelijen untuk melawan ajaran ini.
 

 "Celakanya disadari atau tidak, ini (ajaran teroris) diangkat, dijadikan bahan 
tausiah atau orasi bagi para mubalig yang sebenarnya moderat. Sadar atau tidak 
ajaran mereka mengadopsi ISIS. Ini seharusnya para ulama bisa bangkit bekerja 
sama dengan pemerintah dan Polri, TNI, serta intelijen untuk melawan ini," ujar 
Ansyaad dalam diskusi publik bertajuk 'Pemberantasan Terorisme: Legislasi, 
Tindakan Polisi dan Deradikalisasi' di Jakarta, Sabtu (26/5/2018).
 

 Ansyaad menyebut, yang pertama berupa ajaran tauhid versi narapidana teroris 
Aman Abdurrahman. Kedua, pembatalan keislaman yang sudah beredar di media 
sosial. Ketiga, ajaran thagut anshorut thagut. Sementara, ajaran keempat adalah 
kafir demokrasi.
 

 "Jadi negara kita ini kafir menurut teroris. Kemudian pemahaman kafir, orang 
mengkafirkan orang lain, bom bunuh diri itu keistimewaan, mati syahid, ajaran 
ini merasuki para bom bunuh diri yang sekarang sedang merambah," ungkapnya.
 

 Ansyaad tidak menjelaskan lebih detail mengenai ajaran ajaran ini.
 

 Namun, ia menegaskan perlunya operasi gabungan dari pihak Kemenag, ulama, 
Polri, BNPT, dan TNI guna mencegah ajaran terorisme meracuni pikiran masyarakat.
 

 "Terorisme harus ditindak tegas. Sedangkan kalau kita seperti biasa dan 
normatif tidak apple to apple. Ini harus dilakukan bersama, ini harusnya 
operasi gabungan para ulama, pemerintah, Polri, TNI dan sebagainya," ujarnya.
 

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com 
http://jakarta.tribunnews.com/2018/05/27/bongkar-cara-rekrut-anggota-mantan-komandan-nii-kelompok-teroris-incar-anak-jenderal?page=all
 dengan judul Bongkar Cara Rekrut Anggota, Mantan Komandan NII: Kelompok 
Teroris Incar Anak Jenderal, 
http://jakarta.tribunnews.com/2018/05/27/bongkar-cara-rekrut-anggota-mantan-komandan-nii-kelompok-teroris-incar-anak-jenderal?page=all
 
http://jakarta.tribunnews.com/2018/05/27/bongkar-cara-rekrut-anggota-mantan-komandan-nii-kelompok-teroris-incar-anak-jenderal?page=all.

Editor: ade mayasanto
 

 

 

 

Kirim email ke