Lagi-lagi yang mau cari untung tanpa memproduksi apa-apa adalah pengusaha
import-export dan negeri-negeri exportir produk pertanian. Dan yang lebih
"heiibat" lagi kalau produk itu adalah produk organic modified yang sudah pasti
dikelola Monsanto!!!! Ha...ha.. berjingkraklah kaum imperialis melihat
client-statenya mau dengan patut mengikuti tongkat komando neo-liberalnya!!!
Matilah petani penanam bawang!!
On Monday, May 28, 2018 3:46 AM, "Sunny ambon [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Seringmusim hujan dan panas terik gurun,guntur kilat silih
berganti,mengakibatkan hasil pertanian tidak mencapai target, maka oleh
sebabitu bawang putih, bawang merah harus diimpor, begitupun cabe, beras,garam,
gula etc, demikian keterangan petinggi rezim yang tak maunamanya disebutkan.
hehehehehehe
https://radar.jawapos.com/radarsurabaya/read/2018/05/28/77016/importer-terkendala-perlu-singkronisasi-aturan-impor-bawang
Importer Terkendala, PerluSingkronisasi Aturan Impor Bawang
Senin, 28 May 2018 07:20 | editor : Abdul Rozack
DIBUTUHKAN: Salah satu pedagang di Pasar Keputran saat menunggupembeli.
Kalangan pengusaha importir bawang membentuk PerkumpulanPengusaha Bawang
Nusantara (PPBN) untuk mendorong pemerintah agarmensinkronkan aturan impor
(Andy Satria/Radar Surabaya) SURABAYA – Kalangan pengusaha importir bawang
membentukPerkumpulan Pengusaha Bawang Nusantara (PPBN) untuk
mendorongpemerintah agar dapat mensinkronkan aturan impor dari
KementerianPerdagangan (SPI/Surat Persetujuan Impor) dan Kementerian
Pertanian(RIPH/Rekomendasi Impor Produk Hortikultura) yang dianggapbertabrakan.
Hal ini dilakukan setelah menilik kesulitan yangdialami beberapa pengusaha
importir bawang putih dalam melakukanimpor bawang, lantaran belum mendapat SPI.
Seperti diketahui, padatahun 2018 ini, Kementerian Pertanian telah menerbitkan
RIPHkomoditas bawang putih sebesar 450.000 ton. Sementara, realisasiimportasi
bawang putih di tahun ini tergantung kepada SPI dariKementerian
Perdagangan.Ketua Panitia PPBN, Sumanto Margosuwito mengatakan
pembentukanperkumpulan ini bertujuan agar pengusaha bawang memiliki hak
samadalam berusaha sekaligus menjadi wadah dalam menjembatanimasalah-masalah
dengan pemerintah. Menurutnya, pada dasarnya, dalamjangka panjang pihaknya
ingin program swasembada bawang putih olehpemerintah dapat tercapai.“Namun
dalam jangka pendek ini perlu ada gotong royong pengusahaagar tujuannya
tercapai tanpa ada pengecualian,” katanya disela-sela Rapat Pembentukan PPBN di
Surabaya, Sabtu malam (26/5).Ketua Umum Jaringan Kemandirian Nasional (Jaman),
Iwan Dwi Laksonomenjelaskan bahwa terdapat aturan pemerintah yang tidak
sinkronantara SPI dan RIPH. Dimana pengusaha importir yang termasuk
pedagangharus menanam 5 persen bawang putih sebagai syarat untuk
mendapatkanSPI. Dia mengungkapkan, sejak adanya aturan RIPH tersebut,
banyakpengusaha yang tidak mendapatkan SPI. Akibatnya, banyak pula terjadiPHK
karyawan yang selama ini bekerja di gudang bawang.
“Kamimerasa RIPH dan SPI enggak ada sinkronnya. Maka kami di PPBN akandiskusi
dan membuat formula yang akan kami berikan kepada pemerintahsebagai masukan.
Sedikitnya ada 40 pengusaha bawang yang ikutmenyuarakan ini,” katanya.
Penasihat Jaman, Poerwani menambahkansejak adanya RIPH, diduga menyebabkan
munculnya banyak pemain baru.Menurutnya, importir yang sudah puluhan tahun
lamanya terpaksamenutup perusahaan karena tidak dapat mendatangkan
komoditastersebut. Terlebih, terdapat juga perusahaan yang sudah mengajukanRIPH
lalu mendapatkan SPI kemudian tidak menanam bawang tetapi malahmembuat PT baru,
padahal barang sudah berhasil diimpor.
“Sebelumdiatur RIPH, kebutuhan bawang 450.000 ton. Nah kenapa sekarang
adapengajuan impor sampai 1 juta ton, mungkin ada pemain baru, lalubagaimana
dengan importir yang sudah antre lama menunggu SPI keluarsampai lebih dari 6
bulan,” ujarnya.
Terkait dengan syarat harusmenanam 5 persen dari total impor, menurut Poerwani,
ada aturan yangbertabrakan yakni di mana importir/pedagang hanya memiliki Surat
IzinUsaha Perdagangan (SIUP) dan bukan sebagai usaha petani.
“Pedagangjuga enggak sempet namanya cari lahan, cari pupuk, MoU dengan
petani,nyari bibit. Belum lagi lahannya harus diketinggian tertentu
karenabawang ini tanaman sub tropis,” pungkasnya. (cin/rud)
#yiv8290921900 #yiv8290921900 -- #yiv8290921900ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv8290921900
#yiv8290921900ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv8290921900
#yiv8290921900ygrp-mkp #yiv8290921900hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-mkp #yiv8290921900ads
{margin-bottom:10px;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-mkp .yiv8290921900ad
{padding:0 0;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-mkp .yiv8290921900ad p
{margin:0;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-mkp .yiv8290921900ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-sponsor
#yiv8290921900ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv8290921900
#yiv8290921900ygrp-sponsor #yiv8290921900ygrp-lc #yiv8290921900hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv8290921900
#yiv8290921900ygrp-sponsor #yiv8290921900ygrp-lc .yiv8290921900ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv8290921900 #yiv8290921900actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv8290921900
#yiv8290921900activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv8290921900
#yiv8290921900activity span {font-weight:700;}#yiv8290921900
#yiv8290921900activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv8290921900 #yiv8290921900activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv8290921900 #yiv8290921900activity span
span {color:#ff7900;}#yiv8290921900 #yiv8290921900activity span
.yiv8290921900underline {text-decoration:underline;}#yiv8290921900
.yiv8290921900attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv8290921900 .yiv8290921900attach div a
{text-decoration:none;}#yiv8290921900 .yiv8290921900attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv8290921900 .yiv8290921900attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv8290921900 .yiv8290921900attach label a
{text-decoration:none;}#yiv8290921900 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv8290921900 .yiv8290921900bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv8290921900
.yiv8290921900bold a {text-decoration:none;}#yiv8290921900 dd.yiv8290921900last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8290921900 dd.yiv8290921900last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8290921900
dd.yiv8290921900last p span.yiv8290921900yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv8290921900 div.yiv8290921900attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv8290921900 div.yiv8290921900attach-table
{width:400px;}#yiv8290921900 div.yiv8290921900file-title a, #yiv8290921900
div.yiv8290921900file-title a:active, #yiv8290921900
div.yiv8290921900file-title a:hover, #yiv8290921900 div.yiv8290921900file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv8290921900 div.yiv8290921900photo-title a,
#yiv8290921900 div.yiv8290921900photo-title a:active, #yiv8290921900
div.yiv8290921900photo-title a:hover, #yiv8290921900
div.yiv8290921900photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv8290921900
div#yiv8290921900ygrp-mlmsg #yiv8290921900ygrp-msg p a
span.yiv8290921900yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv8290921900
.yiv8290921900green {color:#628c2a;}#yiv8290921900 .yiv8290921900MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv8290921900 o {font-size:0;}#yiv8290921900
#yiv8290921900photos div {float:left;width:72px;}#yiv8290921900
#yiv8290921900photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv8290921900
#yiv8290921900photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv8290921900
#yiv8290921900reco-category {font-size:77%;}#yiv8290921900
#yiv8290921900reco-desc {font-size:77%;}#yiv8290921900 .yiv8290921900replbq
{margin:4px;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8290921900
#yiv8290921900ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv8290921900
#yiv8290921900ygrp-mlmsg select, #yiv8290921900 input, #yiv8290921900 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8290921900
#yiv8290921900ygrp-mlmsg pre, #yiv8290921900 code {font:115%
monospace;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-mlmsg #yiv8290921900logo
{padding-bottom:10px;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-msg
p#yiv8290921900attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv8290921900
#yiv8290921900ygrp-reco #yiv8290921900reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-sponsor
#yiv8290921900ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv8290921900
#yiv8290921900ygrp-sponsor #yiv8290921900ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv8290921900
#yiv8290921900ygrp-sponsor #yiv8290921900ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv8290921900 #yiv8290921900ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv8290921900
#yiv8290921900ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv8290921900