----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'j.gedearka' [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: "[email protected]" 
<[email protected]>; [email protected] 
<[email protected]>; Persaudaraan 
<[email protected]>; Sahala Silalahi 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Senin, 28 Mei 2018 00.21.40 GMT+2Judul: 
[GELORA45] Mahasiswi IAIN Tulungagung,terlibat ISIS dideportasi dari,Suriah
     
 


 
 
https://www.antaranews.com/berita/713820/mahasiswi-iain-tulungagung-
 
terlibat-isis-dideportasi-dari-suriah
 
 
Mahasiswi IAIN Tulungagung 
 
 
terlibat ISIS dideportasi dari 
 
 
Suriah
 
  Minggu, 27 Mei 2018 19:42 WIB 
  Tulungagung (ANTARA News) - Seorang mahasiswi IAIN Tulungagung, Jawa Timur 
dilaporkan telah dideportasi dari negara Suriah menggunakan pesawat Turkish 
Airlines TK-056, kembali ke Indonesia bersama tujuh WNI lain dari berbagai 
daerah karena diduga terlibat jaringan internasional ISIS/FTF.
 
 Kapolres Tulungagung AKBP Rofik Sukendar, Minggu mengkonfirmasi akurasi 
informasi yang beredar di media sosial tersebut.
 
 "Iya memang betul. Tadi kami sudah cek ke satuan atas. Dan saat ini yang 
bersangkutan posisi masih di Jakarta dan masih diminati keterangan oleh tim 
Densus 88 Anti-teror," kata Kapolres Rofik Sukendar di Tulungagung, Minggu.
 
 Data yang beredar, mahasiswi dimaksud bernama Irma Novianingsih (24).
 
 Irma ini merupakan bungsu dua bersaudara dari pasangan Riyadi (47) dan 
Mujiatin (50), warga Desa Dukuh, Kecamatan Gondang.
 
 Irma dideportasi bersama tujuh WNI lain yang juga disinyalir terlibat jaringan 
ISIS di Suriah.
 
 Mereka masing-masing adalah Fitri Luthfiana (43), Nayla Kanimah Abdullah (3), 
Humairoh Humairoh (12), Hamzah Abdullah (9), Ainun Jariyah (21), Wasiatun Nisa 
Damad (33), dan Qurrota Ayun Muhdi (23).
 
 Irma dan tujuh WNI yang sebagian diyakini sekeluarga ini kini menjalani 
pemeriksaan intensif tim Densus 88 Anti-teror di Rutan Bambu Apus, Jakarta 
Timur.
 
 "Sudah barang tentu kami dari satuan wilayah akan memonitor terus dan 
bekerjasama dengan satuan atas agar bisa terus mengawasi, memantau dan 
menginformasikan kepada masyarakat bahwa situasi terkait adanya warga 
Tulungagung yang dideportasi, masih dalam kondisi terkendali," kata Rofik 
Sukendar memastikan.
 
 Ia juga mengimbau masyarakat tidak panik ataupun resah.
 
 Namun Kapolres juga mengingatkan agar warga tetap waspada dan melaporkan ke 
aparat kepolisian jika mengetahui ada orang/sesuatu yang dianggap mencurigakan.
 
 "Jangan bertindak sendiri. Tetap berkoordinasi, percayakan keamanan kepada 
kami," ujarnya.
 
 Kabar keterlibatan mahasiswi Tulungagung dalam gerakan ISIS dan sempat 
berhijrah ke Suriah tersebut sempat dikonfirmasikan ke pihak Rektorat IAIN 
Tulungagung.
 
 "Saudari Irma Novianingsih ini memang pernah kuliah di sini. Di IAIN 
Tulungagung. Namun menurut catatan akademik, yang bersangkutan sudah setahun 
ini tidak aktif tanpa memberi keterangan," kata Pembantu Rektor Bidang Akademik 
dan Pengembangan Lembaga IAIN Tulungagung M. Abdul Aziz.
 
 Irma disebut Aziz sudah tidak aktif dalam kegiatan perkuliahan lagi sejak 
semester 6, dan setelah itu dinyatakan menghilang tanpa keterangan.
 
 Sayang, bapak dan ibu korban enggan dimintai keterangan.
 
 Kendati menerima kedatangan para wartawan, Riyadi dan Mujiatin enggan 
diwawancarai secara terbuka.
 
 "Saya juga sudah mendengar kabar tersebut," kata Riyadi.
 
 Menurut dia, pasca munculnya kabar tersebut beberapa kali ada aparat yang 
menyambangi kediamannya.
 
 Bahkan sebelum kedatangan beberapa awak media, ada personel dari Polres 
Tulungagung yang berkunjung.
 
 Sedangkan sehari sebelumnya juga ada dari Koramil dan Polsek Gondang.
 
 "Maaf, selebihnya silakan ditanyakan ke aparat bersangkutan," katanya.
 
 Riyadi dan Mujiatin mengakui masih tertekan dengan perkembangan yang terjadi.
 
 Wajah keduanya datar, tatapan terkadang kosong.
 
 "Masih kaget dan tidak percaya karena tiba-tiba banyak petugas yang datang dan 
melakukan penggeledahan," tutur Mujiatin dengan mata sembab. 
Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
 Editor: Kunto Wibisono
 COPYRIGHT © ANTARA 2018
 
 
 
 
 
     

Kirim email ke