https://www.antaranews.com/berita/713820/mahasiswi-iain-tulungagung-
terlibat-isis-dideportasi-dari-suriah
Mahasiswi IAIN Tulungagung
terlibat ISIS dideportasi dari
Suriah
Minggu, 27 Mei 2018 19:42 WIB
Dokumentasi Irianah Hasibuan (49) memperlihatkan foto anaknya Nurhidayah
(23) alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumutwarga Jalan Pelita
IV Medan yang hilang sejak 2 Desember 2008,mendatangi Mapolda Sumut di
Medan, Kamis (28/4/2011). Sejumlah warga dari berbagai daerah di Sumut
mengaku kehilangan anaknya dalam beberapa tahun terakhir karena diduga
terlibat dalam aliran sesat dan meminta pihak kepolisian setempat agar
secepatnya untuk menindak kasus tersebut. (ANTARA/Septianda Perdana)
Iya memang betul. Tadi kami sudah cek ke satuan atas. Dan saat ini yang
bersangkutan posisi masih di Jakarta dan masih diminati keterangan oleh
tim Densus 88 Anti-teror."
Tulungagung (ANTARA News) - Seorang mahasiswi IAIN Tulungagung, Jawa
Timur dilaporkan telah dideportasi dari negara Suriah menggunakan
pesawat Turkish Airlines TK-056, kembali ke Indonesia bersama tujuh WNI
lain dari berbagai daerah karena diduga terlibat jaringan internasional
ISIS/FTF.
Kapolres Tulungagung AKBP Rofik Sukendar, Minggu mengkonfirmasi akurasi
informasi yang beredar di media sosial tersebut.
"Iya memang betul. Tadi kami sudah cek ke satuan atas. Dan saat ini yang
bersangkutan posisi masih di Jakarta dan masih diminati keterangan oleh
tim Densus 88 Anti-teror," kata Kapolres Rofik Sukendar di Tulungagung,
Minggu.
Data yang beredar, mahasiswi dimaksud bernama Irma Novianingsih (24).
Irma ini merupakan bungsu dua bersaudara dari pasangan Riyadi (47) dan
Mujiatin (50), warga Desa Dukuh, Kecamatan Gondang.
Irma dideportasi bersama tujuh WNI lain yang juga disinyalir terlibat
jaringan ISIS di Suriah.
Mereka masing-masing adalah Fitri Luthfiana (43), Nayla Kanimah Abdullah
(3), Humairoh Humairoh (12), Hamzah Abdullah (9), Ainun Jariyah (21),
Wasiatun Nisa Damad (33), dan Qurrota Ayun Muhdi (23).
Irma dan tujuh WNI yang sebagian diyakini sekeluarga ini kini menjalani
pemeriksaan intensif tim Densus 88 Anti-teror di Rutan Bambu Apus,
Jakarta Timur.
"Sudah barang tentu kami dari satuan wilayah akan memonitor terus dan
bekerjasama dengan satuan atas agar bisa terus mengawasi, memantau dan
menginformasikan kepada masyarakat bahwa situasi terkait adanya warga
Tulungagung yang dideportasi, masih dalam kondisi terkendali," kata
Rofik Sukendar memastikan.
Ia juga mengimbau masyarakat tidak panik ataupun resah.
Namun Kapolres juga mengingatkan agar warga tetap waspada dan melaporkan
ke aparat kepolisian jika mengetahui ada orang/sesuatu yang dianggap
mencurigakan.
"Jangan bertindak sendiri. Tetap berkoordinasi, percayakan keamanan
kepada kami," ujarnya.
Kabar keterlibatan mahasiswi Tulungagung dalam gerakan ISIS dan sempat
berhijrah ke Suriah tersebut sempat dikonfirmasikan ke pihak Rektorat
IAIN Tulungagung.
"Saudari Irma Novianingsih ini memang pernah kuliah di sini. Di IAIN
Tulungagung. Namun menurut catatan akademik, yang bersangkutan sudah
setahun ini tidak aktif tanpa memberi keterangan," kata Pembantu Rektor
Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Tulungagung M. Abdul Aziz.
Irma disebut Aziz sudah tidak aktif dalam kegiatan perkuliahan lagi
sejak semester 6, dan setelah itu dinyatakan menghilang tanpa keterangan.
Sayang, bapak dan ibu korban enggan dimintai keterangan.
Kendati menerima kedatangan para wartawan, Riyadi dan Mujiatin enggan
diwawancarai secara terbuka.
"Saya juga sudah mendengar kabar tersebut," kata Riyadi.
Menurut dia, pasca munculnya kabar tersebut beberapa kali ada aparat
yang menyambangi kediamannya.
Bahkan sebelum kedatangan beberapa awak media, ada personel dari Polres
Tulungagung yang berkunjung.
Sedangkan sehari sebelumnya juga ada dari Koramil dan Polsek Gondang.
"Maaf, selebihnya silakan ditanyakan ke aparat bersangkutan," katanya.
Riyadi dan Mujiatin mengakui masih tertekan dengan perkembangan yang
terjadi.
Wajah keduanya datar, tatapan terkadang kosong.
"Masih kaget dan tidak percaya karena tiba-tiba banyak petugas yang
datang dan melakukan penggeledahan," tutur Mujiatin dengan mata sembab.
Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018