Waspadai Kelainan Jantung Bawaan pada Anak Karena Faktor Ini
Reporter:
Bisnis.com
Editor:
Mitra Tarigan
Rabu, 30 Mei 2018 07:30 WIB
#
#
Huang Rongming (24 tahun) seorang pekerja pabrik dengan kelainan jantung
sejak lahir ini mudah merasa lelah. Ia sering mendadak pucat dan tidak
bisa bernapas. Sejak kecil, orang tuanya melarang pergi bersama
anak-anak lain karena kondisinya sangat lemah. Dailymail.co.uk
<https://statik.tempo.co/data/2013/08/23/id_212312/212312_620.jpg>
Huang Rongming (24 tahun) seorang pekerja pabrik dengan kelainan jantung
sejak lahir ini mudah merasa lelah. Ia sering mendadak pucat dan tidak
bisa bernapas. Sejak kecil, orang tuanya melarang pergi bersama
anak-anak lain karena kondisinya sangat lemah. Dailymail.co.uk
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Kelainan pada jantung yang berkembang sebelum
kelahiran, atau disebut dengan Penyakit Jantung Bawaan, terjadi di
Indonesia sekitar 150 kasus setiap tahun. Kelainan ini mulai terjadi
saat penderita masih berbentuk janin di dalam perut ibunya. Biasanya,
pembentukan jantung berlangsung pada trimester pertama kehamilan, atau
tiga bulan pertama kehamilan. "Kami biasanya mewanti-wanti kepada sang
ibu pada tiga bulan pertama kehamilan jangan makan obat sembarangan dan
terekspos macam-macam," ujar Oktavia Lilyasari, Dokter Spesialis Jantung
dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Harapan Kita, belum lama ini.
Karena pada saat itulah, kata dia, terjadi perkembangan organ, terutama
jantung. Ibarat sedang membangun rumah dan bila tidak berhati-hati
membangunnya, ketika hujan bisa saja atap menjadi bocor. Apa
penyebabnya? Menurut dia, penyebab dari Penyakit Jantung Bawaan (PJB)
bisa bermacam-macam dan sulit untuk mengetahuinya lebih pasti. Namun
faktor risiko pertama adalah dari ibu. Jika sang ibu mengidap diabetes,
maka si anak 20 persen berisiko mengalami penyakit jantung bawaan.
/*Baca:*/ Agar Jajanan Pasar Naik Tingkat, Intip Cara Jepang
<https://gaya.tempo.co/read/1093434/agar-jajanan-pasar-naik-tingkat-intip-cara-jepang>
Yang kedua adalah faktor genetik. Kalau seandainya orang tua, adik atau
kakak menderita penyakit jantung bawaan, maka janin yang dikandung
berisiko lebih besar. Apalagi bila janin kembar, hampir dipastikan
keduanya sama-sama berisiko mengalami penyakit jantung bawaan.
Selanjutnya adalah faktor lingkungan. Seperti karena polusi atau tinggal
di suatu daerah dengan kondisi udara yang buruk, juga akan meningkatkan
risiko penyakit jantung bawaan. Kemudian sindroma-sindroma. /*Baca:*/
Sehun EXO jadi Best Dressed Man di Louis Vuitton, Intip Gayanya
<https://gaya.tempo.co/read/1093672/sehun-exo-jadi-best-dressed-man-di-louis-vuitton-intip-gayanya>
Sindroma adalah kumpulan gejala. Ada sindroma yang diakibatkan kelainan
kromosom dan yang paling sering terjadi adalah apa yang disebut dengan
Trisomy 21 (Down Syndrom). Yakni kelainan genetik kromosom 21 yang
menyebabkan keterlambatan perkembangan dan intelektual. "Ini biasanya
dari wajahnya saja kita bisa tahu bahwa si anak memiliki down syndrom."
Kelainan kromosom yang lain adalah Trisomy 18 (Syndrom Edward). Kelainan
ini menyebabkan perkembangan sangat lambat. Ini merupakan Trisomy yang
mematikan. Faktor risiko berikutnya adalah infeksi yang dialami sang ibu
dan yang paling sering adalah Toksoplasma dan Rubela. Toksoplasma atau
Toxoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit
Toxoplasma Gondil. Sedangkan Rubela adalah suatu infeksi virus menular
ditandai dengan ruam merah yang khas. /*Baca:*/ Nilai UNBK SMP Turun,
Berpikir Kritis Anak Perlu Terus Dilatih
<https://gaya.tempo.co/read/1093649/nilai-unbk-smp-turun-berpikir-kritis-anak-perlu-terus-dilatih>
Faktor risiko selanjutnya yakni gaya hidup. Ibu yang suka merokok, minum
alkohol, memberikan risiko yang besar kepada anak mengalami Penyakit
Jantung Bawaan.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com