Di medsos dan media masa di indonesia berita kok beda, katanya pemerintah 
Myanmar yang menyerang dan membakar rumah kelompok militant Rohingya.
Kalau saya sik tahu saja, karena saya 1 tahun sebelumnya saya sudah dapat 
berita dari milist lain

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Tuesday, May 29, 2018 3:25 AM
To: [email protected]; [email protected]; Persaudaraan 
<[email protected]>; Sahala Silalahi 
<[email protected]>; [email protected]
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Jejaring Teroris Bangladesh: dari Rakhine 
hingga Indonesia





https://tirto.id/jejaring-teroris-bangladesh-dari-rakhine-hingga-indonesia-cK48

Jejaring Teroris Bangladesh: dari
     Rakhine hingga Indonesia
[Perempuan berjalan di atas reruntuhan kamp                  penampungan 
pengungsi Muslim Rohingya di Rakhine,                  Sittwe, Myanmar 
(3/5/2016). FOTO/REUTERS/Soe Zeya 
Tun]<https://tirto.id/jejaring-teroris-bangladesh-dari-rakhine-hingga-indonesia-cK48>
Perempuan berjalan di atas reruntuhan kamp penampungan pengungsi Muslim 
Rohingya di Rakhine, Sittwe, Myanmar (3/5/2016). FOTO/REUTERS/Soe Zeya Tun
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 28 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
Ekstremis Bangladesh menyokong teror kelompok milisi ARSA di Myanmar, ISIS di 
Filipina dan Indonesia, hingga membangun sel teroris di Malaysia dan Singapura.
tirto.id<https://tirto.id/> - 2017 menjadi tahun yang berbahaya bagi warga 
lintas keyakinan di Myammar, terutama Negara Bagian Rakhine. Berbagai lembaga 
pegiat hak asasi manusia merekamnya, termasuk di antaranya Amnesty 
Internasional yang baru-baru ini mengungkap betapa berlumuran darahnya tangan 
kelompok milisi Rohingya, ARSA.

Merujuk rilis yang diterima Tirto, tahun lalu Amnesty International berhasil 
mengumpulkan bukti bahwa aksi kejam ARSA adalah nyata—bukan sekadar propaganda 
pemerintah Myanmar selaku musuh utama mereka.

Pada pagi hari tanggal 25 Agustus 2017 mereka menyerang komunitas Hindu di Desa 
Ah Nauk Kha Maung Seik, tempat tinggal komunitas Hindu. ARSA mengajak warga 
Rohingya untuk merampok warga, kemudian seluruh penduduk desa diikat, ditutup 
mata, dan diseret ke pinggiran desa.

Para pria dipisahkan dari perempuan dan anak-anak kecil. Beberapa jam kemudian 
53 orang di antaranya dibantai dengan gaya eksekusi, dimulai dengan para pria. 
Delapan perempuan dan delapan anak-anak diculik gerombolan milisi ke 
Bangladesh, dan akhirnya diselamatkan setelah dipaksa masuk Islam.
Baca juga:

  *   Milisi Rohingya dan Gejolak Konflik Etnis di 
Myanmar<https://tirto.id/milisi-rohingya-dan-gejolak-konflik-etnis-di-myanmar-cv3g>
  *   ISIS di Mata Generasi Muda 
Indonesia<https://tirto.id/isis-di-mata-generasi-muda-indonesia-bWlg>

“[Para pria] memegang pisau dan batang besi panjang. Mereka mengikat tangan 
kami di belakang dan menutup mata kami. Saya bertanya apa yang mereka lakukan. 
Salah satunya menjawab, 'Kamu dan Rakhine adalah sama, kamu punya agama yang 
berbeda, kamu tak boleh tinggal di sini.' Dia bicara bahasa [Rohingya],” kata 
Bina Bala (22), salah seorang korban selamat.

Pada hari yang sama, sebanyak 46 pria, perempuan, dan anak-anak Hindu di desa 
tetangga Ye Bauk Kyar menghilang. Anggota komunitas Hindu di Rakhine utara 
menganggap mereka juga dibunuh oleh milisi ARSA. Ditambah korban dari Ah Nauk 
Kha Maung Seik, jumlah korban tewas diyakini menjadi 99 jiwa.

Keesokan harinya, 26 Agustus 2017, ARSA bergerak ke dekat desa Myo Thu Gyi di 
pinggiran Kota Maungdaw. Mereka membunuh enam orang, juga penganut Hindu. Dua 
di antaranya perempuan, satu orang pria, dan tiga anak-anak, sementara beberapa 
lainnya luka-luka.

Serangan tersebut makin mengorbankan warga Rohingya yang tak tahu apa-apa, yang 
selama ini kenyang didiskriminasi. Pasukan keamanan Myanmar membalas dendam 
dengan cara membakar desa, membunuhi penduduknya, juga memperkosa para 
perempuan. Jumlah korbannya jauh lebih besar, dan mengakibatkan krisis 
pengungsian yang begitu parah.
Yang Ekstrem dari Bangladesh

Laporan Institute for Policy Analysis Conflict 
(IPAC)<http://file.understandingconflict.org/file/2017/05/IPAC_Report_37.pdf> 
yang dirilis bulan Mei tahun lalu menawarkan pendekatan menarik mengapa ARSA 
digdaya menyiksa warga: karena mereka disokong bantuan dari kelompok ekstremis 
Bangladesh—negara tempat warga Rohingya berbondong-bondong mengungsi.

Foreign 
Affairs<https://www.foreignaffairs.com/articles/asia/2017-07-27/why-extremism-rise-bangladesh>,
 
Conversation<https://theconversation.com/threats-of-violent-extremism-in-bangladesh-are-a-symptom-of-deeper-social-and-political-problems-70420>,
 
Diplomat<https://thediplomat.com/2016/07/the-rise-of-islamic-extremism-in-bangladesh/>,
 dan portal analisis kawasan lain telah membeberkan fenomena meningkatnya 
ancaman kelompok ekstremis Islam di Bangladesh sejak 2013, atau tahun ketika 
ISIS mulai bangkit untuk mulai mengacau di Timur Tengah.

Satu kasus yang paling diingat publik terjadi pada 1 Juli 2016, ketika lima 
orang militan menyerang sebuah restoran bernama Holey Artisan Bakery di 
Gulshan, ibukota Dhaka. Para pelaku bermodal senjata tajam, senjata api, dan 
bom. Mereka menyandera beberapa pengunjung, dan berakhir dengan tewasnya 22 
orang, termasuk banyak warga asing.

Berkaca dari kasus-kasus lain, target mereka merentang cukup luas. Mulai dari 
kaum sekuler, penulis ateis, blogger dan penerbit kritis, warga asing, dan 
kelompok minoritas seperti penganut Hindu, Buddha, Kristiani, atau Syiah.
Baca juga:

  *   "Kemampuan Kombatan ISIS Asal Indonesia itu Paling 
Bawah"<https://tirto.id/kemampuan-kombatan-isis-asal-indonesia-itu-paling-bawah-czNa>
  *   Lokasi-Lokasi Strategis ISIS untuk Perang Kota di Indonesia 
<https://tirto.id/lokasi-lokasi-strategis-isis-untuk-perang-kota-di-indonesia-cumv>

Dalang di balik serangan-serangan itu mengarah pada Ansarullah Bangla Team 
(ABT), kelompok ekstremis yang menurut polisi punya hubungan dengan Al Qaeda. 
Pejabat setempat juga mengaitkannya dengan jaringan ISIS.

Kasus-kasus serupa turut diinisiasi oleh individu maupun grup ekstremis yang 
anggotanya berjumlah lebih kecil, tapi amat militan. Mereka berani menghabisi 
nyawa korban, meski hanya bermodal pisau, lalu dengan bangga mengungkap motif 
di media sosial, atau kepada media massa, atau kepada aparat kepolisian yang 
menangkapnya.

Kebangkitan ISIS di tahun 2013 juta menjadi momentum bagi kelompok-kelompok 
ekstremis di Bangladesh untuk mengekspor teror ke negara-negara di Asia 
Tenggara. ARSA, misalnya, rupanya adalah kelompok pemberontak yang beroperasi 
tidak hanya di Myanmar, tetapi juga di sepanjang perbatasan dengan Bangladesh.
Baca juga:

  *   Bangkitnya Jihadis Perempuan 
<https://tirto.id/bangkitnya-jihadis-perempuan-cKnp>
  *   Internal ISIS di Marawi: Selotip itu Tak Selamanya 
Lengket<https://tirto.id/internal-isis-di-marawi-selotip-itu-tak-selamanya-lengket-cufy>

Sejarah jaringan ekstremis Asia Tenggara bermuara pada Organisasi Solidaritas 
Rohingya (RSO) yang pada akhir 1980-an dan 1990-an beroperasi di Bangladesh 
bagian tenggara (plus perbatasan Pakistan-Afghanistan). RSO pincang pada tahun 
2001 setelah pemerintah di beberapa negara mulai menghabisi Jemaah Islamiyah, 
sekutu utama RSO.

RSO bukan lagi dalang pemberontakan di Myanmar, tetapi para pemimpin ARSA 
mengandalkan beberapa kelompok ekstremis Asia Selatan demi bantuan pelatihan. 
ARSA mencoba untuk menjauhkan diri dari terorisme internasional atau gerakan 
jihad global. Mereka lebih mirip gerakan etno-nasionalis, serupa Gerakan Aceh 
Merdeka (GAM) atau pemberontak di ujung selatan Thailand.

Keberadaan ARSA, menurut IPAC, dapat menginspirasi kelompok-kelompok pro-ISIS 
di Bangladesh, Indonesia dan Malaysia untuk merekrut para pengungsi Rohingya 
sebagai calon pelaku aksi teror yang nantinya akan menyasar aparat keamanan 
negara dan orang-orang yang dituduh kafir.
Menarget Pekerja-Mahasiswa di Malaysia & Singapura

Para pengungsi Rohingya adalah salah satu medium penyebaran teror lintas-negara 
oleh kelompok ekstremis Bangladesh. Mengutip IPAC, “penganiayaan terhadap 
Muslim di Myanmar menambah potensi radikalisasi di komunitas diaspora dan 
persepsi di kalangan ekstremis di Asia Tenggara bahwa para pengungsi Rohingya 
siap untuk direkrut”.

Jumlahnya memang besar. Pada bulan Oktober 2016 hingga Maret 2017 ada 70 ribu 
pengungsi Rohingya yang membanjiri Bangladesh. Mereka bergabung dengan ratusan 
ribu pengungsi lain, yang oleh beberapa lembaga independen diprediksi mencapai 
total 650-700 ribu jiwa. Ini belum termasuk mereka yang berlayar ke Indonesia 
dan negara-negara Asia Tenggara lain, plus Australia.

Jalan kedua, mereka menarget ratusan ribu tenaga kerja asing asal Bangladeh 
untuk ikut kelompok pengajian ekstremis. Sasarannya meliputi lebih dari 285.00 
pekerja Bangladesh yang berstatus legal maupaun ilegal di Malaysia (catatan 
tahun 2016). Ada juga 160.000 pekerja di Singapura, plus 60.000 yang tiap tahun 
datang dalam masa tinggal yang relatif singkat.
Baca juga:

  *   Propaganda Efektif ISIS di Jejaring 
Sosial<https://tirto.id/propaganda-efektif-isis-di-jejaring-sosial-bCpH>
  *   Abu Walid, Algojo ISIS yang Brutal dan Imut dari 
Solo<https://tirto.id/abu-walid-algojo-isis-yang-brutal-dan-imut-dari-solo-b5P9>

Pemerintah kedua negara tidak tinggal diam. Pada 2015 kepolisian Singapura 
mengamankan puluhan pekerja asal Bangladeh yang ikut aktivitas pengajian 
berkonten Islam radikal serta terungkap punya niat untuk bergabung dengan ISIS. 
Beberapa di antaranya lagi-lagi terkait dengan Ansarullah Bangla Team.

Menanggapi penangkapan tersebut, pemerintah Malaysia turut mengamankan seorang 
warga pendatang asal Bangladesh bernama Peyar Ahmed Akash. Ia sudah lama 
diincar oleh Interpol sebab ikut kegiatan kelompok ekstremis, termasuk terlibat 
dalam penjualan senjata. Usai sempat ditahan, dideportasi pada awal September 
2016.

Jalan ketiga, menargetkan beberapa ribu mahasiswa Bangladesh yang kuliah di 
universitas negeri maupun swasta di Malaysia (catatan tahun 2016). Mereka 
diajak untuk ikut kelompok pengajian ekstremis, untuk dicuci otaknya dan 
membangun sel tidur. Targetnya juga menyasar ratusan mahasiswa asal Indonesia, 
Malaysia dan Thailand yang belajar ke Bangladesh dengan memanfaatkan koneksi 
tablighi.
Baca juga:

  *   Apa Saja Tahap Radikalisasi Teroris? 
<https://tirto.id/apa-saja-tahap-radikalisasi-teroris-cKuM>
  *   Bagaimana Abu Bakar al-Baghdadi Mendirikan 
ISIS?<https://tirto.id/bagaimana-abu-bakar-al-baghdadi-mendirikan-isis-cHov>

Jalan keempat, melalui organisasi dakwah. Salah satunya lewat Jamaah Tabligh, 
organisasi dakwah Islam yang tiap tahun menyelenggarakan Biswa Ijtema, 
pertemuan terbesar kedua setelah Haji di dekat Dhaka. Pesertanya berasal dari 
banyak negara, termasuk beberapa ratus di antaranya dari Indonesia.

Kembali ke kelompok Jamaah Tabligh asal Bangladesh, mereka juga berdakwah 
keliling Asia Tenggara. Meski konservatif, tetapi dakwah Jamaah Tabligh 
bersifat sepenuhnya damai. Fokus mereka adalah meningkatkan ketaatan anggotanya.

Sayangnya, aktivitas sebagian anggota Jamaah Tabligh kerap ditunggangi para 
ekstremis Bangladesh untuk melakukan perjalanan lintas negara, dan tentu untuk 
tujuan menjajaki aksi teror di negara tujuan, demikian catat IPAC.

IPAC juga menyoroti modus yang sama di dalam tubuh dan pergerakan Hizbut 
Tahrir, organisasi pro-khilafah berskala global. Meski metode dakwahnya diklaim 
tanpa kekerasan, IPAC menyatakan mereka mendukung penggunaan kekerasan terhadap 
“musuh-musuh Islam”. Apalagi beberapa anggotanya ada yang meninggalkan 
organisasi dan bergabung ke kelompok-kelompok ekstremis.
[Infografik ARSA]

Eksekusi “Jihad” di Filipina dan Indonesia

Laporan IPAC membongkar bagaimana ekstremis Bangladesh yang berniat 
meninggalkan ISIS Suriah memutuskan untuk mampir dulu ke Mindanao, Filipina, 
untuk membantu perjuangan Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Aksi ini, 
lagi-lagi, juga sembari mengajak imigran Rohingya maupun warga Bangladesh di 
Malaysia untuk ikut ke Mindanao.

Sedangkan dalam konteks Indonesia, ISIS Suriah berperan sebagai titik temu 
ekstremis asal Bangladesh dan Indonesia. Pejuang ISIS asal Indonesia melihat 
serangkaian serangan-serangan teror di Bangladesh, yang banyak di antaranya 
berdampak fatal, sebagai model atas apa yang mesti dilakukan para pendukungnya 
di Indonesia.

Visi ini terwujud dalam rangkaian teror yang mengacaukan rutan negara di Mako 
Brimob, Kelapa Dua, Depok, hingga serangan bom bunuh diri di Surabaya. 
“Keinginan untuk meniru ekstremis Bangladesh dapat menjadi insentif tambahan 
bagi orang Indonesia untuk melakukan aksi kekerasan di rumah (negara) sendiri,” 
jelas IPAC.
Baca juga:

  *   Bom di Tiga Gereja Surabaya dan Pola Serangan Jelang 
Ramadan<https://tirto.id/bom-di-tiga-gereja-surabaya-dan-pola-serangan-jelang-ramadan-cKml>
  *   ISIS dan Teror di Bulan 
Ramadan<https://tirto.id/isis-dan-teror-di-bulan-ramadan-cp6l>

Misalnya Bahrun Naim, salah satu propagandis ISIS asal Indonesia yang masih 
diperdebatkan kabar kematiannya, pernah memuji-muji serangan Dhaka tahun 2016. 
Ia terkesan iri, lalu mendorong kawan-kawannya di Indonesia melakukan hal yang 
sama. Propagandanya dilakukan dengan membandingkan catatan serangan yang 
diinisiasi milisi Bangladesh dengan yang dijajaki rekan-rekannya di Indonesia.

Komunikasi antara Bangladesh dan Asia Tenggara juga terjadi melalui praktik 
perkawinan, terutama antara pria Bangladesh dan janda pejuang Indonesia. 
Implikasinya, kolaborasi teror lanjutan dan dalam skala lebih besar bisa 
terwujud di masa depan.

“Perempuan Indonesia yang bergabung ke ISIS telah menikah dengan orang Afrika 
Utara, Perancis, Irak dan non-Indonesia lainnya di Suriah. Konon banyak 
perempuan Indonesia yang menikahi buruh migran Bangladesh yang mereka temui di 
negara-negara Teluk atau Malaysia, sehingga potensi perkawinan ISIS 
lintas-daerah itu nyata.”

Baca juga artikel terkait 
TERORISME<https://tirto.id/q/terorisme-co?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
 atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal 
Hasan<https://tirto.id/author/akhmadmuawal?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
Ekstremis menarget TKA & mahasiswa asal Bangladesh di Asia Tenggara, juga 
menyusupi organisasi dakwah lintas negara.







Kirim email ke