Berapa kali lipat kenaikan utang Indonesia dalam kurun waktu 3 tahun terakhir? 1x, 2x, 3x? ---Pasca-kemenangan Mahathir Mohammad dalam pemilu 2018 terkuak fakta utang luar negeri Malaysia selama kepemimpinan Najib Razak terus membengkak. Kenaikan utang luar negeri Malaysia hampir tiga kali lipat dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir. .... Perlukah Indonesia Meniru Malaysia dalam Menyikapi Utang Negara?
| | | | | | | | | | | Perlukah Indonesia Meniru Malaysia dalam Menyikapi Utang Negara? medcom.id developer Kenaikan utang luar negeri Malaysia hampir tiga kali lipat dalam kurun waktu 9 tahun terakhir. | | | • 05 Juni 2018 09:39 WIB Ilustrasi. (Foto: ANTARA/Rafiuddin Abdul Rahman) Jakarta: Pasca-kemenangan Mahathir Mohammad dalam pemilu 2018 terkuak fakta utang luar negeri Malaysia selama kepemimpinan Najib Razak terus membengkak. Kenaikan utang luar negeri Malaysia hampir tiga kali lipat dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir. Prihatin dengan kenaikan jumlah utang yang sangat tinggi, masyarakat Malaysia kemudian melakukan penggalangan dana untuk membantu menangani utang negara. Langkah ini pun banyak diapresiasi oleh ekonom Malaysia. Lalu, perlukah Indonesia meniru apa yang dilakukan oleh Malaysia? Sosiolog Thamrin Amal Tamagola menilai Malaysia dan Indonesia memiliki karakter yang berbeda. Penggalangan dana dari masyarakat untuk sumbangan membayar utang negara berkaitan dengan momen pemerintahan Malaysia yang baru. "Malaysia sekarang sedang terjadi semacam kebangkitan kembali persatuan nasional setelah mengalahkan Najib Razak yang dianggap korup. Jadi inti sebenarnya berkaitan dengan korupsi," kata Thamrin, dalam Editorial Media Indonesia bertajuk Belajar Menyikapi Utang Ala Malaysia, Selasa, 5 Juni 2018. Thamrin menilai Indonesia bisa saja meniru apa yang telah dilakukan oleh rakyat Malaysia, jika utang luar negeri yang dipinjam tidak dikorupsi oleh elite. Faktanya, sejak era Soeharto utang luar negeri Indonesia kerap dikorupsi oleh elite sehingga melunturkan kepercayaan rakyat Indonesia akan pemerintah. "Zaman Soeharto pernah ada upaya menggalang dana masyarakat oleh mbak Tutut (Siti Hardijanti Rukmana) tapi orang-orang enggak percaya karena elite di atas ini korup," ungkap dia. Menurut Thamrin penggalangan dana sebagai bantuan utang oleh rakyat Malaysia berkenaan dengan momen kebangkitan pemerintahan setelah masa kelam pemerintahan Najib Razak. Ada rasa senasib yang sama antara rakyat dan elite untuk menuntaskan masalah utang Malaysia. "Kalau di Indonesia rasa senasib itu tidak ada karena rakyat tahu, utang itu perlu tapi elite-nya korup," katanya. Dia menambahkan jika Indonesia hendak meniru Malaysia, modal utamanya adalah kepercayaan. Di Indonesia kepercayaan rakyat terhadap elite tidak muncul terutama kepada lawan politik. Yang terjadi, elite lawan politik kerap menyudutkan pemerintah dengan utang.. Padahal jika dibandingkan pertambahan jumlah utang luar negeri dan jumlah pendapatan negara setiap tahunnya, Indonesia masih aman. "(Utang luar negeri) kita masih dalam ambang batas yang bisa ditoleransi. Sehingga bukan satu hal yang harus dibesar-besarkan. Masalahnya hanya modal sosial, kepercayaan masyarakat terhadap elite, itu saja," jelas dia. (MEL)
